Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Intervensi Pemerintah Indonesia Melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 12/2019 Terhadap Kepuasan dan Loyalitas Konsumen: Studi Pada Perusahaan Jasa Transportasi Digital Grab Indonesia Erwin; Taufik Hidayat B. Tahawa; Suciati; Riady Ibnu Khaldun
JBMI (Jurnal Bisnis, Manajemen, dan Informatika) Vol. 18 No. 1 (2021): JBMI
Publisher : Department of Management FEB Unhas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26487/jbmi.v18i1.13575

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi dari Peraturan Menteri PM 12 2019 dan Promosi Penjualan terhadap Kepuasan serta Loyalitas Konsumen pada perusahaan jasa transportasi digital Grab Indonesia, penelitian ini menggunakan jumlah responden 112 konsumen. Instrumen penelitian ini telah melewati tahap uji Validitas dan Reabilitas. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, sedangkan analisis data menggunakan Stuctural Equation Modeling (SEM) dioperasikan menggunakan Analysis of Moment Structural (AMOS). Hasil penelitian pada taraf 5% menunjukkan bahwa peraturan menteri PM 12 2019 terhadap kepuasan konsumen sebesar -0,073 < 1,96 dan nilai P 0,941 > 0,05, ini berarti bahwa karakteristik Peraturan Menteri PM 12 2019 tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen, peraturan menteri PM 12 2019 terhadap loyalitas konsumen sebesar 3,272 > 1,96 dan nilai P 0,001 <¸0,05, ini berarti bahwa karakteristik peraturan menteri PM 12 2019 memiliki pengaruh yang signifikan terhadap loyalitas konsumen, promosi penjualan terhadap kepuasan konsumen sebesar 7,057 > 1,96 dan nilai P 0,001 < 0,05. Ini berarti bahwa karakteristik promosi penjualan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan konsumen, variabel promosi penjualan terhadap loyalitas konsumen sebesar -0,707 < 1,96 dan nilai P 0,48 > 0,05. Ini berarti bahwa karakteristik promosi penjualan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap loyalitas konsumen, variabel kepuasan konsumen terhadap loyalitas konsumen sebesar 3,427 > 1,96 dan nilai P 0,001 < 0,05. Ini berarti bahwa karakteristik kepuasan konsumen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap loyalitas konsumen.
PENINGKATAN KAPASITAS APARATUR DESA KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA DALAM PENGELOLAAN KEUANGAN DESA DAN SISTEM KEUANGAN DESA ifrani ifrani; Muhammad Ali Amrin; Nurmaya Safitri; Muhammad Yasir Said; Elzabella Jannah; Suciati
Jurnal Pengabdian Sumber Daya Manusia Vol. 1 No. 2 (2021): EDISI OKTOBER 2021
Publisher : Scholar Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.849 KB)

Abstract

Desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, memberikan angin segar untuk perkembangan Desa. Sejalan dengan itu, sebagai tindak lanjut pelaksanaan Program 1 Milyar untuk 1 Desa akan membawa Perubahan dalam Perkembangan Desa, namun angin segar ini memerlukan tenaga aparatur Desa yang Profesional. Kabupaten Hulu Sungai Utara merupakan salah satu dari kabupaten yang berada di Kalimantan Selatan. Jumlah desa yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah sebanyak 214 desa. Berdasarkan Peraturan Bupati Hulu Sungai Utara Nomor 1 Tahun 2016 tentang Tata Cara Pembagian, Penetapan, Penyaluran dan Penggunaan Dana Desa untuk setiap desa di Kabupaten Hulu Sungai Utara, pembagian Dana Desa yaitu sebesar 90% dibagi secara merata kepada seluruh desa dan 10% dibagi secara proporsional. Peningkatan besaran pendapatan desa yang merupakan implementasi dari UndangUndang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, salah satunya dalam pengelolaan Dana Desa, memberikan peranan besar kepada desa. Peran besar yang diterima oleh desa, tentunya disertai dengan tanggung jawab yang besar pula. Namun demikian, peran dan tanggung jawab yang diterima oleh desa belum diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang memadai baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Menggunakan metode pendekatan-pendekatan sosial yuridis (socio-legal) dan menggunakan pendekatan interdisipliner atau “hibrida” antara aspek penelitian normatif dengan pendekatan sosiologis dan menggunakan analisis kuantitatif, yakni dengan menganalisis suatu data secara mendalam dan holistik. Sehingga yang diharapkan dari kegiatan ini adalah pemahaman terkait pengelolaan keuangan desa bagi Aparatur Desa Kabupaten Hulu Sungai Utara.
PERANAN ASET KOMUNITAS DALAM PEMBERDAYAAN PEMUDA OLEH KOMUNITAS KAMPUNG MARKETER, KARANGMONCOL, PURBALINGGA suciati
INTELEKSIA - Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 3 No 1 (2021)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.065 KB) | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v3i1.137

Abstract

This study is grounded in an empowerment conducted by Kampung Marketer community to youth of Tamansari village, Karangmoncol, Purbalingga. Over 3 years, Kampung Marketer has solved 748 young people from urbanization due to the lack of jobs in their village. Kampung Marketer has changed those young people so that they have digital marketing skill, get highly earning work, and make village houses to be training centre and office. It cannot be separated from the support of community assets: the youth and other village people. Their roles are essential to understand because they become basic capital for empowering community. This study aims to explain roles of community assets in empowering the youth by Kampung Marketer. This qualitative research study uses videos of interviews as data taken from youtube.com and Kampung Marketer website. As a result, village young people, who previously had no skills and jobs, own digital marketing skill. Furthermore, they become agents developing Kampung Marketer’s empowerment. Physical assets, such as people’s houses, functions as places of empowerment. They accommodate many training and office activities. Social asset, such as a sense of communality, spreads the success of this empowerment to the society so that a lot of people want to join.