p-Index From 2017 - 2022
1.556
P-Index
This Author published in this journals
All Journal JURNAL PENDIDIKAN IPS
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Implementasi Kurikulum 2013 pada Mata Pelajaran IPS di Sekolah SD Inpres Mallengkeri 2 Makassar A. Gafar Hidayat
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol 7 No 2 (2017): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu; (1) Mendeskripsikan Implementtasi Kurikulum 2013 pada mata pelajaran IPS dikelas 1 dan 4 SD Inpres Mallengkeri 2 Makassar; (2) Mengidentifikasi dan menarasikan kendala pelaksanaan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran IPS kelas 1 dan 4 SD Inpres Mallengkeri 2 Makassar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, sumber data terdiri dari sumber data sekunder dan sumber data primer. Dan teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, juga dokumentasi. Uraian yang tercantum di dalamnya berdasarkan fenomena rill di lapangan yang ditemui oleh peneliti. Berdasar hasil penelitian yang dilakukan yaitu; (1) SD Inpres Mallengkeri 2 merupakan sekolah yang dipilih untuk uji coba pelaksanaan kurikulum 2013 pada tahun ajaran baru 2017/2018;(2) meskipun masih pada tahap uji coba, tetap akan diadakan evaluasi dengan baik, agar dapat dijadikan rujukan untuk menerapakan kurikulum 2013 pada kelas lainnya dan dilaksanakan secara utuh dan menyeluruh;(3) Perlunya adaptasi antara guru dan siswa dalam penerapan pendekatan saintifik dalam setiap pembelajaran; (4) Tidak semua materi dapat dibelajarkan dengan pendekatan saintifik dalam setiap pembelajaran (mengamati, menanya, mencoba, menalar, mencipta, dan mengkomunikasikan); (5) perlunya penambahan pelatihan yang lebih mendalam terkait teknis pelaksanannya; (6) proses penilaian yang terlalu rinci sehingga memerlukan waktu yang lebih dalam memberi nilai kepada siswa, dan belum tersedianya buku pegangan guru dan siswa; (7) Sarana dan prasarana yang kurang memadai seperti penggunaan sound dan LCD disekolahan kami hanya memiliki 2 LCD karena dalam pembelajaran pada kurikulum 2013 banyak menggunakan media-media.
Tradisi Nika Leka Pasa Masyarakat Kurang Mampu Di Desa Tangga Kecamatan Monta Kabupaten Bima Tati Haryati; A. Gafar Hidayat
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol 8 No 1 (2018): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v8i1.117

Abstract

Penelitian ini betujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi nika leka di Desa Tangga Kecamatan Monta Kabupaten Bima. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan sosial budaya, pendekatan ini digunakan untuk mengungkapkan fenomena yang berkaitan dengan tradisi Nikah Leka sebagai salah satu tradisi kultural dalam adat perkawinan masyarakat Bima. Teknik pengumpulan data meliputi: wawancara, studi kepustakaan dan observasi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi nika leka adalah tradisi pernikahan yang dilaksanakan oleh masyarakat yang tidak memiliki kesanggupan untuk membiayai upacara perkawinan yang mewah dikarenakan alasan ekonomi. Proses pelaksanaanya antara lain: a) Pada proses lamaran nika leka, dilkasanakan hanya oleh kalangan keluarga dekat yang terdiri dari kedua orang tua dengan disaksikan oleh ketua RT dilingkungan tempat tinggal mereka; b) jumlah mahar diserahkan sepenuhnya kepada pihak keluarga calon mempelai laki, jadi pihak mempelai perempuan tidak memaksakan mahar yang tinggi pada keluarga laki-laki; c) Mbolo Weki, adalah salah satu acara yang tidak boleh dilewatkan begitu saja oleh keluarga pasangan nika leka. Acara ini merupakan acara pemberian sumbangan oleh keluarga dan warga masyarakat setempat untuk telesenggaranya sebuah acara pernikahan. Jumlah dana mbolo weki yang terkumpul biasanya tidak terlalu banyak, dana tersebut dipergunakan untuk menambah biaya pernikahan;d) Ritual pernikahan ini di awali dengan acara dende, acara dende ini dilakukan di malam hari yaitu dimana pengantin laki-laki di arak menuju rumah mempelai wanita dengan berjalan kaki diringi dengan musik rebana dan juga zikir. Pengantin laki-laki mengenakan baju adat Bima demikian pula pengantin wanitanya. Acara nika leka dilakukan setelah pelaksanaan sholat Isya dan waktu berakhirnya acara tersebut tidak ditentukan kapan berakhirnya. Karena lama atau sebentarnya acara tersebut itu tergantung sungguh pada tamu yang datang memberikan ucapan selamat. Apabila tamunya sudah tidak ada maka acara nika lekapun berakhir dengan sendirinya.
Peran Guru Profesional dalam Membina Karakter Religius Peserta Didik Berbasis Nilai Kearifan Lokal (Maja Labo Dahu) Sekolah Dasar Negeri Sila Di Kecamatan Bolo Kabupaten Bima A. Gafar Hidayat; Tati Haryati
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol 9 No 1 (2019): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v9i1.169

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu; 1) Mendeskripsikan peran guru profesional dalam pembelajaran; 2) Menguraikan upaya guru profesional di lingkungan sekolah; 3) Mengkaji faktor pendukung dan penghambat bagi guru profesional membina karakter religius peserta didik berbasis nilai kearifan lokal maja labo dahu di SDN Sila. Jenis penelitian ini kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan tahapan Reduksi Data, Penyajian Data dan Simpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Peran guru profesional dalam pembelajaran yaitu; (a) Guru mengintegrasikan pembelajaran nilai spiritual, sosial, jujur, disiplin dan tanggung jawab yang terkandung dalam maja labo dahu; (b) menyampaiakan nilai maja labo dahu, dengan cara percakapan, bercerita, perumpamaan, pembiasaan dan keteladanan: 2) Upaya guru profesional di lingkungan sekolah, yaitu; (a) guru mengarahkan, mengawasi, membina karakter peserta didik dengan nilai spiritual, sosial, jujur, disiplin dan tanggung jawab untuk kepribadian; (b) Membudayakan 3S (senyum, salam, sapa), yasinan bersama setiap hari jum’at, sholat dzuhur secara berjamah, dan kegiatan pesantren kilat, dan lain-lain,: 3) Faktor pendukung dan penghambat, yaitu; (a) Faktor Pendukung; Kurikulum 2013 mendukung pembentukan karakter. Melaui program-program intra dan ekstra; (b) Faktor Penghambat; Kurangnya persamaan persepsi dan komitmen guru. Kurangnya dukungan dari orang tua dan Lingkungan pergaulan
Konsep Wisata dari Perspektif Ekonomi Masyarakat Tati Haryati; A. Gafar Hidayat
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol 9 No 2 (2019): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v9i2.170

Abstract

Tujuan penulisan ini, yaitu untuk mendeskripsikan dan mengkaji konsep wisata dari sudut pandang ekonomi kemasyarakatan yang berkontribusi pada perkembangan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. pariwisata merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh individu atau kelompok masyarakat untuk mendatangai tempat tertentu dalam jangka waktu yang terbatas, dengan harapan tempat yang dikunjungi dapat memberikan ketenagan jiwa, untuk merefresing pikiran dan tenaga melalui wahana permainan atau pesonana pemandangan yang memberikan hiburan dan tontonan menarik. Alam juga dapat dijadikan tempat tujuan berwisata, yang menyediakan destinasi natural dan bukan dari buatan tangan manusia. Konsep wisata dari sudut pandang ekonomi kemasyarakatan, yaitu; (1) Pertumbuhan ekonomi melaju dengan cepat; Dengan adayanya kativitas wisata dapat merangsang pertumbuhan ekonomi dengan cepat, hal itu dapat dirasakan dengan banyaknya tercipta peluang usaha dan kesempatan kerja; (2) Tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat; Kesejahteraan masyarakat menjadi meningkat akibat adanya aktivitas wisata yaitu karna adanya peredaran uang yang cukup besar di tempat wisata sehingga banyaknya tercipta peluang dan kesempatan; (3) Kesenjangan antara pengusaha kecil dan pengusaha besar; Kesenjangan yang terjadi pada masyarakat setempat apabila permintaan wisata meningkat derastis, sehingga menarik minat pihak suwasta maupun asing untuk melakukan infestasi dan penanaman modal; (4) Kecilnya peluang dan kesempatan bagi masyarakat setempat; Hal ini terjadi apabila pihak suasta telah mendominasi, kawasan wisata tersebut, karena perusahan besar selalu memperkerjakan orang-orang yang profesiaonal yang didatangankan dari luar daerah maupun luar negeri untuk meningkatkan efektivitas pendapatan dan nilai jual; (5) Dampak langsung bagi lingkungan dan ekosistem; Penebangan hutan untuk pembukaan lahan pembangunan infrasrukrur atau fasilitas penunjang pariwisata. Kemudian limbah yang dihasilkan dari aktifitas wisata alam apabila tidak dikelola dengan baik, maka lingkungan mudah tercemar dan keseimbangan ekosistem bisa terancam.
Strategi Pengembangan IPS Melalui Konsep Waktu, Perubahan Dan Kebudayaan sebagai Transmisi Kewarganegaraan Dalam Pembelajaran A. Gafar Hidayat; Tati Haryati; Ratnah, Ratnah
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol 10 No 2 (2020): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v10i2.379

Abstract

Pembelajaran IPS merupakan hasil fusi secara terpadu, sebagai hasil seleksi dan penyederhanaan dari berbagai ilmu-ilmu sosial untuk kepentingan tujuan pembelajaran, serta disesuaikan dengan tingkatan pendidikan. Oleh karena itu IPS merupakan program pembelajaran yang dijadikan sebagai instrumen pewarisan budaya bangsa melalui transmisi kewarganegaraan. Tujuan penulisan ini yaitu untuk memahami strategi mengembangkan IPS melalui konsep waktu, perubahan dan kebudayaan. Metode penulisan ini menggunakan studi literatur atau telaah pustaka, dan dideskripsikan secara kualitatif. Adapun hasil dari penulisan ini yaitu strategi pengembangan IPS melaui konsep waktu, perubahan, dan kebudayaan dalam pembelajaran ilmu sosial erat kaitannya dengan ilmu sejarah yang meliputi masa lalu, masa sekarang dan yang akan datang, begitu juga dalam pembelajaran ilmu sosial lainnya, yang diintegrasikan secara terpadu dalam pembelajaran IPS, agar pemahaman siswa bersifat holistik. Perubahan merupakan gejala yang umum terjadi pada masyarakat manusia. Dalam konteks kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dikenal dua macam perubahan yaitu perubahan sosial (social change) dan perubahan kebudayaan (cultural change). Sedangkan kebudayaan adalah hasil dari daya dari budi yang berupa cipta, rasa, dan karsa, manusia sebagai nilai yang dijunjung tinggi dan membentuk aturan yang disepakati besara untuk kepentingan bersama anggota kelompok masyarakat. Dengan kata lain, hasil dari ketiga unsur akal atau budi (cipta, rasa, dan karsa) itulah yang disebut dengan kebudayaan
Waria dalam Perspekif Masyarakat di Desa Timu Kecamatan Bolo Kabupaten Bima (Ditinjau dari Aspek Fenomenologis) A. Gafar Hidayat; Tati Haryati; Rosdiana, Rosdiana
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol 11 No 1 (2021): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v11i1.440

Abstract

Pola hidup waria dinilai tidak lazim dan menyimpang, bagi masyarakat pada umumnya, namun bagi sebahagian kecil individu beranggapan pola hidup tersebut, suatu hal yang unik. Keberadaan waria dianggap sebagai pola kehidupan yang buruk dan membawa dampak negatif pada perkembangan generasi. Disisi lain terdapat sebahagian kecil individu yang menghargai dengan keberadaannya dan dianggap sebagai keberagaman biasa dalam dinamika kehidupan bermasyarakat.Tujuan penelitian ini yaitu; 1) mendeskripsikan berbagai tanggapan masyarakat terhadap pola hidup waria; 2) mengidentifikasi berbagai upaya yang dilakukan oleh waria agar diterima dilingkungan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, sumber data terdiri dari sumber data sekunder dan sumber data primer. Dan teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, juga dokumentasi. Uraian yang tertuang didalamnya berdasarkan fenomena riil di lapangan yang di temui oleh peneliti. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan bahwa; 1) tanggapan masyarakat terhadap pola hidup waria yaitu; a) waria dinilai oleh masyarakat pada umumnya sebagai prilaku menyimpang, melanggar kodrat tuhan dan norma agama; 2) menimbulkan keresahan dan kekhawatiran para orangtua, karena hawatir anak-anaknya terjerumus dalam pola pergaulan waria; c) sebahagian kecil masyarakat menggap bahwa waria sebagai dinamika kehidupan bermasyarakat yang biasa-biasa saja.; 2) Upaya yang dilakukan oleh waria agar diterima di lingkungan masyarakat yaitu; 1) berusaha menjelaskan kepada masyarakt menjadi seorang waria bukanlah semata ingin menyimpang dari kodrat Tuhan, akan tetapi, ada hal yang sulit dipahai secara psikis, sehingga lebih dominan hasrat feminimnya. 5) melibatkan diri dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, profesional dibidang pekerjaan yang digelutinya, dan membagun komunikasi yang baik dengan masyarakat
Telaah Historis; Kedudukan Kesultanan Goa-Tallo Dlam Penyebarluasan Agama Islam Di Bima pada Abad XVII Tati Haryati; A. Gafar Hidayat; Subhan, Subhan
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol 11 No 1 (2021): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v11i1.453

Abstract

Peranan Kerajaan Goa-Tallo dalam proses penyebar luasan Islam dikerajaan Bima pada abad XVII sebagai bagian dari penulisan sejarah Bangsa Indonesia pada masa itu adalah sangat penting untuk ditelusuri oleh kita sebagai generasi muda masa sekarang. Adapun tujuan penulisan ini, yaitu Untuk mengetahui fakor masuknya Agama islam di Kesultanan Bima pada abad ke XVII., dan Untuk mengetahui peranan Ulama Kesutanan Goa-Tallo dalam proses penyebarluasan Islam dalam berbagai aspek kehidupan di Kerajaan Bima pada abad ke XVII. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisn ini yaitu telaah pustaka dengan metode penelitian sejarah yang melewati tahap heuristic, kritik, interpetasi dan historigrafi. Sedangkan pendektan dalam penulisan ini menggunakan pedekatan agama, sosail dan politik. Adapun hasil dari penlitian ini menjelskan bahwa Fakor masuknya Islam di kerajaan Bima sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari bantuan yang diberikan oleh Raja Gowa-Tallo kepada La Kai dalam melawan kekuasaan Raja Salisi membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan baik dari aspek politik, ekonomi, sosial budaya. Bantuan yang diberikan oleh Kerajaan Gowa-Tallo terhadap La Kai sekaligus dimanfaatkan oleh pihak Kerajaan Gowa untuk menyebarluaskan Islam di Kepulauan Nusa Tenggara termasuk Kerajaan Bima. dalam hal ini Raja Gowa Sultan Alauddin mengirim dua orang ulama Melayu untuk menyebarluaskan sekaligus mengembangkan Islam di Kerajaan Bima yang bernama Datuk Ri Bandang dan Datuk Di Tiro selama 15 tahun lamanya. Usaha ulama Melayu dalam mengembangkan Islam di Kerajaan Bima di awali dengan mengislamkan putra mahkota La Kai bersama tiga saudaranya dengan anggapan bahwa setelah Jena Teke La Kai diislamkan maka dalam waktu singkat Islam akan cepat menyebar karena mendapat legitimasi/pengakuan dari sang raja pada waktu itu. Para Ulama Melayu dalam mengembangkan Islam dalam masyarakat Kerajaan Bima pertama kali mendekati masyarakat dengan pola pendekatan sosial, pendekatan akidah sehingga dalam waktu 15 tahun Islam dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Kerajaan Bima
Model Pelaksanaan Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid 19 Sekolah Dasar Di Kabupaten Bima A. Gafar Hidayat; Tati Haryati
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol 11 No 2 (2021): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v11i2.482

Abstract

Model pelaksanaan pembelajaran, selama pandemi covid 19, selalu didominasi oleh pembelajaran daring, karena dapat menghindari guru dan siswa bertemu secara fisik/langsung, namun tidak semua daerah memiliki tingkat kesiapan teknologi informasi yang sama, hal ini menjadi catan buruk dalam praktek pembelajaran daring. Begitu juga halnya di sekolah dasar, terutama yang berada di kabupaten Bima. Rata-rata sekolah, tidak melaksanakan pembelajaran secara daring, dengan alasan; fasilitas pendukung kurang, pemahaman tentang platform pembelajaran online masih kurang juga, rata-rata siswa tidak memiliki perangkat komputer atau gedjet/hp android. Hal ini terjadi karena guru dan pihak sekolah melarang siswa untuk membawa HP, namun ketika pandemi melanda guru dan sekolah menginginkan siswa belajar online dengan dengan gedjet/HP android masing-masing. Pelaksanaan BDR kurang efektif khususnya bagi peserta didik sekolah dasar, ditambah lagi orangtua murid yang belum paham dengan tugasnya dalam mendampingi anak belajar dirumah. Sehingga sekolah-sekolah menyarankan kepada guru untuk berkunjung ke rumah-rumah siswa atau sebaliknya, keterbatasan fasilitas dan sarana penunjang menjadi masalah utama dalam gagalnya kegiatan pembelajaran jarak jauh yang dianjurkan oleh Kemendikbud. Tujuan penelitian; (1) Mendeskripsikan tentang Pelaksanaan BDR sekolah dasar; (2) Menyajikan dan menganalisis tentang hambatan pelaksanaan BDR sekolah dasar. Jenis penelitian ini, merupakan penelitian kualitatif dengan memanfaatkan informasi dari berbagai pihak yang berhubungan dengan pelaksanaan BDR dan disajikan dalam bentuk uraian dan simpulan. Sedangkan teknik pengumpulan datanya dilkukan dengan cara mewawancarai, semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan BDR, samapai pada orangtua/wali, hasil wawancara tersebut akan dibuat matriksnya sesuai indikator masalah kemudian akan dilakukan observasi untuk mengamati pelaksanaan BDR, agar mendapakan gambaran real tentang fenomena keberlangsungan BDR, dan yang terakhir akan dilakukan dokumentasi sebagai data pendukung dalam menelaah penelitian ini lebih lanjut. Sedangkan teknik analisis datanya dilskukan dengan cara menghimpun data hasil penelitian lapangan dalam bentuk pemetaan matriks data, setelah itu akan ditafsirkan dengan memberikan makna pada setiap informasi yang dikumpulkan sebelumnya, sehingga sampai pada langkah terakhir penarikan kesimpulan sebagai point yang di petakan dalam hasil penelitian. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan yaitu; 1) Pelaksanaan BDR di sekolah dasar kurang efektif, meskipun sekolah sudah mengikuti pedomannya, namun ditinjau dari model pelasanaan dan efektifitas keterlibatan guru, siswa dan pendampingan orangtua belum maksimal; 2) Hambatan dalam pelaksanaan BDR di sekolah dasar yaitu kurangya fasilitas pendukung, motivasi dan minat siswa dalam belajar secara mandiri, dan siswa kurang memahami materi atau tugas yang diberikan oleh guru, tanpa penjelasan karena keterbatasan waktu, serta pebedaan persepsi anata sekolah dan orangtua dalam mendukung pelaksanaan BDR