Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : THRONOS: Jurnal Teologi Kristen

Menuju Misi Kristen yang Mengedepankan Dialog Antariman Yohanes Krismantyo Susanta
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.785 KB) | DOI: 10.55884/thron.v1i2.4

Abstract

This paper uses library research to several kinds of literature that address issues of Christian mission. This paper shows that the early Christian mission came together and was used as a tool in the colonial era to conquer the Indonesian people. Christian mission in the colonial period was understood narrowly to make someone become a Christian. The mission paradigm affects the encounter between Christianity and other religions in Indonesia, especially Islam. Therefore, it is necessary to reconstruct the understanding of Christian mission amid diversity in the context of Negara Kesatuan Republik Indonesia. Christian mission centred on the doctrine of the Trinity is understood as a joint dialogue to solve social, humanitarian problems. The mission is not a barrier to dialogue, but rather an affirmation of the importance of unity in diversity.Abstrak: Tulisan ini menggunakan pendekatan studi pustaka atas sejumlah literatur yang membahas persoalan misi Kristen. Tulisan ini memperlihatkan bahwa misi Kristen mula-mula hadir bersama dan digunakan sebagai alat pada era kolonial untuk menaklukkan bangsa Indonesia. Misi Kristen pada era kolonial dipahami secara sempit untuk membuat seseorang menjadi Kristen. Paradigma misi tersebut mempengaruhi perjumpaan antara Kekristenan dengan agama-agama lain di Indonesia, khususnya agama Islam. Oleh karena itu diperlukan rekonstruksi pemahaman misi Kristen di tengah kemajemukan dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. Misi Kristen yang berpusat pada doktrin Trinitas dipahami sebagai dialog bersama untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial kemanusiaan. Misi tersebut bukanlah penghalang terjadinya dialog, melainkan menjadi penegasan akan pentingnya kesatuan dalam keragaman.