Mamahit, Ferry Yefta
Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan

Christus Victor dan Kemenangan Orang Kristen terhadap Kuasa Kegelapan Mamahit, Ferry Yefta
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 5 No 1 (2004)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.091 KB) | DOI: 10.36421/veritas.v5i1.125

Abstract

Tulisan ini adalah sebuah usaha untuk menjelaskan konsep Christus Victor sebagai salah satu motif dalam karya penebusan Kristus yang berdampak, bukan saja pada kemenangan atas dosa dan maut, tetapi juga atas kuasa-kuasa kegelapan (power of the darkness). Untuk menjelaskan hal ini, pada bagian awal akan dibahas konsep penebusan Kristen berikut masalah-masalahnya; lalu, akan dibahas juga motif “Kristus Pemenang” itu sendiri dan dampak-dampaknya; kemudian, akan diteliti dan dieksposisi nyanyian kemenangan dalam Kitab Wahyu (Why. 12:10-12) sebagai sebuah paradigma nyanyian bermotif kemenangan; dan pada akhirnya, akan didiskusikan implikasi praktis konsep teologis ini dalam peperangan rohani (spiritual warfare) orang Kristen. Melalui tulisan ini, diharapkan bahwa pemahaman orang Kristen terhadap kemenangan penentu (decisive victory) dari karya Kristus atas kuasa kegelapan ini dapat menjadi semakin benar, dan akhirnya akan mempengaruhi kehidupannya secara nyata dalam menghadapi peperangan rohani, sehingga ia dapat hidup bukan sebagai umat pecundang, melainkan sebagai pemenang.
Globalisasi, Gereja Injili dan Transformasi Sosial Mamahit, Ferry Yefta
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6 No 2 (2005)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.589 KB)

Abstract

Sebuah penelitian terhadap keprihatinan sosial gereja injili, khususnya terhadap masalah kemiskinan di dua kota besar Jakarta dan Bandung, mengungkapkan bahwa sekitar 20-27% dari seluruh responden telah mengalokasi dana untuk urusan sosial dan itu dilakukan 1-4 kali per tahun, dan kemungkinan hal itu dilakukan secara seremonial, maksudnya dilakukan pada saat perayaan-perayaan gerejawi seperti Paskah, Natal atau acara tertentu. Informasi ini mengisyaratkan betapa kurangnya tanggapan komunitas orang percaya terhadap masalah kemiskinan. Tindakan sosial belum menjadi sebuah “gaya hidup.” Di satu sisi, gereja injili memang masih sedang bergumul dengan masalah kekurangpekaan terhadap masalah-masalah sosial, namun, di sisi lain, masalah kemiskinan itu sendiri telah menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Celakanya, kemiskinan ini terjadi karena sebuah proses “alamiah” yang tak terelakkan: globalisasi. ... Tulisan ini akan berusaha menjelaskan apa globalisasi itu dan bagaimana dampak-dampak negatif yang dihasilkannya, khususnya dalam bidang sosioekonomi. Selanjutnya, pembahasan akan ditujukan kepada bagaimana sikap gereja sejauh ini dan apa yang menyebabkan sikap seperti itu terjadi. Akhirnya, tulisan ini akan mengusulkan semacam kerangka konseptual teologis (conceptual theological framework) sederhana, bagaimana gereja injili dapat menjadi agen perubahan (transformasi) sosial di tengah-tengah gelombang globalisasi dengan segala akibatnya yang tak terbendung itu. Sementara banyak orang di Indonesia dan sebagian negara-negara miskin dan berkembang menghadapi dampak sosioekonomis globalisasi, diharapkan melalui tulisan ini, gereja-gereja injili dapat semakin berperan sebagai agen transformasi sosial, yang dapat menyatakan Kristus sebagai Penebus yang membarui dan mentransformasi masyarakat (bdk. paradigma Christ the Transformer of Culture dari Richard Niebuhr).
Apa Hubungan Porong dengan Yerusalem? : Menggagas Suatu Ekoteologi Kristen Mamahit, Ferry Yefta
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 8 No 1 (2007)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.445 KB)

Abstract

Pertanyaan di atas sulit dijawab. Faktanya, kedua kota tersebut terpisah dengan jarak yang sangat jauh. Meski keduanya dikenal sebagai tempat wisata, yang satu adalah tempat wisata para turis mancanegara—khususnya turis religius dalam tradisi agama Abrahamis—dan yang satu lagi, tempat turis domestis yang kebetulan lewat di tempat itu, di mana selain mampir untuk membeli produk tersohornya, seperti bandeng presto, ote-ote, kerupuk udang dan petis, mereka juga ingin melihat “lumpur panas” yang tidak kalah terkenal; tetap saja, keduanya secara langsung tidak punya hubungan antara satu dengan yang lain. Namun, yang menarik, keduanya secara teologis diasumsikan mempunyai hubungan yang erat, sebab keduanya mengacu kepada hubungan antara iman dan bencana alam, atau tepatnya, antara iman dan kerusakan alam akibat sikap dan tindakan eksploitatif manusia terhadap lingkungan hidupnya. Karena itu, terjadinya “pukulan balik” dari alam atas ketamakan manusia yang terus menerus mengeksploitasinya ini perlu dipahami secara teologis. Dalam usaha memahami hal ini, ada beberapa pertanyaan penting perlu dilontarkan, seperti apakah konsidi lingkungan hidup manusia sekarang ini? Apakah motif di balik degradasi atau kerusakan lingkungan hidup? Apakah prinsip-prinsip alkitabiah yang dapat diajukan untuk membangun teologi lingkungan hidup (ekoteologi)? Akhirnya, apakah prinsip-prinsip teologis dan normatif yang dapat dibangun dari perspektif Kristen dalam menyikapi krisis ekologi yang sedang berlangsung pada masa kini? Singkatnya, tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, yang semuanya berfokus pada tujuan untuk memberikan sebuah pemahaman yang utuh tentang ekoteologi Kristen, sekaligus untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya memang ada korelasi timbal balik antara iman Kristen dan krisis lingkungan hidup yang disebabkan oleh manusia.
Ide Teologis Calvin tentang Keadilan Sosial  Mamahit, Ferry Yefta
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10 No 1 (2009)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.793 KB)

Abstract

Dalam rangka merayakan 500 tahun John Calvin, aliansi gereja reformed sedunia (World Alliance of Reformed Churches [WARC]) mengajak setiap anggotanya untuk bertindak nyata, misalnya, mengupayakan persatuan gereja, mempromosikan keadilan sosial dan respek terhadap ciptaan, dan melawan perang dan kejahatan. Meskipun bukan bagian dari aliansi ini, saya ingin juga menyambut ajakan tersebut secara positif. Sebagai bagian dari “kaum keturunan Calvin” (“Calvin’s descendants”) dalam warisan teologi dan berteologinya, saya ingin berpartisipasi di dalam momentum yang sangat istimewa ini. Bukan dengan extravaganza, tetapi dengan suatu tulisan reflektif sederhana tentang sang kakek-buyut dan pemikirannya. Menanggapi salah satu ajakan di atas, tulisan ini berupaya untuk mempromosikan keadilan sosial. Tepatnya, mengenalkan ide teologis Calvin tentang topik tersebut. Upaya ini dilakukan dengan cara merancangbangun ulang (reconstructing) pemikirannya tentang keadilan sosial yang terserak di berbagai sumber, baik sumber-sumber primer maupun sekunder. Sebelum melakukan hal ini, fokus akan lebih dahulu diarahkan pada dua konteks berteologi Calvin: kondisi sosial Jenewa pada abad ke enam belas dan pemikiran-pemikiran para bapa gereja. Diharapkan, dengan mengenal ide teologis Calvin ini, kekristenan Calvinis di Indonesia makin serius dan terlihat greget-nya dalam mewujudkan keadilan sosial di negeri yang, katanya, berazas keadilan sosial ini.
Teologi dan Praksis Keadilan dalam Kitab Taurat Mamahit, Ferry Yefta
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11 No 1 (2010)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.112 KB)

Abstract

“Jauh panggang dari api.” Ini adalah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan realitas keadilan sehari-hari di Indonesia. Keadilan sebagai cita-cita bersama bangsa ini, yang tertuang secara sophisticated dalam Pancasila—sebagai konstitusi tertinggi negara, hanya tinggal idealisme yang sangat jauh dari pengejawantahannya. Nilai-nilai utama keadilan dalam Pancasila, seperti persatuan, kebebasan, kesederajatan, dan kekeluargaan, hampir menjadi seperti “sampah,” tak ada arti apa-apa lagi di negara ini. Indikator yang paling jelas dan nyata tentang kesenjangan ini adalah ketika ada (banyak?) warga negara Indonesia, khususnya yang miskin, terpinggirkan dan tertindas, yang masih tak terjamin hak-haknya secara hukum, sosial, politik, dan ekonomi. Celakanya, realitas ketidakadilan ini selalu hanya menjadi bahan tontonan dan obrolan yang nikmat dari masyarakat dari waktu ke waktu. Namun, bagi TUHAN, masalah ketidakadilan bukan untuk ditonton dan diobrolkan, melainkan untuk dicari jawabannya. Melalui Kitab Taurat, TUHAN menyatakan “keadilan ilahi” kepada umat-Nya, orang-orang Israel, untuk dibaca, dipahami, dan dilakukan dengan setia. Desain awal Allah bagi umat-Nya adalah menjadikan mereka umat yang berkeadilan. Karena itu, Kitab Taurat menyediakan semacam cetakbiru sosial (social blueprint) yang selamanya menjadi acuan (model) bagi tatanan masyarakat yang ideal. Jatuh bangunnya umat Allah (Israel dan Gereja) bergantung pada berapa sesuainya hidup mereka dengan model tersebut. Lalu, apa dan bagaimanakah sesungguhnya teologi dan praksis keadilan di dalam kitab Taurat itu?
Menjawab Persoalan Teologis Tentang Konsep dan Praktik Kesembuhan Ilahi Mamahit, Ferry Yefta
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.217 KB)

Abstract

Kesembuhan ilahi adalah salah satu dari sekian banyak isu dalam kekristenan yang tetap hangat untuk dibicarakan. Isu ini masih tetap relevan, populer dan “tidak ada matinya.” Dalam menanggapinya, orang-orang Kristen telah terbagi-bagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang bersikap acuh tak acuh terhadap praktik kesembuhan ilahi, mungkin karena ketidaktahuan tentang konsep dan praktik terhadap hal tersebut atau memang tidak mau terlibat di dalam polemik yang berkepanjangan. Ada sebagian yang pro terhadap praktik ini dan begitu bersemangat menerima dan mempromosikannya. Mereka percaya bahwa praktik ini masih berlangsung dan harus terjadi sampai saat ini. Di pihak lain, ada juga sebagian yang bersikap kontra. Mereka menolak bahkan melarang praktik tersebut dilakukan di dalam lingkup jemaat dengan alasan “karunia” untuk menyembuhkan dan fenomena penyembuhan ilahi sudah berhenti sejak zaman para rasul. Yang menarik, berbagai gereja dalam lingkungan injili pun telah terbagi-bagi dalam ketiga posisi di atas Realita yang demikian telah menimbulkan persoalan teologis di dalam kekristenan, dengan pertanyaan utama, manakah posisi yang paling benar? Tulisan ini tidak sedang menempatkan diri dalam salah satu posisi di atas, tetapi mencoba menjawab persoalan tersebut dengan berefleksi secara lebih kritis terhadap berbagai posisi tersebut. Tulisan ini akan menjawab pertanyaan di atas dengan cara menguji setiap pandangan dalam dua aspek utama: prasuposisi di balik konsep dan praktik kesembuhan ilahi serta metode penafsiran (prinsip-prinsip pemahaman Alkitab) terhadap teks-teks kesembuhan.
Teori Perang yang Adil : Sebuah Penjelasan dan Argumentasi Kristen Mamahit, Ferry Yefta
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.223 KB)

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan dan berargumentasi secara etis-teologis dan alkitabiah tentang apa dan mengapa sebagian gereja Kristen berpegang pada pandangan teori perang yang adil dalam etika perang mereka. Teori perang yang adil adalah sebuah pandangan yang melegitimasi perang berdasarkan pertimbangan-pertimbangan moral yang komprehensif. Perang dapat dibenarkan secara moral jika pemerintah telah mempertimbangkan prinsip-prinsip keadilan pada saat sebelum perang (jus ad bellum), saat perang (jus in bello), dan setelah perang (jus post bellum). Pandangan berikut praktiknya telah diterima oleh dan mendapat pembenaran secara etis-teologis dan biblis di dalam gereja-gereja Protestan arus utama.