Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan Produksi IFN- dan IL-4 dengan Pengobatan Strategi DOTS fase intensif pada Penderita Tuberkulosis Paru Sri Andarini Indreswari; Suharyo Hadisaputro; Marsetyawan HNE Soesatyo; Yudhy Dharmawan
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2008: CONTINUING MEDICAL AND HEALTH EDUCATION (CMHE) | Peran Biomolekuler dalam Penegakan Diagnosis
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.051 KB)

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis paru masih menjadi masalah utama di seluruh dunia, terutama di Negara sedang berkembang. Di Indonesia hasil pengobatan dan konversi belum optimal. Banyak penyebab kekurang berhasilan pengobatan ini belum diketahui, khususnya yang berkaitan dengan faktor imunologi. Penelitian ini bertujuan menjelaskan hubungan produksi IFN- dan IL-4 dengan kesembuhan klinis, dalam hal ini terjadinya konversi BTA pasca 2 bulan pengobatan dengan strategi DOTS.Metoda: Rancangan penelitian adalah nested case control, pada penderita baru tuberkulosis paru dengan pemeriksaan sputum BTA positip yang mendapat pengobatan strategi DOTS selama 2 bulan. Kasus adalah penderita yang tidak mengalami konversi pasca 2 bulan pengobatan (BTA tetap positip), sedangkan kontrol adalah penderita yang mengalami konversi pasca 2 bulan pengobatan (BTA menjadi negatip). BTA sebagai hasil pemeriksaan Ziehl Neelsen yang diteruskan dengan tes Niasin. Produksi IFN-dan IL-4 di dalam serum diperiksa dengan metode ELISA. Untuk uji beda rata-rata produksi sitokin antara kasus dan kontrol dilakukan analisis dengan T- test.Hasil: Jumlah sampel 73, diperoleh dari 158 penderita baru berobat jalan yang diikuti selama 2 bulan, terdiri dari 34 kasus (14 diperiksa sitokin) dan 39 kontrol (21 diperiksa sitokin). Penelitian dilakukan di BP4, 12 Puskesmas dan RSUD Kota Semarang. Produksi rata-rata IFN- di dalam serum pasca 2 bulan pengobatan berbeda secara signifikan antara kasus dan kontrol dengan stimulasi PPD 0,5 ug/mL dan PPD 5 ug/mL. Tidak terdapat perbedaan antara kasus dan kontrol pada produksi rata-rata IL-4 dengan semua stimulasi dan tanpa stimulasi.Simpulan: Perbedaan secara signifikan antara kasus dan kontrol pasca 2 bulan pengobatan dalam produksi sitokin (IFN-) bersifat spesifik (hanya dengan stimulasi antigen). Produksi IL-4 tidak terdeteksi kecuali dengan stimulasi PHA, tidak terdapat perbedaan secara signifikan antara kasus dan kontrol.Kata kunci: Tuberkulosis, Interferon-, Interleukin-4, DOTS
EFEKTIVITAS FOOT HAND MASSAGE TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT : STUDI DI RUANG ICCU RSUD.DR. ISKAK TULUNGAGUNG Awan Hariyanto; Suharyo Hadisaputro; Supriyadi -
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 2, No 3 (2015): Desember 2015
Publisher : Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.448 KB)

Abstract

Latar Belakang : Infark miokard akut (IMA) terjadi kerusakan jaringan jantung akibat kekurangan suplai oksigen menimbulkan nyeri dada, nyeri ini dapat menyebabkan frustasi dan penurunan kualitas hidup. Berbagai intervensi dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri dada baik dengan farmakologis dan non farmakologis, salah satu intervensi nonfarmakologis adalah foot hand massage. Metode : Desain penelitian ini menggunakan  Randomized Pretest-Postest Control Group Design. Pengambilan sampel dengan simple random sampling besar sampel  36 responden terdiri 18 kelompok perlakuan dan 18 kelompok kontrol. Analisis data secara univariat dengan table distribusi frekuensi dan analisis bivariat dengan paired t-test, wilcoxon untuk kelompok berpasangan, untuk kelompok tidak berpasangan menggunakan independen t-test, mann-whitney dengan taraf signifikansi ≤ 0,05 Hasil: Foot hand massage berpengaruh terhadap respon fisiologis nyeri ( kelompok berpasangan ) p-value: tekanan darah systole  0,001 diastole 0,004, nadi 0,004, respirasi 0,001, suhu 0,059, lekosit 0,001, intensitas nyeri 0,001. Kelompok tidak berpasangan sesudah perlakuan p-value : tekanan darah sistole 0,034, diastole 0,010 nadi 0,001, respirasi 0,024, suhu 0,557, lekosit 0,019, intensitas nyeri 0,001. Simpulan: Pasien infark miokard akut yang diberikan foot hand massage selama 4 kali 20 menit dalam 2 hari bersama dengan pengobatan standart dapat memberikan respon fisiologis nyeri pada tekanan darah sistole, diastole, nadi , respirasi, lekosit darah dan pada kelompok perlakuan 94% intensitas nyeri menurun skala ringan, tapi tidak berespon terhadap suhu. Saran: Foot hand massage sangat efektif dan dapat digunakan sebagai salah satu intervensi keperawatan non farmakologi untuk mengatasi nyeri infark miokard akut Kata Kunci : Foot Hand Massage, Nyeri, Infark Miokard Akut
POLISI LALU LINTAS DI KOTA SEMARANG BERISIKO OBESITAS Emy Herliani; Muhammad Saleh; Sakundarno Adi; Anies Anies; Bagoes Widjanarko; Suharyo Hadisaputro; Sumy Hastry Purwanti
Pena Medika Jurnal Kesehatan Vol 5, No 1 (2015): PENA MEDIKA JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pmjk.v5i1.350

Abstract

Obesity is a condition due to the imbalance of calories in the body. Obesity which appears in adolescence tend to continue into adulthood, and until the elder years. The purpose of this study is to determine the influence of obesity risk factors in traffic police.Methods : The design used case-control. The number of respondents were 90,  which  consist  of  45  cases  and  45 controls, which were selected using simple random sampling. Bivariate data analysis used chi-square and multivariate used logistic regression.Results : Two variables that were significantly associated are excessive calorie intake rate (OR = 10.95 and 95% CI = 3.22 to 37.16) and lack of physical activity (OR = 3.78 and 95% CI = 1.04 to 13 ,66). If respondents possess both of the factors, chances for obesity will equal to ( 88 % ).Conclusion : Risk factors are excessive calorie intake rate and lack of physical activity. It is expected to increase the role of leaders and institutions involved in the promotion of healthy living and obesity prevention through socialization. Keywords : Obesity, risk factors, excessive calorie intake rate, lack of physical activity
EFFECTIVENESS OF PRENATAL YOGA ON PREGNANCY ANXIETY AND DEPRESSION: A SYSTEMATIC REVIEW Ismi Puji Astuti; Suharyo Hadisaputro
Proceedings of the International Conference on Applied Science and Health No. 4 (2019)
Publisher : Yayasan Aliansi Cendekiawan Indonesia Thailand (Indonesian Scholars' Alliance)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Physiological and psychological changes during pregnancy process can cause discomfort to pregnant women. During pregnancy, pregnant women from developed and developing countries tend to have an increase in anxiety and symptoms of depression. If not properly managed, those situations can adversely affect maternal and infant health. This systematic review is to explore the effectiveness of yoga in order to reduce anxiety and depression in pregnant women. Methods: This systematic review was based on Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis Protocols (PRISMA Protocol). Publication screening was carried out by filtering the 2009-2019 English and Indonesian articles from electronic data sources, namely PubMed, PsycINFO, Google Scholar and Science Direct. The keywords used in the literature searching were ‘anxiety’, ‘depression in pregnancy’, ‘prenatal yoga’, ‘yoga in pregnancy’, ‘pregnancy’, and ‘complementary and alternative medicine in pregnancy’. Results: The search identified 368 record, of which 8 articles were included in this study. Studies regarding to the effect of yoga in pregnant women has been shown to reduce anxiety scores, pregnancy depression, anger, sleep disorders, lower maternal cortisol hormones, improve maternal immunity and neonatal outcomes. Conclusion: Yoga could be applied as a complementary therapy that was easy, low cost, and useful for reducing anxiety and depression in pregnant women.
HUBUNGAN FREKUENSI PENYELAMAN, LAMA MENYELAM, PILEK, DAN MEROKOK, TERHADAP KEJADIAN BAROTRAUMA TELINGA TENGAH PENYELAM TRADISIONAL Ishak Martinus; Suharyo Hadisaputro; Munasik Munasik
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.354 KB) | DOI: 10.33366/jc.v8i1.1175

Abstract

Inability to equate middle ear space pressure with the surrounding environment can cause tissue damage or barotrauma. Factors influencing the incidence of middle ear barotrauma in traditional divers are colds, smoking, frequency of diving and length of diving. The purpose of explaining the factors related to the occurrence of barotrauma in the middle ear of traditional breath-resistant divers. The analytic observational research design with cross sectional approach is supported by in-depth interviews, by conducting interviews using questionnaires and otoscopy examinations of respondents to determine the events of middle ear barotrauma. The study population was traditional divers, totaling 78 respondents. The dependent variable is the occurrence of barotrauma in the middle ear of traditional divers, the independent variable with colds, smoking habits, frequency of diving and length of diving, data analysis using bivariate and multivariate. Results as many as 32 people (41.0%) of 78 respondents experienced middle ear barotrauma. Bivariate analysis showed a correlation between the frequency of diving with the events of the middle ear barotrauama p = 0.012. Logistic regression test showed the significance value of the frequency of diving ≥ 4 days / week (p = 0.0106; PR = 5.310; 95% CI = 1.619-17.413). Conclusion of factors related to the incidence of middle ear barotrauma in traditional divers is the frequency of diving hari 4 days / week, with a probability of 38.13%.
PENGARUH KEDALAMAN MENYELAM, LAMA MENYELAM, ANEMIA TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT DEKOMPRESI PADA PENYELAM TRADISIONAL Halena Isrumanti Duke; Sri Rahayu Widyastuti; Suharyo Hadisaputro; Shofa Chasani
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 12. No. 2. Tahun 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.847 KB)

Abstract

Latar Belakang:Penyakit dekompresi adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pelepasan dan pengembangan gelembung-gelembung gas dari fase larut dalam darah atau jaringan akibat penurunan tekanan dengan cepat di sekitarnya. Faktor-faktor yang diduga meningkatkan dekompresi adalah kedalaman menyelam, lama menyelam, dan anemia.Tujuan :Untuk menjelaskan besarnya pengaruh kedalaman menyelam, lama menyelam, anemia terhadap kejadian penyakit dekompresi pada penyelam tradisional. Metode :Penelitian mix methode desain studi kasus kontrol yang diperkuat dengan  indepth interview ini dilakukan terhadap 46 responden, meliputi 23 kasus (penyelam tradisional penderita penyakit dekompresi) dan 23 kontrol (penyelam tradisional bukan penderita penyakit dekompresi) yang diambil secara purposive sampling. Instrument penelitian adalah  kuesioner wawancara. Analisis data secara univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat (logistic regression).Hasil :Kedalaman  menyelam  ≥ 30 meter (OR = 6,62; 95% CI = 1,059 – 41,390, p<0.043), lama menyelam ≥ 2 jam (OR = 61,680; 95% CI = 3,687 – 1031,93, p<0.004) dan anemia (OR = 14,453, 95% CI = 2,146-97,346, p<0.006) berpengaruh terhadap kejadian penyakit dekompresi.Kesimpulan :Kedalaman  menyelam ≥ 30 meter, lama menyelam  ≥ 2 jam, dan anemia berpengaruh terhadap kejadian penyakit dekompresi dengan probabilitas 94,45%.
PARASIT Plasmodium sp PADA TERNAK KAMBING ETAWA DI DAERAH ENDEMIK MALARIA KABUPATEN PURWOREJO Didik Sumanto; Suharyo Hadisaputro; Mateus Sakundarno Adi; Siti Susanti; Sayono Sayono
JURNAL EKOLOGI KESEHATAN Vol 20 No 1 (2021): JURNAL EKOLOGI KESEHATAN VOLUME 20 NOMOR 1 TAHUN 2021
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jek.v20i1.4092

Abstract

ABSTRACT Kaligesing Subdistrict, Purworejo Regency, is a malaria endemic area in Central Java Province, with an Annual Parasite Incidence (API) of 0,32‰ in 2017 with the confirmed vector being An. aconites and An. maculatus. Anopheles zoophagic nature and existence of livestock around the residence has an important role as a barrier to the transmission of malaria. One type of livestock that is widely cultivated by the community is the type of “Etawa” goat. This study aims to determine the type of Plasmodium found in livestock. This is a descriptive study with cross-sectional design and 97 samples were taken by purposive sampling. The variables analyzed were the distance between the cage and the place of residence, the presence of parasites in the blood of cattle and mosquitoes eviction attempts by the community. Examination conducted by microscopic blood clots with Giemsa staining. The results of the examination, found 4 slides (4,12%) positive for Plasmodium sp in goat blood with the cage located less than 10 meters from the residence. Parasites of Plasmodium vivax (75%) and Plasmodium falciparum (25%) trophozoites were detected in 4 goats (4,1%). A total of 75,3% of community activities burn straw around the animal enclosures, in an effort to repel mosquitoes. Etawa goats as a potential barrier in the village Jatirejo District of Kaligesing, found with P. vivax and P. falciparum. Further research is needed using molecular methods to strengthen the findings. Keywords: Malariae, Plasmodium sp, etawa goats ABSTRAK Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo, merupakan wilayah endemik malaria di Provinsi Jawa Tengah, dengan Annual Parasite Incidence (API) 0,32‰ tahun 2017 dan vektor terkonfirmasi adalah An. aconitus dan An. maculatus. Sifat zoofagik Anopheles dan keberadaan ternak di sekitar tempat tinggal mempunyai peran penting sebagai barrier dalam penularan malaria. Salah satu jenis ternak yang banyak dibudidayakan masyarakat adalah jenis kambing etawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis Plasmodium yang terdapat pada ternak tersebut. Penelitian bersifat deskriptif dengan disain cross-sectional dan sebanyak 97 sampel diambil secara purposive sampling. Variabel yang di analisa adalah jarak kandang dengan tempat tinggal, keberadaan parasit dalam darah ternak dan kegiatan upaya pengusiran nyamuk oleh masyarakat. Pemeriksaan sediaan darah dilakukan secara mikroskopis dengan pewarnaan giemsa. Hasil pemeriksaan, ditemukan 4 slide (4,12%) positif Plasmodium sp pada darah kambing dengan letak kandang berjarak kurang dari 10 meter dari rumah tinggal. Terdeteksi adanya parasit tropozoit Plasmodium vivax (75%) dan tropozoit Plasmodium falciparum (25%) yang ditemukan pada 4 ekor kambing (4,1%). Sebanyak 75,3% kegiatan masyarakat membakar jerami di sekitar kandang ternak, sebagai upaya mengusir nyamuk. Ternak kambing Etawa berpotensi sebagai barrier di Desa Jatirejo Kecamatan Kaligesing, dengan ditemukan parasit P. vivax dan P. falciparum. Diperlukan penelitian lebih lanjut menggunakan metode molekuler untuk memperkuat hasil temuan. Kata kunci: Malaria, Plasmodium sp, kambing etawa
PROBABILITAS PERILAKU SEDENTARI TERHADAP HIPERTENSI PADA PEGAWAI DAERAH PERIMETER PELABUHAN Eka Oktaviarini; Suharyo Hadisaputro; Shofa Chasani
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 9 No 1 (2019): Januari
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.641 KB) | DOI: 10.32583/pskm.9.1.2019.12-21

Abstract

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistol ≥140 mmHg atau diastol ≥90 mmHg. Hipertensi sering disebut the silent killer karena tidak menimbulkan gejala sehingga pengobatannya seringkali terlambat. Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan. Pegawai menghabiskan waktu kurang lebih delapan jam sehingga tidak memiliki kebiasaan olahraga secara teratur. Perilaku sedentari merupakan perilaku yang berisiko terhadap salah satu penyakit pembuluh darah. Proporsi hipertensi berdasarkan survei deteksi dini penyakit tidak menular pada pegawai kantor di daerah perimeter adalah 33,68%. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan desain case control dengan jumlah 76 sampel terdiri dari 38 kasus dan 38 kontrol yang diambil secara consecutive sampling pada populasi pegawai perimeter pelabuhan yang tercatat dalam survei deteksi dini tahun 2017. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil statistik yang diperoleh adalah jenis kelamin (p=0,010; OR adjusted 6,179; 95%CI 1,553-24,587) dan perilaku sedentari (p=0,034; OR adjusted 0,338; 95%CI 0,124-0,921). Umur, riwayat keluarga, kebiasaan olahraga, riwayat stres kerja dan jadwal kerja tidak terbukti sebagai faktor risiko hipertensi. Hormon merupakan salah satu penyebab hipertensi pada laki-laki cenderung lebih tinggi. Otot seseorang yang kurang melakukan aktivitas fisik cenderung akan mengendor sehingga peredaran darah akan terhambat dan kerja jantung akan lebih berat. Kata kunci : Hipertensi, pegawai, pelabuhan, sedentari SELF-CONCEPT OF PATIENTS WITH CHRONIC RENAL FAILURE WHO UNDERWENT HEMODIALYSIS ABSTRACT Hypertension is an increase in systolic blood pressure ≥140 mmHg or diastolic ≥90 mmHg. Hypertension is often called the silent killer because it does not cause symptoms so the treatment is often late. Hypertension is a work-related disease. Officers spend approximately eight hours so they do not have regular exercise habits. Sedentary is a risky behavior for one of the vascular diseases. The proportion of hypertension based on early detection of non-communicable diseases in the perimeter area is 33,68%. This research is an analytic observational study using a case control design with 76 samples consisting of 38 cases and 38 controls taken by consecutive sampling in the population of port perimeter officers recorded in the early detection survey in 2017. Data were analyzed by univariate, bivariate and multivariate. Results obtained were gender (p=0,010; adjusted OR 6,179; 95%CI 1,553-24,587) and sedentary behavior (p=0,034; adjusted OR 0,338; 95%CI 0,124-0,921). Age, family history, exercise habits, history of work stress and work schedules are not proven to be risk factors of hypertension. Hormone is one of the causes of hypertension in men tend to be higher. The muscle of someone who is less physically active tends to relax so that blood circulation will be hampered and the heart will work harder. Keywords: Hypertension, officers, port, sedentary.
FAKTOR LINGKUNGAN DAN PERILAKU YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN FILARIASIS Yusuf Lensa Hamdan; Suharyo Hadisaputro; Ari Suwondo; Muchlis AU Sofro; Sakundarno Adi
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 9 No 1 (2019): Januari
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.358 KB) | DOI: 10.32583/pskm.9.1.2019.21-26

Abstract

Filariasis merupakan suatu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Kecamatan Pekalongan Selatan merupakan salah satu daerah endemis filariasis. Pada tahun 2014 - 2016 didapat 71 kasus filariasis yang mungkinkan oleh berbagai faktor lingkungan yang banyak terdapat rawa dan kolam dan digenangi air serta ditumbuhi oleh tanaman air. Faktor lain selain dari faktor lingkungan adalah faktor sosial, ekonomi dan perilaku masyarakat. Tujuan penelitian ini mengetahui faktor-faktor risiko lingkungan fisik (genangan air), lingkungan biologi (tanaman air, ikan predator), Lingkungan sosial ekonomi (pekerjaan, pendidikan dan penghasilan) dan faktor perilaku (kebiasasaan keluar malam hari, kebiasaan menggunakan obat anti nyamuk dan kebiasaan menggunakan baju pelindung diri dari gigitan nyamuk) yang berpengaruh terhadap kejadian filariasis. Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan studi kasus kontrol. Kasus adalah penduduk yang menderita filariasis dan kontrol adalah penduduk yang tidak menderita filariasis. Jumlah kasus dan kontrol adalah 80. Pengambilan data dilakukan melalui observasi dan wawancara. Analisis dilakukan secara bivariat dan multivariat dengan menggunakan regresi logistik. Analisis Multivariat menunjukkan bahwa dari 11 (sebelas) variabel yang dianalisis terdapat 1 variabel yang terbukti berpengaruh terhadap kejadian filariasis di Kecamatan Pekalongan Selatan, yaitu : Pemakaian Obat Anti Nyamuk (OR = 35,286, CI 95% = 7,390 – 168,476). Penggunaan obat anti nyamuk merupakan faktor risiko yang paling dominan untuk terjadinya penularan filariasis. Masyarakat disarankan menggunakan kelambu atau anti nyamuk sewaktu tidur, memakai pelindung diri (baju dan celana panjang) waktu keluar rumah pada malam hari. Perlu adanya tindakan penyuluhan dan penyebarluasan informasi tentang filariasis dalam rangka meningkatkan pengetahuan masyarakat. Kata kunci: filariasis, lingkungan, perilaku. VARIOUS ENVIRONMENTAL AND BEHAVIOR FACTORS THAT INFLUENCE THE FILARIASIS EVENT ABSTRACT Filariasis is a disease that is still a health problem in Indonesia. South Pekalongan District is one of the endemic areas of filariasis. By the year 2014 - 2016, it was found about 71 cases of filariasis. This is caused by many factors in the environment, such as swamp and pool that was flooded with water with many water plants. Other factor, that caused by are sosio economic and community behavior. The objective of this study was to determine physical factors (swamp / pool), Biological (water plants, fish / animal predators) of the environment. Socio ecomic factor (education, job and income), behaviour factor the habitat of (going outside at night, habit of using mosquito repellent and wearing clothes to protect from mosquitoes bite) that may give influence the filariasis cases in South Pekalongan District. This research was an observasional research with a case-control approach. Case in this study was filariasis cases and for control was people suffer from filariasis. Total sampler were 80 sample. Data was taken by observation and interview. Data collected was analyzed by using logistics regression. Multivariate analysis showed that from 11 variables, there are 1 variable were proved to be the risk factor of filariasis at South Pekalongan District, which are : respondent, habit of using mosquito repellent (OR = 35,286, CI 95% = 7,390 – 168,476). The use of mosquito repellent is the most dominant risk factor for filariasis transmission. It is suggested that people sould use mosquito net or repellent when bed time, self protection dress when they go out at night. It is necessary to perform health promotion and extend the information related to filariasis in order to improve people knowledge . Keyword : Filariasis, Environmental, Behavioral.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETIDAKPATUHAN MINUM OBAT SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN FILARIASIS DI KOTA PEKALONGAN Harfaina Harfaina; Suharyo Hadisaputro; Djoko Trihadi Lukmono; Mateus Sakundarno
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 9 No 1 (2019): Januari
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.571 KB) | DOI: 10.32583/pskm.9.1.2019.1-6

Abstract

Filariasis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, dan Brugia Timori yang menyebabkan cairan limfe tidak dapat tersalurkan dengan baik sehingga menyebabkan pembengkakan pada tungkai dan lengan. Meskipun tidak ada penyebab kematian tetapi menyebabakan cacat permanen dan stigma sosial. Eliminasi Filariasis dilakukan dengan Program Pengobatan Massal ke seluruh penduduk di daerah endemis setahun sekali selama 5 tahun. Keberhasilan program ini memerlukan kepatuhan minum obat pencegahan filariasis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan minum obat sebagai upaya pencegahan filariasis. Penelitian ini Populasi dalam penelitian ini adalah penduduk berusia 15-65 tahun di dua kelurahan endemis yaitu kelurahan kuripan kertoharjo dan kelurahan jenggot selama mei-juli 2018. Sampel dalam penelitian ini 80 kasus dan 80 kontrol dengan teknik cluster random sampling. Variabel yang terbukti berpengaruh yaitu persepsi kerentanan negatif (OR=4,093) 95%CI=1,356-12,350 dan self efficacy negatif (OR=30,298) 95%CI=8,986-102,156. Persepsi kerentanan negatif dan self efficacy negatif merupakan faktor perilaku yang mempengaruhi ketidakpatuhan minum obat pencegahan filariasis. Diharapkan ada penelitian lanjutan tentang ketidakpatuhan minum obat pencegahan filariasis bukan berwujud persepsi tetapi dengan pengukuran faktor lingkungan sosial secara objektif dengan melakukan intervensi berupa perubahan perilaku. Kata kunci : Filariasis, Ketidakpatuhan, Minum Obat, Mix Method FACTORS THAT INFLUENCE DRINKING DRUG PREVENTION NON COMPLIANCE OF FILARIASIS IN PEKALONGAN CITY ABSTRACT Filariasis is an infectious disease caused by worms Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, and Brugia Timori, adult worm lives and damage reulting in blockage of lymph channels, causing swelling of the legs and arms. Although no cause of death but causes permanent disability and social stigma. Filariasis elimination done with the Mass Treatment Program to the entire population in endemic areas a year for 5 year. Succesfully this program required a medication adherence. The purpose of this study was to determine the factors that influence drug disobedience as an effort to prevent filariasis. This study uses a mix method. The population in this study were residents aged 15-65 years in two endemic villages, namely kuripan kertoharjo and jenggot villages during May-July 2018. Samples in this study were 80 cases and 80 controls with cluster random sampling technique. Variables that proved influential were perceptions of negative vulnerability (OR = 4,093) 95% CI = 1,356-12,350 and negative self efficacy (OR = 30,298) 95% CI = 8,986-102,156. Negative vulnerability perceptions and negative self efficacy are behavioral factors that influence non-compliance with filariasis prevention drugs. It is expected that further research on non-compliance with taking drugs to prevent filariasis is not a form of perception but objective measurement of social environmental factors by intervening in the form of behavior change. Keywords: Filariasis, Noncompliance, Medication, Mix Method