Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : Agrienvi : Jurnal Ilmu Pertanian

STRUKTUR DAN KOMPOSISI PEPOHONAN SEBAGAI KERAGAAN PEKARANGAN di Desa Terong, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta Suhartati, Tatik; Purwadi
Agrienvi: Jurnal Ilmu Pertanian Vol. 15 No. 2 (2021): Agrienvi : Jurnal Ilmu Pertanian
Publisher : Agrienvi: Jurnal Ilmu Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pohon di luar kawasan hutan memiliki nilai ekonomi, sosial dan lingkungan yang signifikan serta merupakan bagian integral dari ekosistem yang harus diperhitungkan dalam pendekatan pengelolaan hutan berbasis ekosistem. Informasi tentang pohon di luar kawasan hutan sangatlah spesifik berdasar tapaknya. Salah satu lahan yang dimanfaatkan untuk menanam pohon di luar kawasan hutan adalah pekarangan. Keragaan pekarangan antara lain dapat dilihat dari struktur tegakan dan komposisi jenisnya. Struktur tegakan yang dicermikan oleh distribusi diameter pohon dapat digambarkan dalam model matematis. Penelitian ini bertujuan mengetahui komposisi jenis dan pola distribusi diameter pohon pada lahan < 5000 m2. Pola distribusi ini dapat dimanfaatkan untuk menilai ketersediaan regenerasi dan membantu mengarahkan pengelolaan lahannya. Luas lahan dibagi menjadi 3 kategori yaitu luas < 1.000 m2 ; luas 1.000-2000 m2 dan luas 2.000-5000 m2. Masing-masing kategori luas diambil 4 sampel pekarangan. Inventarisasi dilakukan 100 % terhadap pepohonan yang ada di lahan. Analisis model distribusi diameter menggunakan model eksponensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jenis kayu pekarangan merupakan kekayaan biodiversitas, yang menyimpan spesies berkayu dari 20 famili, sehingga turut menjaga biodiversitas. Distribusi diameter berbentuk model eksponensial. Kurva model eksponensial menyerupai pola distribusi diameter pada hutan alam yaitu berbentuk J terbalik, yang menunjukkan kondisi populasi stabil atau status regenerasi yang baik. Kondisi itu dapat menopang kelestarian asalkan tetap dijaga pengaturan tebangan dan dilakukan perlakuan silvikultur yang sesuai dengan kondisi pohon, lahan, ketersediaan tenaga kerja serta biaya.