Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Moderasi Islam dalam Syariah Huzaemah Tahido Yanggo
Jurnal Al-Mizan Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33511/almizan.v2n2.91-112

Abstract

Syariat Islam ditetapkan untuk memberi kemudahan kepada pemeluknya tidak mempersulit dalam pelaksanaanya, selama tidak mendatangkan mudarat dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Syariah terbagi kepada dua macam, yaitu syariah dalam makna yang luas dan syariah dalam makna yang sempit. Syariah dalam makna yang luas, mencakup aspek akidah, akhlak dan amaliah, yaitu mencakup keseluruhan norma agama Islam, yang meliputi seluruh aspek doktrinal dan aspek praktis. Adapun syariah dalam makna yang sempit merujuk kepada aspek praktis (amaliah) dari ajaran Islam, yang terdiri dari norma-norma yang mengatur tingkah laku konkrit manusia seperti ibadah, nikah, jual beli, berperkara di pengadilan, menyelenggarakan negara dan lain-lain. Salah satu moderasi Islam adalah dalam pembinaan hukum Islam tidak menyulitkan (عدم الحرج), menyedikitkan/mengurangi beban (تقليل التكاليف) dan berangsur-angsur dalam membina hukum Islam (التدرج في التشريع).
Generasi Muda dan Kehancuran Bangsa Huzaemah Tahido Yanggo
Jurnal Al-Mizan Vol 2 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33511/almizan.v2n1.1-30

Abstract

Generasi muda dipandang sebagai penerus bangsa yang sangat potensial untuk merealisasikan cita-cita bangsa. Namun belakangan ini generasi muda bangsa ini mulai rusak akibat munculnya virus hedonisme, free sex, pergaulan bebas, pola hidup konsumtif, hura-hura, tawuran dan sebagainya. Jika ujung tombak bangsa ini sudah dirusak dan dilemahkan, maka kehancuran tidak akan terelakkan lagi. Tulisan ini mencoba untuk melihat proses kehancuran suatu bangsa yang diakibatkan oleh tingkah laku generasinya dari perspektif Al-Qur’an.
HUKUM MELINDUNGI KETURUNAN DAN KEHORMATAN MENURUT ISLAM Huzaemah Tahido Yanggo
Jurnal Al-Mizan Vol 3 No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33511/almizan.v3n1.1-20

Abstract

Agama Islam mensyariatkan perkawinan dengan tujuan untuk menyalurkan naluri seksual secara halal dan sah. Dengannya dapat melindungi keturunan dan kehormatan. Melindungi keturunan adalah melestarikannya dan memelihara nasab agar jelas. Begitu pula halnya melindungi kehormatan, dianjurkan mencari pasangan dalam batas-batas yang telah ditetapkan oleh syariat. Pergaulan bebas antara muda-mudi, seringkali membawa kepada hal-hal yang tidak dikehendaki yakni terjadinya kehamilan diluar nikah, yang secara sosiologis, menimbulkan aib bagi diri pelakunya dan keluarga. Untuk menghindari masalah-masalah tersebut, Islam telah menetapkan cara untuk melindungi keturunan dan kehormatan yang akan diuraikan dalam tulisan ini
MAKANAN DAN MINUMAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Huzaemah Tahido Yanggo
TAHKIM Vol 9, No 2 (2013)
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/thk.v9i2.72

Abstract

Humans have several primary needs. One of the primary needs of human is food and beverages. In Islamic teaching, food and beverages consumed by humans, especially Muslims should be selective, that is permitted (halal) according to instructions of Allah in the Qur'an and explanation the Prophet of Muhammad in the hadith, as well as thayyiban in quality, ie. the foods useful to the body, not damage, not disgusting, awful, is not expired and not contrary to Allah instruction, because it is not forbidden. The Islamic law through al-Quran and Hadith has established some kind of food and beverages which prohibited to consume by Muslims, among others, carrion, blood, pork, animals slaughtered in the name of other than Allah, as well as the wine and all kinds of intoxicants beverages.The food and drinks are forbidden because threatens the human life, contrary to the maintenance of life (hifz al-nafs), maintenance of intellect (hifz al-'aql) and maintenance of property (hifz al-mal) in maqasid al-Shari'ah. Keywords: food, beverages, Islamic law
Penyimpangan Seksual (LGBT) Dalam Pandangan Hukum Islam Huzaemah Tahido Yanggo
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 3, No 2 (2018): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.908 KB) | DOI: 10.33511/misykat.v3n2.1-28

Abstract

Masalah penyimpangan seksual (lesbian, gay, biseksual dan transgender) sedang dalam perdebatan yang hangat dibicarakan dalam masyarakat, mulai dari media cetak dan elektronik, ada dari kalangan tokoh Islam sendiri yang membolehkan homo dan lesbi, dengan dasar bahwa tidak ada perbedaan antara homo dan bukan homo dan tidak ada perbedaan antara lesbi dan bukan lesbi. Menurut mereka bahwa manusia cuma bisa berlomba berbuat amal kebajikan sesuai perintah Tuhan. Islam mengajarkan bahwa seorang homo atau lesbi sebagaimana manusia lainnya, sangat berpotensi menjadi orang yang saleh atau takwa selama dia menjunjung tinggi nilai-nilai agama, yaitu tidak menduakan Tuhan (syirik), meyakini kerasulan Muhammad Saw serta menjalankan ibadah yang diperintahkan. Dia tidak menyakiti pasangannya dan berbuat baik kepada sesama manusia, kepada sesama makhluk dan peduli kepada lingkungannya. Bahkan menurutnya, menarik sekali membaca ayat-ayat Al-Qur‟an soal hidup berpasangan (Q.S. al-Rum : 21, Q.S al-Dzariyat : 49 dan Q.S Yasin : 36) di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal gender. Artinya, berpasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan bisa homo, dan bisa lesbi. Sekarang ini Indonesia semakin liberal. Orang-orang homo dan lesbi semakin giat mengekspos perbuatannya secara terbuka, bahkan berusaha mencari legitimasi dalil dari A1-Qur‟an, memelintir maknanya dengan tidak melihat kepada ayat-ayat yang lain yang berkenaan dengan masalah yang ada. Pada hal ayat-ayat Al-Qur‟an saling menafsirkan antara satu ayat dengan ayat lainnya. Hal ini disebabkan karena mereka hanya memiliki sedikit ilmu pengetahuan agama, belum banyak membaca tafsir dan Hadis, tidak mengetahui ushul fiqh dan sarana-sarana ijtihad yang lainnya, sehingga menurut mereka tidak ada larangan dari Al-Qur‟an dan Hadis untuk melakukan homoseksual dan lesbian sehingga menurut mereka, bahwa pelarangan terhadap LBGT adalah pelarangan terhadap HAM. Berkenaan dengan masalah ini, maka dalam artikel ini akan dibahas bagaimana pandangan hukum Islam terhadap penyimpangan seksual (LGBT). Adapun pembahasan berkisar pada pengertian homoseksual, lesbian dan hukumnya menurut pandangan Islam dan sanksi atas pelakunya dampak negatif yang ditimbulkannya dan upaya penanggulangannya.
تطبيق الشريعة الإسلامية في إندونيسيا Huzaemah Tahido Yanggo
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 2, No 1 (2017): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.399 KB) | DOI: 10.33511/misykat.v2n1.1

Abstract

Terbitnya Perppu No. 2 tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat menimbulkan polemik hebat di seluruh pelosok tanah air. Ada yang mendukung namun tak sedikit juga yang menentang. Kelompok pendukung beranggapan bahwa Perppu ini sebagai respon yang tepat dari pemerintah atas maraknya berbagai serangan terorisme di Indonesia. Sementara bagi kelompok penentang, perppu ini merupakan bukti bahwa rezim sekarang sedang membangun system diktator. Selain itu mereka juga menuding bahwa ormas Islam yang akan banyak menjadi korban penerapan perppu tersebut, khususnya ormas Islam yang dikenal memperjuangkan formalisasi penerapan syariah Islam (tathbiq syari’ah) di Indonesia.Artikel ini tidak hendak memperpanjang daftar polemik Perppu tersebut, tetapi akan mencoba menjelaskan sejarah perjalanan penerapan hukum Islam di Indonesia. Tulisan ini hendak membuktikan bahwa hukum Islam sudah berjalan dan menyatu dengan tradisi dan budaya bangsa Indonesia. Dengan bukti sejarah bahwa ketika nusantara berada dalam tekanan penjajahan, hukum Islam masih bisa berlaku secara baik, bahkan diakui dalam sistem perundang-undangan Belanda dan Jepang. Maka artikel ini menegaskan secara ilmiah, dengan menganalisis data sejarah perkembangan hukum Islam di Indonesia bahwa adanya atau tidak adanya Perppu bahkan apapun bentuk kebijakan pemerintah yang dianggap menghalangi penerapan hukum Islam, tidak akan berpengaruh terhadap eksistensi hukum Islam di Indonesia.Kata Kunci : Sejarah, Hukum Islam Indonesia dan Perundangan  
KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Huzaemah Tahido Yanggo
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 1, No 1 (2016): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.439 KB) | DOI: 10.33511/misykat.v1n1.1

Abstract

Di dalam Islam ada beberapa isu yang sering diangkat ke permukaan terutama yang berkaitan dengan isu relasi jender. Isu tersebut, antara lain konsep kepemimpinan perempuan, aurat, busana muslimah, persaksian, poligami, hak-hak reproduksi perempuan, peran publik perempuan, dan konsep superioritas laki-laki dan sebagainya. Dalam artikel ini menyuguhkan salah satunya yakni kepemimpinan perempuan dalam perspektif hukum Islam. Jika membaca sepintas beberapa ayat dan hadis tentang hal tersebut, terkesan ada kecenderungan seolah Islam memojokkan perempuan dan mengistimewakan laki-laki. Akan tetapi, jika menyimak secara mendalam dengan menggunakan metode semantik, semiotika dan hermeneutik secara kritis, maka justru sebaliknya, Islamlah yang pertama kali menggagas konsep keadilan jender dalam sejarah, sepanjang kehidupan umat manusia. Melalui artikel ini, akan menjelaskan bagaimana nashnash yang telah diteliti tentang perempuan dan juga dapat meluruskan penafsiran klasik yang terbukti tidak objektif, karena ternyata terkontaminasi oleh kondisi sosial budaya yang didominasi oleh peran laki-laki, terutama sekali terkait dalam konteks kepemimpinan perempuan.Kata Kunci : Kepemimpinan, Perempuan dan Hukum Islam