Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Kajian toleransi keruangan pada kawasan pendukung pariwisata di Jalan Margo Utomo, Yogyakarta Yetti, Aprodita Emma; Pujiyanti, Indah
JURNAL ARSITEKTUR PENDAPA Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Widya Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37631/pendapa.v2i1.63

Abstract

Pariwisata merupakan salah satu generator ekonomi di Indonesia. Dalam konteks keruangan arsitektur, berkembangnya pariwisata berbanding lurus dengan pertumbuhan kawasan dan kota di suatu tempat. Fasilitas untuk mendukung pariwisata menjadi sebuah kebutuhan primer dari perencanaan pariwisata. Salah satu dampak dari kebutuhan fasilitas pariwisata adalah munculnya ruang-ruang baru di kawasan-kawasan lama yang sudah terbentuk sebelumnya. Dampak tersebut dapat memunculkan konflik keruangan. Untuk meredam konflik keruangan, maka perlu adanya tindakan adaptif berupa toleransi keruangan di lapangan. Jl. Margo Utomo, Yogyakarta merupakan salah satu penggalan jalan yang strategis dan saat ini berkembang sebagai sentra perniagaan dan pariwisata Yogyakarta. Kawasan ini memiliki akulturasi budaya dari sisi arsitektural yang menjadi ciri khas dan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Banyak investor yang tertarik untuk investasi di Yogyakarta dan membangun fasilitas pariwisata di jl.Margo Utomo. Pembangunan fasilitas-fasilitas baru di kawasan ini harus dicermati agar tidak terjadi konflik keruangan.  Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan kebijakan dalam keruangan arsitektur dan membangun kesadaran serta toleransi akan nilai ruang di perkotaan yang ramah terhadap pariwisata.
Efektifitas Penerapan Healing Environment Pada Fasilitas Kesehatan Tipe D Di Yogyakarta Pujiyanti, Indah; Yetti, Aprodita Emma; Fitria, Tika Ainunnisa
Jurnal Arsitektur dan Perencanaan (JUARA) Vol 4, No 1 (2021): Februari (Jurnal Arsitektur dan Perencanaan)
Publisher : Universitas Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/juara.v4i1.1694

Abstract

Fasilitas Kesehatan baiknya menerapkan upaya dan kontribusi positif untuk lingkungan yang sehat termasuk didalamnya pencapaian kualitas arsitektur yang sehat di lingkungan. Healing Environment merupakan pendekatan dalam pengaturan fisik dan lingkungan yang digunakan dalam mendukung proses penyembuhan pasien. Implementasi arsitektur dalam pendekatan Healing Environment diwujudkan dengan menciptakan lingkungan binaan sehat yang berbasis unsur alam di lingkungan yang dipadukan dengan pendekatan psikologis, karakter, dan perilaku manusia. Visi dari pendekatan Healing Environment dalam arsitektur dirasa sejalan dengan upaya pemerintah daerah Yogyakarta dalam mencapai kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Hal tersebut terwujud dengan adanya gagasan-gagasan desain yang diterapkan di lingkungan Fasilitas Kesehatan di Yogyakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi pengaruh penerapan pendekatan healing environment pada arsitektural dan lingkungan di Fasilitas Kesehatan tipe D Yogyakarta. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, data dikumpulkan menggunakan metode wawancara, observasi di lapangan dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini diketahui jika Penerapan variable view and connection with nature menjadi hal utama dalam meningkatkan kenyamanan pengguna Fasilitas Kesehatan Tipe D dan memiliki potensi untuk dapat diterapkan lebih optimal karena site yang cukup luas. Ruangan yang dapat dioptimalkan untuk menerapkan pendekatan healing environment pada Fasilitas Kesehatan Tipe D  adalah ruang tunggu dan ruang rawat inap. Kenyamanan termal dan cahaya tidak berbanding lurus dengan keberadaan ventilasi/bukaan alami pada pada ruangan di fasilitas kesehatan tipe D karena masih dapat dikondisikan menggunakan penghawaan dan pencahayaan buatan. Variabel Aroma, warna, material dan suara tidak menjadi prioritas dalam penerapan healing environment pada Fasilitas Kesehatan tipe D.
Perancangan Interior Pada Bangunan Kost Eksklusif Dengan Biaya Minimalis Jahro, Haya Athifah; Pujiyanti, Indah
JAS: Journal of Architecture Students Vol 1, No 1 (2020): MEI
Publisher : Universitas Aisyiyah Yogyakarya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jas.v1i1.1170

Abstract

Bangunan yang berada di Jalan Sulawesi IV, Purwosari, Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan bangunan yang akan dijadikan KostEksklusif sekaligus dapat disewakan perharinya. Pemilik dari Kos eksklusif tersebut menekankan untuk membuat Desain Interior yang indah tetapi memiliki anggarannya murah, sehingga hasil harus efektif dan seimbang antara fungsi, estetika maupun biaya. Metode menggunakan kualitatif deskriptif, yaitu penggambaran kondisi nyata melalui pengamatan dan studi dokumen. Studi dokumen adalah data yang diperoleh dari teori dan literatur yang menjadi dasar pada perancangan desain interior kos eksklusif. Diketahui desain yang minim anggaran harus mencakup pemilihan warna putih, furniture yangmultifungsi, serta kesesuaian ukuran ruangan dan kebutuhan pengguna. Sehingga desain yang tercipta tetap memiliki nilai fungsi, estetika dan dapat mendapatkan anggaran yang minim.
PERANCANGAN KANTOR “B’LINE DESAIN” DENGAN KONSEP MODERN MINIMALIS DI GODEAN, SLEMAN Putri, Pipiet Arini; Pujiyanti, Indah
JAS: Journal of Architecture Students Vol 1, No 2 (2020): November
Publisher : Universitas Aisyiyah Yogyakarya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jas.v1i2.1176

Abstract

B’line Desain” merupakan perusahaan yang bergerak dibidang desain, pelaksana dan properti (interior dan eksteriror). Kantor nya yang berada di Godean saat ini sedang dalam tahap renovasi. Pemilik kantor berencana melakukan penambahan lahan yang akan digunakan sebagai area workshop dan melakukan penyelesaian fasad. Desain pada kantor ini diharapkan dapat memberikan kesan nyaman bagi pengguna dari segi penempatan furniture yang diperhatikan atau disesuaikan dengan luasan bangunan eksisting sehingga tidak menyulitkan akses pergerakan para pengguna, serta memiliki estetika dengan menyeimbangkan desain fasad bagian eksterior dan interior. Pengumpulan data terkait desain bangunan dikumpulkan melalui data primer yaitu observasi, dokumentasi serta pengukuran dan data sekunder berasal dari literatur dimana data dapat berupa jurnal atau buku terkait perancangan. Penyelesaian desain bangunan menggunakan konsep modern minimalis menyesuaikan karakter dari klien. Konsep tersebut dapat dilihat dari penerapan penggunaan warna putih pada bangunan yang dapat memberikan kesan tertentu pada ruangan maupun perabot, serta pendimensian perabot termasuk dalam faktor yang mempengaruhi kenyamanan fisik karyawan dan desain ini diharapkan dapat mendukung aktivitas yang ada di dalam bangunan. Selain itu, konsep ini merupakan konsep yang paling sesuai dari segi desain yang simple serta fungsional, dimana konsep modern minimalis lebih mengutamakan fungsi dan efektifitas penggunaan sehingga berdampak pada desainnya yang hampir atau bahkan tidak menggunakan ornamen hiasan.
Perancangan Interior Pada Bangunan Kafe Bertema Angkringan Naik Kelas Dengan Efisiensi Kapasitas Ruang Shalihah, Rahmayani Baqiyatun; Pujiyanti, Indah
JAS: Journal of Architecture Students Vol 1, No 2 (2020): November
Publisher : Universitas Aisyiyah Yogyakarya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jas.v1i2.1883

Abstract

Bisnis kafe adalah salah satu bisnis kuliner yang dewasa ini tengah banyak berkembang terutama di kalangan anak muda. Bangunan satu lantai seluas 168,5 meter persegi yang berlokasi di belakang kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Gamping, Sleman, merupakan bangunan yang akan dijadikan untuk bisnis kafe bernama UPKRINGAN. Kafe ini mengusung tema ‘Angkringan Naik Kelas’. Pemilik bangunan yang sekaligus sebagai klien menekankan untuk membuat desain interior kafe yang modern namun tetap mempertahankan suasana angkringan sebagai tema utama dari kafe tersebut. Gaya industrial dipilih dalam perancangan interior kafe, dimana cukup identik dengan visual angkringan yang diusung sebagai tema. Tahap proses perancangan interior dimulai dari pengumpulan data yang diperoleh dari pengamatan atau observasi dan studi data, hingga didapat hasil akhir rancangan yaitu menciptakan desain interior ruang kafe modern yang efisien dalam kapasitas ruang dan tetap mempertahankan konsep suasana ruang angkringan yang diwujudkan dengan gaya industrial. Diketahui untuk mencapai efisiensi kapasitas ruang, desain interior kafe modern juga perlu untuk tetap memperhatikan kenyamanan pengguna dan juga estetika visual.
Perancangan Community Learning Center Dengan Pendekatan Inclusive Design di Yogyakarta Shalihah, Rahmayani Baqiyatun; Pujiyanti, Indah
JAS: Journal of Architecture Students Vol 2, No 2 (2021): NOVEMBER
Publisher : Universitas Aisyiyah Yogyakarya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jas.v2i2.2097

Abstract

Ruang publik menjadi kebutuhan komunal untuk mengakomodir berbagai aktivitas masyarakat, termasuk dalam pendidikan. Yogyakarta sebagai kota pendidikan menjadi destinasi bagi pelajar dan mahasiswa lokal maupun luar daerah untuk menempuh studi akibat daya tarik dari banyaknya institusi pendidikan berkualitas baik. Pendidikan menjadi kebutuhan dan hak setiap individu masyarakat, ini sejalan dengan kebijakan pemerintah tentang wajib belajar 12 tahun. Namun, realitanya tidak semua masyarakat dapat mengenyam pendidikan formal yang salah satunya disebabkan faktor keterbatasan ekonomi. Kaum marginal menjadi kelompok masyarakat yang sulit mengakses pendidikan. Berkaitan dengan kebutuhan akan ruang public tersebut, pada tahun 2014 DIY telah dicanangkan sebagai provinsi inklusif. Namun secara implementasi khususnya pada fasilitas ruang publik yang sudah ada dirasa belum maksimal menerapkan desain yang inklusif. Perancangan ini bertujuan untuk menghasilkan rancangan desain Community Learning Center (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) di Yogyakarta yang menyediakan fasilitas pendidikan nonformal berupa pendidikan kesetaraan dan pendidikan keterampilan sebagai alternatif pendidikan bagi masyarakat khususnya kaum marginal dengan desain yang ramah bagi semua kalangan usia maupun disabilitas. Pendekatan inclusive design digunakan sebagai dasar perancangan melalui empat kriteria desain; functional, usable, desirable, dan viable. Kriteria tersebut akan diterapkan pada pengolahan area entrance, massa, sirkulasi dan akses, kualitas ruang, ruang dalam, dan ruang luar. Selain menunjang kebutuhan kegiatan belajar masyarakat, adanya fasilitas ini juga mendukung eksistensi Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan mendukung pemerintah daerah dalam mewujudkan DIY sebagai provinsi inklusif.Kata Kunci: Ruang publik, Community Learning Center, Inclusive design, Pendidikan.