Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Ekspresi CK-18 dan SMA pada Karsinoma Mukoepidermoid dan Adenoma Pleomorfik Kelenjar Liur Ida Septika Wulansari; Willy Sandhika
Majalah Patologi Indonesia Vol 25 No 3 (2016): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.863 KB)

Abstract

Latar belakang Sebagian besar diagnosis karsinoma mukoepidermoid dapat ditegakkan dengan pulasan hematoxylin eosin. Pada beberapa kasus karsinoma mukoepidermoid terutama low grade sulit dibedakan dari lesi jinak, karena semua komponen tumor berdiferensiasi baik sehingga mirip dengan tumor jinak. Pulasan CK-18 dan SMA diduga dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis karsinoma mukoepidermoid. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis peran CK-18 dan SMA dalam menegakkan diagnosis karsinoma mukoepidermoid dan adenoma pleomorfik. Metode Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah blok parafin sediaan kelenjar liur dengan diagnosa karsinoma mukoepidermoid dan adenoma pleomorfik yang tersimpan di Laboratorium Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo periode Januari 2010-Desember 2013. Sampel penelitian yang didapat adalah 14 kasus adenoma pleomorfik dan 12 kasus karsinoma mukoepidermoid dari seluruh kasus yang ditemukan. Blok parafin yang memenuhi kriteria dilakukan pewarnaan immunohistokimia dengan menggunakan antibodi CK-18 dan SMA. Derajat ekspresi CK-18 dan SMA dinilai berdasarkan kuantitatif. Perbedaan ekspresi CK-18 dan SMA pada karsinoma mukoepidermoid dan adenoma pleomorfik dianalisis dengan menggunakan uji statistik. Hasil Dari 12 kasus karsinoma mukoepidermoid rerata usia penderita 40,83 ± 14,35 tahun, dan 14 kasus pleomorfik adenoma rerata usia penderita 50,26 ± 16,22 tahun. Ekspresi CK-18 pada adenoma pleomorfik 30% sebanyak 5 kasus. Sedangkan ekspresi CK-18 pada karsinoma mukoepidermoid 30% sebanyak 12 kasus. Ekspresi SMA pada adenoma pleomorfik 30% 13 kasus dari 14 kasus dan ekspresi SMA pada karsinoma mukoepidermoid yang merata pada 0% sebanyak 12 kasus. Uji statistik antara ekspresi CK-18 dan SMA pada karsinoma mukoepidermoid dan adenoma pleomorfik menunjukkan perbedaan bermakna (p
Ekspresi E-cadherin dan MMP-1 pada Adenokarsinoma Kolorek-tal dengan dan Tanpa Metastasis KGB Rusdamayanti Rusdamayanti; Willy Sandhika
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 2 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.322 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma kolorektal merupakan keganasan keempat terbanyak di dunia. Stadium penyakit ini ditentukan oleh ukuran tumor, metastasis KGB regional dan metastasis jauh pada organ lain. Metastasis karsinoma kolorektal pada kelenjar getah bening (KGB) melibatkan beberapa protein yang berperan dalam adesi sel seperti E-cadherin dan MMP-1. Penurunan protein E-cadherin menyebabkan ikatan antar sel menjadi renggang dan terlepas. MMP-1 merupakan enzim kolagen yang berperan dalam degradasi matriks ekstraseluler. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis ekspresi E-cadherin dan MMP-1 pada karsinoma kolorektal dan kaitannya dalam proses metastasis KGB.MetodeSampel penelitian adalah blok parafin adenokarsinoma kolorektal di Departemen Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama 2014-2016. Dua puluh tujuh sampel terdiri atas dua kelompok, yaitu 13 kelompok metastasis KGB dan 14 kelompok tanpa metastasis KGB, kemudian dilakukan pemeriksaan imunohistokimia dengan antibodi E-cadherin dan MMP-1. Perbedaan ekspresi E-cadherin dan MMP-1 dianalisis dengan uji statistik T, sedangkan korelasi antara E-cadherin dan MMP-1 diuji dengan Spearman.HasilEkspresi E-cadherin pada adenokarsinoma kolorektal dengan metastasis KGB menurun dibandingkan dengan adenokarsinoma kolorektal tanpa metastasis. Ekspresi MMP-1 pada kedua kelompok tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Ekspresi E-cadherin dan MMP-1 pada adenokarsinoma kolorektal menunjukkan perbedaan tidak bermakna.KesimpulanEkspresi E-cadherin dapat menunjukkan adanya metastasis KGB pada adenokarsinoma kolorektal.
Ekspresi E-Cadherin dan MMP-9 pada Karsinoma Nasofaring Tanpa Metastasis, dengan Metastasis Awal dan Metastasis Lanjut Kelenjar Getah Bening Alief Yudo Astuti; Willy Sandhika
Majalah Patologi Indonesia Vol 25 No 2 (2016): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.334 KB)

Abstract

Latar belakang Proses metastasis pada kelenjar getah bening karsinoma nasofaring melibatkan beberapa protein, diantaranya adalah E-cadherin dan MMP-9. E-cadherin merupakan glikoprotein transmembran yang berperan dalam adhesi antarsel epitel. Penurunan E-cadherin menyebabkan ikatan antarsel menjadi renggang dan mudah lepas. MMP-9 merupakan protease yang dihasilkan oleh sel tumor dan mampu mendegradasi membran basalis dan matriks ekstraseluler. Sel kanker melepaskan dirinya dan menembus membran basalis melalui aktifitas MMP-9. E-cadherin dan MMP-9 diduga berperan dalam proses invasi dan metastasis karsinoma nasofaring. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran ekspresi E-cadherin dan MMP-9 pada karsinoma nasofaring tanpa metastasis, metastasis awal dan metastasis lanjut sebagai dasar terapi target untuk meningkatkan ekspresi E-cadherin dan menurunkan ekspresi MMP-9. Metode Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah blok parafin biopsi karsinoma nasofaring WHO tipe 2 dan tipe 3 dengan diagnosis secara histopatologik di Laboratorium Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo mulai Januari 2012-Desember 2013. Sampel dikelompokkan menjadi 3 yaitu kelompok tanpa metastasis, metastasis awal dan metastasis lanjut. Dilakukan pemeriksaan imunohistokimia menggunakan antibody monoclonal anti E-cadherin dan anti MMP-9. Derajat ekspresi E-cadherin dan MMP-9 dinilai berdasarkan persentase sel yang tercat positif. Perbedaan ekspresi E-cadherin dan MMP-9 dianalisis menggunakan uji statistik Mann-Whitney dan Games-Howell. Hasil Didapatkan perbedaan ekspresi E-cadherin yang bermakna pada karsinoma nasofaring tanpa metastasis dan metastasis awal dengan karsinoma nasofaring metastasis lanjut (p
Hubungan Ekspresi NFκβ/p65 dan HIF-1α pada Karsinoma Tiroid Papiler dan Karsinoma Tiroid Folikuler Dian Eskaningrum; Willy Sandhika
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.088 KB)

Abstract

Latar belakangInflamasi dapat meningkatkan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker tiroid. Karsinoma tiroid memiliki insiden yang cukup tinggi yaitu 95% dari seluruh kanker endokrin. Telah lama diketahui bahwa ada perbedaan patogenesis antara karsinoma tiroid papiler (KTP) dan karsinoma tiroid folikuler (KTF), tetapi diduga kedua karsinoma tiroid dipengaruhi oleh inflamasi dan hipoksia. Nuclear Factor-kappa B (NFκB/p65) merupakan faktor transkripsi yang memainkan peran utama dalam inflamasi, regulasi apoptosis, dan respon imun. Respon hipoksia pada sel dan jaringan dimediasi oleh faktor transkripsi hypoxia-inducible factor (HIF), yang berperan dalam perubahan metabolik sehingga mendorong adaptasi seluler pada kadar oksigen rendah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan ekspresi NFκB/p65 dan HIF-1α pada KTP dan KTF.MetodePenelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dilakukan pada sampel blok parafin spesimen operasi penderita KTP dan KTF di Departemen Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama 1 Januari 2012-31 April 2016. Sampel diambil secara random sampling. Pada kelompok KTP 15 sampel dan KTF 13 sampel selanjutnya dilakukan pulasan imunohistokimia dengan NFκB/p65 dan HIF-1α. Hasil penelitian dianalisis statistik dengan uji Mann-Whitney.HasilEkspresi NFκB/p65 pada KTP dan KTF tidak didapatkan perbedaan yang signifikan sedangkan ekspresi HIF-1α pada KTP dan KTF didapatkan perbedaan yang signifikan dan terdapat hubungan signifikan antara ekspresi NFκB/p65 dan HIF-1α pada KTP dan KTF.KesimpulanEkspresi NFκB/p65 dan HIF-1α dapat menunjukkan hubungan antara KTP dan KTF.
Ekspresi CD10 dan Bcl6 pada Limfoma Malignum Sel B Jenis Sel Besar Difus dan Hubungannya dengan Skor Indeks Prognostik Internasional Jimmy Hadi Widjaja; Willy Sandhika
Majalah Patologi Indonesia Vol 19 No 2 (2010): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.986 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang.Limfoma malignum sel B jenis sel besar difus adalah Limfoma malignum non-Hodgkinyang sering dijumpai. Penyakit ini memiliki gambaran klinis, morfologik, perubahangenetik, dan molekular yang heterogen. Sel limfoma dapat memiliki fenotip serupadengan sel sentrum germinativum normal ditandai dengan ekspresi CD10 dan Bcl6 yangdapat berhubungan dengan gejala klinis dan prognosis yang baik. Penelitian ini inginmenilai hubungan imunoekspresi CD10 dan Bcl6 dengan skor Indeks PrognostikInternasional (IPI).CaraPenelitian dilakukan secara retrospektif pada 22 sediaan kasus Limfoma malignum sel Bjenis sel besar difus dari Januari 2007 sampai Juni 2009 di Bagian Patologi AnatomikRumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. Semua bahan dilakukan penilaian ulang untukmenentukan diagnosis berdasarkan klasifikasi WHO 2001 berupa pulasan HE danimunohistokimia dengan CD10 dan Bcl6. Uji korelasi kontigensi digunakan untuk analisadata.HasilHasil penelitian ini menunjukkan hubungan yang bermakna antara ekspresi CD10 danekspresi Bcl6 dengan skor IPI (p< 0,05). Tidak terdapat hubungan bermakna antaraekspresi CD10 dengan Bcl6 (p > 0,05).KesimpulanEkspresi CD10 dan Bcl6 berkaitan dengan prediksi prognosis.
Perbedaan Dermatitis Seboroik dan Psoriasis Vulgaris Berdasarkan Manifestasi Klinis dan Histopatologi Astindari Astindari; Sawitri Sawitri; Willy Sandhika
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 1 (2014): BIKKK APRIL 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.04 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.1.2014.1-7

Abstract

Latar belakang: Dermatitis seboroik (DS) dan psoriasis sering sulit dibedakan baik secara klinis maupun secara histopatologi. Anamnesis yang tepat dengan memperhatikan usia, riwayat keluarga, dan pemeriksaan klinis yang teliti serta ditunjang dengan pemeriksaan histopatologi, dapat menentukan diagnosis yang tepat. Tujuan: Mengevaluasi perbedaan DS dan psoriasis supaya klinisi dan patolog bisa membuat diagnosis yang benar.Telaah kepustakaan: Secara epidemiologi, terdapat berbagai perbedaan antara DS dan psoriasis. Hal itu bisa dilihat dari usia saat timbulnya lesi, jenis kelamin, ras, maupun genetik. Lokasi lesi dan manifestasi klinis juga mempunyai ciri yang berbeda. Biopsi kulit dibutuhkan untuk membantu menegakkan diagnosis yang tepat.Gambaran histopatologi DS bervariasi sesuai dengan perjalanan penyakitnya: akut, sub-akut, dan kronis, sedangkan psoriasis mempunyai ciri khas berupa pemanjangan rete ridges, abses Munro atau adanya abses Kojog. Simpulan: Terdapat beberapa perbedaan antara DS dan psoriasis dari usia pertama kali muncul lesi, lokasi lesi, manifestasi klinis dan gambaran histopatologi.Kata kunci: dermatitis seboroik, psoriasis, manifestasi klinis, gambaran histopatologi.
Pemeriksaan Imunofluoresen Direk pada Henoch Schonlein Purpura Willy Sandhika; Marina Rimadhani; Sunarso Suyoso
JURNAL WIDYA MEDIKA Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.708 KB) | DOI: 10.33508/jwm.v3i1.765

Abstract

Henoch-Schönlein purpura (HSP) is an acute immunoglobulin A (IgA)–mediated vasculitis involving the small vessels. This disease cause systemic involvement of many organ especially the skin, the gastrointestinal (GI) tract and the kidneys. The etiology of HSP is not clear. Precipitating factors include drugs, chemicals, viruses and bacteria. Pathogenesis of HSP involve Ig A–mediated immune complex that are circulated in blood vessel and deposited in many organs. The presence of IgA-mediated immune complex deposits will activate the complement system, causing inflammation in the form of vasculitis that damage the small blood vessels in many organs. Hsp is a self-limiting disease that require supportive therapy. The problem that arises is how to distinguish HSP with other vasculitis diseases. A skin biopsy in patients with hsp will reveal leukocytoclastic vasculitis in small vessel. That kind of vasculitis are also found in urticarial vasculitis, hypersensitivity vasculitis and vasculitis due to cryoglobulinemia. Direct Immunofluorescence test from skin biopsy tissue will help to make the diagnosis of HSP. The presence of IgA deposits in small blood vessels wall can distinguish HSP from other vasculitis.
Ekspresi Ki-67 dan COX-2 pada Papiloma dan Karsinoma Sel Skuamosa Laring Vinna Chrisdianti; Willy Sandhika
Majalah Patologi Indonesia Vol 24 No 3 (2015): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.648 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Papiloma sel skuamosa dan karsinoma sel skuamosa merupakan bentuk neoplasma yang banyak ditemukan pada laring. Infeksi human papilloma virus (HPV), terutama tipe 6 dan 11 terbukti berperan dalam terjadinya papiloma sel skuamosa, sedangkan karsinoma sel skuamosa disebabkan oleh bahan-bahan karsinogenik, terutama rokok dan alkohol. Beberapa penelitian telah dikembangkan untuk membantu penegakan diagnosis dengan mengamati ekspresi Ki-67 dan COX-2 pada lesi-lesi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan dan korelasi ekspresi Ki-67 dan COX-2 pada papiloma sel skuamosa dan karsinoma sel skuamosa. Metode Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah blok parafin sediaan papiloma sel skuamosa dan karsinoma sel skuamosa yang tersimpan di Laboratorium Patologi Anatomik RSUD. Dr. Soetomo periode 1 Januari 2012 sampai dengan 31 Maret 2013. Dari masing-masing kasus diambil 15 sampel. Blok parafin yang memenuhi kriteria dilakukan pewarnaan imunohistokimia menggunakan antibodi Ki-67 dan COX-2 dan dinilai berdasarkan intensitas kualitatif. Perbedaan ekspresi Ki-67 dan COX-2 pada papiloma sel skuamosa dan karsinoma sel skuamosa dianalisis dengan menggunakan uji Spearman. Hasil Limabelas kasus papiloma sel skuamosa menunjukkan rerata usia penderita 17,27 ± 9,91 tahun, dan 15 kasus karsinoma sel skuamosa menunjukkan rerata usia penderita 58,80 ± 8,54 tahun. Analisis statistik ekspresi Ki-67 dan COX-2 antara papiloma sel skuamosa dan karsinoma sel skuamosa menunjukkan perbedaan bermakna (p0,05). Analisis statistik antara ekspresi Ki-67 dan COX-2 pada karsinoma sel skuamosa menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05). Kesimpulan Ekspresi Ki-67 dan COX-2 meningkat pada karsinoma sel skuamosa. Ekspresi Ki-67 dan COX-2 antara papiloma sel skuamosa dan karsinoma sel skuamosa menunjukkan korelasi. Kata kunci : COX-2, karsinoma sel skuamosa, Ki-67, papilloma sel skuamosa,.
Analisis Ekspresi Maspin dan Bcl-2 pada Berbagai Derajat Invasi Adenokarsinoma Kolorektal Erlina Erlina; Willy Sandhika
Majalah Patologi Indonesia Vol 25 No 3 (2016): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.06 KB)

Abstract

Latar Belakang Kanker kolorektal merupakan salah satu kanker terbanyak di dunia. Prognosis tergantung stadium dan invasi tumor. Apoptosis berperan dalam karsinogenesis kanker kolorektal. Bcl-2 dan maspin berperan pada proses apoptosis. Peningkatan apoptosis oleh maspin diduga melibatkan bcl-2. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan antara ekspresi maspin dan bcl-2 pada proses invasi dan metastasis adenokarsinoma kolorektal dan mengetahui peran kedua protein ini. Metode Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah blok parafin adenokarsinoma kolorektal di Departemen Patologi Anatomik RSUD Dr Soetomo Surabaya selama Januari-Desember 2014. Dua puluh tujuh sampel terdiri atas empat kelompok, yaitu modifikasi dukes B1, B2, C1, C2 dan dilakukan pemeriksaan imunohistokimia dengan antibodi maspin dan bcl-2. Perbedaan ekspresi maspin dan bcl-2 dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis, sedangkan korelasi antara maspin dan bcl-2 dianalisis menggunakan uji Spearman. Hasil Analisis statistik ekspresi bcl-2 antara stadium invasi dan metastasis menunjukkan perbedaan bermakna. Analisis statistik ekspresi maspin antara stadium invasi dan metastasis menunjukkan perbedaan tidak bermakna. Analisis korelasi antara ekspresi bcl-2 dan maspin menunjukkan perbedaan tidak bermakna. Kesimpulan Ekspresi bcl-2 dapat digunakan untuk menunjukkan adanya invasi dan metastasis pada adenokarsinoma kolorektal. Kata kunci: adenokarsinoma kolorektal, bcl-2, maspin.
Ekspresi Protein p53 Mutan dan Ki-67 pada Kondiloma Akuminata dan Karsinoma Sel Skuamosa Agustin Nurliani; Willy Sandhika
Majalah Patologi Indonesia Vol 24 No 1 (2015): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.089 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Diagnosis kondiloma akuminata (KA) dan karsinoma sel skuamosa (KSS) dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi. Sebagian besar kasus gambaran mikroskopik kondiloma akuminata dan karsinoma sel skuamosa berbeda nyata. Pada kasus tertentu seperti pada karsinoma sel skuamosa tipe verrucous dapat menyerupai kondiloma akuminata. Beberapa penelitian telah dikembangkan untuk membantu penegakan diagnosis dengan melihat ekspresi p53 mutan dan Ki-67 pada lesi-lesi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ekspresi protein p53 mutan dan Ki-67 dalam diagnosis kondiloma akuminata dan karsinoma sel skuamosa. Metode Penelitian yang dilakukan menggunakan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah blok parafin dari sediaan kulit dengan diagnosis kondiloma akuminata, karsinoma sel skuamosa diferensiasi baik atau tipe verrucous yang diarsipkan di Laboratorium Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo periode Januari 2010-Desember 2012. Sampel penelitian terdiri dari 15 kasus KA dan KSS dari seluruh kasus yang ditemukan. Sampel dipulas menggunakan pulasan imunohistokimia dengan antibodi primer p53 dan Ki-67. Ekspresi p53 mutan dan Ki-67 dinilai berdasarkan jumlah inti sel yang tercat dalam 100 sel. Perbedaan ekspresi p53 mutan dan Ki-67 pada KA dan KSS dianalisis dengan menggunakan uji statistik. Hasil Dari 15 kasus KA rerata usia penderita 36,07+12,30 tahun, dan 15 kasus KSS rerata usia penderita 49,93+15,65 tahun. Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna ekspresi protein p53 mutan pada KA dan KSS (p=0,131). Terdapat perbedaan yang bermakna ekspresi protein Ki-67 pada KA dan KSS (p=0,001). Kesimpulan Ekspresi protein Ki-67 dapat membedakan kondiloma akuminata dengan karsinoma sel skuamosa. Ekspresi protein p53 mutan tidak dapat membedakan kondiloma akuminata dengan karsinoma sel skuamosa. Kata kunci : karsinoma sel skuamosa, Ki-67, kondiloma akuminata, p53 mutan. ABSTRACT Background The diagnosis of condyloma accuminata (CA) and squamous cell carcinoma (SCC) can be made based on histopathological examination. In most cases the microscopic picture of condyloma accuminata and squamous cell carcinoma clearly different. However, in certain cases such as SCC, verrucous type can form a picture that resembles condyloma accuminata. Several studies have been developed to assist in the diagnosis by looking at the expression of p53 mutant and Ki-67 proteins in these lesions. To analyze the differences in the expression of p53 mutant and Ki-67 proteins in condyloma accuminata and squamous cell carcinoma. Methods Analytical observational research with cross sectional approach. Population of this study was paraffin blocks from skin preparation with a diagnosis of condyloma accuminata and squamous cell carcinoma well differentiated and squamous cell carcinoma verrucous type stored in the Anatomical Pathology Laboratory Hospital Dr. Soetomo within the period January 2010 to December 2012. The samples used in this study were taken, respectively-each of the 15 cases from all cases were found. Paraffin blocks that met the criteria were stained with immunohistochemical method using antibody p53 and Ki-67. The degree of expression of p53 mutant and Ki-67 were assessed by quantity of cells was staining in 100 cells. Differences in the expression of p53 mutant and Ki-67 in condyloma accuminata and squamous cell carcinoma were analyzed using statistical tests. Results 15 cases of condyloma accuminata mean patient age 36.07 +12.30 years, and 15 cases of squamous cell carcinoma patients mean age 49.93 +15.65 years. The test results showed statistically no significancy in the expression of p53 mutant protein both condyloma accuminata and squamosa cell carcinoma (p=0.131). There is a significant in the expression of Ki-67 in condyloma accuminata and squamosa cell carcinoma (p=0.001). Conclusion Expression Ki-67 protein play a role in distinguishing condyloma accuminata with squamous cell carcinoma. Expression of protein p53 mutant protein do not play a role in differentiating condyloma accuminata with squamosa cell carcinoma. There was no relationship between the expression of protein p53 and Ki67 in condyloma accuminata and squamous cell carcinoma. Key words : condyloma accuminata, Ki-67, p53 mutant, squamous cell carcinoma.