Mezfi Unita
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Perbedaan Ekspresi CD56 pada Hiperplasia Nodular, Adenoma Folikular dan Karsinoma Papiler Tiroid Amalia Octaviani Dewi; Mezfi Unita; Apitriani
Majalah Patologi Indonesia Vol 29 No 2 (2020): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.653 KB) | DOI: 10.55816/mpi.v29i2.420

Abstract

BackgroundThyroid carcinomas are the most common malignancy of endocrine organs and the fourth most common cancer of women inIndonesia. Most of these tumors derived from thyroid follicular cells and more than 85% of cases are papillary carcinoma. Somecases may be confusing and cause misdiagnosis due to the morphology of these tumors are frequent overlap between nodularhyperplasia, follicular adenoma and papillary carcinoma. Anti-CD56 is one of the diagnostic markers with high sensitivity andspecificity in distinguishing benign thyroid lesions and papillary carcinoma. The aims of this study is to analyze the differences ofCD56 expression in nodular hyperplasia, follicular adenoma and papillary carcinoma.MethodsAn observational study with cross-sectional design was performed at Departement of Anatomical Pathology Faculty of MedicineUniversity of Sriwijaya/Dr. Mohammad Hoesin Palembang, from 1st January 2014 to 30th June 2017. Paraffin blocks of 52 samplesare collected from nodular hyperplasia (24 cases), follicular adenoma (8 cases) and papillary carcinoma (20 cases). The slides wereimmune stained using CD56 antibody. The difference of CD56 expression between papillary carcinoma and nodular hyperplasiawas analyzed using Chi-Square test while those between papillary carcinoma among follicular adenoma was analyzed usingFisher’s exact test.ResultsIn all samples of papillary carcinoma CD56 expression was negative compared to totally positive reaction in all samples of nodularhyperplasia and follicular adenoma.ConclusionAnti-CD56 could be used as a diagnostic marker in distinguishing between papillary carcinoma, nodular hyperplasia and follicularadenoma.
Ekspresi Epidermal Growth Factor Receptor dan Karakteristik Klinikohistopatologik pada Karsinoma Kolorektal . Reallyani; Mezfi Unita; Zulkarnain Musa; Syarif Husin
Majalah Patologi Indonesia Vol 23 No 1 (2014): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.813 KB)

Abstract

Background Colorectal carcinoma is one of the world's fourth most malignancies. Frequency of colorectal carcinoma malignancy most likely to occur in the gastrointestinal tract and causes the death of close to 15% of all cancers. Heterogeneous of the etiology is associated with many risk factors and molecular changes. Epidermal growth factor receptor is a 170 kDa transmembrane glycoprotein which contribute to carcinogenesis, prognostic impact and specific therapeutic targets. The aims this study to determine the relationship between EGFR expression and the clinicohistopathology characteristics in colorectal carcinoma. Methods This study is an observational study with cross sectional approach. The samples were specimens of the 57 samples that had been diagnosed as colorectal carcinoma from January 2010 to August 2012. Samples from histopathological preparations are reviewed and conducted outward EGFR immunohistochemistry with primary antibodies for the primary tumor. Results EGFR expression to histopathological characteristics are as follows pT3 of 45.6%, positive lymph node status was 52.6% and poorly differentiated histological degree of malignancy of 50.9%. Statistical calculations showed no significant correlation between EGFR expression and histopathologic characteristics of the pT in the TNM system (p=0.037), lymph node status (p=0.000), histological grading of malignancy (p=0.001), and high expression (61.4%). Conclusion EGFR expression affects the pT in TNM system, lymph node staging and histological grading of malignancy. Key words: characteristic clinicohistopathology, colorectal carcinoma, epidermal growth factor receptor.
Korelasi Antara Overekspresi Ki-67 dan BCL2 dengan Derajat Histopatologik Meningioma Maria Ulfa; Mezfi Unita; Aspitriani
Majalah Patologi Indonesia Vol 28 No 2 (2019): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.185 KB)

Abstract

Latar BelakangMeningioma terhitung sekitar 26% dari semua tumor otak primer. Beberapa faktor berperan pada progresivitastumor ini, di antaranya ketidakseimbangan antara proliferasi dan kematian sel. Beberapa penelitianmenyimpulkan terdapat hubungan bermakna antara overekspresi Ki-67 dan BCL2 dengan progresivitasmeningioma. Tetapi penelitian lainnya tidak mendukung hasil ini.MetodePenelitian observasional dilakukan di Sentra Diagnostik Laboratorium Patologi Anatomik Universitas SriwijayaPalembang. Total 40 kasus meningioma, terdiri atas 25 kasus meningioma derajat I, 14 kasus derajat II dan 1kasus derajat III, di antaranya dijumpai 4 kasus rekurensi. Kemudian dilakukan pulasan imunohistokimia (IHK)menggunakan antibodi Ki-67 dan BCL2 dan dianalisa dengan SPSS versi 22.0.HasilDari data klinikopatologik didapatkan, pasien didominasi perempuan (70%), usia rerata 44,43 tahun. Mayoritastumor berukuran ≥5 cm dan lokasi terbanyak di intrakranial. Uji statistik menunjukkan terdapat korelasi yangbermakna antara overekspresi Ki-67 dan BCL2 dengan peningkatan derajat histopatologik meningioma(p=0,018 dan p=0.001 berurutan).Ko-ekspresi Ki-67 dan BCL2 dijumpai pada 14 kasus (11 kasus derajat II, 1kasus derajat III dan 2 kasus derajat 1), tiga di antaranya merupakan kasus rekurensi.KesimpulanHasil penelitian ini menunjukkan korelasi bermakna antara overekspresi Ki-67 dan BCL2 dengan derajathistopatologik meningioma. Koekspresi kedua protein ini dominan dijumpai pada meningioma derajat II dan III.Kumpulan data ini menunjukkan bahwa koekspresi Ki-67 dan BCL2 dapat dipakai sebagai faktor prognostikmeningioma. Studi lanjutan dengan metode cohort mungkin dapat membuktikannya.
Pemeriksaan helicobacter pylori dengan PCR dari lambung penderita gastritis kronis Novi Triana; Mezfi Unita; Jusuf Fantoni; Theodorus; Yuwono
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 1 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.66 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar belakangHelicobacter pylori (H.pylori atau Hp) adalah bakteri yang hidup pada mukus dan epitel lambungmanusia. Bakteri ini merupakan salah satu penyebab terjadinya gastritis, ulkus duodenum danlambung, atau salah satu faktor penyebab keganasan lambung. Di negara berkembang prevalensiH.pylori dilaporkan lebih tinggi dibandingkan negara maju. Angka prevalensi juga tergantung daristatus sosialekonomi, budaya, lingkungan dan genetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiperbandingan nilai sensitifitas dan spesifisitas pemeriksaan PCR dengan pemeriksaan histopatologik dalam mendeteksi H.pylori serta mengetahui nilai dugaan positif dan negatif pemeriksaanPCR.MetodeSampel diambil dari arsip slide dan blok parafin di Laboratorium Patologi Anatomik, dan cairanlambung dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/Rumah SakitDr. Mohammad Hoesin Palembang. Jumlah sampel yang diperlukan untuk penelitian ini sebanyak30 sampel, kemudian dilakukan review oleh spesialis Patologi Anatomik, dilakukan pulasan Giemsadan pemeriksaan PCR untuk cairan lambung.HasilPada penelitian ini didapatkan 30 sampel, tujuh sampel (23,3%) dengan atrofi kelenjar, 5 sampel(16,7%) dengan metaplasia intestinal dan 14 sampel H.pylori positif (46,7%). Hasil pemeriksaansequen DNA H.pylori positif sebanyak 28 orang (93,3%) dan sequen DNA H.pylori negatif sebanyak2 orang (6,7%). Setelah dilakukan uji diagnostik didapati nilai sensitifitas 92,85%, spesifisitas6,25%, prediksi positif 46,4% dan prediksi negatif 50%. Sampel terbanyak (27) adalah gastritiskronik aktif, diikuti oleh gastritis kronik nonaktif.KesimpulanUntuk mengetahui adanya H.pylori pada lambung, pemeriksaan dengan metode PCR ini bisadijadikan pemeriksaan alternatif apabila pasien menolak untuk dilakukan biopsi lambung.