p-Index From 2017 - 2022
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Bimas Islam
Gufron, Uup
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

CORAK MODERASI BERAGAMA KELUARGA MUALAF TIONGHOA (STUDI KASUS JAMAAH MASJID LAUTZE JAKARTA PUSAT) Gufron, Uup
Jurnal Bimas Islam Vol 12 No 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.293 KB) | DOI: 10.37302/jbi.v12i2.115

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui corak pemahaman moderasi beragama keluarga mualaf Tionghoa yang berada dalam binaan Masjid Lautze Pasar Baru Jakarta Pusat. Mayoritas mualaf binaan Masjid Lautze adalah dari kalangan etnis Tionghoa. Hal ini menjawab pertanyaan bagaimanakah corak yang menjadi kekhasan dalam moderasi beragama yang dijalani para mualaf etnis Tionghoa. Penelitian ini termasuk kualitatif deskriptif dengan melakukan wawancara langsung dengan responden yang relevan dan olah data. Berdasarkan data temuan, latar belakang para mualaf Tionghoa menjadi muslim dilatarbelakangi oleh tiga faktor, yakni (1) faktor spiritualitas; (2) faktor rasionalitas; dari (3) faktor identitas. Faktor spiritualitas lebih dominan dibanding faktor lain, sehingga pemahaman moderasinya lebih mengedepankan perasaan kasih sayang, kelembutan hati, cinta-kasih, dan saling menghormati. Corak moderasi yang dimiliki para mualaf binaan Masjid Lautze dipengaruhi oleh sosok tokoh muslim etnis Tionghoa bernama Haji Karim Oei, yang merupakan tokoh Muhammadiyah yang memiliki pemahaman yang modernis (tajd?di), pembauran (ist??ab), dan moderat (taw?suth), bersikap toleran (tasamuh); dan tidak ekstrim (tatharruf). Kata Kunci: moderasi; mualaf; Tionghoa; keluarga; Lautze Abstract This article aims to find out the religious moderation characteristics in Chinese Muslim Families who are under the auspices of the Masjid Lautze Pasar Baru, Central Jakarta. The majority of Mualaf guided by the Lautze Mosque are from the ethnic Chinese. This article answers the question of how the characteristic which become the uniqueness in religious moderation experienced by Chinese Mualaf. This study included descriptive qualitative by conducting direct interviews with relevant respondents and data processing. Based on data, the background of Chinese Mualaf to become Muslim is motivated by three factors, namely (1) the spirituality factor; (2) the rationality factor; from (3) identity factor. The spirituality factor is more dominant than other factors, so that the moderation understanding puts forward affection feeling, gentleness, love and mutual respect. The characteristic moderation of the Mualaf guided by the Lautze Mosque is influenced by the ethnic Chinese Muslim figure named Haji Karim Oei, who is a Muhammadiyah figure and a modernist (tajd?di), assimilation (ist??ab) and moderate (taw?suth), tolerant (tasamuh); and not extremist (tatharruf). Keywords: moderation; mualaf; China; family; Lautze
GERAKAN BANTEN BEBERSIH DALAM PERSPEKTIF DAKWAH EKOLOGI Gufron, Uup
Jurnal Bimas Islam Vol 10 No 2 (2017): Jurnal Bimas Islam 2017
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.873 KB) | DOI: 10.37302/jbi.v10i2.23

Abstract

This research is intended to find out the description of the ecological da?wah implemented in the Cleaning Banten Movement 2017 programs. This answers the question of how the activity implementation and whether the activity implements the ecological da?wah principles. This research is qualitative descriptive by conducting interviews on the informans who are directly involved in the da?wah ecology activities as well as its object and field survey. This study found the conclusion that the activity contains the ecological da?wah principles as the principle (1) al-intifa; (2) al-i'tibar; (3) al-ishlah; (4) al-tauhid; (5) al-ayat; (6) al-khalifah; (7) al-amanah; (8) al-'adalah; (9) al-tawazun; (10) al-riayah dun al-israf; and (11) al-tahdits wa al-istikhlaf, but the activity still has many shortcomings and weaknesses in its implementation and follow-up. This because the factor is still a little bit of public awareness and inadequate of following-up these activities program. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui gambaran tentang dakwah ekologi yang terimplementasi dalam program Gerakan Banten Bebersih 2017. Hal ini untuk menjawab pertanyaan bagaimana pelaksanaan kegiatan tersebut dan apakah kegiatan tersebut mengimplementasikan prinsip-prinsip dalam dakwah ekologi. Penelitian ini bersifat deskriprif kualitatif dengan melakukan wawancara pada pelaku yang terlibat langsung dalam kegiatan dakwah ekologi tersebut maupun objeknya serta survey lapangan. Penelitian ini menemukan kesimpulan bahwa kegiatan tersebut mengandung prinsip-prinsip dakwah ekologi seperti prinsip (1) al-intifa; (2) al-i?tibar; (3) al-ishlah; (4) al-tauhid; (5) al-ayat; (6) al-khalifah; (7) al-amanah; (8) al-?adalah; (9) al-tawazun; (10) al-riayah dun al-israf; dan (11) al-tahdits wa al-istikhlaf, namun kegiatan tersebut masih memiliki banyak kekurangan dan kelemahan dalam implementasi dan tindaklanjutnya. Hal ini disebabkan karena faktor  masih minimkan kesadaran masyarakat dan tidak memadainya program lanjutan dari kegiatan tersebut. 
KONSEP GOOD GOVERNANCE DALAM PANDANGAN AL-GHAZALI Gufron, Uup
Jurnal Bimas Islam Vol 8 No 4 (2015): Jurnal Bimas Islam
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.622 KB)

Abstract

Abstract This article focuses on studying and observing the thought of Al-Ghazali on the concept of good governance. It is expected to obtain the answer how exactly the concept of political ethics he put it, so it can be a reference and a foothold in the management of state and government in this modern century. So, this reseach is to answer how the concept of political ethics in the view of of Al-Ghazali and what the view of Al-Ghazali on government ethics that can be interpreted as the principles of good governance is. The objectives of this writing is to make formulation the concept of good governance of Al-Ghazali based on ethics philosophy. The writer concludes that Al-Ghazali suggested or gave some advices to the rulers how to make good governance (husn al-siyâsah) based on ethics. These are formulated into seven principles such as competence (kaf??ah); doing fairness (?âdalah); live by low profile  (basâthah); working honesty (amanâh); having responsiveness (istij?bah); humble and sincerity (Tawaddhu? wal Ikhlash); and  meekness to public (rifq).   Abstraksi Tulisan ini fokus pada kajian dan menggali pemikirian Al-Ghazali tentang konsep kepemerintahan yang baik. Diharapkan dapat memberikan jawaban bagaimana sebenarnya konsep etika politik yang ia kemukakan, sehingga dapat menjadi acuan dan pijakan dalam pengelolaan negara dan pemerintahan di abad modern ini. Jadi, penelitian ini adalah untuk menjawab bagaimana konsep etika politik dalam pandangan Al-Ghazali dan apa pandangan Al-Ghazali tentang etika pemerintahan yang dapat diartikan sebagai prinsip-prinsip tata kelola yang baik. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk membuat formulasi konsep tata kelola yang baik dari Al-Ghazali berdasarkan etika filsafat. Penulis menyimpulkan bahwa Al-Ghazali menyarankan atau memberikan beberapa nasihat kepada penguasa bagaimana membuat tata pemerintahan yang baik (husn al-siyasah) berdasarkan etika. Ini diformulasikan ke dalam tujuh prinsip seperti kompetensi (kafa'ah); melakukan keadilan ('adalah); hidup dengan rendah hati (basâthah); kejujuran bekerja (amanah); memiliki respon (istij?bah); rendah hati dan ketulusan (Tawaddhu 'wal Ikhlash); dan kelembutan untuk umum (rifq). Keywords: Islam, Government, Good governance