Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

EFFECTS OF DIETARY PROBIOTIC Bacillus NP5 ON THE GROWTH PERFORMANCES OF CATFISH (Clarias sp.) Achmad Noerkhaerin Putra; Mustahal Mustahal; Mas Bayu Syamsunarno
BIOTROPIA - The Southeast Asian Journal of Tropical Biology Vol. 27 No. 1 (2020)
Publisher : SEAMEO BIOTROP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (964.405 KB) | DOI: 10.11598/btb.2020.27.1.1102

Abstract

Probiotic have long been applied to aquaculture and produce positive effects on fish and shrimp. This research aimed to evaluate the effect of probiotic Bacillus NP5 to promote the growth of catfish (Clarias sp.). Five doses Bacillus NP5 with 3 replicates, namely 0% probiotic (control), 0.5 % probiotic, 1% probiotic, 1.5% probiotic and 2% probiotic (g/100 g feed) were used. The result showed that application of probiotic in catfish feed can promote better growth performance compared to control. Total digestibility and protease enzyme activites were significantly highest in 1% probiotic. The value of specific growth rate showed in 1% probiotic (2.67±0.18% day-1), followed by 2% probiotic (2.63±0.02% day-1), 1.5% probiotic (2.42±0.07% day-1), 0.5% probiotic (2.29±0.14% day-1) and control (1.60±0.01% day-1). The addition of 1% Bacillus NP5 as probiotic in catfish feed showed the best result on protease enzyme activities, protein digestibility, total digestibility, final weight, specific growth rate, weight gain, feed efficiency and, the protein efficiency ratio than other probiotic doses.
Live Feed Combination for knife fish -Chitala lopis) Mas Tri Djoko Sunarno; Mas Bayu Syamsunarno
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 5, No 2 (2015)
Publisher : JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jpk.v5i2.1062

Abstract

This study in aiming to evaluate response of knife fish to various life fish species as a diet sources in controllable tank. After adapting to experimental condition, 36 tested fish collected from nature of 326.6 ± 184.1 g in individual weight were randomly stocked in 7 fiber tanks at a rate of 4-5 fish per tank and fed on life fishes in fingerling size at different combinations (common carp, tilapia, shrimp, carp+tilipia, tilapia+shrimp, carp+tilapia+shrimp) every 6 hours for 5 days of culture period. The result showed than knife fish prefer combination life food of common carp and tilapia, and then followed by common carp, tilapia and shrimp. Night was feeding time for knife fish.
Pemanfaatan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) sebagai Pakan Ikan Nila: Efek terhadap Pertumbuhan dan Kecernaan Pakan Achmad Noerkhaerin Putra; Santi Ristiani; Musfiroh Musfiroh; Mas Bayu Syamsunarno
Leuit (Journal of Local Food Security) Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Pusat Unggulan Iptek Ketahanan Pangan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37818/leuit.v1i2.10016

Abstract

Water hyacinth is one of the alternative raw materials in aquatic feed. High crude fiber content can be reduce by hydrolysis of sheep rumen liquor. The purpose of this research was to investigate the effect of water hyacinth meal hydrolyzed with sheep rumen liquor on growth and feed digestibility of tilapia. This study used tilapia with an initial weight of 3.88±0.01 g and 30 days of culture with frequency of feeding namely at 08.00, 12.00, and 16.00 WIB. This research consists of 3 treatments and 3 replications, namely A (feed of reference), B (Water hyacinth feed without hydrolysis), C (Water hyacinth feed with hydrolysis) The result showed that the lowest of crude fiber in the dose of 250 m/kg and 24 hours incubation. There are no significantly between hydrolysis treatment and without treatment on protein digestibility, lipid digestibility, feed intake, feed efficiency, growth, and survival rate. Water hyacinth could not increase growth and feed digestibility of tilapia.
STUDI PEDAHULUAN RESPONS ADAPTASI PASCAPENGANGKUTAN Esomus metallicus (AHL 1923), SPESIES IKAN ASING DI INDONESIA DAN DISKUSI AWAL POTENSI PEMANFAATANNYA Edo Ahmad Solahuddin; Tia Noer Fadillah; Dinda Trie Suci; Nabila Putri; Fanny Yulianti Fatimah; Exel Muhamad Rizki; Muh. Herjayanto; Mas Bayu Syamsunarno; Ginanjar Pratama; Fathimah Zahro; Intan Nurani Drana Wasistha; Bhatara Ayi Meata; Afifah Nurazizatul Hasanah; Lukman Anugrah Agung; Kiki Roidelindho; Aris Munandar
Jurnal Media Akuakultur Indonesia Vol 1 No 2 (2021): Jurnal Media Akuakultur Indonesia
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (978.771 KB) | DOI: 10.29303/mediaakuakultur.v1i2.357

Abstract

Esomus metallicus merupakan spesies ikan yang secara alami tidak tersebar di Indonesia (non-native). Pada beberapa kasus, jenis ikan non-native telah mengancam ekosistem alami di perairan umum. Melalui ekspedisi ilmiah, dilakukan pengamatan yang bertujuan untuk mengkaji respons awal adaptasi pascapengangkutan, yaitu sintasan dan tingkah laku ikan E. metallicus liar di dalam wadah terkontrol. Selain itu, juga dilakukan analisis terhadap potensi pemanfaatan untuk bidang akuakultur, pengolahan hasil perikanan, dan strategi edukasi kepada masyarakat tentang ikan E. metallicus. Ekspedisi dilakukan selama dua hari di bagian barat Pulau Jawa. Ikan diangkut menggunakan sistem tertutup selama 6 jam. Pemeliharaan ikan pascapengangkutan dilakukan selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan sintasan ikan E. metalicus selama pengangkutan yaitu 96,72%. Ikan E. metalicus dapat beradaptasi dengan baik di dalam wadah pemeliharaan terkontrol yang terlihat dari sintasan akhir pengamatan 90,96%, tingkah laku berenang yang aktif secara berkelompok dan telah memakan pakan buatan. Potensi sebagai ikan hias dapat dilihat pada warna sisik metalik, ukuran tubuh yang kecil, dan tingkah laku berenang berkelompok dapat menjadi ikan untuk akuaskap. Selain itu, potensi pemanfaatan ikan ini yaitu sebagai pakan hidup untuk ikan predator, tepung ikan, ikan uji di laboratorium, dan bahan makanan. Kajian lebih lanjut hal tersebut sebagai solusi pengendalian ikan non-native perlu dilakukan. Analisis risiko menunjukkan bahwa E. metallicus termasuk ke dalam spesies risiko sedang. Strategi edukasi terhadap masyarakat perlu dilakukan karena masyarakat menganggap ikan E. metallicus adalah “benteur” atau “paray”, yang merupakan nama lokal untuk ikan dari genus Rasbora asli Indonesia karena kemiripan morfologi.
Performa pertumbuhan post-larva ikan jelawat (Leptobarbus hoevenii) pada berbagai kombinasi pakan alami dan buatan Mas T. D. Sunarno; Mas Bayu Syamsunarno
Depik Vol 6, No 3 (2017): December 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.895 KB) | DOI: 10.13170/depik.6.3.8731

Abstract

The study proposed to evaluate growth performance of post-larvae of jelawat (Leptobarbus hoevenii) fed on varius combination of natural food and artificial feed. Completely randomized design was assigned in this study. The treatments were various combinations of life feed of Moina sp. and artificial diet at a respective rates of 100:0%, 75:25%, 50:50%, 25:75% and 0:100%. The larvae of 20 days in age and 0.0287±0.0012 g  in weight was randomly stocked in 15 buckets at a stocking rate of five larvae per liter or 50 larvae  per bucket and fed on test diet at a feeding rate of 5% per body weight per day, divided in feeding frequency of five times for 45 days of rearing period. The results indicated that 20 days old of larvae jelawat fed on combinations of Moina sp. and artificial diet at 50:50 performed higher survival as well as growth.Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi performa pertumbuhan post larvae jelawat (Leptobarbus hoevenii) pada berbagai kombinasi pakan alami dan pakan buatan. Rancangan Acak Lengkap digunakan dalam penelitian ini. Perlakuannya adalah berbagai kombinasi pakan alami Moina sp. dan pakan buatan, masing-masing yaitu 100:0%, 75:25%, 50:50%, 25:75% and 0:100%. Larva ikan jelawat umur 20 hari dengan bobot rata-rata 0,0287±0,0012 g ditebar secara acak ke dalam 15 buah ember dengan kepadatan 5 ekor per liter atau 50 ekor per wadah dan diberi pakan uji sebanyak 5% dari bobot tubuh per hari yang dibagi dalam lima kali pemberian selama 45 hari masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva ikan jelawat umur 20 hari mempunyai kelangsungan hidup dan pertumbuhan lebih baik dengan pemberian kombinasi pakan alami Moina sp.. dan pakan buatan sebesar 50% : 50%.
Effectivitas infusum daun durian Durio zibethinus sebagai anestesi alami ikan bawal air tawar Colossoma macropomum Aris Munandar; Ginanjar Trisno Habibi; Sakinah Haryati; Mas Bayu Syamsunarno
Depik Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.237 KB) | DOI: 10.13170/depik.6.1.5296

Abstract

The use of chemicals as an anesthetic can leave residues in the body of the fish and gave the negative impact to the human who consumed this fish. Therefore, the exploration of natural anesthesia as an alternative is crucial. One of the natural products that can be used is the leaves of durian. The purpose of this study was to determine the best concentration of the durian infuse for tambaqui anesthesia and the optimum time of transportation. This research was conducted in several two stages; extraction leaves durian and simulation of transport fish with a dry system using respective concentration of durian infuse. The tested concentrations of durian infuse were; 0 ppm, 1000 ppm, 2500 ppm, 5000 ppm, 7500 ppm, and 10000 ppm The study showed that the best concentration of durian leaf extract infused amounted to 5900 ppm. These concentrations resulted in fainting fastest time for 100 minutes, and the time conscious of 1 minute 30 seconds. Dry transport time that produces the best survival rate was approximately 2 hours with the survival rate of 83.3%. Penggunaan bahan kimia sebagai anestesi dapat meninggalkan residu dalam tubuh ikan dan berdampak negative pada manusia yang mengkonsumsi. Oleh karena itu, penggunaan bahan anestasi alami dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengatasinya. Salah satu bahan alami yang dapat digunakan adalah daun durian. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi dan waktu transportasi terbaik dari infusum daun durian sebagai bahan anestesi. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu pembuatan infusum daun durian dan simulasi transportasi ikan dengan sistem kering. Konsentrasi infusum yang diuji adalah 0 ppm, 1000 ppm, 2500 ppm, 5000 ppm, 7500 ppm and 10000 ppm Konsentrasi terbaik infusum daun durian adalah sebesar 5900 ppm. Konsentrasi tersebut dapat menghasilkan waktu pingsan tercepat selama 100 menit, dan waktu sadar 1 menit 30 detik. Waktu transportasi kering yang menghasilkan survival rate terbaik terdapat pada jam ke 2 yaitu sebesar 83,3%.
Performa pertumbuhan post-larva ikan jelawat (Leptobarbus hoevenii) pada berbagai kombinasi pakan alami dan buatan Mas T. D. Sunarno; Mas Bayu Syamsunarno
Depik Vol 6, No 3 (2017): December 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.6.3.8731

Abstract

The study proposed to evaluate growth performance of post-larvae of jelawat (Leptobarbus hoevenii) fed on varius combination of natural food and artificial feed. Completely randomized design was assigned in this study. The treatments were various combinations of life feed of Moina sp. and artificial diet at a respective rates of 100:0%, 75:25%, 50:50%, 25:75% and 0:100%. The larvae of 20 days in age and 0.0287±0.0012 g  in weight was randomly stocked in 15 buckets at a stocking rate of five larvae per liter or 50 larvae  per bucket and fed on test diet at a feeding rate of 5% per body weight per day, divided in feeding frequency of five times for 45 days of rearing period. The results indicated that 20 days old of larvae jelawat fed on combinations of Moina sp. and artificial diet at 50:50 performed higher survival as well as growth.Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi performa pertumbuhan post larvae jelawat (Leptobarbus hoevenii) pada berbagai kombinasi pakan alami dan pakan buatan. Rancangan Acak Lengkap digunakan dalam penelitian ini. Perlakuannya adalah berbagai kombinasi pakan alami Moina sp. dan pakan buatan, masing-masing yaitu 100:0%, 75:25%, 50:50%, 25:75% and 0:100%. Larva ikan jelawat umur 20 hari dengan bobot rata-rata 0,0287±0,0012 g ditebar secara acak ke dalam 15 buah ember dengan kepadatan 5 ekor per liter atau 50 ekor per wadah dan diberi pakan uji sebanyak 5% dari bobot tubuh per hari yang dibagi dalam lima kali pemberian selama 45 hari masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva ikan jelawat umur 20 hari mempunyai kelangsungan hidup dan pertumbuhan lebih baik dengan pemberian kombinasi pakan alami Moina sp.. dan pakan buatan sebesar 50% : 50%.
Effectivitas infusum daun durian Durio zibethinus sebagai anestesi alami ikan bawal air tawar Colossoma macropomum Aris Munandar; Ginanjar Trisno Habibi; Sakinah Haryati; Mas Bayu Syamsunarno
Depik Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.6.1.5296

Abstract

The use of chemicals as an anesthetic can leave residues in the body of the fish and gave the negative impact to the human who consumed this fish. Therefore, the exploration of natural anesthesia as an alternative is crucial. One of the natural products that can be used is the leaves of durian. The purpose of this study was to determine the best concentration of the durian infuse for tambaqui anesthesia and the optimum time of transportation. This research was conducted in several two stages; extraction leaves durian and simulation of transport fish with a dry system using respective concentration of durian infuse. The tested concentrations of durian infuse were; 0 ppm, 1000 ppm, 2500 ppm, 5000 ppm, 7500 ppm, and 10000 ppm The study showed that the best concentration of durian leaf extract infused amounted to 5900 ppm. These concentrations resulted in fainting fastest time for 100 minutes, and the time conscious of 1 minute 30 seconds. Dry transport time that produces the best survival rate was approximately 2 hours with the survival rate of 83.3%. Penggunaan bahan kimia sebagai anestesi dapat meninggalkan residu dalam tubuh ikan dan berdampak negative pada manusia yang mengkonsumsi. Oleh karena itu, penggunaan bahan anestasi alami dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengatasinya. Salah satu bahan alami yang dapat digunakan adalah daun durian. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi dan waktu transportasi terbaik dari infusum daun durian sebagai bahan anestesi. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu pembuatan infusum daun durian dan simulasi transportasi ikan dengan sistem kering. Konsentrasi infusum yang diuji adalah 0 ppm, 1000 ppm, 2500 ppm, 5000 ppm, 7500 ppm and 10000 ppm Konsentrasi terbaik infusum daun durian adalah sebesar 5900 ppm. Konsentrasi tersebut dapat menghasilkan waktu pingsan tercepat selama 100 menit, dan waktu sadar 1 menit 30 detik. Waktu transportasi kering yang menghasilkan survival rate terbaik terdapat pada jam ke 2 yaitu sebesar 83,3%.
Effectivitas infusum daun durian Durio zibethinus sebagai anestesi alami ikan bawal air tawar Colossoma macropomum Aris Munandar; Ginanjar Trisno Habibi; Sakinah Haryati; Mas Bayu Syamsunarno
Depik Vol 6, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.6.1.5296

Abstract

The use of chemicals as an anesthetic can leave residues in the body of the fish and gave the negative impact to the human who consumed this fish. Therefore, the exploration of natural anesthesia as an alternative is crucial. One of the natural products that can be used is the leaves of durian. The purpose of this study was to determine the best concentration of the durian infuse for tambaqui anesthesia and the optimum time of transportation. This research was conducted in several two stages; extraction leaves durian and simulation of transport fish with a dry system using respective concentration of durian infuse. The tested concentrations of durian infuse were; 0 ppm, 1000 ppm, 2500 ppm, 5000 ppm, 7500 ppm, and 10000 ppm The study showed that the best concentration of durian leaf extract infused amounted to 5900 ppm. These concentrations resulted in fainting fastest time for 100 minutes, and the time conscious of 1 minute 30 seconds. Dry transport time that produces the best survival rate was approximately 2 hours with the survival rate of 83.3%. Penggunaan bahan kimia sebagai anestesi dapat meninggalkan residu dalam tubuh ikan dan berdampak negative pada manusia yang mengkonsumsi. Oleh karena itu, penggunaan bahan anestasi alami dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengatasinya. Salah satu bahan alami yang dapat digunakan adalah daun durian. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi dan waktu transportasi terbaik dari infusum daun durian sebagai bahan anestesi. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu pembuatan infusum daun durian dan simulasi transportasi ikan dengan sistem kering. Konsentrasi infusum yang diuji adalah 0 ppm, 1000 ppm, 2500 ppm, 5000 ppm, 7500 ppm and 10000 ppm Konsentrasi terbaik infusum daun durian adalah sebesar 5900 ppm. Konsentrasi tersebut dapat menghasilkan waktu pingsan tercepat selama 100 menit, dan waktu sadar 1 menit 30 detik. Waktu transportasi kering yang menghasilkan survival rate terbaik terdapat pada jam ke 2 yaitu sebesar 83,3%.
Performa pertumbuhan post-larva ikan jelawat (Leptobarbus hoevenii) pada berbagai kombinasi pakan alami dan buatan Mas T. D. Sunarno; Mas Bayu Syamsunarno
Depik Vol 6, No 3 (2017): December 2017
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.6.3.8731

Abstract

The study proposed to evaluate growth performance of post-larvae of jelawat (Leptobarbus hoevenii) fed on varius combination of natural food and artificial feed. Completely randomized design was assigned in this study. The treatments were various combinations of life feed of Moina sp. and artificial diet at a respective rates of 100:0%, 75:25%, 50:50%, 25:75% and 0:100%. The larvae of 20 days in age and 0.0287±0.0012 g  in weight was randomly stocked in 15 buckets at a stocking rate of five larvae per liter or 50 larvae  per bucket and fed on test diet at a feeding rate of 5% per body weight per day, divided in feeding frequency of five times for 45 days of rearing period. The results indicated that 20 days old of larvae jelawat fed on combinations of Moina sp. and artificial diet at 50:50 performed higher survival as well as growth.Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi performa pertumbuhan post larvae jelawat (Leptobarbus hoevenii) pada berbagai kombinasi pakan alami dan pakan buatan. Rancangan Acak Lengkap digunakan dalam penelitian ini. Perlakuannya adalah berbagai kombinasi pakan alami Moina sp. dan pakan buatan, masing-masing yaitu 100:0%, 75:25%, 50:50%, 25:75% and 0:100%. Larva ikan jelawat umur 20 hari dengan bobot rata-rata 0,0287±0,0012 g ditebar secara acak ke dalam 15 buah ember dengan kepadatan 5 ekor per liter atau 50 ekor per wadah dan diberi pakan uji sebanyak 5% dari bobot tubuh per hari yang dibagi dalam lima kali pemberian selama 45 hari masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva ikan jelawat umur 20 hari mempunyai kelangsungan hidup dan pertumbuhan lebih baik dengan pemberian kombinasi pakan alami Moina sp.. dan pakan buatan sebesar 50% : 50%.