Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

CAMPUR KODE DALAM TRANSAKSI JUAL BELI DI PASAR ALOK MAUMERE PROPISI NUSA TENGGARA TIMUR Nuwa, Gustav G
Jurnal Bindo Sastra Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Bindo Sastra Volume 1 Nomer 2 Tahun 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengangkat masalah penggunaan bahasa dalam konteks sosial. Bahasa yang menjadi sasaran penelitian adalah bahasa Melayu Maumere-Lio yang terjadi pada interaksi jual-beli di pasar Alok-Maumere. Untuk menjadi pijakan analisis data peneliti menggunakan teori sosiolinguistik. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah dalam penggunaan bahasa di pasar terjadi campur kode (code mixing). Ada dua campur kode yang terdapat dalam interaksi komunikasi jual-beli, yaitu campur kode intern dan campur kode ekstern. Campur kode intern terjadi pada unsur kata dan struktur frasa, sedangkan campur kode ekstern terjadi karena munculnya dialek Jawa dan bahasa Inggris. Faktor campur kode terdapat dua faktor timbulnya campur kode bahasa, yaitu identifikasi peran dan ragam.
CAMPUR KODE DALAM TRANSAKSI JUAL BELI DI PASAR ALOK MAUMERE PROPISI NUSA TENGGARA TIMUR Nuwa, Gustav G
Jurnal Bindo Sastra Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Bindo Sastra Volume 1 Nomer 2 Tahun 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jbs.v1i2.752

Abstract

Penelitian ini mengangkat masalah penggunaan bahasa dalam konteks sosial. Bahasa yang menjadi sasaran penelitian adalah bahasa Melayu Maumere-Lio yang terjadi pada interaksi jual-beli di pasar Alok-Maumere. Untuk menjadi pijakan analisis data peneliti menggunakan teori sosiolinguistik. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah dalam penggunaan bahasa di pasar terjadi campur kode (code mixing). Ada dua campur kode yang terdapat dalam interaksi komunikasi jual-beli, yaitu campur kode intern dan campur kode ekstern. Campur kode intern terjadi pada unsur kata dan struktur frasa, sedangkan campur kode ekstern terjadi karena munculnya dialek Jawa dan bahasa Inggris. Faktor campur kode terdapat dua faktor timbulnya campur kode bahasa, yaitu identifikasi peran dan ragam.
Menakar Keadilan Gender pada Penyelenggaraan Amal Usaha dan Ortom Muhammadiyah di Kabupaten Sikka Nuwa, Gustav Gisela
Musawa Jurnal Studi Gender dan Islam Vol. 19 No. 1 (2020)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & The Asia Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/musawa.2020.191.109-123

Abstract

Paper ini bertujuan menganalisis keadilan gender pada amal usaha dan ortom Muhammadiyah di Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sikka. Dasar artikel ini mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat keadilan gender pada amal usaha dan ortom Muhammadiyah di kabupaten Sikka. Analisis Paper menghasilkan 2 hal penting pada pola keadilan gender dinilai cukup dalam memberikan kesempatan pada perempuan dan motivasi besar datang dari faktor pendukung yang memiliki sense of organisasi sangat kuat, anggota masih menerapkan ajaran pada surat An-Nahl, Ayat 97, dan organisasi berupaya besar dalam sistem rekrutmen tenaga yang proporsional. Analisis yang tampak adalah masalah. Hal tersebut menjadi Faktor penghambat, pada kinerja karena jumlah SDM kurang, budaya patriarki yang masih membumi, workshop tentang keadilan gender yang minim. Dampak dari masalah tersebut mengakibatkan eksistensi Muhammadiyah di kabupaten Sikka perlu mendapat suport dalam perkenalan pada kegiatan keadilan gender sehingga dapat dijadikan acuan bagi masyarakat adat, pemerintah, dan LSM yang bicara tentang gender di Sikka.[This paper aims to analyze gender justice in Muhammadiyah charities and orthoms in PDM Sikka. The basis of this article is to find out the supporting and inhibiting factors of gender justice in Muhammadiyah charities and orthoms in Sikka district. The paper analysis produces two essential things in the pattern of gender justice that is considered sufficient in providing opportunities for women, and incredible motivation comes from supporting factors that have a powerful sense of organization, members still apply the teachings of Surah An-Nahl, Paragraph 97. The organization makes great efforts in a proportional staff recruitment system. The visual analysis is a problem. This is an inhibiting factor on performance due to the lack of human resources, a patriarchal culture that is still down to earth, workshops on gender justice are minimal. The impact of this problem resulted in the existence of Muhammadiyah in the Sikka district that needed support in introducing gender justice activities so that it could be used as a reference for indigenous peoples, the government, and NGOs who talk about gender in Sikka.]
Nilai Didaktis Syair Lagu Ier Pare pada Masyarakat Etnis Sikka Krowe di Kabupaten Sikka Marlin E. Lering; Gisela Nuwa; Nur Syamsiah Syamsiah
MABASAN Vol. 15 No. 1 (2021): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/mab.v15i1.419

Abstract

Nilai-nilai didaktif dalam syair lagu Ier pare pada masyarakat etnis Krowe merupakan suatu bentuk pengangkatan kembali nilai kearifan lokal setempat yang diyakini dapat memberikan nilai-nilai kehidupan yang tergerus oleh perubahan zaman. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan nilai-nilai didaktif dalam syair lagu Ier pare pada masyarakat etnis Sikka Krowe. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode observasi dan studi kepustakaan. Analisi data dilakukan dengan langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian terkait nilai-nilai didaktif dalam syair lagu ier pare pada masyarakat Sikka Krowe menunjukkan bahwa: Pertama, Nilai Kecerdasan atau intelektual berarti dalam menghadapi persoalan hidup hendaknya menggunakan segala akal kemampuan untuk mengatasinya. Kedua, nilai harga diri diperoleh dari proses pencarian benih yang terbaik di tempat yang jauh. Benih yang terbaik identik dengan kualitas diri seseorang. Ketiga, nilai sosial dimaknai sebagai semangat solidaritas dan memahami diri tidak dapat hidup sendirian tanpa orang lain. Keempat, nilai cita-cita hidup yang dimaknai dengan segala hal yang dikerjakan saat ini dengan tekun akan membuahkan hasil yang baik. Kelima, nilai sopan santun berarti sikap taat dan patuh terhadap hal yang disepakati bersama. Keenam, nilai kemurnian diri.
Democratic Principal (Kula Babong) Leadership Model: Examining the Role of Du'a Moan Watu Pitu in Sikka Krowe Community Gisela Nuwa; Rikardus Nasa
Pedagogia : Jurnal Pendidikan Vol 11 No 1 (2022): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/pedagogia.v11i1.1384

Abstract

Preserving culture is an important aspect of the life of indigenous peoples because it is identical to a lifestyle that is still guided by local customs. The process of cultural preservation in indigenous peoples cannot be separated from the important role of the community as an academic locus and Du'a Mo'an Watu Pitu as the responsible one. Based on this reality, this study aims to determine the leadership model of a democratic school principal based on local wisdom and examine the role of du'a moan watu pitu in maintaining the Kula babong culture (democracy) in the Sikka Krowe community. The research method used in this research is descriptive qualitative with an ethnographic approach. The subjects in this study were 4 principals of private and public schools, four Sikka krowe traditional leaders who inhabit each region, and culturalists in the Krowe Ethnic community, Sikka krowe Regency, East Nusa Tenggara. Data collection techniques used are observation, interviews and documentation. The results showed that the school principal's leadership model was based on the values of Sikka Krowe's local wisdom: the value of honesty, the value of courage, the value of kula babong, and charisma. Du'a Mo'an Watu Pitu's role in preserving the Kula Babong culture (democracy) is to maintain the integrity of traditional institutions, perform traditional rituals, resolve social conflicts and uphold justice.
PERAN MOSALAKI SEBAGAI PEMIMPIN MASYARAKAT ADAT DALAM MELESTARIKAN BUDAYA DEMOKRASI (KULA KAME) PADA MASYARAKAT ADAT LIO DI KABUPATEN SIKKA Fina Ndoa; Gisela Nuwa; Abdul Rodja Natsir
Jurnal Pendidikan PKN (Pancasila dan Kewarganegaraan) Vol 3, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jppkn.v3i1.49734

Abstract

This study aims to determine the role of Mosalaki as a traditional leader in preserving the democratic culture (kula kame) in the Lio indigenous people and to find out what are the obstacles to Mosalaki in preserving the democratic culture (kula kame) in the Lio indigenous people. This study uses qualitative research with an ethnographic approach and the data sources used are primary and secondary data. The results showed that the role of Mosalaki as a traditional leader of the Lio community, namely: controlling ulayat land, leading traditional rituals, and resolving conflicts in the community, while for Mosalaki's obstacles in preserving democratic culture (kula kame) the implementation of the traditional ritual itself, namely: internal barriers (internal). ), obstacles from outside (external), past and present leadership, and leadership insight itself.