Tambunan, Elia
STT Salatiga, Direktur-Pendiri Jungle School Salatiga

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

VIRTUALISASI TUHAN: Menyelak Ownership Tokoh Agama Elia Tambunan; Simon Simon
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 2 (2022): Vol 1, No 2 (2022) Maret
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.837 KB) | DOI: 10.54592/jct.v1i2.29

Abstract

The boom of information, communication and technology is changing the landscape of religious performance, especially when the West falls into a workaholicism without losing spiritualism by not leaving work. Moreover, when the world is hit by the Covid-19 pandemic, that performance is increasingly finding momentum in the virtual space. Islamic and Christian leaders are required to exist in shepherding faith of their people. Using modern socio-religious studies, religious phenomena in the digital space are analyzed in this paper to nark the virtualization of religious actorship. The data is collected from an integration of literature and social media related to the teachings of Islamic and Christian religious figures. From there, it was found, because of the sophistication of digital technology, religion in the virtual industry is trapped as a content commodity that has succeeded in placing religious figures as central actors, but often away from the supervision and control of the audience. The virtualization of religion places the religious leader as filmmakers as well as the main actors in their sacred duties but also turns towards ownership in many ways. This is revealed from the theoretical framework, namely the spiritual market, which is used here.ABSTRAKDentuman teknologi mengubah lanskap performa agama, khususnya ketika dunia Barat gila kerja tanpa kehilangan spiritualisme dengan tidak meninggalkan pekerjaan. Banyak agamawan tidak siap, tetapi banyak juga yang merekayasa diri, terlebih ketika dunia dihantam pandemic Covid-19, performa tersebut semakin menemukan momentum di ruang virtual. Pemimpin Islam dan Kristen dituntut eksis untuk menggembalakan iman umat. Lewat studi sosial keagamaan modern, fenomena keagamaan di ruang digital dianalisis dalam tulisan ini untuk menyelak virtualisasi pemeranan tokoh agama. Data dikumpulkan dari perpaduan literatur dan media sosial terkait dengan ajaran tokoh agama Islam dan Kristen. Dari sana ditemukan, oleh karena kecanggihan teknologi digital, agama dalam industri virtual terperangkap sebagai komoditas konten yang berhasil menempatkan tokoh agama sebagai aktor sentral, namun sering luput dari kontrol audiens. Secara baru, virtualisasi agama menempatkan para tokoh agama menjadi sineas sekaligus pemeran utama dalam tugas-tugas kudus mereka namun juga berkelok ke arah kepemilikan dalam banyak hal. Hal itu terungkap dari kerangka teori, yaitu pasar rohani dalam studi sosial keagamaan, yang digunakan di sini. Kata kunci: Aktor Agama, Kepemilikan, Pasar Rohani, Virtualisasi Tuhan
Islamism, Christianism, Urbanism, and The Capitalization of Urban Space Tambunan, Elia; Larhzizer, Fouad
AL-TAHRIR Vol 20, No 2 (2020): Islam and Politics
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/altahrir.v20i2.2210

Abstract

Abstract: This paper relates Islamic studies, namely Islamism, with Christian studies, urban studies in an integrative way. The objects of written material are religions, social movements, politics, and cities. The research was conducted from July 2012 to July 2018 using a qualitative empirical approach with depth interview techniques and the use of social media, combined with literature studies. The author argues, it is a fundamental mistake if scholars of Islamic studies believe too much that Islamic social movements are a manifestation of Islamism as the ideology of Islamists as published so far. In practice, Islamic social movements, especially in urban communities, are far more complex than ideological issues. Examining the Salatiga urbanites as the location and subject research, it is found a religious linkage and the caliptalization of urban space. This linkage creates a contentious politics and the interests of the urban elite that play into it during the Regional Head Election.الملخص: تربط هذه الورقة الدراسات الإسلامية ، أي الإسلاموية ، بالدراسات المسيحية ، والدراسات الحضرية بطريقة تكاملية. المواد المكتوبة هي الأديان والحركات الاجتماعية والسياسة والمدن. تم إجراء البحث في الفترة من يوليو 2012 إلى يوليو 2018 باستخدام نهج تجريبي نوعي مع تقنيات المقابلة العميقة واستخدام وسائل التواصل الاجتماعي ، جنبًا إلى جنب مع دراسات الأدب. يجادل المؤلف بأنه من الخطأ الأساسي أن يعتقد علماء الدراسات الإسلامية أن الحركات الاجتماعية الإسلامية هي مظهر من مظاهر الإسلاموية باعتبارها إيديولوجية الإسلاميين كما نُشرت حتى الآن. في الممارسة العملية ، الحركات الاجتماعية الإسلامية ، خاصة في المجتمعات الحضرية ، أكثر تعقيدًا بكثير من القضايا الإيديولوجية. عند دراسة سكان سالاتيجا كموقع وبحث موضوعي ، وجد ارتباطًا دينيًا وخلافة الفضاء الحضري. يخلق هذا الارتباط سياسة مثيرة للجدل ومصالح النخبة الحضرية التي تلعب دورها خلال انتخابات رئيس المنطقة.Abstrak: Tulisan ini mengaitkan studi Islam, yakni Islamisme dengan studi Kristen, studi perkotaan secara integratif. Objek material tulisan adalah agama, gerakan sosial, politik, dan kota. Penelitian dilakukan sejak Juli 2012 hingga Juli 2018 dengan pendekatan kualitatif empirik dengan teknik wawancara mendalam dan penggunaan media sosial, digabung dengan studi literatur. Penulis berargumentasi, adalah kekeliruan mendasar jika para sarjana studi Islam terlalu meyakini bahwa gerakan-gerakan sosial Islam merupakan manifestasi Islamisme sebagai ideologi kaum Islamis seperti dipublikasikan selama ini. Dalam praksisnya, gerakan-gerakan sosial Islam, khususnya di masyarakat kota jauh lebih kompleks dari persoalan ideologis. Dari masyarakat Kota Salatiga sebagai lokasi dan subjek penelitian, ditemukan keterkaitan agama dengan kaliptalisasi ruang kota. Keterkaitan itu menimbulkan politik perselisihan dan kepentingan elite urban yang bermain dalamnya pada saat Pemilihan Kepala Daerah.
PENDIDIKAN PROGRESIF DAN KAUM URBAN: MENCARI WAJAH BARU KONTRIBUSI SOSIAL Tambunan, Elia
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Vol 1, No 1 (2020): Pendidikan Kristen dan Kepemimpinan
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47530/edulead.v1i1.27

Abstract

Abstraksi Tulisan ini menunjukkan kontribusi sosial Pendidikan kaum urban dengan mengambil contoh Jungle School Salatiga. Dengan meneliti sejumlah literatur tentang pembelajaran transformatif bagi orang dewasa, data empiris terlihat bagaimana STT sebaiknya memperlihatkan aspek dan karakter sosial dalam proses dan lulusan. Kontribusi teoritis tulisan ini memperluas teori pembelajaran transformatif menjadi pendidikan progresif yang memiliki kebermanfaatan. Sedangkan praktisnya ialah praksis pendidikan urban yang dikelola lulusan hadir dalam paradox Jawa Tengah, dilema modernisasi dan urbanisasi kota jajahan di Indonesia yang mengalami persaingan pendidikan dan segregasi kehidupan kota. Kata Kunci: Pendidikan Urban Progresif, Paradoks Jawa Tengah, Kontribusi Sosial, Jungle School, Lulusan STT. Abstract Paper shows the social contribution of urban Education by examining the Salatiga Jungle School. By reading the literatures on transformative learning for adults, empirical data, it is examining how theological seminary performing the aspects and social character in learning process and outcomes. Paper contribution is enlarging the transformative theory into progressive education that has benefits. The practical contribution is presenting the praxis urban education in the paradox of Central Java, the dilemma of modernization and urbanization of the Indonesian colonies city which increases the education competition and segregation city life. Keywords: Progressive Urban Education, Central Java Paradox, Social Contributions, Jungle School School, Theological Graduates.
TEKNOGOGI: Model Pembelajaran Baru dan Masyarakat Kota Elia Tambunan
Jurnal Shanan Vol. 4 No. 2 (2020): Oktober
Publisher : UKI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.679 KB) | DOI: 10.33541/shanan.v4i2.2022

Abstract

Not a few teachers in Indonesia, despite being technology users, are not yet good at using it as technogogy. As a result of the teacher’s habit of using the classroom as a place of learning in formal schools, they encounter serious obstacles in the online learning system, especially those who are no longer young. Technology, teachers, society, and online learning, as material objects for discussion in this paper, have a problematic relationship. This paper intends to describe the practical use of technology as a fun learning devices for urban society in Indonesia, namely technogogy with Salatiga as an example. With qualitative data collected through participant observation of 29 teachers as a research method between March and September 2020 and then analyzed, researchers found interesting empirical data. The COVID-19 pandemic has corrected the performance of teachers who are accustomed to vocalizing. Online systems require the latest digital-based technology literacy levels to ensure learning systems are not just administrative jobs for teachers. Living Books produced by Jungle School function as a technology containing transformative thematic instruction that can fulfill learning modalities for students from various countries. It is a novelty of urban education praxis, shown by this paper, a new learning technology that can also be adopted and innovated by practitioners of further Christian Religious Education.
Politik Perang Literasi: Sejarah Pendidikan Kristen Elia Tambunan
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Vol 2, No 2 (2021): Pendidikan Agama Kristen dan Kepemimpinan Kristen
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47530/edulead.v2i2.81

Abstract

Innocently, there are scholars of Christian education who see Christian history as clean of political interests an sich. The impact is bad. They have no political analysis competence. In fact, the praxis of education is intertwined with politics. With historical data around the early centuries of Roman Christianity (90-500 A.D), and with historiographical research, it was found that Christian educators also played literacy politics. Paul’s writings in New Testament theology, the works of the Bishops, Presbyters, and Deacons, particularly the Roman West and Byzantine East regions under the persecution of several emperors had political tones. The literacy war is the determinant of success in penetrating teachings into the palace circle. Christianity succeeded in overthrowing the ideology of Romanism. Caesar is the guarantee of the freedom of believers in Christ, saving lives from massacre. This paper proposes that learning of political competence and educational literacy are very important at the level of Christian religious higher education and society.AbstrakDengan polos, ada saja sarjana Pendidikan Kristen yang melihat sejarah agama Kristen bersih dari kepentingan politik secara an sich. Akibatnya buruk. Mereka tidak punya kecakapan analisis politik. Padahal, praksis pendidikan saling menganyam dengan politik. Dengan data sejarah di seputar abad awal kekristenan Romawi (tahun 90-500), dan dengan penelitian historiografi, ditemukan bahwa pendidik Kristen juga memainkan politik literasi. Tulisan Paulus dalam teologi Perjanjian Baru, karya Para Bishop, Presbiter, dan Diaken khususnya wilayah Barat Romawi dan wilayah Timur Bizantium di bawah persekusi beberapa emperor bertonasi politik. Perang literasi menjadi penentu sukses dalam melakukan penetrasi ajaran ke dalam lingkaran istana. Kekristenan sukses menumbangkan ideologi Romanisme. Kaisar adalah jaminan kebebasan orang beriman kepada Kristus, meluputkan nyawa dari pembantaian. Tulisan ini mengusulkan pembelajaran kecakapan politik dan literasi pendidikan sangat penting di aras pendidikan tinggi keagamaan Kristen dan masyarakat.
PENDIDIKAN TINGGI KRISTEN DI INDONESIA: Sarjana Pantekosta Berebut Ruang di Indonesia: CHRISTIAN HIGHER EDUCATION IN INDONESIA: Pentecostal graduates fighting for space in Indonesia Elia Tambunan
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 2 No. 2 (2019): Pneumatological viewpoint of Psychology and Education
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v2i2.20

Abstract

Pentecostal studies are too prevalent in terms revivalism, movements, and denominations globally. This paper is different because of the anthropological aspects of Pentecostalism outlines how intellectuals Pantecost defines itself in a variety of social situations in which they live. Through a combined quantitative and qualitative research, the authors found Pantecostal scholars find themselves in the time of torpor to redefine themselves and their strategic position in the social reality. Pantecostal scholars could be seen as a representation of the face of Christian higher education in Indonesia. The time of torpor in Pantecostal scholars start from the process of education in higher education who have feelings too in love with its own identity so that the bad impact on the general principles of a system of community-wide. This paper can be seen as a Pantecostal Church in Indonesia (GPdI) scholar contribution towards Pentecostal studies globally from the anthropologist perspective with the Pantecostal scholar use as the unit of analysis in the study of religion is still rarely used by the religious scholar in Indonesia. === Studi Pentakosta yang ada terlalu lazim dalam hal revivalisme, gerakan-gerakan, dan denominasi secara global. Tulisan ini berbeda karena menguraikan Pentakostalisme dari aspek antropologis bagaimana kaum intelektual Pantekosta mendefinisikan dirinya sendiri dalam berbagai situasi sosial di mana mereka hidup. Lewat penelitian gabungan kuantitatif dan kualitatif, penulis menemukan kelambanan sarjana Pantekosta untuk mendefinisikan ulang diri dan posisi strategis mereka dalam realitas sosial yang sangat luas. Sarjana Pantekosta bisa dilihat sebagai representasi wajah pendidikan tinggi Kristen di Indonesia. Kelambanan itu bermula dari proses pendidikan sarjana di lembaga pendidikan tinggi yang memiliki perasaan terlalu cinta kepada identitas sendiri sehingga berdampak buruk pada prinsip-prinsip umum dari satu sistem masyarakat luas. Tulisan ini bisa dilihat sebagai satu kontribusi Gereja Pantekosta di Indonesia terhadap studi Pentakosta secara global dari sisi antropologis dengan menggunakan sarjana Pantekosta sebagai unit analisis dalam studi agama yang masih jarang dipakai sarjana keagamaan di Indonesia.
Gerakan Keberagamaan Baru: Mitosis dan Reflikasi Pantekosta Amerika ke Indonesia Elia Tambunan; Samuel Kelvin Ruslim
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 3 No 2 (2021): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v3i2.67

Abstract

It is a historical problem if the Pantecostal Church in Indonesia is generalized as a direct result of the Azusa Street global Pentecostal movement. The academic argument of this paper explains, that church, (where W.H. Offiler and W.W. Patterson are the pioneers from American stream even for other Pentecostals today), has its own wordview and is popular in the American Pacific Northwest, it cannot be generalized. Through literature study research using qualitative source criticism techniques, and by prioritizing primary sources, and using socio-religious movement theory, the answer to why, and in what social setting in America and Indonesia, the ideas of Pantecostalism emerged, here is being presented. This provides a new understanding, the history of the idea of ​​religious man is also the history of the Americanization of Pantecostals in the world and even Indonesia. It should be seen, Pantecostals have their own modes of religiousity in their uniquely enterprises to form a theological identity and religious mode although there are similarities with others. Pantecostal studies with GPdI as the focus of study of transnational religious social movements saving sinners are fit to put in the study of Pentecostalism and global religious studies. Adalah masalah secara sejarah apabila Gereja Pantekosta di Indonesia digeneralisasi sebagai hasil langsung gerakan Pentakosta global Azusa Street. Argumen akademik tulisan ini memaparkan, gereja itu, (di mana W.H. Offiler dan W.W. Patterson sebagai pionir dari arus Amerika bahkan bagi Pentakostal lain hari ini), memiliki wordview sendiri dan popular di Pacific Northwest Amerika tidak bisa disamaratakan. Lewat penelitian studi literatur dengan teknik kritik sumber secara kualitatif, dan dengan mengutamakan sumber primer, serta memakai teori gerakan sosial keagamaan, di sini tersingkap jawaban mengapa, dan dalam latar sosial Amerika dan Indonesia seperti apa ide-ide Pantekosta timbul. Ini memberikan pemahaman baru, sejarah ide tokoh agama adalah juga sejarah amerikanisasi Pantekosta dunia bahkan Indonesia. Perlu dilihat, Pantekosta memiliki mode tersendiri dalam usaha-usaha untuk membentuk identitas teologis dan mode keberagamaan meskipun ada similaritas dengan lainnya. Studi Pantekosta dengan GPdI sebagai fokus kajian dalam gerakan sosial keagamaan transnasional untuk menyelamatkan manusia berdosa tepat dimasukkan ke dalam studi Pentakostalisme dan studi agama global.
PENDIDIKAN PROGRESIF DAN KAUM URBAN: MENCARI WAJAH BARU KONTRIBUSI SOSIAL Elia Tambunan
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Vol 1, No 1 (2020): Pendidikan Kristen dan Kepemimpinan
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47530/edulead.v1i1.27

Abstract

Abstraksi Tulisan ini menunjukkan kontribusi sosial Pendidikan kaum urban dengan mengambil contoh Jungle School Salatiga. Dengan meneliti sejumlah literatur tentang pembelajaran transformatif bagi orang dewasa, data empiris terlihat bagaimana STT sebaiknya memperlihatkan aspek dan karakter sosial dalam proses dan lulusan. Kontribusi teoritis tulisan ini memperluas teori pembelajaran transformatif menjadi pendidikan progresif yang memiliki kebermanfaatan. Sedangkan praktisnya ialah praksis pendidikan urban yang dikelola lulusan hadir dalam paradox Jawa Tengah, dilema modernisasi dan urbanisasi kota jajahan di Indonesia yang mengalami persaingan pendidikan dan segregasi kehidupan kota. Kata Kunci: Pendidikan Urban Progresif, Paradoks Jawa Tengah, Kontribusi Sosial, Jungle School, Lulusan STT. Abstract Paper shows the social contribution of urban Education by examining the Salatiga Jungle School. By reading the literatures on transformative learning for adults, empirical data, it is examining how theological seminary performing the aspects and social character in learning process and outcomes. Paper contribution is enlarging the transformative theory into progressive education that has benefits. The practical contribution is presenting the praxis urban education in the paradox of Central Java, the dilemma of modernization and urbanization of the Indonesian colonies city which increases the education competition and segregation city life. Keywords: Progressive Urban Education, Central Java Paradox, Social Contributions, Jungle School School, Theological Graduates.
PENTAKOSTALISME DAN TEORI SOSIAL KONTEMPORER : PENTECOSTALISM AND CONTEMPORARY SOCIAL THEORY Elia Tambunan
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 2 No. 1 (2018): Pentecostalism & Eschatology
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v2i1.16

Abstract

The Pentecostal Movement is recognized for its contribution to global church growth and contemporary social theories. But by his own people pentecostalism is often positioned only as a revival, experience with the Holy Spirit, and divine healing which in its development becomes associated with eschatological issues. In terms of methodology, Pentecostal scholars outside Indonesia analyzed Pentecostalism based on religious and theological perspectives with the approach of ritual theory and spirituality studies. Theologians, activists, and intellectuals as well as Pentecostal scholars in Indonesia also have not developed Pentecostal studies further methodologically. They have not used methodological work to develop a study of the Pentecostal movement into a useful framework for theoretical study or field research in the existing membership colleges. On the contrary, by social scientists it utilizes Pentecostals as the main object of research on social phenomena but is only limited to the study of the dimensions of religious experience. By prioritizing the study of English literature and presenting statistical results of field survey research, this paper intends to develop a study of Pentecost in Indonesia methodologically. This paper shows how to understand Pentecostal phenomena from the perspective of social theory. The author first reads the literature on Pentecostalism, especially the one produced by Poloma and then constructs itself and then integrates it with social theory integrally. Then, the writer will classify it in three broad outlines, namely the Pentecostal religious experience of religious psychology; Pentecostal dimensions: symbolic, ritual, ceremony and institution from the perspective of comparative theory of religion; and community and Pentecostal popularity from the perspective of religious sociology. From here it will be seen the contribution of Pentecostals as both the object of precisely the study society and scientific methodology combined with contemporary social theories. This can be used by theologians, activists, and intellectuals as well as Pentecostal scholars in Indonesia specifically to develop studies of the Pentecostal movement in Indonesia specifically. ==== Gerakan Pentakosta diakui kontribusinya terhadap pertumbuhan gereja secara global maupun teori-teori sosial kontemporer. Namun oleh kaumnya sendiri pentakostalisme seringkali diposisikan hanya sebagai kebangunan rohani, pengalaman dengan Roh Kudus, dan kesembuhan ilahi yang dalam perkembangannya menjadi dikait-kaitkan dengan persoalan eskatologis. Dari sisi metodologi, sarjana Pentakosta di luar Indonesia menganalisis Pentakostalisme berdasarkan perspektif agama dan teologi dengan pendekatan teori ritual dan studi spiritualitas. Para teolog, aktivis, dan intelektual maupun sarjana Pentakosta di Indonesia juga belum mengembangkan kajian Pentakosta secara metodologis lebih lanjut. Mereka belum menggunakan kerja metodologis untuk mengembangkan kajian gerakan Pentakosta menjadi kerangka pikir yang bermanfaat dalam kajian teoritis maupun penelitian lapangan di sekolah-sekolah tinggi kepentakostaan yang ada. Sebaliknya, oleh ilmuwan sosial justru memanfaatkan kaum Pentakosta sebagai objek utama penelitian tentang fenomena sosial namun baru sebatas kajian terhadap dimensi pengalaman beragama. Dengan cara mengutamakan studi literatur berbahasa Inggris serta menampilkan hasil statistik penelitian survei lapangan, tulisan ini bermaksud untuk mengembangkan kajian tentang Pentakosta di Indonesia secara metodologis. Tulisan ini memperlihatkan bagaimana memahami fenomena Pentakosta dari perspektif teori sosial. Penulis terlebih dahulu membaca literatur tentang Pentakostalisme khususnya yang dihasilkan Poloma dan kemudian mengkonstruksi sendiri lalu memadukannya dengan teori sosial secara integratif. Kemudian, penulis akan mengklasifikasikannya dalam tiga kerangka pikir secara garis besar, yakni pengalaman keagamaan Pentakosta dari psikologi keagamaan; dimensi Pentakosta: simbolik, ritual, seremoni dan institusi dari perspektif teori perbandingan agama; dan komunitas dan popularitas pentakosta dari perpektif sosiologi agama. Dari disini akan terlihat kontribusi kaum Pentakosta baik sebagai objek tepatnya masyarakat kajian maupun metodologis keilmuan berpadu dengan teori-teori sosial kontemporer. Ini bisa digunakan oleh para teolog, aktivis, dan intelektual maupun sarjana Pentakosta di Indonesia secara khusus untuk mengembangkan kajian gerakan Pentakosta di Indonesia secara khusus.
STUDI PERSEPSI MASYARAKAT KRISTEN: Perbedaan Pandang Gereja-Gereja Jabotabek Atas Roh Kudus: CHRISTIAN COMMUNITY PERCEPTION STUDY: Differences in View of the Jabotabek Churches over the Holy Spirit Robby Chandra; Elia Tambunan
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 3 No. 1 (2019): Baptism in Holy Spirit
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v3i1.25

Abstract

This is a preliminary study to explore the relationship between the church denomination background with their members’ perception of the Holy Spirit’s role, the function of baptism in the Spirit, and the locus of the Holy Spirit’s presence as how they percepted. Respondents were chosen based on cluster and availability in quantitative research approach. Before, it is hypothesized that subjects’ denominational background as the independent variable correlates positively with their view of the Holy Spirit role, the function of Baptism in the Spirit, and their understanding about the presence of the Holy Spirit today. By using Pearson correlation test, it is found that no strong correlation between the subjects’ denomination background with their view of the roles of the Holy Spirit, the function of Baptism in the Spirit, and the locus of the Holy Spirit’s presence. Various possibilities were discussed to shed light of the phenomenon primarily in relation to the statements of many theologians that Western or some of Eastern churches tend to neglect holistic experience and theological concepts of the Spirit. The scientific contribution of this paper is to include the study of Christian perceptions as a field of study in practical theology, and also in Pentecostalism which has not been much in the Indonesian context. === Ini adalah studi pendahuluan untuk mengeksplorasi hubungan antara latar belakang denominasi gereja dengan persepsi anggotanya tentang peran Roh Kudus, fungsi baptisan dalam Roh, dan lokus kehadiran Roh Kudus sebagaimana persepsi mereka. Responden dipilih berdasarkan cluster dan ketersediaan dalam pendekatan penelitian kuantitatif. Sebelumnya, dihipotesiskan bahwa latar belakang kelompok keagamaan sebagai variabel independen berkorelasi positif dengan pandangan mereka tentang peran Roh Kudus, fungsi Baptisan dalam Roh, dan pemahaman mereka tentang kehadiran Roh Kudus dewasa ini. Dengan menggunakan uji korelasi Pearson, ditemukan bahwa tidak ada korelasi yang kuat antara latar belakang denominasi subyek dengan pandangan mereka tentang peran Roh Kudus, fungsi Baptisan dalam Roh, dan tempat kehadiran Roh Kudus. Berbagai kemungkinan dibahas untuk menjelaskan fenomena ini terutama sehubungan dengan pernyataan banyak teolog bahwa gereja-gereja Barat atau Timur cenderung mengabaikan pengalaman holistik dan konsep-konsep teologis Roh. Sumbangan ilmiah dari tulisan ini ialah memasukkan studi persepsi masyakat Kristen sebagai satu bidang kajian dalam teologi praktika, dan juga dalam Pentakostalisme yang belom banyak dalam konteks Indonesia.