Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Apakah Keilahian Yesus merupakan Ciptaan Paulus?: Penyelidikan terhadap Tradisi Gereja Purba dalam Surat Paulus Alinurdin, David
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11 No 1 (2010)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.687 KB)

Abstract

Hal yang paling kontroversial mengenai isu hubungan Paulus dan Yesus ini adalah konsep keilahian Yesus. Yesus dianggap tidak pernah memandang diri-Nya sedemikian tinggi sehingga setara dengan Allah, melainkan hanya sebagai seorang nabi Yahudi penganut Yudaisme yang mengajak orang Yahudi untuk kembali menyembah YHWH. Paulus dianggap telah mengubah Yesus menjadi Kristus, Tuhan dan Anak Allah yang setara dengan Allah. Ia dituduh telah mengubah agama Yesus menjadi agama tentang Yesus. Ini masalah pokok yang ingin dibahas di dalam artikel ini: Apakah konsep keilahian Yesus dari Paulus merupakan ciptaannya sendiri atau berbasiskan tradisi gereja purba? Kita akan menjawab pertanyaan ini dengan menyelidiki tradisi-tradisi gereja purba yang terdapat di dalam surat-surat Paulus.
Konsep Kebenaran Allah Menurut Rasul Paulus di dalam Surat Roma Alinurdin, David
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 17 No 1 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.918 KB)

Abstract

Bagaimana Allah membenarkan orang-orang percaya di dalam proses keselamatan masih menjadi perdebatan di dalam kekristenan. Ada golongan yang berpandangan tindakan pembenaran Allah bersifat forensik dengan mengimputasikan kebenaran Kristus kepada seorang percaya sehingga ia mendapatkan status benar di hadapan Allah. Ada pula yang berpandangan pembenaran Allah itu bersifat moral dan transformatif dengan mengimpartasikan kebenaran Kristus di dalam diri orang percaya. Dan belakangan ini muncul pandangan New Perspective on Paul (NPP) yang merombak konsep pembenaran Allah tidak lagi bersifat forensik maupun etis, melainkan bersifat eklesiologis dengan memasukkan orang percaya di dalam komunitas umat Allah. Tulisan ini mengupas beberapa perikop kunci dari surat Paulus kepada jemaat di Roma guna memperlihatkan bahwa konsep kebenaran Allah dan karya pembenaran-Nya yang dipahami Paulus bersifat menyeluruh mencakup ketiga aspek tersebut. Kata-kata kunci: Kebenaran Allah, Pembenaran, Surat Roma, Paulus   How God justifies believers in the process of salvation is still under debate within Christianity. There are groups who view God’s justification as forensic by imparting the truth of Christ to a believer so that the believer attains a right status before God. Some view God’s justification as moral and transformative by imparting the truth of Christ in believers. And lately there is a New Perspective on Paul (NPP) that envisions overhauling the concept of God’s justification in that it is neither forensic nor moral, but is ecclesiological by including believers in the community of God’s people. This paper examines some key passages from Paul’s letter to the church in Rome to show that the concept of God’s truth and his justification, as understood by Paul, is comprehensive in that it encompasses all three aspects. Keywords: Righteousness of God, Justification, Romans, Paul
Etika Kristen Dan Teknologi Informasi: Sebuah Tinjauan Menurut Perspektif Alkitab Alinurdin, David
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 17 No 2 (2018)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1162.511 KB)

Abstract

Indonesia adalah negara dengan pengguna internet yang tidak bisa dianggap remeh. Menurut sebuah survei, pada tahun 2018 Indonesia menduduki peringkat keempat di dunia dalam lamanya penggunaan waktu untuk berinternet dalam sehari, yaitu 8 jam 51 menit. Maraknya penggunaan internet di Indonesia ini masih belum dibarengi dengan kualitas yang baik dalam memanfaatkan teknologi informasi ini. Pemanfaatan internet di Indonesia yang mayoritas digunakan untuk media sosial dan gaya hidup ini juga dibayangi-bayangi dengan tingkat kejahatan dan penyalahgunaan yang mengkhawatirkan. Dengan latar belakang kondisi tersebut, tulisan ini akan menyoroti aspek-aspek nilai yang memengaruhi pola pikir, sikap dan perilaku pengguna internet dari sudut pandang etika Kristen, yaitu dalam hal kesejatian relasi, pengolahan informasi, otoritas kebenaran, serta identitas dan integritas pengguna. Kata-kata kunci: Teknologi Informasi, Internet, Etika, Konsep Nilai, Relasi, Kebenaran, Identitas, Integritas   The number of regular internet users in the country of Indonesia should not be underestimated. At the year of 2018 it was noted that Indonesia was ranked fourth in the world in the length of time spent on the internet in a day; a total of 8 hours 51 minutes. The rise of internet use in Indonesia is not undergirded by a good quality connection in utilizing this form of information technology. The use of the Internet in Indonesia, the majority of which is used for social media and lifestyle, is also overshadowed by alarming crime and abuse rates. Keeping these observations in mind, this paper will highlight the values that influence the mindset, attitudes and behavior of internet users from the standpoint of Christian ethics, namely in terms of authenticity of relations, information processing, truth authority, and user identity and integrity. Keywords: Information Technology, Internet, Ethics, Concepts of Value, Relations, Truth, Identity, Integrity
BACK MATTER (DAFTAR MITRA BESTARI DAN INDEKS) Alinurdin, David
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 18 No 2 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Allah versus Setan Laplace: Sebuah Usulan Konsep Tindakan Ilahi Khusus yang Trinitarian, Kovenantal dan Saintifik Alinurdin, David
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 19 No 1 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v19i1.340

Abstract

God versus Laplace’s Demon: A Proposal for Trinitarian, Covenantal and Scientific Special Divine Action Concept. In the last decade, the interaction between science and theology in the effort to develop the concept of divine action in the natural world has come to a conclusion to find a causal joint where transcendent and nonphysical Creator God can act in natural processes that occur in the world of creation. An academic movement whose credibility has been recognized in its efforts to find a causal joint in new ways that incorporate philosophical interpretations of contemporary science into theology is the Divine Action Project (DAP), which formulates a concept of divine action called NIODA (Noninterventionist Objective Divine Action). NIODA seeks to find a locus of special divine action that does not conflict with laws of nature in physical processes that can be interpreted as ontological indeterminism, such as quantum mechanics. This paper will examine the philosophical assumptions behind NIODA and show that this concept is scientifically acceptable but not theologically adequate because it is still bound by Laplace's assumption of the enlightenment's legacy which considers the universe to be causally closed to divine action. Therefore, in the last part, this paper will also propose several important points in the effort to develop a concept of special divine action that is both theologically and scientifically adequate, built on the basis of a trinitarian and covenantal biblical theology of creation.
COVID-19 DAN TUMIT ACHILLES IMAN KRISTEN Alinurdin, David
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 19 No 1 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36421/veritas.v19i1.373

Abstract

Awal tahun 2020 ditandai dengan satu peristiwa yang mengejutkan seluruh dunia. Virus Corona baru yang merebak di Wuhan, China sejak akhir 2019, secara masif mulai menyebar ke berbagai negara di seluruh penjuru dunia, menjadi sebuah pandemi yang disebut COVID-19 (Corona Virus Disease 2019). Umat manusia di seluruh dunia dihadapkan pada satu kondisi yang mengejutkan dan meluluhlantakkan berbagai sendi kehidupan. Bukan hanya kekuatiran akan penderitaan fisik yang diakibatkan oleh COVID-19, namun juga seluruh aspek kehidupan politik, ekonomi, sosial, hingga religiositas dan spiritualitas manusia menjadi terganggu. Masalah penderitaan dapat diumpamakan seperti "tumit Achilles" bagi iman Kristen atau dengan kata lain sebagai titik lemah dari iman Kristen. Manusia sudah bergumul selama berabad-abad untuk menjawab pertanyaan bagaimana mungkin Allah yang baik dan penuh kasih mengizinkan kejahatan dan penderitaan sedemikian merajalela di dalam dunia ciptaan-Nya, dan hingga hari ini masih terus bergumul dengan pertanyaan yang sama. Terlebih lagi saat ini ketika melihat kondisi dunia yang porak-poranda akibat pandemi COVID-19, di antara kita mungkin ada yang bertanya apakah Allah sungguh ada? Apakah Dia Allah yang berdaulat yang masih terus bertindak di dalam dunia ini ataukah Dia sudah lepas tangan? Apakah Dia Allah yang baik dan peduli terhadap penderitaan yang terjadi di dalam dunia? Jika Dia Allah yang mahabaik, mengapa Dia menciptakan dunia ini dengan virus patogen yang menyebabkan penyakit mematikan? Lalu, bagaimanakah kita sebagai umat Allah dapat berkarya menyatakan kehadiran-Nya yang mahakuasa dan mahabaik itu secara konkret kepada dunia yang sedang bergumul saat ini? Beberapa pertanyaan krusial di atas akan didiskusikan dan dijawab dalam editorial ini.
Where The Conflict Really Lies David Alinurdin
Jurnal Amanat Agung Vol 11 No 2 (2015): Jurnal Amanat Agung Vol. 11 No. 2 Tahun 2015
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.111 KB)

Abstract

Tinjauan Buku Where The Conflict Really Lies: Science, Religion and Naturalism
Optimis, Pesimis, atau Realistis: Kajian Terhadap Perspektif Qoheleth Mengenai Kehidupan Phillips Steven; David Alinurdin
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 4, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v4i1.230

Abstract

The book of Ecclesiastes shows Qoheleth’s viewpoints that seem contradictory. On the one hand, Qoheleth looks like a pessimistic nihilist about life under the sun, which is judged in vain because everything leads to death. However, on the other hand, Qoheleth also looks optimistic with his advice to enjoy pleasure through eating, drinking, and joyful living. Therefore, it is not surprising that Qoheleth was once considered a neurotic who doubted himself. However, recent studies show that Qoheleth deliberately uses contradictions as complex irony to invite readers to look at the realities of life and reflect on that life is meaningful because of its purpose, significance, and coherence. By referring to the view that Qoheleth is teaching the meaning of life, this paper aims to show Qoheleth’s perspective on life that is not pessimistic or optimistic but realistic. By using the method of in-textuality, inner-textuality, and inter-textuality analysis, it is concluded that Qoheleth views that although death is inevitable, it should not be treated with pessimism but by fearing God, carrying out His commands, and enjoying His blessings like Adam. and Eve in the garden of Eden, because God will bring every human act to the final judgment and there is life after death.AbstrakKitab Pengkhotbah memperlihatkan cara pandang Qoheleth yang tampak kontradiktif. Di satu sisi Qoheleth terlihat seperti seorang nihilis yang pesimistis terhadap kehidupan di bawah matahari, yang dinilainya sia-sia karena semua berujung pada kematian. Namun di sisi lain, Qoheleth juga terlihat optimis dengan nasihatnya untuk menikmati kesenangan melalui makan, minum dan bersukaria. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika Qoheleth pernah dianggap seorang neurotik yang meragukan dirinya sendiri. Namun demikian, studi terkini menunjukkan bahwa Qoheleth sengaja menggunakan kontradiksi sebagai ironi kompleks untuk mengajak pembacanya melihat realitas kehidupan dan merenungkan bahwa hidup itu bermakna karena ada tujuan, signifikansi dan koherensinya. Dengan mengacu kepada pandangan bahwa Qoheleth sedang mengajarkan makna kehidupan maka tulisan ini bertujuan untuk memperlihatkan perspektif Qoheleth mengenai kehidupan yang bukan pesimis atau optimis, melainkan realistis. Dengan menggunakan metode analisis in-textuality, inner-textuality dan inter-textuality dihasilkan kesimpulan bahwa Qoheleth memandang meskipun kematian tidak terhindarkan, tidak semestinya disikapi dengan pesimistis melainkan dengan takut akan Tuhan, melakukan perintah-perintah-Nya, dan menikmati berkat-Nya seperti Adam dan Hawa di taman Eden, karena Allah akan membawa setiap perbuatan manusia ke pengadilan akhir dan ada kehidupan sesudah kematian
Front Matter Volume 19 No. 1 Alinurdin, David
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 19 No 1 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Back Matter Volume 19 No. 1 Alinurdin, David
Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 19 No 1 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract