Asam Traneksamat merupakan antifibrinolitik sintetik analog lisin yang pertama kali dipatenkan pada tahun 1957. Pada awalnya asam traneksamat diindikasikan untuk digunakan dalam kondisi perdarahan abnormal atau kecenderungan perdarahan akibat hiperfibrinolisis lokal maupun sistemik. Namun saat ini penggunaannya meluas ke bidang dermatologi khususnya untuk digunakan pada urtikaria kronik dan angioedema, serta melasma. asam traneksamat bekerja dengan secara reversible memblok binding site plasmin yang menghambat aktivasi plasminogen menjadi plasmin sehingga dapat menstabilkan pembekuan darah. Asam traneksamat juga dapat mengurangi pelepasan vasoactive peptides yang dimediasi oleh plasmin seperti bradikinin dan histamin sehingga dapat membantu mengendalikan gejala urtikaria dan angioedema. Asam traneksamat memiliki peran penting pada melasma dengan cara mengurangi aktivasi plasmin pada kulit yang terpapar UV sehingga menghambat pelepasan asam arakidonat dan prostaglandin E2 yang pada akhirnya akan menghambat proses melanogenesis. Asam traneksamat telah digunakan secara oral dan topical sebagai terapi pada penyakit kulit dengan efek samping yang minimal. Namun masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui cara kerja, dosis, serta cara pemberian yang optimal untuk mengatasi keainan pada kulit.