Nofita, Reni
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Banten

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Korelasi Antara Kebersihan Alat Kelamin Dengan Resiko Keputihan Pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Pondok Aren Nofita, Reni; Alamsyah, Chairunnisa Minarni; Sartika, Cynthia Dewi
JURNAL KESEHATAN Vol 2 No 3 (2018): Jurnal STIKES Banten
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan kadar hormon estrogen menyebabkan peningkatan kadar air dalam mucus serviks sehingga sekret vagina bertambah banyak dan meningkatkan terjadinya faktor resiko keputihan. Hygienitas menjadi faktor dominan penyebab keputihan terutama pada ibu hamil. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner. Populasi yang dijadikan acuan perhitungan sampel merupakan Ibu hamil TM III. Di Puskesmas Pondok Pucung sebanyak 168 Orang, Puskesmas Pondok Betung sebanyak 424 Orang, dan di Puskesmas Pondok Kacang Timur sebanyak 120 Orang, sehingga total populasi ada 712 Orang Ibu hamil TM III. Dengan jumlah sampel sebanyak 97 responden dan penetapan sampel secara Accidental sampling. Hasil Penelitian. dari 97 responden Ibu hamil, ibu yang memakai pembersih vagina dan mengalami keputihan ada sebanyak 23,8% sedangkan ibu yang hanya menggunakan air dan mengalami keputihan ada sebanyak 7,9%. Terdapat hubungan antara pengguna pembersih vagina dengan kejadian keputihan pada ibu hamil. Perlunya edukasi mengenai personal hygine selama kehamilan kepada Ibu hamil supaya mengurangi kejadian keputihan selama kehamilan.
Determinan Usia Menarche di SMP Negeri 3 Katibung Lampung Selatan Siallagan, Dorsinta; Nofita, Reni; Desmiati, Hanny
JURNAL KESEHATAN Vol 8 No 1 (2020): Jurnal STIKes Banten
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan Menarche adalah keluarnya cairan darah dari alat kelamin wanita berupa luruhnya lapisan dinding dalam rahim yang banyak mengandung pembuluh darah. Tujuan penelitian menganalisa determinan faktor yang mempengaruhi usia menarche. Metode Penelitian deskriptif analitik menggunakan rancangan cross sectioanl study. Populasi 75 orang dengan jumlah sampel sebanyak 64 orang dengan menggunakan Non Probability Sampling. Data dianalisa dengan uji Chi Square Test. Hasil penelitian terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan usia menarche dengan nilai X2 hitung = 4,597 lebih besar dari X2 tabel = 3,841. Tidak ada hubungan yang signifikan antara status kesehatan dengan usia menarche (X2= 0,775), paparan psikis (X2= 2,371), dan usia menarche ibu dengan usia menarche (X2= 0,293). Saran masih ditemukannya siswa yang mengala gizi kurang, diharapkan diadakan penyuluhan kesehatan dan edukasi tentang gizi seimbang tujuan meningkatkan status gizi baik para siswa/i, dan bekerjasama dengan UKS agar dilakukan penilaian status gizi secara berkala sehingga keadaan gizi siswa dapat dipantau dengan baik. Kata Kunci: Determinan , Usia menarche, Siswi smp
Determinant Teenager Family Planning in Banten Province 2019 (SKAP 2019 Secondary Analysis Data) Reni Nofita; Dorsinta Siallagan; Restu Octasila; Rd. Deden Gumilar Nugraha
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 7, No 2: June 2022
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.908 KB) | DOI: 10.30604/jika.v7i2.607

Abstract

The United Nations Children's Fund (UNICEF) in 2013, stated that Indonesia was the country with the seventh-highest child marriage rate in the world. Based on data SKAP 2019, the knowledge index of adolescents about KRR for Banten Province at 44.2%. The purpose of the study was to determine the determinants of family planning in teenagers in Banten Province in 2019 as input in determining the priority of improvement program efforts in reducing the incidence of early marriage in adolescents, especially in Banten Province. This research is a quantitative study, using secondary data from the 2019 Youth SKAP. The research design is cross sectional. The outcome variable of this study is family planning in adolescents, while the predictor variables include; Gender, area of residence, education, age group, teenager Knowledge about Reproductive Health, Exposure to media sources, Information Source Officer, Ever Dating, Sexual Attitude before marriage and Courtship Behavior. The population of this study was teenagers in Banten Province, while the research sample used the results of the 2019 SRS SKAP data restriction, namely 1454 respondents. Univariate analysis describes family planning in teenagers and their predictor factors, bivariate analysis using Chisquare and Anova, for multivariate analysis using logistic regression. The results obtained 59.6% of family planning in teenagers is not good. There was a significant relationship between age group (p=0.001), place of residence (p= 0.000), level of education (p=0.000), knowledge of adolescent reproductive health (p=0.000), exposure to information media (p=0.000), service provider information (p=0.000), ever dating (p=0.000) and courtship behavior (p=0.000) on family planning in adolescents in Banten Province in 2019. The most dominant factor for family planning in teenager is teenager knowledge about reproductive health in the category of having sufficient the chances of family planning are 7 times better than those with less good knowledge after being controlled by variables of age group, place of residence, education level, media exposure, information giving officers and having been in a relationship. Suggestions for this research to the youth sub-sector to continue to disseminate information about teenager reproductive health either through the media or officers who provide information and make advertisements about reproductive health or family planning. Abstrak: The United Nations Children's Fund (UNICEF) pada tahun 2013, menyatakan bahwa Indonesia menjadi negara dengan angka perkawinan anak tertinggi ketujuh di dunia. Berdasarkan data SKAP 2019 tentang indek pengetahuan remaja tentang KRR untuk Provinsi Banten pada angka 44,2%. Tujuan penelitian adalah Diketahuinya determinan perencanaan keluarga pada remaja di Provinsi Banten Tahun 2019 sebagai bahan masukan dalam menentukan prioritas upaya program peningkatan dalam mengurangi kejadian nikah dini pada remaja khususnya di Provinsi Banten. Penelitian merupakan studi kuantitatif, menggunakan data sekunder SKAP Remaja 2019. Desain Penelitian cross sectional. Variabel outcome penelitian ini adalah perencanaan keluarga pada remaja, sedangkan variable predictor meliputi; Jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, pendidikan, kelompok umur, Pengetahuan Remaja tentang kesehatan Reproduksi, Keterpaparan sumber media, Petugas Sumber Informasi, Pernah Pacaran, Sikap Seksual sebelum menikah dan Perilaku pacaran. Populasi penelitian ini adalah remaja di Provinsi Banten sedangkan sampel penelitian menggunakan hasil retriksi data SRS SKAP 2019 yaitu 1454 Responden. Analisa univariat menggambarkan perencanaan keluarga pada remaja serta factor-faktor prediktornya, analisa bivariate menggunakan Chisquare dan Anova, untuk analisa multivariate menggunakan regresi logistik. Hasil diperoleh 59.6 % perencanaan keluarga pada remaja kurang baik. Terdapat hubungan signifikan antara kelompok usia (p= 0.001), tempat tinggal (p= 0.000), tingkat pendidikan (p=0.000), pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja (p=0.000), Keterpaparan Media informasi (p=0.000), petugas pemberi informasi (p=0.000), pernah pacaran (p=0.000) dan perilaku pacaran (p=0.000) terhadap perencanaan berkeluarga pada remaja di Provinsi Banten Tahun 2019. Faktor yang paling dominan terhadap perencanaan berkeluarga pada remaja pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi katagori cukup memiliki peluang perencanaan keluarga 7 kali lebih baik dibandingkan berpengetahuan kurang baik setelah dikontrol oleh variabel kelompok usia, tempat tinggal, tingkat pendidikan, keterpaparan media, petugas pemberi informasi dan pernah pacaran. Saran penelitian ini kepada Sub bidang remaja agar tetap menyebarkan informasi tentang kesehatan reproduksi remaja baik melalui media ataupun petugas pemberi informasi serta membuat iklan mengenai kesehatan reproduksi atau perencanaan berkeluarga.
Korelasi Waktu Pemberian Kalsium, dan Kepatuhan Konsumsi Kalsium dengan Kejadian Resiko Tinggi Pre Eklamsia Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Reni Nofita; Friska Rezaputri Anjansari
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 1 No. 1: March 2018
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.167 KB) | DOI: 10.35473/ijm.v1i1.39

Abstract

Menurut data yang dikeluarkan WHO, kekurangan kalsium bisa menyebabkan 200 jenis penyakit. Pada ibu hamil kekurangan kalsium dapat beresiko terhadap kejadian preeklamsia pada kehamilan. Hipotesis yang menyatakan kalsium merupakan faktor predisposisi pertama kali disebutkan pada tahun 1980. Hal ini juga terbukti dari hasil penelitian sebelumnya oleh Hofmyer dan kawan-kawan, suplemen kalsium selama kehamilan memiliki efek yang signifikan untuk menurunkan resiko preeklamsia hampir 65%. Angka kejadian preeklampsia di Indonesia mencapai 128.273 per tahun atau sekitar 5,3%. Hal tersebut sesuai dengan insidensi preeklampsia yang terjadi di negara berkembang lainnya yaitu sekitar 1,8% - 18%. Preeklamsia pada kehamilan berpotensi membahayakan ibu dan janin yang sedang dikandungnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi waktu pemberian kalsium, kepatuhan konsumsi kalsium dengan kejadian resiko tinggi preeclampsia  ibu hamil di Wilayah kerja puskesmas Ciputat. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif dengan rancangan penelitian cross sectional study. Lokasi penelitian dilakukan di Puskesmas Ciputat, Situ Gintung, Jombang dan Kampung Sawah. Sampel penelitian sebanyak 88 ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC di Puskesmas Ciputat, Situ Gintung, Jombang dan Kampung Sawah. Ditentukan dengan proporsi cluster dari setiap puskesmas yang diteliti. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner dan buku kunjungan ANC. Analisis data menggunakan Chi Square. Hasil penelitian didapatkan 69,3% beresiko mengalami preeklamsia, sebanyak 46 responden (52,3%) ibu hamil lebih banyak dengan paritas multipara dibanding primipara, sebanyak 49 responden (55,7%) memiliki lila > 23,5 cm, sebanyak 62 responden (70,5%) memiliki tinggi badan > 145 cm, dan 43.1% responden waktu pemberian kalsium paling banyak diberikan pada usia kehamilan 13 sampai 28 minggu (Trimester 2), serta kepatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi kalsium berdasarkan data penelitian lebih banyak pada ibu hamil yang tidak patuh mengkonsumsi kalsium yaitu sebesar 53,3%. Sementara hasil uji statistic didapatkan hasil  tidak terdapat hubungan yang signifikan antara waktu pemberian kalsium dengan kejadian resiko tinggi preeklamsia dengan p value 0,343 dan terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan konsumsi kalsium dengan kejadian resiko tinggi preeklamsia dengan p value 0,012.
Korelasi Aktivitas Seksual pada Ibu Hamil dengan Resiko Kontraksi di 3 Wilayah Puskesmas Tangerang Selatan Reni Nofita; Betty Simanjuntak
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 1 No. 2: September 2018
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.386 KB) | DOI: 10.35473/ijm.v1i2.102

Abstract

Perubahan yang terjadi selama kehamilan meliputi perubahan fisik, emosi dan hasrat seksual.Dampak dari perubahan tersebut masih cukup banyak pasangan suami istri yang takut, atau ragu-ragu untuk memutuskan melakukan hubungan seksual selama hamil. Berdasarkan studi pendahuluan pada penelitian Nunung Yuliyati yang dilakukan  Tahun 2011 terdapat  sekitar 64,7% ibu hamil trimester III mengeluh cemas ketika melakukan hubungan seksual dan diantara yang mengalami kecemasan dalam hubungan seksual mengatakan tidak bergairah dalam melakukan hubungan seksual, frekuensi hubungan seksual juga tidak mesti rata-rata 1kali seminggu.  Tujuan  untuk mengetahui hubungan antara frekuensi senggama, orgasme ,posisi hubungan  seksual dan durasi hubungan seksual dengan kejadian kontraksi selama hamil. Metode penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan rancangan penelitian cross sectional study. Lokasi penelitian dilakukan di Puskesmas Rawa Buntu, Serpong 1, Serpong 2. Sampel pada penelitian ini sebanyak 67 ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC di Puskesmas Rawa Buntu,Serpong 1, Serpong 2 yang ditentukan dengan proporsi cluster dari setiap puskesmas yang diteliti. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner dan buku kunjungan ANC. Analisis data menggunakan chi square. Hasil penelitian didapatkan hasil primipara 23,9%, multipara 41,8 % , grandemultipara 34,3% ibu hamil TM 3. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi senggama dengan ibu hamil beresiko kontaksi dengan p value 1.000.  Terdapat hubungan yang signifikan antara posisi hubungan seksual dengan ibu hamil dengan p value 0.034.  terdapat hubungan yang signifikan antara durasi senggama dengan ibu hamil dengan p value 0,034. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara orgasme dengan ibu hamil yang beresiko dengan p value 1,000.
Korelasi Pola Makan dengan Kejadian Anemia pada Kehamilan di Puskesmas Kecamatan Ciputat Timur Tangerang Selatan Provinsi Banten Reni Nofita; Dorsinta Siallagan; Yuliyanti Yuliyanti
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 2 No. 2: September 2019
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.22 KB) | DOI: 10.35473/ijm.v2i2.260

Abstract

Anemia pada kehamilan berpotensial membahayakan ibu dan anak. Berdasarkan Riskesdas 2013 prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia sebesar 37,1%, ini menunjukkan angka kejadian anemia kehamilan di Indonesia masih cukup tinggi penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola makan dengan kejadian resiko tinggi anemia pada ibu hamil di puskesmass Kec, Ciputat timur. Metode penelitian ini adalah kuantitatif  dengan rancangan penelitian cross sectional study. Lokasi penelitian dilakukan di Puskesmas kec, Ciputat timur, Rengas, Pisangan, Pondok ranji. Sampel pada penelitian ini sebanyak 84 ibu hamil Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan Chi Square Hasil penelitian dari 84 ibu hamil, didapatkan 20,9% mengalami anemia Terdapat hubungan yang signifikan antara keteraturan pola makan dengan kejadian anemia. Terdapat hubungan yang signifikan antara cara pengolahan bahan makanan dengan anemia. Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis makanan yang di konsumsi dengan kejadian anemia pada kehamilan.  
Uji Media Edukasi Tentang Pola Konsumsi Tablet Fe Untuk Mencegah Kejadian Resiko Tinggi Anemia Ibu Hamil Restu Octasila; Reni Nofita; Siti Dariyani
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 3 No. 1: March 2020
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.931 KB) | DOI: 10.35473/ijm.v3i1.379

Abstract

Background Pregnancy is a special condition for a woman as a prospective mother, because during pregnancy there will be many changes both physical, social and mental changes. During pregnancy there can also be things that cause a high-risk pregnancy especially those associated with anemia. This ignorance is one of the reasons for the lack of supporting media information related to the practice of how to consume FE tablets correctly. This study generally aims to analyze the level of understanding of mothers about how to consume FE tablets and compile an effective video information media for pregnant women about the practice of FE Tablet consumption patterns, so that it can effectively improve mothers' understanding of FE tablet consumption patterns practices that can meet FE's needs to you during pregnancy. In line with the objectives to be achieved in this study, this research uses the action research method. This method was chosen because in the first phase, research will be carried out on the condition and level of understanding of pregnant women regarding the practice of correct consumption patterns of FE tablets. Furthermore, in the second phase, an implementation / action will be carried out to implement and test the application and effectiveness of the use of information media in the form of video provided in Puskesmas Cisoka Kabupaten Tangerang. Research TKT at level 3. Results Increased knowledge of pregnant women before being given health education 42 to 65. Increased knowledge of pregnant women before being given video-based educational media 43 to 76. The targeted output in this study is to produce a video-based educational media that will increasing the percentage of regular consumption of Fe tablets in pregnant women can be accessed through in  https://www.youtube.com/watch?v=MIFi0y4KjCc  The conclusion in this study is the analys of media needed to increase the knowledge of pregnant women about the consumption patterns of Fe tablets that are adequate to reduce the risk of anemia in pregnant women. Significant increase in knowledge of pregnant women (P. value 0.001). The advice given to the providers of care (Midwives) is to use video-based educational media as an alternative media for health education.
Pengetahuan Inisiasi Menyusu Dini Berdasarkan Karakteristik Ibu Hamil di Puskesmas Palmerah Reni Nofita; Nuntarsih Nuntarsih; Dorsinta Siallagan
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 3 No. 2: September 2020
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.103 KB) | DOI: 10.35473/ijm.v3i2.625

Abstract

The policy of early initiation of breastfeeding has been socialized in Indonesia since August 2007 (Roesli, 2008). The World Health Organization (WHO) has recommended that all babies get colostrum, namely breast milk on the first and second days to fight various infections and get exclusive breastfeeding for 6 months (Ministry of Health 2012). The IMD implementation policy is also expected to reduce infant mortality (IMD). In infant mortality, 40% occurs in the first month of life and early initiation of breastfeeding can reduce these risk factors for death, thereby reducing 22% for 28-day infant mortality. The research design was a cross sectional study using primary data (questionnaire). This sample uses accidental sampling method. The results showed that of the 87 respondents at Puskesmas Palmerah, the age of 20-35 years old mothers who had good knowledge about IMD were 30 respondents (34.5%), respondents with high education (SMA-PT) had good knowledge about IMD as many as 51 respondents ( 58.62%), respondents who work and have good knowledge about IMD are 24 respondents (27.59%), respondents who are experienced and have good knowledge about IMD are 42 respondents (48.28%), respondents who receive information and have Good knowledge about IMD was 69 (79.31%), while the related variables included age, education and experience with a P value of 0.384 greater than α, namely 0.05. Conclusion. Characteristics of age, education level, experience are closely related to the knowledge possessed by pregnant women, especially those related to knowledge of IMD. Meanwhile, the factor that is not related to the success of IMD is the source of information. Suggestion. There needs to be an effort to do outreach activities on Early Initiation of Breastfeeding (IMD) or supporting facilities to increase the knowledge of pregnant women, especially in the third timester.Keywords: Knowledge, IMD, Characteristics
Pengembangan Media Self Trainning Basic Prenatal Yoga Berbasis Audiovisual di Puskesmas Pamulang Tangerang Selatan Siti Dariyani; Reni Nofita; Mardi Yana
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 4 No. 1 (2021): Maret 2021
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.147 KB) | DOI: 10.35473/ijm.v4i1.682

Abstract

Pregnancy and childbirth are inseparable chain reactions in a normal woman's life. To undergo a safe and comfortable pregnancy, pregnant women must be able to manage their body, mind and spirit holistically during pregnancy. (Kuswandi,2013) Changes in the safety and comfort of pregnant women are closely related to physical and psychological changes. (Prawiroharjo,2015) To reduce the physical and psychological complaints of mothers during pregnancy, what can be done by including the mother in pregnancy exercise classes, Prenatal yoga is a type of exercise that is good for pregnant women to do. Practicing yoga means that pregnant women practice physical postures, breathing techniques, and meditation.Based on the data obtained at Pamulang Health Center, from 684 pregnant women during January to April, only 20% of pregnant women attended the pregnancy class provided by the puskesmas, the remaining 80% of pregnant women were not involved in gymnastics classes at all. The absence of pregnant women is due to busyness and unsuitable schedules. The general objective of this study is to develop audiovisual self-training media for basic prenatal yoga and to test its effectiveness.The research method is action research. The first stage will conduct a study of the condition and level of needs of pregnant women about basic prenatal yoga. The second stage will be the process of making audiovisual media for basic prenatal yoga self-training. The third stage is testing the effectiveness of the media. The results showed that 60% of respondents did not know well what Prenatal Yoga was, pre-intervention described the mean score of physiological comfort during pregnancy of 56.1 with a range of values ranging from a score of 35-77. The mean value obtained post intervention was 48.4 with scores ranging from 30-70. p value of 0,000. Thus, it is known that there is a significant relationship between prenatal yoga movements and physiological comfort during pregnancy.