Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Ekspresi CXCR4 dan Ki-67 pada Limfoma Folikuler Derajat Rendah dan Derajat Tinggi Ridholia Ridholia; Dyah Fauziah; Nila Kurniasari
Majalah Patologi Indonesia Vol 25 No 3 (2016): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1243.852 KB)

Abstract

Latar belakang Limfoma folikuler adalah neoplasma yang terdiri dari proliferasi sel B germinal centre ganas yang bercampur dengan sel tidak ganas seperti sel T helper (Th), sel dendritik folikuler (FDC), makrofag. sentrosit dan sentroblas yang merupakan sel yang dominan pada limfoma folikuler . Perjalanan klinis limfoma folikuler dapat diprediksi dengan menentukan derajat berdasarkan jumlah rata-rata sentroblas pada 10 folikel neoplastik per lapang pandang besar. CXCR4 adalah reseptor kemokin yang terdapat pada sel tumor dan berikatan dengan ligan CXCL12 yang disekresi oleh sel stroma follicular reticular (FRCs). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sentroblas mengekspresikan CXCR4 sedangkan sentrosit tidak mengekspresikan CXCR4. Ikatan ligan CXCL12 dengan reseptor kemokin CXCR4 akan menguraikan protein G dan mengaktifkan faktor transkripsi NFκB melalui Akt. Selain itu, aksis CXCR4/CXCL12 dapat menon-aktifkan protein BAD yang merupakan protein pro apoptosis sehingga proliferasi sel terus terjadi. Indeks proliferasi dapat diukur dengan ekspresi Ki-67. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis ekspresi CXCR4 dan Ki-67 pada limfoma folikuler. Metode Penelitian observasional analitik ini dilakukan dengan pendekatan potong lintang Sample penelitian adalah blok parafin dari semua kasus limfoma folikuler di Laboratorium Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode Januari 2007-Desember 2014. Ekspresi CXCR4 dan Ki-67 dihitung secara kuantitatif. Perbedaan ekspresi CXCR4 dan Ki-67 dianalisis menggunakan uji statistik Mann-Whitney dan uji T. Hubungan ekspresi CXCR4 dan Ki-67 dianalisis dengan uji statistik korelasi Spearman. Hasil Didapatkan perbedaan bermakna antara ekspresi CXCR4 pada limfoma folikuler derajat rendah dan limfoma folikuler derajat tinggi (p=0,027, p0,05). Didapatkan hubungan bermakna antara ekspresi CXCR4 dan Ki-67 pada limfoma folikuler derajat rendah (p=0,036, p0,05), koefisien korelasi r= -0,452. Kesimpulan Ekspresi CXCR4 dapat digunakan untuk membedakan limfoma folikuler derajat rendah dan tinggi, sedangkan ekspresi Ki-67 tidak dapat digunakan untuk membedakan limfoma folikuler derajat rendah dan tinggi. Kata kunci: CXCR4, derajat, limfoma folikuler, Ki-67.
Pola Ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) Dikaitkan dengan Pertumbuhan Tumor dan Edema Peritumoral pada Astrositoma Diah Prabawati Retnani; Dyah Fauziah
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.524 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Astrositoma adalah tumor dari sel astrosit dengan variasi derajat histopatologik, disertai ukuran edema peritumoral. Peningkatan derajat keganasan, ukuran tumor dan pembentukan edema peritumoral diperlukan proses angiogenesis. Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) adalah salah satu faktor penting dalam proses angiogenesis. VEGF diperlukan dalam proliferasi, survival dan migrasi sel endotel dan permiabilitas vaskuler. Peranan VEGF dalam pembentukan edema peritumoral masih dalam perdebatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola ekspresi VEGF dan peningkatan derajat histopatologik, ukuran tumor dan insiden edema peritumoral pada astrositoma. Metode Arsip histopatologik astrositoma derajat II, III, IV (Glioblastoma) dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama kurun waktu Januari 2009 hingga Januari 2012 dikumpulkan. Pada tiga puluh kasus astrositoma yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan pemeriksaan imunohistokimia dengan VEGF Rabbit. Hubungan pola ekspresi VEGF dan derajat histopatologik, ukuran tumor dan kejadian edema peritumoral dianalisis menggunakan uji Spearman. Hasil Sebanyak 29 dari 30 kasus menunjukkan ekspresi VEGF positif. Dari 29 kasus dengan ekspresi VEGF positif tersebut, 13 kasus adalah astrositoma derajat IV, 22 kasus dengan ukuran tumor > 2cm, dan 17 kasus disertai edema peritumoral. Analisis statistik ekspresi VEGF memiliki pengaruh terhadap peningkatan derajat histopatologik (p=0,023), rs=0,413) dan ukuran tumor (p=0,005, rs= 0,499) namun tidak berpengaruh terhadap kejadian edema peritumoral (p=0,273). Kesimpulan Penelitian ini mengungkapkan bahwa ekspresi VEGF dapat meningkatkan derajat histopatologik dan besar tumor, namun tidak berpengaruh terhadap pembentukan edema peritumoral pada astrositoma. Kata kunci: Astrositoma, VEGF, derajat histopatologik, edema peritumoral. ABSTRACT Background Astrocytoma is a glial tumor that derived from astrocyte cells with various tumor size, histopathologic grading and peritumoral edema. Angiogenesis plays role in tumor grading, tumor size and formation of peritumoral edema. VEGF is needed for proliferation, survival, migration of endothel cell and vascular permiability. The role of VEGF to regulate peritumoral edema in brain tumor is still debated. The purpose of this study was to analyze the relationship between VEGF expression and tumor size, histopathologic grading and peritumoral edema of astrocytoma. Methods Pathology archives of grade II, III and IV astrocytomas were retrieved at Dr Soetomo Hospital Surabaya between Januari 2009-Januari 2012. Thirty cases of astrocytomas that fulfilled the conclusion criteria were stained with VEGF rabbit monoclonal antibody (clone EP1176Y). Relationship between VEGF expression and histopathologic grading, tumor size and peritumoral edema were analyzed using Spearman correlation test. Results There were 29 of 30 cases of astrocytom showing positif VEGF expression, 13 cases of grade IV astrocytoma, 22 cases had tumor size more than 2 cm, and 17 cases showing peritumoral edema. Statistical analyzis revealed that VEGF expression had a significant association with histopathologic grading ( p=0.023; rs=0.413) and tumor size (p=0.005; rs=0.499). In contrast, VEGF expression had no significant assoiation with peritumoral edema (p=0.273). Conclusion This study revealed that VEGF plays role in increasing histopathologic grading and tumor size in astrocytoma but its role in peritumoral edema is not significant. Key words : astrocytoma, VEGF, histopathologic grading, peritumoral edema.
Ekspresi p16 dan CDK4 pada Berbagai Stadium T Karsinoma Laring Diana Purnamasari; Dyah Fauziah
Majalah Patologi Indonesia Vol 29 No 1 (2020): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.885 KB) | DOI: 10.55816/mpi.v29i1.404

Abstract

BackgroundDefect in cell cycle control affect cell proliferation and play an important role in pathogenesis of cancer. Recently, some proteins areknown to have an influence in cell cycle proliferation. P16 and CDK4 may have influenced in laryngeal carcinoma. CDK4, anoncogene, can form cyclin D1-CDK4 complex that inactivates pRb so that the cell cycle goes from G1 phase to S phase. P16, atumor suppressor protein, can prevent cyclin D1-CDK4 complex so that inhibit cell proliferation.MethodsThis research was an observational analysis study with paraffin block samples, consists of 3 samples of stage T1 and each 10samples of stage T2, T3 and T4 in Laboratory of Anatomical Pathology of RSUD dr. Soetomo that was collected from 2013-2015.Samples were stained with antibody of p16 and CDK4. P16 and CDK4 expression were assessed based on the percentage andintensity of tumor cells that were stained. The differences between variables were analyzed by Kruskal-Wallis. The correlationbetween variables was analyzed by Spearman correlation test.ResultsP16 expression of carcinoma larynx T1 (88.33±7.64), T2 (85.00±5.27), T3 (61.00±21.83), and T4 (62.00±25.30). Besides CDK4expression of carcinoma larynx T1 (43.33±15.28), T2 (47.00±14.18), T3 (75.00±8.50), and T4 (70.00±9.43). Statistic analysisshowed significant differences between p16 and CDK4 expression on each stade of carcinoma larynx (p=0.017 and p=0.000). Andthere were corelation between p16 and CDK4 expression on each stage of carcinoma larynx (p=0.000 and p=0.000).ConclusionThe lower p16 expression and the higher CDK4 expression showed the higher stage of carcinoma larynx.
A CASE SERIES OF MYOEPITHELIAL CARCINOMA SPINDLE CELL TYPE, CLEAR CELL TYPE, AND PLASMACYTOID TYPE Dian Yuliartha Lestari; Dyah Fauziah
Saintika Medika Vol. 13 No. 2 (2017): DESEMBER 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/sm.v13i2.5524

Abstract

Myoepithelial Carcinoma adalah salah satu keganasan kelenjar liur yang sangat jarang terjadi, dimana terdiri dari komponen sel-sel myoepithelial yang berdifferensiasi sebagai sel spindle, sel jernih (clear), sel epitheloid, sel stelate, maupun sel plasmacytoid. Kami melaporkan 3 kasus myoepithelial carcinoma yang didiagnosis di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya dalam kurun waktu 4 tahun terakhir dengan tiga tipe yang berbeda, yaitu; spindle cell type, clear cell type, dan plasmacytoid type. Dua kasus terjadi pada kelenjar parotis, lainnya pada kelenjar submandibula, dimana ketiganya terjadi pada wanita dengan rentang usia 45-76 tahun. Keluhan saat datang berobat adalah timbul benjolan semakin membesar secara perlahan dan tidak menimbulkan nyeri. Hasil pemeriksaan histopatologis menyatakan suatu carcinoma mengesankan myoepithelial carcinoma. Hasil pemeriksaan immunohistokimia smooth muscle actin (SMA) dan S100 mayoritas menunjukkan hasil yang positif, dimana menyokong diagnosis suatu myoepithelial carcinoma Kata kunci:  myoepithelial carcinoma, spindle cell type, clear cell type plasmacytoid type
Hubungan antara Ekspresi VEGF dan MMP-9 dengan Invasi Ekstra Okuler pada Retinoblastoma Emillia Wijayanti; Dyah Fauziah
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.82 KB)

Abstract

Latar belakang Retinoblastoma merupakan 80% dari semua kanker okular primer pada anak-anak sampai usia 15 tahun. Invasi tumor adalah tahap penting yang menyebabkan metastasis pada retinoblastoma. Faktor resiko terbesar untuk metastasis adalah invasi pada orbita atau saraf optikus. Angka kelangsungan hidup kasus retinoblastoma ekstra okuler masih rendah, rata-rata antara 50%-70%. Ekspresi MMP-9 dan VEGF dapat berperan sebagai petanda biologis untuk invasi dan metastasis retinoblastoma. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan ekspresi VEGF dan MMP-9 dengan invasi ekstra okuler pada retinoblastoma. Metode Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Sampel sebanyak 30 dibagi dalam: 21 dengan invasi ekstra okuler dan 9 tanpa invasi ekstra okuler yang telah didiagnosis di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya dalam rentang waktu Januari 2011-Desember 2013. Sampel dilakukan pulasan immunohistokimia dengan antibody monoclonal anti VEGF dan antibody polyclonal anti MMP-9 serta dinilai menggunakan metode semikuantitatif. Hubungan ekspresi VEGF dan MMP-9 dengan invasi ekstra okuler pada retinoblastoma dianalisa menggunakan Regresi Logistik. Hubungan antara ekspresi VEGF dengan MMP-9 pada retinoblastoma dianalisa menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil VEGF terekspresi pada 24 dari 30 (80%) sampel. MMP-9 terekspresi pada 28 dari 30 (93,3%) sampel. Tidak didapatkan hubungan antara ekspresi VEGF dengan invasi ekstra okuler pada retinoblastoma. Tidak didapatkan hubungan antara ekspresi MMP-9 dengan invasi ekstra okuler pada retinoblastoma. Terdapat hubungan antara ekspresi VEGF dan MMP-9 pada retinoblastoma (p=0,012, r=0,454). Kesimpulan Hasil menunjukkan tidak terdapat hubungan ekspresi VEGF maupun MMP-9 dengan invasi ekstraokuler pada retinoblastoma namun terdapat kecenderungan peningkatan ekspresi VEGF dan MMP-9 pada sampel retinoblastoma dengan invasi ekstraokuler. Terdapat korelasi positif antara ekspresi VEGF dengan MMP-9 yang menunjukkan adanya peningkatan ekspresi VEGF seiring dengan peningkatan MMP-9, namun tidak terdapat hubungan dengan invasi ekstra okuler. Kata kunci: VEGF, MMP-9, invasi ekstra okuler, retinoblastoma.
Analisis Ekspresi p21 dan CDK6 pada Karsinoma Payudara Invasif Tipe Luminal A, Luminal B dan HER2/neu Nasrun Bakri; Nila Kurniasari; Dyah Fauziah
Majalah Patologi Indonesia Vol 28 No 1 (2019): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.169 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma payudara adalah keganasan paling sering ditemukan pada wanita. Berbagai literatur menunjukkanbahwa p21 dan CDK6 mempunyai peranan pada proliferasi sel tumor di berbagai keganasan. Korelasi danperbedaan ekspresi p21 dan CDK6 pada klasifikasi subtipe molekular karsinoma payudara invasif belumbanyak diteliti. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ekspresi p21 dan CDK6 pada karsinoma payudarainvasif tipe luminal A, luminal B dan HER/neu.MetodePenelitian ini dilakukan secara retrsospektif dengan desain observasional analitik cross sectional blok parafinkarsinoma payudara invasif subtipe luminal A, luminal B dan HER2/neu di Laboratorium Patologi AnatomikRSUD Dr. Soetomo Surabaya. Hasil penelitian dilakukan dengan uji statistik Kruskal-Wallis untuk uji beda danuji statistik Spearman untuk uji korelasi.HasilPenelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna ekspresi p21 (p=0,402) dan CDK6 (p=0,238) padasubtipe luminal A, luminal B dan HER2/neu. Tidak terdapat korelasi bermakna antara ekspresi p21 dan CDK6pada luminal A (p=0,211), luminal B (p=0,286) dan HER2/neu (p=0,192).KesimpulanEkspresi p21 dan CDK6 tidak mempunyai perbedaan bermakna pada karsinoma payudara invasif subtipeluminal A, luminal B dan HER2/neu
Peran Ekspresi Minichromosome Maintenance 2 (MCM-2) dan Ki-67 pada Astrositoma Dewi Astuti Kurniawati; Dyah Fauziah
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 3 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.756 KB)

Abstract

Latar belakangDerajat histopatologi berdasarkan klasifikasi WHO pada astrositoma tidak cukup optimal untuk mendukung diagnosis dan prognosis karena subyektivitas penilaian gambaran histopatogi pada beberapa kasus astrositoma. Fungsi Ki-67 sebagai marker proliferasi masih memiliki keterbatasan. Sebaliknya, Minichromosome maintenance 2 (MCM-2) memiliki peran penting dalam mengontrol siklus sel, inisiasi dan elongasi replikasi DNA. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis ekspresi MCM 2 dan Ki-67 pada derajat histopatologi.MetodeRancangan penelitian yang digunakan adalah metode potong lintang. Sampel penelitian adalah semua blok parafin penderita astrositoma pada RSUD Dr Soetomo Surabaya periode 2010-2014. Pada sampel dikelompokkan berdasarkan derajat histopatologi dalam derajat II, derajat III dan derajat IV. Sampel dipulas menggunakan immunohistokimia dengan antibodi monoklonal MCM-2 dan Ki-67. Perbedaan ekspresi MCM-2 dan Ki-67 pada astrositoma derajat II, III, dan IV dianalisa statistitika menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hubungan antara ekspresi MCM-2 dan Ki-67 pada astrositoma dianalisa menggunakan uji Spearman.HasilUji Kruskal-Wallis ekspresi MCM-2 antara astrositoma derajat rendah (II) dan derajat tinggi (III) menunjukkan perbedaan bermakna. Uji Kruskal-Wallis ekspresi Ki-67 antara astrositoma derajat rendah (II) dan derajat tinggi (III & IV) menunjukkan perbedaan tidak bermakna. Sedangkan, uji Spearman ekspresi MCM-2, Ki-67 dan derajat histopatologi astrositoma menunjukkan korelasi positif.KesimpulanEkspresi MCM-2 dapat digunakan untuk membedakan antara astrositoma derajat II dan III. Ekspresi Ki-67 dapat digunakan untuk membedakan astrositoma derajat III dan derajat IV.
Hubungan Ekspresi CD133 dan EGFR Terhadap Derajat Keganasan pada Karsinoma Ovarium Agung Dwi Suprayitno; Dyah Fauziah; Gondo Mastutik
Majalah Patologi Indonesia Vol 30 No 1 (2021): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.149 KB) | DOI: 10.55816/mpi.v30i1.462

Abstract

BackgroundOvarian carcinoma account for 90% of all malignant ovarian tumors. Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR), also known asErbB1/HER1, has an important role in tumor cell proliferation. CD133 is a marker for hematopoietic stem cell and it is involved in tumorcell proliferation, self renewal and cell differentiation. The objective to analyze the expression of CD 133 and EGFR in high grade andlow grade ovarian carcinoma, and to determine the correlation between the expression of CD133 and EGFR expression in ovariancarcinoma.MethodsThe study was conducted with observational and cross sectional method on paraffin blocks of patients diagnosed as ovariancarcinoma from 1 January until 31 December 2017 in Dr. Soetomo Hospital. Ovarian carcinoma was divided into 2 grade, low gradeand high grade. Immunohistochemistry for EGFR and CD133 was performed. Immuno-reactive Score (IRS) was applied to evaluatethe expression of EGFR and CD133. The difference expression of CD133 and EGFR in low grade and high grade ovarian carcinomawas analyzed with Mann-Whitney test. Correlation between CD133 with EGFR was analyzed with Spearman test.ResultsThere were significant difference in expression of CD133 (p=0.0001) and EGFR (p=0.0005) in high grade and low grade OvarianCarcinoma. There was significant positive correlation between CD133 and EGFR expression in Ovarian Carcinoma (p=0.035; r=0.37)ConclusionExpression of CD133 and EGFR were higher in high grade ovarian carcinoma. The higher expression of CD133 will increaseexpression of EGFR in ovarian carcinoma. Both markers may be used as prognostic factor.
Analisis Ekspresi Cyclin Dependent Kinase (Cdk)6 dan Ki-67 pada Neoplasma Kelenjar Liur Meyta Riniastuti; Dyah Fauziah; Alphania Rahniayu
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 2 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.032 KB)

Abstract

BackgroundBroad spectrum tumors can arise in salivary glands, giving diagnostic difficulties in some subtypes due to morphological similarities. Immunohistochemistry studies done to differentiate between benign and malignant neoplasms of salivary glands are very few, including Cdk6 and Ki-67. Cdk6’s role in tumorigenesis is halting cellular proliferation and differentiation. Ki-67 is actively expressed in proliferating cells, particularly neoplasms. The objectives are to analyze differences of Cdk6 and Ki-67 expression in benign and malignant salivary gland neoplasms and to analyze the correlation between those two proteins.MethodsThis is an analitic observational study with cross sectional design. Samples were taken proportionally, each 15 samples of benign and malignant salivary gland neoplasms, derived from pathological archives during 1 January 2011-30 June 2013 period. Immunohistochemical staining with Cdk6 and Ki-67 monoclonal antibody were performed. Differences in Cdk6 and Ki-67 expression of both groups were analyzed using Mann Whitney. The correlation between the Ki-67 and Cdk6 expression were analyzed using Spearman.ResultsThere were significant differences in the Cdk6 and Ki-67 expression between benign and malignant salivary gland neoplasms.The expressions of Ki-67 have a cut-off point of 6.50%. There was a significant correlation between Cdk6 and Ki-67 expression in the salivary gland neoplasms.ConclusionExpression of Cdk6 and Ki-67 were low at benign salivary gland neoplasms and high at malignant salivary glands neoplasms. There was significant correlation between Cdk6 expression and Ki-67 expression at benign and malignant salivary gland neoplasms. Although both could differentiate the behavior of neoplasms, Ki-67 was more reliable and applicable.
Ekspresi Protein HER-2/neu pada Berbagai Tipe Karsinoma Ovarium Barliana Barliana; Faroek Hoesin; Dyah Fauziah
Majalah Patologi Indonesia Vol 23 No 1 (2014): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.504 KB)

Abstract

Background HER-2/neu is second family of epidermal growth factor receptor (EGFR). Amplification of HER-2/neu gene presented in some carcinoma, especially breast carcinoma. Due to increasing incidency of ovarian carcinoma and its poor prognosis because of chemoresistancy, a study on HER-2/neu expression on ovarian carcinoma is conducted. Methods An observasional analytic design with cross sectional approach. Population and samples were paraffin blocks of many type ovarian carcinoma from archives in the Laboratory of Anatomical Pathology of Dr. Soetomo General Hospital, during January-December 2012. Fourty seven samples were obtained and stained with HER-2/neu antibody. HER-2/neu expression assessed by semiquantitative gradation of intensity. Difference of HER-2/neu expression in many type ovarian carcinoma was analyzed with Chi-Square test by probabilitas exact . Results There were 47 cases with mean age 48.51 years (range 19-68 years). Fourteen cases (29.8%) showed HER-2/neu overexpression (score 3+), Statistical analysis showed significant difference of HER-2/neu expression in ovarian carcinoma (p=0.000; coefficient contingency = 0.606). It was showed musinous and clear cell type had more overexpression of HER-2/neu. Conclusion There was HER-2/neu overexpression in ovarian carcinoma especially in mucinous and clear cell type. Key words: clear cell, endometrioid, HER-2/neu, mucinous, ovarian carcinoma, serous.