Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Menilai Dampak BUMDES Bersama Danar terhadap Masyarakat di Kecamatan Leles Kabupaten Garut Tarlani Tarlani
ETHOS (Jurnal Penelitian dan Pengabdian) Vol 8 No.2 (Juni, 2020) Ethos: Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Sains & Teknologi
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/ethos.v8i2.5888

Abstract

Abstract. After Village Law was published in 2014,  formation of BUMDes enforcement in each village became one of the strategic solutions for welfare of the village community. The issue of poverty and underdevelopment of villages is a priority that needs to be addressed by the government. However, not all problems can be solved in one village, but they need village collaboration to make institutions so that their role is more massive, effective, and efficient in encouraging the growth of the village economy. BUMDES Danar Garut is a form of cooperation between villages so that the resolution of a problem can be done at the village government level. since 2014,  BUMDes has been established many business activities. This paper aims to assess the level of contribution of the Danar BUMDes to the economic activities of rural communities. This research was conducted by means of semi-structured in-depth interviews with key stakeholders from both the village government, the director of the Joint BUMDes and the community as beneficiaries of the BUMDes by selecting purposive sampling. The results of the analysis show that BUMDes Danar has made a positive contribution to the village government, socio-economic village communities and the ability and expertise of the people in Leles District both the direct impact of reducing unemployment, increasing the welfare of the village apparatus and indirectly for the Villages or the scope of Leles District.Keywords: Joint-BUMDes, Social-economy, Village SocietyAbstrak. Setelah terbitnya Undang-Undang Desa tahun 2014,dorongan terbentuknya BUMDes di setiap desa menjadi salah satu solusi strategis dalam menyejahterakan masyarakat desa. Isu kemiskinan dan ketertinggalan desa menjadi prioritas yang perlu ditangani oleh pemerintah. Namun tidak semua masalah  dapat diselesaikan dalam satu desa, melainkan perlu adanya kolaborasi antar lembaga desa sehingga perannya lebih masif , efektif dan efisien dalam mendorong bertumbuhnya ekonomi desa. BUMDES Danar Garut merupakan perwujudan kerjasama antar desa agar penyelesaiaan suatu masalah bisa dilakukan pada tingkat pemerintahan desa. sejak 2014 BUMDes ini berdiri sudah banyak kegiatan usaha yang dilakukan. Paper ini bertujuan menilai tingkat kontribusi BUMDes Danar terhadap kegiatan ekonomi masyarakat desa. Penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara mendalam semi terstruktur kepada para stakeholder kunci   baik dari kalangan pemerintah desa, direktur BUMDes Bersama maupun dari masyarakat sebagai penerima manfaat  dari adanya BUMDes dengan pemilihan purposive sampling. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa  BUMDes Danar telah memberikan kontribusi positif  bagi pemerintah desa,  sosial-ekonomi masyarakat desa dan kemampuan serta keahlian masyarakat yang ada di Kecamatan Leles baik dampak secara langsung yaitu berkurangnya pengangguran, meningkatkan kesejahteraan aparatur desa maupun secara tidak langsung bagi Desa-Desa ataupun lingkup Kecamatan Leles.Kata Kunci: BUMDes Bersama, Sosial-ekonomi, Masyarakat Desa
Nilai Tambah Pengembangan Kawasan Wisata Curug Goong Terhadap Kegiatan Ekonomi Masyarakat Secara Berkelanjutan Yulia Asyiawati; Saraswati Saraswati; Tarlani Tarlani; Djamaludin Djamaludin
ETHOS (Jurnal Penelitian dan Pengabdian) Vol 10 No.1 (Januari, 2022) Ethos: Jurnal Penelitian Dan Pangabdian Kepada Masyarakat (Sains & Tekno
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/ethos.v10i1.8340

Abstract

Curug Goong is located in Subang Regency. Located in a strategic location, has natural resources, attractive scenery, and the availability of infrastructure, so that many tourist attractions can be developed. Although this area has not been visited by many tourists, it has potential added value in increasing community economic activities. The purpose of this study is to identify the added value of the Curug Goong tourist area to people’s income. The approach method used in this study is a qualitative approach based on phenomena, dynamics, and community perceptions of the area. Using a qualitative approach, data were collected through interviews with the community, observations of the physical and environmental conditions of the area. The findings obtained from this area are natural resources in the form of waterfalls, rivers, agricultural land, gazebos, irrigation networks, open land, and road networks and home industry areas. By using a descriptive analysis, this tourist area can provide added value to people’s income in a sustainable manner through the development of natural attractions, cultural tourism, culinary tourism, community creative industry development services, the level of welfare and prosperity of the community increases and environmental conditions remain sustainable, one of the embodiments of the concept. sustainable tourism development. CCurug Goong terletak di Kabupaten Subang. Berada di lokasi yang strategis, memiliki sumber daya alam, pemandangan yang menarik, dan ketersediaan infrastruktur, sehingga banyak tempat wisata yang dapat dikembangkan. Meskipun kawasan ini belum banyak dikunjungi wisatawan, namun memiliki potensi nilai tambah dalam meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi nilai tambah kawasan wisata Curug Goong terhadap pendapatan masyarakat. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif berdasarkan fenomena, dinamika, dan persepsi masyarakat terhadap kawasan tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara dengan masyarakat, observasi kondisi fisik dan lingkungan kawasan. Temuan yang diperoleh dari kawasan ini adalah sumber daya alam berupa air terjun, sungai, lahan pertanian, gazebo, jaringan irigasi, lahan terbuka, dan jaringan jalan serta kawasan industri rumah tangga. Dengan menggunakan analisis deskriptif, kawasan wisata ini dapat memberikan nilai tambah bagi pendapatan masyarakat secara berkelanjutan melalui pengembangan daya tarik alam, wisata budaya, wisata kuliner, jasa pengembangan industri kreatif masyarakat, tingkat kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat meningkat dan kondisi lingkungan tetap lestari, salah satu perwujudan dari konsep tersebut. pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Strategi Ketercapaian Smart Environment di SWK Gedebage Rajwa Komalaningtyas; Tarlani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3380

Abstract

Abstract. With the increasing number of urban problems, the government, in this case as a policy maker, can make policy innovations, which one to use technology. Through the Movement Towards 100 Smart City program created by the Ministry of Information and Technology, Bandung has become one of these cities. SWK Gedebage, which is one of eight SWKs in Bandung that will become the City Service Center (PPK) and a technopolis area or area built based on technology, which is stipulated in the Bandung City RDTR 2015-2035. The main problem in Gedebage SWK is flooding, there is garbage piling up in the Gedebage Main Market which causes clogged drainage, causing flooding on roads, to flooding in settlements and housing. Therefore, this study aims to determine the potential and environmental problems in SWK Gedebage and make an achievement strategy based on smart environment criteria in realizing SWK Gedebage as a Technopolis Area and PPK Gedebage. The analysis used using SWOT with secondary data collection of government documents and primary field findings. The strategy is made in accordance with the criteria contained in the smart environment, Environmental Protection Program (Protection), Waste and Waste Management (Waste), and Responsible Energy Management (energy). The results of the SWOT found that the strategic position was made with the problem of flooding and waste, through improving the management of flood management on the Cinambo River border and improving the management of household waste disposal using technology (Incinerator, recycling, and composting) Abstrak. Semakin banyaknya permasalah perkotaan maka pemerintah yang dalam hal ini sebagai pembuat kebijakan dapat melakukan inovasi kebijakan, salah satunya dengan penggunaan teknologi. Melalui program Gerakan Menuju 100 Smart city yang dibuat oleh Kementrian dan Informasi, Kota Bandung menjadi salah satu kota tersebut. SWK Gedebage yang merupakan satu dari delapan SWK di Kota Bandung yang akan menjadi Pusat Pelayanan Kota (PPK) dan merupakan kawasan teknopolis atau kawasan yang dibangun berbasis teknologi, yang ditetapkan pada RDTR Kota Bandung 2015-2035. Permasalahan utama di SWK Gedebage adalah banjir, terdapat sampah menumpuk di Pasar Induk Gedebage yang menyebabkan drainase tersumbat sehingga menimbulkan banjir di ruas jalan, sampai dengan banjir di permukiman dan perumahan. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan permasalah lingkungan di SWK Gedebage dan membuat strategi ketercapaian berdasarkan kriteria smart environment dalam mewujudkan SWK Gedebage sebagai Kawasan Teknopolis dan PPK Gedebage. Analisis yang digunakan menggunakan SWOT dengan pengumpulan data sekunder dokumen pemerintah dan primer penemuan lapangan. Strategi yang dibuat sesuai dengan kriteria yang terdapat di smart environment, Program Proteksi Lingkungan (Protection), Tata Kelola Sampah dan Limbah (Waste), dan Tata Kelola Energi yang bertanggung jawab (energy). Hasil dari SWOT ditemukan bahwa posisi strategi dibuat dengan permasalahan banjir dan sampah, melalui peningkatan pengelolaan penanganan banjir di sempadan Sungai Cinambo dan peningkatan pengelolaan pembuangan limbah rumah tangga menggunakan teknologi (Incenerator, recycling, dan composting).
Strategi Ketercapaian Smart Environment di SWK Gedebage Rajwa Komalaningtyas; Tarlani Tarlani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.676 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.4145

Abstract

Abstract. With the increasing number of urban problems, the government, in this case as a policy maker, can make policy innovations, which one to use technology. Through the Movement Towards 100 Smart City program created by the Ministry of Information and Technology, Bandung has become one of these cities. SWK Gedebage, which is one of eight SWKs in Bandung that will become the City Service Center (PPK) and a technopolis area or area built based on technology, which is stipulated in the Bandung City RDTR 2015-2035. The main problem in Gedebage SWK is flooding, there is garbage piling up in the Gedebage Main Market which causes clogged drainage, causing flooding on roads, to flooding in settlements and housing. Therefore, this study aims to determine the potential and environmental problems in SWK Gedebage and make an achievement strategy based on smart environment criteria in realizing SWK Gedebage as a Technopolis Area and PPK Gedebage. The analysis used using SWOT with secondary data collection of government documents and primary field findings. The strategy is made in accordance with the criteria contained in the smart environment, Environmental Protection Program (Protection), Waste and Waste Management (Waste), and Responsible Energy Management (energy). The results of the SWOT found that the strategic position was made with the problem of flooding and waste, through improving the management of flood management on the Cinambo River border and improving the management of household waste disposal using technology (Incinerator, recycling, and composting). Abstrak. Semakin banyaknya permasalah perkotaan maka pemerintah yang dalam hal ini sebagai pembuat kebijakan dapat melakukan inovasi kebijakan, salah satunya dengan penggunaan teknologi. Melalui program Gerakan Menuju 100 Smart city yang dibuat oleh Kementrian dan Informasi, Kota Bandung menjadi salah satu kota tersebut. SWK Gedebage yang merupakan satu dari delapan SWK di Kota Bandung yang akan menjadi Pusat Pelayanan Kota (PPK) dan merupakan kawasan teknopolis atau kawasan yang dibangun berbasis teknologi, yang ditetapkan pada RDTR Kota Bandung 2015-2035. Permasalahan utama di SWK Gedebage adalah banjir, terdapat sampah menumpuk di Pasar Induk Gedebage yang menyebabkan drainase tersumbat sehingga menimbulkan banjir di ruas jalan, sampai dengan banjir di permukiman dan perumahan. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan permasalah lingkungan di SWK Gedebage dan membuat strategi ketercapaian berdasarkan kriteria smart environment dalam mewujudkan SWK Gedebage sebagai Kawasan Teknopolis dan PPK Gedebage. Analisis yang digunakan menggunakan SWOT dengan pengumpulan data sekunder dokumen pemerintah dan primer penemuan lapangan. Strategi yang dibuat sesuai dengan kriteria yang terdapat di smart environment, Program Proteksi Lingkungan (Protection), Tata Kelola Sampah dan Limbah (Waste), dan Tata Kelola Energi yang bertanggung jawab (energy). Hasil dari SWOT ditemukan bahwa posisi strategi dibuat dengan permasalahan banjir dan sampah, melalui peningkatan pengelolaan penanganan banjir di sempadan Sungai Cinambo dan peningkatan pengelolaan pembuangan limbah rumah tangga menggunakan teknologi (Incenerator, recycling, dan composting).
Evaluasi Implementasi Penanganan Dampak Sosial Ekonomi Akibat Pandemi Covid-19 Aldrieva Audria Araminta Enoch; tarlani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.214 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.4196

Abstract

Abstract. In general, this study aims to evaluate the effectiveness of the implementation of socio-economic management due to the Covid-19 pandemic that has been carried out by the government. The impact of the Covid-19 pandemic which can simultaneously reduce the economy makes the government have to take the right and fast decisions. Indonesia was able to soften the Covid-19 pandemic through the PEN program which has become the center of attention of several countries, such as America. Bandung is the city with the highest population density on the island of Java and the performance of the Bandung city government is ranked first in accelerating the handling of Covid-19. The research method uses qualitative research methods. The data analysis used by the researcher is Comparative Analysis and LFA (Logical Framework Analysis). Evaluation of the results of the implementation of the handling of social impacts in the City of Bandung shows that the handling carried out by the government has not been optimal in dealing with problems caused by the Covid-19 pandemic. This is due to government decision-making that hampers economic growth, limited use of technology, and limited health services. Abstrak. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana efektivitas pelaksanaan penanganan sosial ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang telah dilakukan pemerintah. Dampak pandemi Covid-19 yang mampu menurunkan perekonomian secara serentak membuat pemerintah harus mengambil keputusan yang tepat dan cepat. Indonesia mampu melunakan pandemi Covid-19 melalui program PEN menjadi pusat perhatian beberapa negara, seperti Amerika. Kota bandung merupakan kota dengan kepadatan penduduk tertinggi di pulau jawa dan kinerja pemerintah kota bandung menduduki peringkat pertama dalam percepatan penanganan Covid-19. Metode penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif. Analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah Analisis Komparatif dan LFA (Logical Framefork Analysis). Evaluasi terhadap hasil capaian dari implementasi penanganan dampak sosial Kota Bandung menunjukkan bahwa penanganan yang dilakukan pemerintah belum optimal dalam menangani permasalahan yang diakibatkan pandemi Covid-19. Hal tersebut dikarenakan pengambilan keputusan pemintah yang menghambat pertumbuhan ekonomi, adanya keterbatasan pemanfaatan teknologi, dan layanan kesehatan yang terbatas.
Inter-Village Network Of Joint Village-Owned Enterprises For Local Economic Empowerment Tarlani Tarlani; Gina Puspitasari Rochman; Lely Syiddatul Akliyah; Adhyasta Firdaus; Haifa Aulia Shoobiha; Rifqi Fajar
ETHOS (Jurnal Penelitian dan Pengabdian) Vol 11 No.1 (Januari, 2023) Ethos: Jurnal Penelitian Dan Pangabdian Kepada Masyarakat (Sains & Tekno
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/ethos.v11i1.10185

Abstract

Villages as the frontline of poverty alleviation are required to adapt and be able to utilize the information and communication technology. The Joint Village Owned Enterprise (BUMDesma) Panca Mandala innovates through the development of technology-based business units in the fields of information technology, animal husbandry, and agriculture. This study aims to identify inter-village networks as part of local economic empowerment efforts. This study uses a qualitative approach with data collection using interviews and institutional surveys (purposive sampling) and data analysis using qualitative descriptive analysis methods. There are 16 key informants, namely stakeholders who have a relationship with BUMDesma, managers, village officials, and the village society. Study results show that the inter-village network is built on the initiative of the community who are aware of the gap in the economic condition of the village community and can take advantage of digital gap opportunities. The inter-village network is built by villages that have the same goals and funding capabilities for their respective BUMDes. The networks are not only formed between villages, but also with external parties. The inter-village network was built because of local economic empowerment and development. Meanwhile, external networks are formed for the development of innovation and utilization of business units.
Development of Sirah Cai Cipelang Tourist Destination on A Regional Based on Village Own Enterprise (BUMDES) Empowerment Tarlani Tarlani
MIMBAR : Jurnal Sosial dan Pembangunan Volume 39, No. 1, (Juni 2023) [Accredited Sinta 2] No 10/E/KPT/2019]
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah (Universitas Islam Bandung)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mimbar.v39i1.2228

Abstract

The development of village tourist destinations can accelerate the transformation of the rural economy from 'low value added' status to 'high value added' which impacts expanding employment opportunities, increasing income, and family economic resilience. Cipamekar Village, Sumedang Regency has great potential to become a regional tourist destination, considering the existence of spring and agro-tourism tourist destinations that are easily accessible to the people of West Java when Cisumdawu Toll Road is already operating. Therefore, it is necessary to have a process of empowering BUMDes Tirta Mekar so that the development of sirah cai cipelang tourist destinations uses scientific and innovative approaches. The methodology is carried out by looking directly at BUMDes-BUMDes that have successfully managed their tourist areas to be used as a reference in the development of BUMDes in managing sirah cai cipelang tourism.
Development of Sirah Cai Cipelang Tourist Destination on A Regional Based on Village Own Enterprise (BUMDES) Empowerment Tarlani; Atih Rohaeti Dariah; Nurdin
MIMBAR : Jurnal Sosial dan Pembangunan Volume 39, No. 1, (Juni 2023) [Accredited Sinta 2] No 10/E/KPT/2019
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah (Universitas Islam Bandung)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mimbar.v39i1.2228

Abstract

The development of village tourist destinations can accelerate the transformation of the rural economy from 'low value added' status to 'high value added' which impacts expanding employment opportunities, increasing income, and family economic resilience. Cipamekar Village, Sumedang Regency has great potential to become a regional tourist destination, considering the existence of spring and agro-tourism tourist destinations that are easily accessible to the people of West Java when Cisumdawu Toll Road is already operating. Therefore, it is necessary to have a process of empowering BUMDes Tirta Mekar so that the development of sirah cai cipelang tourist destinations uses scientific and innovative approaches. The methodology is carried out by looking directly at BUMDes-BUMDes that have successfully managed their tourist areas to be used as a reference in the development of BUMDes in managing sirah cai cipelang tourism.
Peluang yang Dapat Diraih oleh Desa Patimban dari Pembangunan Pelabuhan Patimban Ahmad Gozali; Tarlani; Ernawati
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 3, No. 1, Juli 2023, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v3i1.1963

Abstract

Abstract. Infrastructure development is one of the pillars of the state capital. The efforts made by the government in the National Strategic Project are the development of the Rebana Triangle Area. This development is expected to become the center of an industrial area in West Java with an area of 54,000 ha. The construction of the Patimban Port project is one of the government's strategies in reducing capacity at the Tanjung Priok Port. The development of Patimban Port is planned to use 542 ha of land in Patimban, with details of 300 ha of land and 242 ha of sea reclamation. Seeing the enormous potential and opportunities that exist at the Patimban port, the local government needs special efforts to prepare superior human resources so that they can respond to the opportunities that come from the presence of the Patimban port. to see readiness, this study uses the Community Readiness Model (CRM) method. From the results of the analysis, it can be seen that the opportunities from the Patimban port can be utilized by the local community and from the perspective of the readiness of the government and the local community. Abstrak. Perkembangan infrastruktur menjadi salah satu sebagai penyangga ibukota negara. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam Proyek Strategis Nasional yaitu pengembangan Kawasan Segitiga. Pengembangan ini diharapkan dapat menjadi sentra Kawasan industri di Jawa Barat dengan luas 54,000 ha. Pembangunan proyek Pelabuhan Patimban merupakan salah satu dari strategi pemerintah dalam mengurangi kapasitas di Pelabuhan Tanjung Priuk. Pembangunan pelabuhan patimban direncanakan menggunakan lahan di patimban seluas 542 ha dengan detailnya 300 ha daratan dan 242 ha reklamasi laut. Melihat begitu besarnya potensi dan peluang yang ada di pelabuhan patimban, pemerintah setempat perlu adanya upaya khusus dalam menyiapkan SDM yang unggul agar dapat menjawab peluang dari hadirnya pelabuhan patimban. untuk melihat kesiapan, penelitian ini menggunakan metode Community Readiness Model (CRM). Dari hasil analisis dapat dilihat peluang dari pelabuhan patimban yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat serta melihat dari sisi kesiapan pemerintah dan masyarakat setempat.
Indikator Tata Kelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Indonesia dalam Merespon Era Revolusi Industri 4.0 Tarlani Tarlani; Saraswati Saraswati; Lely Syiddayul Akliyyah; Lulik Fullela R; Haifa Aulia Shoobiha Dananjaya
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 19, No 3 (2023): JPWK Volume 19 No. 3 September 2023
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v19i3.41081

Abstract

Konsekuensi dari revolusi Industri 4.0 yang ada di Indonesia saat ini adalah digitalisasi. Era dimana teknologi digital akan berdampak pada hilangnya sebagian banyak jenis pekerjaan di dunia. Terlebih dengan munculnya pandemi Covid-19, banyak usaha-usaha yang akhirnya merugi bahkan mengakhiri kegiatan bisnisnya. Desa menjadi salah satu harapan utama dari aktivitas ekonomi namun belum memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan dari ekonomi desa. Kehadiran lembaga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di desa merupakan sebuah harapan bagi masyarakat desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Untuk mewujudkan hal tersebut, desa-desa di Indonesia perlu mengembangkan tata kelola BUMDes agar dapat terus bersaing berbagai jenis usahanya di era ekonomi digital. Penelitian fokus pada mengeksplorasi indikator-indikator yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan tata kelola BUMDes yang merespon era revolusi industri 4.0. Metode yang digunakan yaitu metode deduktif dengan pengumpulan data sekunder dan analisis berupa sintesa dari literatur. Temuan dalam penelitian bahwa tata kelola BUMDes memiliki dimensi dari hulu hingga ke hilir yang meliputi (1) dimensi kebijakan, perencanaan dan kelitbangan, (2) dimensi tata kelola SDM, (3) dimensi tata kelola  keuangan dan kesekretariatan, (4) dimensi tata kelola produksi, (5) dimensi tata kelola logistik dan pergudangan, dan (6) dimensi tata kelola pemasaran dan penjualan.