Hauw, Andreas
Unknown Affiliation

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Analisis Tekstual Markus 1:1 Hauw, Andreas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 5 No 2 (2004)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.21 KB)

Abstract

Teks Markus 1:1 sudah lama menjadi salah satu pokok diskusi para ahli PB. Teks-teks kuno yang ada menyodorkan bacaan yang berbeda satu sama lain. Persoalan bertambah rumit setelah diketahui bahwa perbedaan-perbedaan teks itu sama-sama didukung oleh dokumen-dokumen yang kuat, dalam hal ini kodeks Sinaitikus. Lalu timbulah pertanyaan penting yaitu, teks mana yang asli? Hal itulah yang ingin dijawab dalam paper ini.
Nama Ilahi dalam Alkitab: Diskusi mengenai Allah, ‘elôhîm, théos, TUHAN, YHWH, Tuhan, ‘adônaî, kúrios Hauw, Andreas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6 No 1 (2005)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.519 KB)

Abstract

Ada sementara kalangan, baik Kristen maupun non-Kristen, tidak menghendaki dipakainya kata Allah dalam Alkitab. Dari kalangan Kristen ada yang mengusulkan agar kata Allah diganti saja dengan ‘elôhîm dan TUHAN dengan Yahweh. Namun, jika kita bertanya kepada orang banyak, apakah mereka mengenal istilah ‘elôhîm atau Yahweh, maka dapat diperkirakan hanya sebagian kecil saja yang mengenalnya, sekalipun hal itu ditanyakan pada orang Kristen. Sebaliknya, ada banyak orang yang akan mengetahui istilah Allah dan TUHAN (juga Tuhan), walaupun definisi yang diberikan sangat sederhana. Fokus utama pembahasan adalah nama Allah dan ‘elôhîm, kemudian dimana perlu akan dibahas kata TUHAN, Tuhan, Yahweh, théos, kúrios, dlsb. Karena letak permasalahan ada pada kata Allah dan ‘elôhîm, maka bagian berikutnya akan membahas perluasan makna dari nama Allah serta pemakaiannya (Linguistik). Bagian akhir menyoroti dan menilai bagaimana usulan perubahan nama itu dilihat dalam tradisi penerjemahan Alkitab.
Mempertanyakan Pertanyaan : Mendalami Makna Pertanyaan dalam Bahasa Yunani Koine  Hauw, Andreas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 7 No 1 (2006)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.884 KB)

Abstract

Dalam kelas bahasa Yunani yang saya bimbing terjadi diskusi hangat mengenai bagaimana menerjemahkan kalimat “Are we able to do it? ” (Sanggupkah kita untuk melakukan hal ini?). Seorang mahasiswa menerjemahkannya dengan dunametha poiein touto lalu saya mengusulkan untuk menambahkan partikel un atau unti di depan kalimat pertanyaan itu. Hasilnya, kalimat itu akan menjadi un (unti) dunametha poiein touto. Namun, sang mahasiswa tetap pada pendiriannya dengan alasan kalau partikel un atau unti mau ditambahkan maka perlu diubah pertanyaannya menjadi “Are we possible to do it? ” atau “Apakah mungkin kita melakukan hal ini.” Rupanya, dia tidak menyadari bahwa kalimat “Are we able to do it? ” selaras dengan “Are we possible to do it? ” Kita akan kembali ke pokok ini nanti. Jadi, sang mahasiswa mengerti pertanyaan “Are we able to do it? ” sebagai pertanyaan biasa, kalau ditempatkan dalam kategori jenis pertanyaan menurut tata bahasa Yunani. Apa artinya pertanyaan biasa dalam tata bahasa Yunani?
Naskah Khotbah: Godaan Pelayanan - Kuasa (Yoh. 13:4-5, 13-16) Hauw, Andreas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9 No 2 (2008)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.594 KB)

Abstract

Naskah Khotbah
Peran Kekristenan dalam Pendamaian : Refleksi dari Surat Filemon tentang Kekerasan Tersistem Hauw, Andreas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 10 No 1 (2009)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (17.941 KB)

Abstract

Dalam artikel ini, saya ingin menguraikan peran kekristenan dalam menciptakan kedamaian dalam suatu kekerasan yang tersistem. Peran kekristenan dalam situasi ini tampak melalui usaha Paulus mendamaikan Onesimus dengan Filemon (lapisan luar), di mana keduanya ada dalam suatu hubungan kekerasan tersistem yaitu: perbudakan (lapisan dalam). Oleh sebab itu, saya akan membuktikan bahwa pendamaian yang dilakukan Paulus adalah pendamaian yang bukan saja dalam konteks hubungan pribadi antara Filemon dengan Onesimus, tetapi juga pendamaian dalam konteks perbudakan masyarakat Greco-Roman waktu itu. Karena itu, tugas pertama adalah memperlihatkan bahwa perbudakan adalah sebuah kekerasan tersistem. Untuk ini metode yang dipakai adalah dengan menganalisis data di luar Alkitab mengenai perbudakan. Ini disebabkan karnea minimnya data dari Paulus tentang perbudakan selain dari surat Filemon, sedangkan data dari para penulis PB lainnya tidak relevan dalam bahasan ini karena tidak memberitahu apa pandangan Paulus tentang itu. Lebih lanjut, dalam surat Filemon, Paulus tidak memberikan satu pernyataan pun tentang apakah ia menerima, mendiamkan atau menolak perbudakan. Data di luar Alkitab yang paling diperhatikan adalah sosial ekonomi masyarakat Greco-Roman pada awal kekristenan dalam hubungannya dengan perbudakan. Lalu, tugas kedua yang perlu ialah memperlihatkan bahwa usaha pendamaian Paulus itu dimulai dari sistemnya, lalu keluar—ditransformasi—yang tampak dalam retorika Paulus untuk akhirnya Filemon dapat berbaik kembali dengan Onesimus. Karena itu, saya akan menggunakan analisis sastra-retoris terhadap surat Filemon. Dari analisis ini pula, saya akan menyediakan hal-hal praktis yang dapat dilakukan dalam proses pendamaian masa kini. Saya berharap melalui uraian ini, kita bisa menemukan identitas keinjilian kita sebagai “pembawa damai” (pada lapisan dalam dan luar) sebagaimana yang dikehendaki Tuhan Yesus terjadi pada anak-anak Kerajaan Allah.
Naskah Khotbah: Air Hidup yang Menghilangkan Rasa Malu dan Salah (Yoh 4:6b-7, 15-18, 23-26, 39-42) Hauw, Andreas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11 No 1 (2010)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.762 KB)

Abstract

Naskah khotbah
Hassatan sebagai Figur Minimalis dan Antagonis dalam Zakharia 3:1-2 Hauw, Andreas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 15 No 2 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.627 KB)

Abstract

Pertanyaan utama dari artikel ini adalah mengenai siapakan hassatan dalam Zakharia 3:1-2. Jawaban dari pertanyaan ini akan diberikan melalui sebuah studi mendalam mengenai hassatan, metafora-metafora yang dipakai dan plot dari cerita yang dikisahkan dalam bagian tersebut. Melalui sebuah rekonstruksi terhadap identitas hassatan, penulis menyimpulkan bahwa meskipun hassatan tidak dapat diidentifikasi, figur ini cukup minor namun antagonistis terhadap Allah dan umat-Nya.
THE NEW TESTAMENT IN ITS WORLD: AN INTRODUCTION TO THE HISTORY, LITERATURE, AND THEOLOGY OF THE FIRST CHRISTIANS Hauw, Andreas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 19 No 1 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v19i1.362

Abstract

Buku ini adalah karya yang terbaru dalam genrenya. Namun, buku ini bukan yang terbaru dalam pendekatannya?sejarah, sastra dan teologi, sebab Mark Allan Powell telah menulis pengantar Perjanjian Baru (PB) dengan metode yang sama. Kendati demikian, buku ini unik. Pertama, sebagai buku sederhana atau contoh agar mudah dipahami (reader atau sampler) mengenai pemikiran N.T. Wright. Hal ini tidak terlepas dari usulan Michael F. Bird supaya Wright menulis buku pengantar PB, setelah Wright menulis banyak buku mengenai PB. Kedua, buku ini bertujuan menjadi buku yang handal dan ramah. Handal karena ditulis untuk memahami kekristenan mula-mula dan ramah karena dilengkapi buku kerja, pembelajaran online, bahan video dan audio, serta kurikulum berbasis jemaat. Ketiga, buku ini berusaha menghindar dari beberapa problem umum yang biasa disajikan dalam buku pengantar PB. Bila dipandang perlu, hal mengenai itu telah ditulis dengan teliti, singkat dan mudah dicerna. Ketika menjelaskan masing-masing kitab dalam PB, buku ini memberikan pengantar singkat, diskusi persoalan penting dan kontekstual, garis besar kitab, komentar singkat, dan tips untuk aplikasi dan penyelidikan lebih lanjut.
Realizing Lausanne’s Holistic Mission in the Context of Poverty in Indonesia Anggreani, Friskilia Putri Diah; Hauw, Andreas
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 20 No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v20i2.491

Abstract

Poverty is a latent and global social problem in Indonesia. The outbreak of the Covid-19 that hit the world and Indonesia in early 2020 resulted in an economic recession in Indonesia. In this social context, the evangelicals in Indonesia have not taken this problem seriously. Despite that ignorance regarding the issue of poverty, there have been significant changes in the Lausanne Movement, which is reflected in three documents from this movement, Lausanne Covenant, Manila Manifesto, and The Cape Town Commitment. Considering this background, the authors use the point of view of the Lausanne Movement to invite the Indonesian evangelicals to see the context of poverty as an essential factor that must be included in their theological commitment. Furthermore, this article is meant to serve as a theological trigger for the evangelicals in Indonesia to reconsider the significance of their role in the public sphere, particularly in addressing the issue of poverty. Finally, the article’s contribution is three theological points that might be proposals for the Evangelicals in Indonesia to carry out God’s holistic mission for social transformation in the society. The authors propose three theological principles based on the three documents of the Lausanne Movement to inspire Evangelicals in Indonesia to carry out God’s mission for the holistic transformation of society; that is, God’s mission is understood in terms of the wholeness of God’s creation, focused on humanity, and made possible only by the redemptive act of Jesus Christ.