Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengaruh Tanah Ekspasif Pada Bangunan Sipil dan Solusinya Srihandayani, Susy
JURNAL UNITEK Vol. 10 No. 2 (2017): edisi Juli-Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Dumai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52072/unitek.v10i2.85

Abstract

Tanah didefinisikan sebagai material yang terdiri dari agregat (butiran) mineral padat yang tersegmentasi (terikat secara kimia) satu sama lain dari bahan-bahan organic yang telah melapuk (yang partikel padat) disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi ruang-ruang kosong diantara partikel-partikel padat tersebut. Tanah berguna sebagai bahan bangunan pada berbagai macam pekerjaan Teknik Sipil. Dalam hubungannya dengan memikul beban diatasnya, secara ekonomis dan efisien dibutuhkan tanah yang mempunyai daya dukung tinggi. Akan tetapi tidak semua tanah dimuka bumi ini mempunyai daya dukung seperti demikian. Untuk itu para ahli sipil berusaha merekayasa agar proyek pembangunan dapat dilaksanakan dengan kondisi tanah tersebut, dapat dijadikan pertimbangan untuk perencanaan selanjutnya. Lahan gambut mendominasi kawasan garis pantai Indonesia, termasuk didalamnya kawasan garis pantai Kota Dumai. Riau telah menunjukkan perkembangan pembangunan yang pesat terutama pada kota Dumai diantaranya proyek pengendalian banjir, jalan, pembanguan sarana dan prasarana kota dan sebagainya. Pemerintah daerah mulai mengadakan perluasan kota dengan mengadakan perluasan kota di luar kota seperti di daerah Lubuk Gaung. Dari hasil penelitian yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa Tanah Ekspansif (Gambut) yang mempunyai kadar air tinggi, sangat besar pengaruhnya terhadap bangunan Sipil sehingga perlu penangganan yang akurat untuk meningkatkan daya dukungnya dengan cara stabilisasi tanah fisik dan kimia.
Mitigasi Bencana Akibat Kegagalan Struktur Srihandayani, Susy
JURNAL UNITEK Vol. 13 No. 2 (2020): Juli - Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Dumai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52072/unitek.v13i2.137

Abstract

Banyak terjadi kerugian, kerusakan Bangunan di daerah yang mempunyai lapisan tanah lunak akibat kegagalan pondasi. Selain itu pondasi di tanah lunak umumnya memerlukan konstruksi yang relatif sangat mahal. Bencana dapat juga terjadi karena faktor alam dan bisa juga terjadi akibat kegagalan teknologi. Kegagalan bangunan telah di definisikan oleh UU RI No.2 Tahun 2007 dan PP No. 29 Tahun 2000. Dilihat dari segi ketekniksipilan, Kegagalan bangunan terjadi apabila bangunan tersebut kurang/ tidak memiliki unsur-unsur kekakuan, kekuatan, stabilitas, dan keamanan, sebagaimana yang dipersyaratkan dalam peraturan/ketentuan yang berlaku terhadap bangunan tersebut. Kegagalan dalam hal ini, dapat dibagi atas, Kegagalan ringan, kegagalan sedang dan kegagalan berat. Kegagalan dapat diawali dari kegagalan pada tahap penyelidikan/ survey, perancangan/ disain, konstruksi (pelaksanaan) dan tahap perawatan (Maintenance). Guna menentukan kegagalan dapat dipakai tolak ukur bahwa semua bangunan harus direncanakan, di bangun, di pelihara mengikuti peraturan nasional dan peraturan daerah serta berbagai standar dari asosiasi asosiasi jasa konstruksi. Selain itu khusus untuk mendisain sebuah pondasi harus menyesuaikan dengan hasil penyelidikan tanah di lapangan.
KARAKTERISTIK TANAH TIMBUN SEBAGAI PENGGANTI SUBGRADE DI LAHAN GAMBUT Srihandayani, Susy; Mazni, Deni Irda
Bearing : Jurnal Penelitian dan Kajian Teknik Sipil Vol 7, No 1 (2021): Bearing : Jurnal Penelitian dan Kajian Teknik Sipil
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jbearing.3633202171

Abstract

Soil is the most important material as the base in construction. Soil is also used as landfill material on peatlands in the field of Civil Engineering work such as the subgrade, backfill, and dams. Landfill soil as a substitute for subgrade on peatlands (such as in Dumai city) has characteristics that are following existing regulations. The characteristics of peat soil are low bearing capacity, high compressibility, very high water content, and high void ratio. Therefore it is necessary to improve the land in peat soil areas. One of the improvements is to replace it with soil that has adequate carrying capacity potential. For the city of Dumai city, the materials were taken in 3 Quarry areas, namely Ex. Balai Raja Duri, Ex. Bukit Kapur dan Ex. Ujung Tanjung. It is necessary to investigate the landfill soil such as its physical and mechanical properties which are tested in the soil mechanics laboratory. In laboratory testing, soil samples are taken to a depth of approximately 50 cm from the soil surface (for undisturbed samples). Among the results of the laboratory tests, the water content values (17.85%, 21.4%, and 20%); void ratio (1.03; 1.46; and 1.63); plasticity index (13.96; 8.09; 9.6), respectively for Quarry Ex. Balai Raja Duri, Ex. Bukit Kapur dan Ex. Ujung Tanjung and CL soil classification for the 3 Quarry. So it can be concluded that the 3 Quarry is suitable to be used as a substitute for subgrade on peatlands.Keywords: Soils, Subgrade, bearing capacity
PERBANDINGAN ANALISIS GEMPA STATIK EKIVALEN KELAS SITUS TANAH KHUSUS DENGAN KELAS SITUS TANAH LUNAK BERDASARKAN SNI 1726-2019 Halimatusadiyah, Halimatusadiyah; Srihandayani, Susy; Desriyati, Welly
Bearing : Jurnal Penelitian dan Kajian Teknik Sipil Vol 7, No 2 (2021): Bearing : Jurnal Penelitian dan Kajian Teknik Sipil
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jbearing.4182202172

Abstract

One of the factors that influence planning of earthquake-resistant building structures is condition of the soil layer and analysis structure. This research discusses about the analysis of static equivalent earthquake to site class F (SF) compare with site class E (SE) based on SNI 1726-2019. For site class F (SF) using the design response spectrum with the design response spectral acceleration for each period not to take more than 80% of the spectral acceleration value specified for the site class E, and then analyzed with using a dynamic response spectrum analysis method at the location of site class F or identified as site class F with the fulfillment requirements as site class F, has the potential for liquefaction. While for site class E (SE) uses the parameters be appointed by SNI 1726-2019. This study aims to compare the increase in earthquake load from static equivalent that occurs in site class F and site class E. The results of the static equivalent analysis show that the value of seismic base shear for site class E (SE) is 14687,085 kN, and site class F (SF) is 16155.793 kN has increased by 10.3%, this affects the calculation of the equivalent lateral force on each floor of the building structure