Fresti Yuliza
Program Studi Bina Wisata, Akademi Pariwisata Paramitha Bukittinggi

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

THE HYBRID PERSEMBAHAN DANCE: CROSS-CULTURAL COLLABORATION AND ART TOURISM IN PASA HARAU ART AND CULTURE FESTIVAL 2018 Fresti Yuliza; Visaka Saeui; Hasnah Sy; Dede Pramayoza
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 24, No 1 (2022): Edisi Januari-Juni 2022
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.281 KB) | DOI: 10.26887/ekspresi.v24i1.1576

Abstract

This paper discusses the process of creating a collaborative dance work entitled Cross-Cultural Offering Dance, which was created jointly by three choreographers of different cultural backgrounds in the 2018 Pasa Harau Art and Culture Festival. The three choreographers involved in the collaboration are Siska Aprisia (Minangkabau, Indonesia). ), Kiki Rahmatika Syaher (Lampung, Indonesia), and Visaka Saeui (Thailand). The three of them tried to create a dance offering by offering the idea of a dance with the same theme, namely a dance to welcome guests in their respective cultural backgrounds. Applying a qualitative approach with research methods centered on performance events, this paper is intended to describe the stages of the creation process, and the modes of collaboration agreed upon by the three choreographers. Primary data was collected through involved observation, namely by participating directly as a choreographer, dramaturg, and administrator of the intended collaborative dance performance process. Secondary data were collected from narrative interviews with the three choreographers and by observing the responses and reactions of the audience and dancers. The results showed that the creation of the Performance Dance by the three choreographers was a hybridization process that began with sharing views on the world of traditional dance in order to build a shared spectrum, followed by a process of division of parts in the plot, where the embodiment of the atmosphere from solemn to joyful became the common thread. The result of the collaboration is a dance number entitled Cross-Cultural Offering Dance, which not only meets the criteria as a presentation in a festival, but can also be a tourism art presentation.Keywords: Persembahan Dance; Hybrid; Cross-Cultural Collaboration; Tourism Arts; FestivalTARI PERSEMBAHAN HIBRIDA: KOLABORASI LINTAS-BUDAYA DAN SENI PARIWISATA DALAM PASA HARAU ART AND CULTURE FESTIVAL 2018AbstrakTulisan ini membahas tentang proses penciptaan sebuah karya tari kolaboratif bertajuk Tari Persembahan Lintas Budaya, yang diciptakan bersama oleh tiga koreografer berbeda latar belakang budaya dalam kegiatan Pasa Harau Art and Culture Festival 2018. Ketiga koreografer yang terlibat di dalam kolaborasi adalah Siska Aprisia (Minangkabau, Indonesia), Kiki Rahmatika Syaher (Lampung, Indonesia), dan Visaka Saeui (Thailand). Ketiganya mencoba menciptakan sebuah karya Tari Persembahan dengan menawarkan gagasan dari tari bertema sama, yakni tari penyambutan tamu di masing-masing latar budaya mereka. Menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian yang berpusat pada peristiwa pergelaran, tulisan ini dimaksudkan untuk menguraikan perihal tahapan-tahapan proses penciptaan, dan moda kolaborasi yang disepakati oleh ketiga koreografer. Data primer dikumpulkan melalui pengamatan terlibat, yakni dengan ikut serta secara langsung sebagai koreografer, dramaturg, dan administrator dari proses kolaborasi Tari Persembahan yang dimaksudkan. Data sekunder dikumpulkan dari wawancara naratif dengan ketiga koreografer serta dengan mengamati respons dan reaksi penonton dan penari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penciptaan Tari Persembahan oleh ketiga orang koreograger adalah suatu proses hibridisasi yang dimulai dengan sharing pandangan atas dunia tari tradisional guna membangun spektrum bersama, dilanjutkan dengan proses pembagian bagian dalam plot, di mana perwujudan suasana dari khidmat menuju riang gembira menjadi benang merahnya. Hasil dari kolaborasi adalah sebuah nomor tarian bertajuk Tari Persembahan Lintas Budaya, yang tidak saja memenuhi kriteria sebagai sajian dalam festival, namun juga dapat menjadi sajian seni pariwisata.Kata Kunci: Tari Persembahan; Hibrida; Kolaborasi Lintas-Budaya; Seni Pariwisata; Festival
Makna Tari Kontemporer Barangan Karya Otniel Tasman: Suatu Tinjauan Semiotika Tari Fresti Yuliza
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 5, No 2 (2022): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bcdk.v5i2.2485

Abstract

This article discusses a contemporary dance work entitled Barangan, which was composed by Otniel Tasman, an Indonesian contemporary dance choreographer from Banyumas based in Surakarta. The aim is to reveal the meaning of the Barangan choreography in relation to the Lengger, a traditional Bayumas dance. The research was conducted by applying qualitative research methods with descriptive analysis methods based on the theoretical framework of dance semiotics. Research shows that the contemporary Barangan dance is a metaphor that represents the wider panorama of Banyumas culture. Seen in this way, the lengger in the Barangan choreography is a kind of metonymy of the minor folk arts, which is always confronted with the arts of the city or the arts of the dignitaries and aristocrats. When it was adopted as a contemporary dance piece in Barangan, the Legger dance was transformed into a kind of symbol of resistance and struggle.Keyword: Contemporary Dance; Barangan; Othniel Tasman; Lengger; Dance SemioticAbstrakArtikel ini membahas tentang karya tari kontemporer berjudul Barangan, yang disusun oleh Otniel Tasman, salah seorang koreografer tari kontemporer Indonesia asal Banyumas yang berbasis di Surakarta. Tujuannya adalah untuk mengungkapkan makna dari karya koreografi Barangan tersebut dalam kaitannya dengan lengger, sebuah tari tradisional Bayumas. Penelitian dilakukan dengan menerapkan metode penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif yang berpijak pada kerangka teoretik semiotika tari. Penelitian menunjukkan bahwa tari kontemporer Barangan adalah metafora yang mewakili panorama kebudayaan Banyumas secara luas. Dilihat dengan cara ini, maka lengger dalam koreografi Barangan adalah semacam metonimi dari kesenian rakyat kecil, yang senantiasa berhadapan dengan kesenian kota atau kesenian para pembesar dan bangsawan. Ketika diangkat menjadi karya seni kontemporer Barangan, tari lengger bertransformasi menjadi semacam simbolisasi perlawanan dan perjuangan.Kata kunci: Tari Kontemporer; Barangan; Otniel Tasman; Lengger; Semiotika Tari  
DARI TARI GALOMBANG KE TARI PASAMBAHAN: PERUBAHAN TARI MINANGKABAU DALAM PERKEMBANGAN BUDAYA POPULER DAN INDUSTRI PARIWISATA FRESTI YULIZA
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 6, No 1 (2020): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v6i1.1016

Abstract

Tulisan ini membahas tentang perubahan dari Tari Galombangke Tari Pasambahan dalam khasanah seni tari tradisional dalam masyarakat Minangkabau. Menggunakan perspektif budaya populer, tulisan ini bermaksud menelusuri riwayat ringkas perubahan tersebut dan maknanya dalam kehidupan di masa kini. Pengamata menunjukkan bahwa perubahan nama dan fungsi tersebut tidak terlepaskan dari riwayat penciptaan tari yang lazim dinamakan sebagai ‘tari kreasi’ di Sumatera Barat, yang pada dasarnya adalah bagian dari semangat tumbuhnya tari modern. Adapun perubahan tersebut, selain menunjukkan kecenderungan budaya populer yang cenderung relatif, pragmatis dan hibrid, juga merupakan bagian dari semangat budaya kontemporer, yang mengedepankan sifat kesementaraan, tidak satabilan, dan perubahan yang terus-menerus
PEWARISAN TARI RAWAS DALAM MASYARAKAT SUKU SERAWAI DI KAWASAN MANNA, KABUPATEN BENGKULU SELATAN Fresti Yuliza
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 2 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i2.1334

Abstract

This paper discusses the rawas dance, which is the name of a dance that lives and develops in the Serawai ethnic community in Manna, South Bengkulu Regency. Applying a qualitative research approach with descriptive analysis methods, a review of the rawas dance is conducted to see: (2) the structure of the dance; (2) the rituals that follow; and (3) the creation myth behind it. Research shows that the rawas dance is sacred by the Manna community, because it is believed to be a dance created by a mystical force. The connection with this mystical power creates a myth about the creation of the rawas dance, which describes the process of creating this dance. The inheritance of the rawas dance then goes along with the inheritance of the myths about its creation. A form of inheritance, traditionally running from one generation to the next through a unique way of learning.Keywords: Rawas dance; Serawai myth; Menjambar ritual; dance inheritanceAbstrakTulisan ini membahas tentang tari rawas, yang merupakan nama salah satu tarian yang hidup dan berkembang dalam masyarakat suku Serawai di Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan. Menerapkan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif, tinjauan terhadap tari rawas dilakukan untuk melihat: (2)struktur tarinya; (2) ritual yang mengikutinya; serta (3) mitos penciptaan yang melatar belakanginya. Penelitian menunjukkan bahwa tari rawas disakralkan oleh masyarakat Manna, karena diyakini merupakan sebuah tarian yang diciptakan oleh suatu kekuatan mistis. Kaitan dengan kekuatan mistis ini menciptakan suatu mitos tentang penciptaan tari rawas, yang menggambarkan proses penciptaan tari ini. Pewarisan tari rawas kemudian berjalan bersama dengan pewarisan akan mitos tentang penciptaannya itu. Suatu bentuk pewarisan, berjalan secara tradisional dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui satu cara pembelajaran yang khas.Kata Kunci: Tari Rawas; ritual; mitos Serawai; ritual Menjambar; Pewarisan Tari
TEATER BONEKA WAYANG SAYUR: PEMANFAATAN SAYURAN SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER DAN LITERASI KESEHATAN Saaduddin Saaduddin; Sherli Novalinda; Fresti Yuliza; Dede Pramayoza
Batoboh: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 4, No 2 (2019): BATOBOH : JURNAL PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bt.v4i2.2500

Abstract

Pada tahun 2018 Kota Padang Panjang menggelar Festival Mendongeng 24jam untuk menyemarakkan “Hari Mendongeng Sedunia.” Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Padang Panjang bersama dengan Forum Penggiat Literasi (FPL) dan Kampung Literasi Gang Aster itu dilakukan dalam rangka menggalakkan gerakan literasi di Kota Padang Panjang sebagai bagian dari cita-cita menjadi kota literasi Indonesia dan selanjutnya kota literasi dunia. Salah satu permasalahan yang harus diatasi adalah menciptakan tontonan dan hiburan bagi para peserta yang tersebar di berbagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di kota Padangpanjang agar mereka tertarik menerima literasi melalui media-media yang kreatif, unik dan inovatif. Mencoba menyikapi hal tersebut Pelaksana Abdimas menciptakan satu bentuk pertunjukan baru bernama Wayang Sayur. Wayang Sayuradalah jenis Teater boneka baru yang memanfaatkan sayuran sebagai medium dalam menyampaikan literasi kepada para penonton. Hasil eksperimentasi kemudian didemonstrasikan secara langsung dihadapan para penonton yakni para peserta kegiatan.Demonstasi pembuatan bonek sayuran kemudian dilanjutkan dengan pelatihan singkat kepada para peserta untuk dapat mendorong mereka menciptakan sendiri karakter-karakter Wayang Sayurmereka, sebagai bentuk literasi seni pertunjukan, yakni pengembangan teater boneka baru di Kota Padang Panjang
KONSEP GARAPAN ANDUNG HU: SEBUAH TAFSIR MUSIKAL ATAS RATAPAN KEMATIAN MASYARAKAT BATAK TOBA Della Rosa Panggabean; Fresti Yuliza; Sherli Novalinda; Hafif HR
Melayu Arts and Performance Journal Vol 5, No 1 (2022): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v5i1.2501

Abstract

This article discusses the musical concept of an orchestral piece entitled Andung Hu, which in Batak language means my lament. Andung Hu’s work departs from the reinterpretation of the Andung tradition, a lamentation of sorrow in the context of the death committed by the Toba Batak people. Applying the method of transformation, with the concept of transit and transition, this paper is intended as a form of elaboration of the concept of Andung Hu’s work. The data collected from the work process by Della Rosa Pangabean, which was analyzed critically-reflectively, by viewing the work process as a form of artistic research. The results of the analysis show that the transformation process from the Andung tradition in the Toba Batak society to the Andung Hu Orchestra takes three key stages, namely: interpretation; orchestration; and improvisation. The materials and tools used in the stages of the creation process are: scales; atonal technique; motive; development techniques; and taganing motifs. The result of the work is a composition in the form of a program music entitled Andung Hu.Keywords: lamentation; Toba Batak; musical concept; Andung Hu; orchestraAbstrakTulisan ini membicarakan tentang konsep musikal dari sebuah karya orkestra berjudul Andung Hu, yang dalam Bahasa Batak berarti ratapanku. Karya Andung Hu berangkat dari reinterpretasi atas tradisi Andung, sebuah ratapan kesedihan dalam konteks kematian yang dilakukan oleh masyarakat Batak Toba. Menerapkan metode transformasi atau alih wahana, dengan konsep transit dan transisi, tulisan ini dimaksudkan sebagai bentuk penjabaran konsep garapan dari karya Andung Hu. Data-data dihimpun dari proses berkarya oleh Della Rosa Pangabean, yang dianalisis secara kritis-reflektif, dengan memandang proses berkarya tersebut sebagai suatu bentuk penelitian artitik. Hasil analisis menunjukkan bahwa proses transformasi dari tradisi Andung dalam masyarakat Batak Toba menjadi karya Orkestra Andung Hu, menempuh tiga tahapan kunci, yakni: interpretasi; orkestrasi; dan improvisasi. Adapun bahan dan alat yang digunakan dalam tahapan proses penciptaan itu adalah: tangga nada; teknik atonal; motif; teknik pengembangan; dan motif taganing. Adapun hasil karya adalah sebuah komposisi dengan bentuk musik programa yang diberi judul Andung Hu.Kata Kunci: ratapan kematian; Batak Toba; konsep musikal; Andung Hu; orkestrasi
CREATIVITY OF ART IN SENDRATARI RAMAYANA AS AN EXAMPLE OF TRANSFORMATION PROCESS FRESTI YULIZA
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 22, No 2 (2020): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.082 KB) | DOI: 10.26887/ekspresi.v22i2.1013

Abstract

Artikel ini membahas perihal kreatifitas dalam proses pemindahan bentuk dari relief di kompleks candi Prambanan di Jawa Tengah ke dalam bentuk sendratari masa kini berjudul Sendratari Ramayana. Proses yang belakangan banyak disebut sebagai ‘alih wahana’ tersebut, dibahas dengan terlebih dahulu menguraikan perihal hal-hal yang menjadi konsep dari ‘alih wahana,’ yang dilanjutkan dengan melihat perbandingan antara Sendratari Ramayana dengan relief di Candi Prambanan. Berdasarkan perbandingan tersebut, ditemukan ciri-ciri dari adanya kreatifitas, yang dalam hal ini dihubungkan dengan adanya usaha menyusun tanda-tanda dalam pementasan, yang selanjutnya dibaca dengan semiotika tari.