This Author published in this journals
All Journal EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Regula Fidei Kurios Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Jurnal Teologi Berita Hidup Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Jurnal Gamaliel Teologi Praktika Khazanah Theologia The Way Jurnal Teologi dan Kependidikan Manna Rafflesia Khazanah Theologia PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Diegesis: Jurnal Teologi KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Jurnal Shanan JURNAL TERUNA BHAKTI Huperetes : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Angelion: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Jurnal Teologi Praktika Didache: Journal of Christian Education Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan SHAMAYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Jurnal Teologi (JUTEOLOG) CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Jurnal Pendidikan Agama Kristen (JUPAK) Transformasi Fondasi Iman Kristen dalam Pelayanan Pastoral di Era Society 5.0 Jurnal DIDASKO Apostolos: Journal of Theology and Christian Education Jurnal Teologi Amreta Teo TELEIOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Sabda : Jurnal Teologi Kristen LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen Dunamos: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) SIKIP: Jurnal Pendidikan Agama Kristen MAGNUM OPUS: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen THRONOS: Jurnal Teologi Kristen ALUCIO DEI: JURNAL TEOLOGI Metanoia : Jurnal Pendidikan Agama Kristen Jurnal Salvation Harati: Jurnal Pendidikan Kristen
Yonatan Alex Arifianto
Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala

Published : 91 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Peran Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Pendidikan Etis-Teologis Mengatasi Dekadensi Moral di Tengah Era Disrupsi Yonatan Alex Arifianto
Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 6, No 1: Maret 2021
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Kristen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46307/rfidei.v6i1.84

Abstract

The problem of students in dealing with moral decadence in socializing in the technological era is very risky and can clash spiritually. This problem will be a threat if the role of Christian religious education teachers does not maximize in seeking Biblical learning. Through descriptive qualitative methods, it can be concluded that teachers as educators in Ethical-Theological to overcome moral decadence in this period of disruption must be a priority for teachers and parents to work together in suppressing moral decadence. So what the teacher does is the first to know the nature of moral decadence and challenges in the era of disruption. So that it can provide solutions for students. Both teachers taught Christian ethical values from a biblical perspective as the basis for norms of life that are taught and applied in everyday life. And thirdly, Christian religious education teachers as role models in life wherever they are, especially in the virtual or digital world, this will have an impact on changes in students who see and imitate the teacher's attitude in the real and digital world community. Abstrak Persoalan peserta didik dalam menghadapi dekadensi moral dalam pergaulan di era teknologi sangat riskan dapat membenturkan kerohanian. Persoalan tersebut akan menjadi ancaman bila peran guru pendidikan agama Kristen tidak memaksimalkan dalam mengupayakan pembelajaran sesuai Alkitabiah. Melalui metode kualitatif deskritif dapat disimpulkan bahwa guru sebagai pendidik dalam Etis-Teologis untuk mengatasi dekadensi moral pada masa disrupsi ini harus menjadi prioritas guru dan orang tua untuk bekerja sama dalam menekan dekadensi moral. Maka yang dilakukan guru adalah yang pertama mengetahui hakikat dekadensi moral dan tantangan di era disrupsi. Sehingga dapat memberi solusi bagi peserta didik. Kedua guru mengajarkan nilai etika Kristen dalam persepektif Alkitab sebagai landasan norma kehidupan yang diajarkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari hari. Dan yang ketiga Guru pendidikan Agama Kristen sebagai teladan dalam kehidupan dimanapun berada terlebih di dunia maya atau digital maka hal ini akan berdampak bagi perubahan peserta didik yang melihat dan meneladani sikap guru dalam berkomunitas didunia nyata maupun digital.
Iman Kristen dan Perundungan di Era Disrupsi Yonatan Alex Arifianto; Joseph Christ Santo
Angelion Vol 1, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (985.34 KB) | DOI: 10.38189/jan.v1i2.73

Abstract

Social media is actually used to improve social relationships and increase roles in various ways. However, on the one hand, social media is used as an arena for bullying to others and groups. The problem in this research is how the role of Christian faith. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, this research comes to the conclusion that believers must know the era of disruption in human social development, then understand the influence of social media on ethics, and examine how Christian faith views in the face of bullying. Holding on to the view that the Christian existence must be the salt and light of the world means that we must be prepared to live side by side with physical differences, ideas, and all other things.Persoalan yang terjadi dimana media sosial yang sejatinya digunakan untuk meningkatkan hubungan sosial dan meningkatkan peran dalam berbagai hal. Namun dalam satu sisi media sosial dijadikan ajang perundungan (bullying) kepada sesama maupun kelompok. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur dapat dicapai tujuan penulisan dengan menyimpulkan bahwa iman Kristen dalam menghadapi perundungan di tengah disrupsi, dimana orang percaya harus mengetahui era disrupsi dalam perkembangan sosial manusia, lalu memahami adanya pengaruh media sosial dalam etika, dan mencermati bagaimana perundungan dalam pandangan iman Kristen untuk diterapkan dalam menghadapi penindasan. Sehingga ada peran orang percaya dalam menghadapi perundungan di era disrupsi. Orang percaya diharapkan mempunyai pandangan dalam menerima segala perbedaan baik fisik, ide, dan segala hal. Serta mau hidup berdampingan untuk terus menjadi garam dan terang seperti yang diinginkan Yesus dalam kehidupan kekristenan
Kajian Biblikal tentang Manusia Rohani dan Manusia Duniawi Yonatan Alex Arifianto
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 1 (2020): Agustus 2020
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i1.51

Abstract

Immaturity in taking an attitude and acting as they should be following the way and order of God's Word can be called a worldly man who has the impact of jealousy, strife, so as to give rise to worldly people who do not know the truth. The natural man will also represent who the believer is. Spiritual maturity that involves God's role in the work of the Holy Spirit will continue to renew the mind and passion to continue fellowship with God. Likewise, what happens for humans who are in Jesus Christ will become a person in His image and become a blessing to others. With descriptive qualitative research methods, the author can describe the classification of the worldly man which refers to the immature in Christ, whose food is still limited to milk, and has an attitude of envy, strife and lives in a worldly manner. In addition, a spiritual person is described by the indicators: leaving childishness, accepting solid food and becoming a peacemaker, so that he can continue to grow, have a changed consciousness in all good things. In the end, the spiritual man can be a blessing and give good fruit to the lives of others. Abstrak Ketidakdewasaan dalam mengambil sikap dan bertindak sebagaimana seharusnya mengikuti cara dan tatanan Firman Tuhan dapat disebut sebagai manusia duniawi yang memiliki dampak iri hati, perselisihan sehingga memunculkan manusia duniawi yang tidak mengenal kebenaran. Manusia duniawi itu juga akan mepresentasikan siapa pribadi orang percaya. Kedewasaan rohani yang melibatkan peran Tuhan dalam karya Roh Kudus akan terus memperbaharui pikiran dan gairah untuk terus bersekutu dengan Tuhan. Demikianlah juga yang terjadi bagi manusia yang ada dalam Yesus Kristus akan menjadi pribadi yang serupa dengan gambarNya dan menjadi berkat bagi sesama. Dengan metode penelitian kualitatif deskriptif, penulis dapat mendeskripsikan klasifikasi manusia duniawi yang mengacu pada belum dewasa dalam Kristus, yang makanannya masih sebatas susu, serta memiliki sikap iri hati, perselisihan dan hidup secara duniawi. Selain itu, dideskripsikan manusia rohani dengan indikator: meninggalkan sifat kanak-kanak, menerima makanan keras dan menjadi pembawa damai, sehingga dapat terus bertumbuh, memiliki kesadaran berubah dalam segala hal yang baik. Pada akhirnya manusia rohani dapat menjadi berkat dan memberikan buah yang baik bagi kehidupan orang lain.
Prinsip-prinsip dalam Membangun Pernikahan Kristen yang Kuat Yakub Hendrawan Perangin Angin; Yonatan Alex Arifianto
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 1, No 2 (2019): Januari 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v1i2.129

Abstract

Kompetensi utama yang harus dimiliki oleh suami istri dalam membangun pernikahan yang kokoh sangatlah berharga untuk itu setiap pasangan suami istri harus dipersiapkan sejak awal pernikahan agar terbangun pernikahan yang abadi. Pernikahan yang sehat dan bahagia merupakan impian dari setiap pasangan suami istri. Pernikahan yang dijalani dengan berhasil dapat memberikan gelora bagi suami dan istri dalam melalui dan mengatasi berbagai persoalan dan tekanan yang dihadapi dan semakin teguh dan kuat seiring usia pernikahannya. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dari berbagai jurnal dan buku yang ditulis oleh konselor dan pakar pembina pernikahan Kristen. Hasil dari penelitian ini ada 6 cara yang harus dibangun oleh pasangan suami istri yang merindukan pernikahan yang tangguh, yaitu: Pertama, Menjadikan Kristus Sebagai Pusat Kehidupan Pernikahan.  Kedua, Mengembangkan Keterampilan Pernikahan Melalui Kursus dan Sekolah Keluarga. Ketiga, Mengembangkan Kreativitas Dalam Mempertahankan Kemesraan Pernikahan. Keempat, Bersama Sengaja Bertumbuh Terus Menerus. Kelima, Berdoa Bersama Pasangan dan Saling Memperkaya. Keenam, Menjadi Penjaga Pernikahan Lainnya.  
Konsep Memuliakan Tuhan Berdasarkan Lukas 17:11-19 dan Signifikansinya Dalam Kehidupan Abad Modern Yonatan Alex Arifianto
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 1, No 3 (2021): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.876 KB) | DOI: 10.54403/rjtpi.v1i3.27

Abstract

In modern times the understanding of the phrase glorifying God has been reduced to only spiritual and church activities or actions. Excavation of the biblical text on the story of Luke 17:11-19 becomes the basis or pattern for compiling its implications for the lives of believers in this modern era. For believers, glorifying God is an attitude of the heart and deepest awareness of the existence of God as the only Supreme Being. The research hopes to provide a correct understanding of the phrase glorifying God according to the story in Luke 17:11-19 so that believers can apply it correctly in their daily lives. The method used is descriptive qualitative research through a literature study approach. The results of the research found that actions and attitudes are the fruit of a state of the soul that glorifies God. Some important points about it are: first, humility is the first step to glorify God. Second, there is an acknowledgment of the authority of the Lord Jesus and giving the highest respect. Third, glorifying God contains a high level of trust and obedience. Fourth, placing God as the only necessity of life. Fifth, glorifying God properly will be marked by the fruits of concrete life that can be felt directly by God and others. Sixth, believers who glorify God will be able to become living models for others. Seventh, being able to let go of the world and all the modern pleasures it offers to focus on living only for God.Pada masa modern ini pemahaman terhadap frasa memuliakan Tuhan mengalami reduksi hanya sebatas pada aktivitas atau tindakan rohani dan bergereja. Penggalian teks Alkitab pada kisah Lukas 17:11-19 menjadi dasar atau pola untuk menyusun implikasinya terhadap kehidupan umat percaya di era modern ini. Bagi umat percaya, memuliakan Tuhan  merupakan sikap hati dan kesadaran jiwa terdalam akan keberadaan Tuhan sebagai satu-satunya yang Maha Mulia. Penelitian ini memiliki harapan dapat memberikan pemahaman yang benar terhadap frasa memuliakan Tuhan sesuai kisah dalam Lukas 17:11-19 sehingga umat percaya dapat menerapkannya secara benar dalam keseharian hidup. Metode yang dipergunakan adalah riset kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi kepustakaan. Hasil riset menemukan bahwa tindakan dan sikap adalah buah dari keadaan jiwa yang memuliakan Tuhan. Beberapa poin penting tentang hal itu yaitu: pertama, kerendahan hati menjadi langkah awal memuliakan Tuhan. Kedua, adanya pengakuan otoritas Tuhan Yesus dan memberikan penghormatan setinggi-tingginya. Ketiga, memuliakan Tuhan memuat sikap percaya tingkat tinggi dan ketaatan. Keempat, menempatkan Tuhan sebagai satu-satunya kebutuhan hidup. Kelima, memuliakan Tuhan secara benar akan ditandai dengan buah-buah kehidupan konkrit yang dapat dirasakan langsung oleh Tuhan dan sesama. Keenam, umat percaya yang memuliakan Tuhan akan mampu menjadi model yang hidup bagi sesama. Ketujuh, mampu melepaskan dunia beserta semua kenikmatan  modern yang ditawarkan di dalamnya untuk fokus hidup hanya bagi Tuhan.
Tinjauan Trilogi Kerukunan Umat Beragama Berdasarkan Perspektif Iman Kristen Yonatan Alex Arifianto; Joseph Christ Santo
Angelion Vol 1, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1036.932 KB) | DOI: 10.38189/jan.v1i1.38

Abstract

Abstract: In Indonesia as a multicultural country, there is a diversity of beliefs. History proves that unhealthy exclusivism endangers pluralism. Differences in religious beliefs can become a potential for horizontal conflict if the state does not act to prevent this. In order to create a harmonious society, the government has launched the Religious Harmony Trilogy through the Regulation of the Minister of Religion and the Minister of Home Affairs. As citizens of Indonesia, Christians cannot neglect this harmony effort. This study aims to answer the problem of how the role of believers in social life in applying the Religious Harmony Trilogy based on the perspective of the Christian faith. This research uses descriptive analysis method through related literature. The results of this study indicate: first, Christianity teaches living in harmony among fellow Christians as members of the body of Christ. Second, Christianity teaches to be the light of the world and the salt of the world in the midst of people with different faiths, so that harmony can be created. Third, Christianity teaches submission to the government because the government is determined by God, thus creating harmony between Christians and the government.Abstrak: Di dalam negara Indonesia yang multikultural dijumpai adanya keberagaman keyakinan. Sejarah membuktikan bahwa eksklusivisme yang tidak sehat membahayakan kemajemukan. Perbedaan keyakinan agama bisa menjadi potensi konflik horizontal apabila negara tidak bertindak mencegah hal tersebut. Dalam rangka mewujudkan masyarakat yang harmonis, pemerintah telah mencanangkan Trilogi Kerukunan Umat Beragama melalui Peraturan Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri. Sebagai warga negara Indonesia, umat Kristen tidak bisa berlaku abai terhadap upaya kerukunan ini. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan bagaimanakah peran orang percaya dalam kehidupan bermasyarakat dalam mengaplikasikan Trilogi Kerukunan Umat Beragama berdasarkan persepektif iman Kristen. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis melalui literatur terkait. Hasil dari penelitian ini menunjukkan: pertama, kekristenan mengajarkan hidup rukun di antara sesama umat Kristen sebagai anggota tubuh Kristus. Kedua, kekritenan mengajarkan untuk menjadi terang dunia dan garam dunia di tengah-tengah masyarakat dengan keyakinan iman yang berbeda, sehingga tercipta keharmonisan. Ketiga, kekristenan mengajarkan penundukan kepada pemerintah karena pemerintah ditetapkan oleh Allah, dengan demikian terwujud kerukunan antara umat Kristen dengan pemerintah.
Konstruksi Kerangka Konseptual Peranan Roh Kudus dalam PAK Menggunakan Taksonomi Bloom yang Diperbarui Hanny Setiawan; Yonatan Alex Arifianto
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Vol 7, No 2 (2021): KENOSIS: JURNAL KAJIAN TEOLOGI
Publisher : IAKN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37196/kenosis.v7i2.226

Abstract

A learning process is aimed toward outcomes.  The desired outcomes are the initial point to construct the proper conceptual framework to describe the theoretical foundation of research. Spirituality and spiritual behaviour are two outcomes that Christian Education thinkers agreed upon from Old Testament to now. The meeting between Greeco-Roman and Jewish culture had somewhat changed the trajectory of how Christian Education developed. The Greek cognitive-based learning has influenced the initial Christian Education which is Jewish learning system. This article attempts to describe how spirituality, spiritual behaviour, and spiritual knowledge serve as the ultimate outcomes of Christian Education. The description will fit with the role of the Holy Spirit in the overall process of Christian Education in any given scope. As a result, this article will construct a conceptual framework that can be utilized further to design a biblical curriculum that is not merely cognitively measurable but also to provide an intentional outcome of spirituality and spiritual behaviour.  The revised Bloom’s taxonomy will be used to bridge both worlds: the cognitive, and non-cognitive.  In conclusion, this article shows that the supernatural work of Holy Spirit is not against the natural work of Holy Spirit through teacher and student relationships in Christian Education, but both work together.  AbstrakProses pembelajaran ditujukan untuk mencapai suatu hasil. Hasil yang diinginkan merupakan titik awal untuk membangun kerangka konseptual yang tepat untuk mendeskripsikan landasan teoritis sebuah penelitian. Spiritualitas dan perilaku spiritual adalah dua hasil yang disepakati oleh para pemikir pendidikan Kristen dari zaman Perjanjian Lama hingga sekarang. Pertemuan antara budaya Yunani-Romawi dan Yahudi telah mengubah lintasan (trajectory) Pendidikan Kristen berkembang. Pembelajaran berbasis kognitif Yunani telah mempengaruhi sistem pembelajaran Yahudi. Artikel ini mencoba untuk menjelaskan bagaimana spiritualitas, perilaku spiritual, dan pengetahuan spiritual berfungsi sebagai hasil akhir dari Pendidikan Kristen. Hasil akhir tersebut dapat menggambarkan secara konseptual peran Roh Kudus dalam keseluruhan proses Pendidikan Kristen dalam lingkup apa pun. Sebagai hasil akhir, artikel ini akan menyajikan bangunan kerangka konseptual yang dapat digunakan lebih jauh untuk merancang kurikulum alkitabiah yang tidak hanya dapat diukur secara kognitif, tetapi juga untuk memberikan hasil yang disengaja dari spiritualitas dan perilaku spiritual. Taksonomi Bloom yang telah direvisi akan digunakan untuk menjembatani kedua dunia: kognitif dan non-kognitif.  Artikel ini menunjukkan bahwa pekerjaan supernatural Roh Kudus tidak bertentangan dengan pekerjaan alami Roh Kudus melalui hubungan guru dan murid dalam pendidikan Kristen, tetapi keduanya bekerja sama.
Makna Sosio-Teologis Melayani Menurut Roma 12:7 Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 2 No 2 (2020): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v2i2.43

Abstract

Christianity is inseparable from ministry either in a holistic mission or a church ministry. As one of the gifts given by God in believers who must be actualized to God and others through a special gift, namely the gift of serving. Using descriptive qualitative method, the writer analyzes and examines the meaning of the gift of service which is expected to increase understanding and can have an impact on God's servants. which the purpose of writing is to bring believers more active in serving through the gift of serving. By understanding Christian service in Romans 12: 7, it can be concluded that the gift of serving is a must for believers given to him by God. For that the servant is expected to be able and careful in understanding the theological review in Romans 12: 7, so that the servant realizes that the service entrusted is an honor given by God and is done with sincerity as the dedication of a believer who receives gifts based on the example of Jesus. Then interpret service in socio-theology, which makes the meaning of serving which must be actualized to God and others as part of being a blessing for the world. Kekristenan tidak lepas dari pelayanan baik secara misi holistik maupun pelayanan gereja. Sebagai salah satu dalam karunia yang diberikan oleh Tuhan dalam kepada orang percaya yang harus diaktualisasikan kepada Tuhan dan sesama lewat karunia khusus yaitu karunia melayani. Menggunakan metode kulaitatif deskriptif, penulis menganalisis dan mengkaji makna karunia melayani yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan dapat membawa dampak bagi para pelayan Tuhan. yang mana tujuan dalam penulisan ini untuk membawa orang percaya semakin giat dalam melayani lewat karunia melayani. Dengan memahami melayani menurut Kristen dalamRoma 12: 7, dapat disimpulkan bahwa Karunia melayani adalah sebuah keharusan bagi orang percaya yang kepadanya diberikan oleh Tuhan. Untuk itu pelayan diharapakan mampu dan cermat dalam memahami tinjauan teologis dalam Roma 12: 7, sehingga pelayan menyadari bahwa pelayanan yang dipercayakan adalah kehormatan yang diberikan Tuhan dan dikerjakan dengan kesungguhan sebagai dedikasi orang percaya yang menerima karunia yang didasari dari keteladanan Yesus. Lalu memaknai pelayanan dalam sosio-teologi, yang menjadikan makna melayani yang harus diaktualisasikan.
Studi Teologis Prinsip Penginjilan Paulus dalam 1 Korintus 9:16 Yonatan Alex Arifianto; Kristien Oktavia; Matius I Totok Dwikoryanto
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v2i1.42

Abstract

Abstract: church that has the wrong mindset towards the principles and concepts of evangelism will experience things that cannot add new soul members to it, because the principles and concepts of mission are very important in church growth. So that the church enters into unhealthy competitive competition by stealing sheep or souls from other churches. The author by using a descriptive qualitative approach to this research can begin with text analysis so as to produce findings, among others: first, the responsibility and obligation of people who believe in God to evangelize. Second, Paul was willing to give up the rights for the sake of the gospel and third There is no reason to boast all for Christ. Because the gospel must be preached like Paul did, there is a solid basis for being in God's mission through the papa Paul built Abstrak: Gereja yang memiliki pola pikir yang salah terhadap prinsip dan konsep penginjilan maka akan mengalami hal yang tidak dapat menambahkan anggota jiwa baru kedalamnya, karena prinsip dan konsep misi sangat penting dalam pertumbuhan gereja. Sehingga gereja masuk dalam kompetisi persaingan yang tidak sehat dengan mencuri domba atau jiwa dari gereja lain. penulis mendeskripsikan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif penelitian ini dapat dimulai dengan analisa teks sehingga menghasilkan hasil temuan antara lain: pertama, Tanggung jawab dan keharusan orang yang percaya kepada Tuhan untuk Menginjil. Kedua Paulus rela melepaskan hak demi Injil dan ketiga Tidak ada alasan memegahkan diri semua bagi kristus. Sebab injil harus diberitakan seperti yang dilakukan oleh Paulus ada dasar yang kuat untuk berada dalam misinya Tuhan melalui setiap apa yang dibangun Paulus dalam memotivasinya.
PERSEPEKTIF BIBLIKAL TENTANG TOLERANSI DAN PERAN ORANG PERCAYA DI ERA GLOBALISASI Fati Aro Zega; Yonatan Alex Arifianto
Alucio Dei Vol 5 No 1 (2021): Alucio Dei Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1121.202 KB) | DOI: 10.55962/aluciodei.v5i1.24

Abstract

The church or Christians are a component of society that does not live separately from other groups. Moreover, in the current era of globalization, everyone must be able to live together with other groups and people, become members of a community, both in the local environment and in the wider environment. Through a qualitative descriptive method with a literature study approach, the researcher describes the purpose of this paper that life together in a society with various backgrounds and ideals requires a spirit of tolerance. First of all, explaining the meaning and limits of the meaning of tolerance, then finding out Christian tolerant attitudes, through learning from the biblical review of tolerance according to the Bible. So that it underlies believers to have the correct foundation of tolerance based on the Christian faith. Thus, this study seeks to actualize tolerance in the teachings of the Lord Jesus and the Letter of Paul. As an application for today's believers, understanding tolerance means being wise, open to differences and living based on love.