Nurjati Chairani Siregar
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Hubungan antara Ekspresi P16 dengan Respon Histologik Kemoterapi Neoadjuvan pada Osteosarkoma Konvensional Dian Sari Oethia Vathonati; Nurjati Chairani Siregar; Puspita Eka Wuyung
Majalah Patologi Indonesia Vol 30 No 2 (2021): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.375 KB) | DOI: 10.55816/mpi.v30i2.469

Abstract

BackgroundOsteosarcoma is the most common primary malignant bone tumor in children and young adult. Its pathogenesis has been linked toalterations in several genes. The high percentage is found involving Retinoblatoma (RB) pathway. p16 plays as a tumor suppressorin RB pathway to controll proliferation of the tumor cell. The degree of neoadjuvan chemotherapy histological necrosis response isrelated to prognosis of patients with osteosarcoma. Chemotherapy and p16 both synergic in inhibit the cell tumor proliferation andsupport apoptotic. Loss of p16 function is related to progressiveness of the tumor. The aim of this study was to investigate therelationship of p16 expression in pretreatment osteosarcoma to pathologic necrotic histological response after neoadjuvanchomotherapy.MethodsThis is a cross sectional study p16 stainning was done and count the positive expression tumor cell in percentage. Positive wasdefined as strong and medium nuclear stainning in 30% or greater. The samples is catagorized into positive and negative expressionthen it is correlated into tumor necrotic area based on grade of Huvos.ResultsSamples consist of 33 cases. Positive stainning was found in 10 cases (30.3%), 6 of 10 cases had good chemotherapy response.Negative stainning was found in 23 cases and 21 of 23 cases had poor chemotherapy response. A significant association was notedbetween p16 expression and histological necrotic response to neoadjuvan chemotherapy (p=0.004).ConclusionThe result showed that p16 expression associate significantly with histological necrotic response to neoadjuvan chemotherapy inconventional osteosarcoma (p=0.004).
Ekspresi Ki-67 pada Karsinoma Sebasea Palpebra dengan Penye-baran Pagetoid dan Diferensiasinya Rina Effendi; Nurjati Chairani Siregar; Puspita Eka Wuyung
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.6 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma sebasea palpebra termasuk dalam karsinoma adneksa mata terbanyak dan memiliki prognosis buruk. Penyebaran pagetoid pada karsinoma sebasea palpebra merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prognosis buruk. Dalam penelitian ini akan dianalisis hubungan ekspresi Ki-67 dengan dan tanpa penyebaran pagetoid pada karsinoma sebasea palpebra.MetodePenelitian ini menggunakan desain potong-lintang, retrospektif, konsekutif pada 20 kasus karsinoma sebasea palpebra dengan penyebaran pagetoid dan 20 kasus tanpa penyebaran pagetoid di Departemen Patologi Anatomik FKUI/RSCM periode Januari 2009 sampai September 2016. Dilakukan pulasan imunohistokimia untuk Ki-67, kemudian dihitung persentase positivitasnya dari minimal 500 sel tumor menggunakan Image J, dan dilakukan analisis statistik menggunakan uji t test independent. Selain itu juga dihubungkan antara diferensiasi histologik dengan ekspresi Ki-67 menggunakan uji statistik Anova.HasilEkspresi Ki-67 pada semua kasus mempunyai rentang antara 2,8% sampai 88%, ekspresi Ki-67 tinggi sebanyak 30 kasus (75%). Ekspresi Ki-67 pada penyebaran pagetoid lebih tinggi dibanding tanpa penyebaran pagetoid (43,83±19,8: 34,10±21,26), walaupun tidak berbeda bermakna secara statistik (p=0,136). Ekspresi Ki-67 dibandingkan pada karsinoma sebasea berdiferensiasi baik, sedang dan buruk (34,07±28,79: 41,83%±19,96: 30,50±12,31), tidak berbeda bermakna (p=0,396).KesimpulanDitemukan ekspresi tinggi Ki-67 pada karsinoma sebasea palpebra. Tidak terdapat perbedaan bermakna ekspresi Ki-67 pada karsinoma sebasea palpebra dengan penyebaran pagetoid dibandingkan tanpa penyebaran pagetoid, maupun pada berbagai derajat diferensiasi histologik.
Perbedaan Ekspresi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) pada Malignant Peripheral Nerve Sheath Tumor Derajat Tinggi dan Rendah serta Hubungannya dengan Faktor Prognostik Dewi Jantika; Nurjati Chairani Siregar; Puspita Eka Wuyung
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 2 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.118 KB)

Abstract

Latar belakangMalignant peripheral nerve sheath tumor (MPNST), merupakan sarkoma jaringan lunak yang prognosis nya buruk karena tidak responsif terhadap kemoterapi. Epidermal growth factor receptor (EGFR) terlibat dalam transduksi sinyal mitogenik dan jalur proliferasi sel. Ekspresi EGFR yang tinggi pada tumor sudah dipakai untuk menentukan apakah tumor dapat diberikan terapi anti-EGFR. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan ekspresi EGFR pada MPNST derajat tinggi dan derajat rendah serta ekspresi EGFR sebagai faktor prognostik.MetodePenenelitian ini merupakan penelitian potong lintang, restrospektif, deskriptif. Sampel terdiri atas 20 kasus MPNST derajat rendah dan 20 kasus MPNST derajat tinggi yang telah didiagnosis selama periode 2007-2015. Dilakukan pulasan imunohistokimia dengan antibodi monoklonal EGFR. Selanjutnya dilakukan scoring berdasarkan persentase sel dengan membrane dan atau sitoplasma yang berwarna coklat pada 500 sel/5 LPB : 0 (tidak terpulas), 1 (terpulas <10%), 2 (terpulas 10-30%), 3 (terpulas >30%). Perbedaan ekspresi EGFR pada MPNST derajat tinggi dan derajat rendah dianalisis menggunakan uji chi-square. Selain itu di analisis hubungan antara ekspresi EGFR dengan umur, lokasi dan ukuran tumor.HasilDitemukan ekspresi EGFR yang lebih tinggi pada MPNST derajat tinggi dibandingkan dengan MPNST derajat rendah yang secara statisitk bermakna (p=0,000). Tidak ditemukan hubungan antara ekspresi EGFR dengan umur, lokasi maupun ukuran tumor.KesimpulanEkspresi EGFR yang tinggi dapat digunakan untuk dasar memberikan terapi anti-EGFR pada MPNST derajat tinggi.
Ekspresi New York Esophageal Squamous Cell Carcinoma-1 (NYESO-1) pada Sarkoma Sinovial dan Non Sarkoma Sinovial Lainnya Sebagai Dasar Pemilihan Pemberian Imunoterapi Ros Nirmawati,; Evelina Kodrat; Nurjati Chairani Siregar
Majalah Patologi Indonesia Vol 30 No 3 (2021): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.98 KB) | DOI: 10.55816/mpi.v30i3.483

Abstract

BackgroundSynovial sarcoma is a rare high grade soft tissue sarcoma. Nowdays, the available therapeutic modalities has not given asatisfactory result yet. Currently, there is a promising therapeutic strategy through immunotherapy targeting NY-ESO-1 which isexpressed on tumor. The aim of this study was comparing NY-ESO-1 immunoexpression between synovial sarcoma and itshistologic mimics i.e. malignant peripheral nerve sheath tumor (MPNST) and dermatofibrosarcoma protuberans (DFSP)MethodsA cross sectional study was done in 28 cases of synovial sarcoma, 10 cases of MPNST and 17 cases of DFSP from archievalmaterial in Department Anatomical Pathology, FMUI/RSCM from January 2013 to June 2019. Immunohistohemical stainning wasperformed using an antibody NY-ESO-1 and it was described positive if it was expressed in more than 50% of tumor with moderateto strong positive intensity.ResultsThere is a significant difference (p<0.001) in NY-ESO-1 immunoexpression among synovial sarcoma (18/28), MPNST (2/10) andDFSP (1/17). Furthermore, synovial sarcoma showed a significantly higher immunoexpression compared to MPNST (OR 7.2;p=0.016; power 68.7%) and DFSP (OR 28.8; p<0.001; power 98.9%).ConclusionSynovial sarcoma showed a higher expression of NY-ESO-1 thus makes it as a good candidates for immunotherapy. There aredifferences in the expression of NY-ESO-1 in synovial sarcoma against MPNST and DFSP.
Ekstrak Teh Hijau Mengurangi Luas Area Fibrosis Paru Tikus Desdiani; Iris Rengganis; Samsuridjal Djauzi; Agus Setiyono; Mohammad Sadikin; Sri Widia A. Jusman; Nurjati Chairani Siregar; Suradi; Putri C. Eyanoer
Majalah Patologi Indonesia Vol 29 No 1 (2020): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1235.563 KB) | DOI: 10.55816/mpi.v29i1.403

Abstract

BackgroundPulmonary fibrosis is often found in infectious diseases and chemical exposure in the work environment. Antifibrotic effects can befibropreventive and fibrolysis. Bleomycin can cause inflammation and pulmonary fibrosis. Catechin is proven can repair liverdamages due to alcohol induction. The aim of this study is to examine the effect of antifibrotic green tea catechin on reducing thearea of rat lung fibrotic.MethodsThis research was carried out in vivo experimentally in the Laboratory Animal Management Unit at Faculty of Veterinary MedicineIPB in 4 groups of rat experiments, consisting of 3 rats in the negative control group, 3 rats in the positive control group, 3 rats in thegroup of rats given bleomycin on the 8th day and 28thwith green tea extract every day from day 0 to 49 days (fibropreventive), 3groups of rats given bleomycin days 0 and 21 with green tea extract every day from day 15 to 49 (fibrolysis). Histopathologicalexamination was performe for all groups of rats.ResultsThis study showed that administration of green tea extract in fibropreventive groups and fibrolysis groups could reduce the fibrosisarea in rat lungs based on Aschroft's modified scale.ConclusionBased on the results of this study it was found that the anti-fibrotic activity of green tea extract was proven to be able to suppressthe development of pulmonary fibrosis both by fibropreventive and fibrolysis
Analisis Ekspresi Epidermal Growth Factor Receptor Rabdomio-sarkoma Tipe Embrional dan Alveolar pada Anak Fita Ferdiana; Puspita Eka Wuyung; Nurjati Chairani Siregar
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 3 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.642 KB)

Abstract

Latar belakangRabdomiosarkoma (RMS) merupakan sarkoma yang banyak ditemukan pada anak dan dewasa muda. Secara histopatologik ada 4 tipe, yaitu embrional, alveolar, spindel, dan pleomorfik. Tipe histologi dan lokasi (favourable dan unfavourable) termasuk faktor yang menentukan prognosis RMS. Terapi kombinasi pada RMS dengan reseksi komplet, kemoterapi, dan radiasi belum meningkatkan kesintasan pasien RMS terutama pada stadium lanjut. Anti terhadap epidermal growth factor receptor (EGFR) telah dipakai dalam terapi untuk tumor epitelial ganas, sedangkan penggunaannya pada sarkoma masih dalam penelitian. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis ekspresi EGFR rabdomiosarkoma tipe embrional (RMSE) dan alveolar (RMSA) pada anak, serta menganalisis ekspresi EGFR pada lokasi favourable dan unfavourable.MetodePenelitian ini menggunakan metode potong lintang dengan pemilihan sampel secara konsekutif. Sampel terdiri atas 17 kasus RMSE dan 13 kasus RMSA di Departemen Patologi Anatomik FKUI/RSCM tahun 2008-2015. Diagnosis RMSE dan RMSA ditegakkan secara histopatologi dan imunohistokimia MyoD1 dan atau desmin positif. Pulasan imunohistokimia EGFR dilakukan pada RMSE dan RMSA dengan penilaian semikuantitatif, serta membandingkan kedua tipe histologik dan lokasi tumor.HasilEkspresi EGFR pada RMSE lebih tinggi dibandingkan dengan RMSA (53% vs 23%)(p=0,029). Bila dihubungkan dengan lokasi, maka ekspresi EGFR pada RMSE lebih tinggi pada lokasi unfavourabe dibanding lokasi favourable (p=0,412). Ekspresi EGFR pada RMSA lebih tinggi pada lokasi favourable dibanding lokasi unfavourable (p=0,592).KesimpulanEkspresi EGFR (favourable dan unfavourable) dapat digunakan untuk menentukan prognosis RMSE dan RMSA.