Arimbawa, Wahyudi
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERPEKTIF RUANG SEBAGAI ENTITAS BUDAYA LOKAL Orientasi Simbolik Ruang Masyarakat Tradisional Desa Adat Penglipuran, Bangli-Bali Arimbawa, Wahyudi; Santhyasa, I Komang Gede
Local Wisdom : Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol 2, No 4 (2010): December 2010
Publisher : Merdeka Malang University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/lw.v2i4.1385

Abstract

Ruang (space) bisa diartikan sebagai tempat (place) yang dimaknai oleh sekelompok orang yang secara bersama-sama mendiami suatu wilayah/teritori. Ruang dalam artikulasi tempat bermakna, merupakan simbolisasi dari kesepakatan bersama terhadap perspektif ruang sebagai wadah untuk beraktivitas yaitu kerja, rekreasi, bertempat tinggal serta aspirasi/cara pandang hidup masyarakatnya dalam mengelola ruang secara bersama-sama. Pada masyarakat tradisional, aktivitas masyarakat selalu berkaitan dengan dua kegiatan utama yaitu yang bersifat sakral (berkaitan dengan kegiatan agama) dan kegiatan yang bersifat profan (berkaitan dengan kegiatan sosial masyarakat). Penempatan kegiatan tersebut diklasifikan berdasarkan orientasi kesakralannya yang bertujuan untuk menciptakan tatanan ruang secara harmoni baik dengan lingkungan,sesama manusia maupun dengan Tuhannya. Secara ringkas, tulisan ini berusaha untuk memaparkan pola dan struktur ruang yang terbentuk akibat dari perspektif masyarakat Desa Adat Penglipuran terhadap orientasi ruang permukimannya. Orientasi ruang desa yang ditemukan pada komunitas Penglipuran tercermin pada komposisi dan formasi ruang permukiman desa yang didasarkan pada eksplorasi pragmatis dwilogi kehidupan yaitu hidup-mati. Konsep simbolis ini berakar dari konsep Rwa Bhineda yang kemudian secara menurun diterjemahkan menjadi konsep dualistik sumbu bumi (kaja-kelod) dan sumbu religi (kangin-kauh). Persilangan antara sumbu bumi dan sumbu religi secara praktikal kemudian melahirkan pembagian mintakaf tata nilai keruangan lingkungan desa yang disebut dengan konsep Panca mandala (orientasi sacred-profan). Konsep ini membagi ruang desa menjadi lima segmen ruang berdasarkan tingkat kesucian yaitu ruang utama yang diperuntukkan bagi kegiatan yang bersifat sakral, ruang tengah (madyaning utama, madyaning madya, madyaning nista) yang diperuntukkan bagi kegiatan yang bersifat keduniawian/interaksi sosial serta ruang nista yang diperuntukkan bagi kegiatan yang bersifat kotor/rendah.