p-Index From 2017 - 2022
0.659
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Redoks TEKNIKA
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ADSORPSI KARBON AKTIF DARI TONGKOL JAGUNG SEBAGAI ADSORBEN ION LOGAM Cu2+ Dewi Putri Yuniarti
TEKNIKA: Jurnal Teknik Vol 2 No 1 (2015)
Publisher : Universitas IBA Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.141 KB) | DOI: 10.35449/teknika.v2i1.21

Abstract

Many reseerches about agricultural waste shows potency from this waste to be used as high quality of active carbon that can be used as (adsorbent) on gasoline and substances dissolved at solution. One of agricultural result in South Sumatera that is enough corn cob, where is solid waste that throun just. It is impossible since corncob contains about 40 % of cellulose. So, cellulose which can be used as an active carbon. There are two basic processes in the active carbon making, those are carbonization and activation. The aim of this study was to find out how the activated time gave influence to the adsorption capacity of active carbon as the metal ion Cu2+ adsorbent. The obtained data were analysed by using Atomic Adsorption Spectrophotometry (SNI 06-6989.6-2009). Moreover, the characteristic of the active carbon was ansalysed by Standart Nacional Indutrial (SNI 06-3730-1995). From the result of study, it was obtained that the activated time of 60 minutes with the activator H3PO4 0,5 M had the best adsorption capacity of 1.97 mg/g with the metal ion Cu2­+ concentration was 0,80 ppm. The characteristic of the missing part 9500C 20.54 %, water content of 11 %, ash content of 7 % and iodine number of 750.35 mg/g, pure active carbon 72.46 %, the density of bulk 0.31 g/ml, pass for the mesh size of 325 is 98 %. The adsorption capacity of active carbon from the corncob to the metal ion Cu2+ taken from the waste water sample at the shipyard painting work shop in Palembang was 0.1644 mg/g (97.60 %). Key words : Activated Carbon, Corn cob, Adsorption, AAS, Copper (II) Metal Ion.
PENGARUH PROSES AERASI TERHADAP PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT DI PTPN VII SECARA AEROBIK dewi Putri Yuniarti; Ria Komala; Suhadi Aziz
Jurnal Redoks Vol 4, No 2 (2019): REDOKS JULI - DESEMBER
Publisher : Universitass PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.518 KB) | DOI: 10.31851/redoks.v4i2.3504

Abstract

AbstrakAerasi adalah suatu proses penambahan udara atau oksigen dalam air dengan membawa air dan udara ke dalam kontak yang dekat, dengan memberikan gelembung-gelembung halus udara dan membiarkannya naik melalui air. Limbah cair kelapa sawit merupakan nutrien yang kaya akan senyawa organik dan karbon, perlu dilakukan pengkajian secara ilmiah guna menjadikan limbah industri kelapa sawit yang di buang kelingkungan sesuai dengan batas yang diizinkan oleh Peraturan Gubernur sumatera selatan No 8 tahun 2012 tentang baku mutu air limbah kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh waktu operasi limbah cair kelapa sawit terhadap konsentrasi parameter COD, pH, dan N Total dengan metode air bubbling aerator. Sampel limbah sawit yang digunakan sebanyak 7 Liter, variabel proses yang meliputi waktu aerasi 24 jam selama 6 hari, serta penggunaan debit udara sebanyak 5 liter/menit sebagai variabel tetap. Parameter yang dianalisis adalah COD, pH, dan N Total. dengan konsentrasi COD sebelum pengolahan sebesar 1475.14 mg/l, sedangkan setelah diolah konsentrasinya turun menjadi 983.42 mg/l pada hari ke 3 dan 614.64 mg/l pada hari ke 4. Hasil ini menunjukkan bahwa metode aerasi mampu menyisihkan konsentrasi COD limbah cair pabrik kelapa sawit. Secara keseluruhan efisiensi penyisihan, COD, pH dan N Total yang diperoleh pada penelitian ini pada hari ke 4 adalah 24% -74 % dan pada hari ke 4. Kata Kunci: Limbah Cair ,Kelapa Sawit, COD, N Total, pH, Aerasi 
PEMANFAATAN KITOSAN DARI CANGKANG BEKICOT (ACHATINA FULLICA) SEBAGAI PENGAWET ALAMI PADA IKAN NILA SEGAR Dewi Putri Yuniarti; Surya Hatina
Jurnal Redoks Vol 6, No 2 (2021): REDOKS JULI - DESEMBER
Publisher : Universitass PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/redoks.v6i2.6504

Abstract

Penelitian ini bertujuan menghasilkan produk kitosan dengan memanfaatkan cangkang dari bekicot, mengetahui pengaruh konsentrasi NaOH terhadap pembuatan kitosan dari pemanfaatan cangkang bekicot dan mengetahui pengaruh variasi konsentrasi pemberian kitosan (30%, 40%, 50%, 60% dan 70%) terhadap umur simpan ikan nila segar. Pada penelitian ini digunakan metode Kjeldahl. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah kitosan dapat dimanfaatkan sebagai anti mikroba pada ikan segar, hasil produk kitosan yang didapat bergantung pada proses deasetilasi, kitosan dengan variasi konsentrasi NaOH yang tinggi (70%) pada proses deasetilasi diketahui lebih baik karena  ketika digunakan pada proses pengawetan  ikan nila didapati daya simpan maksimumnya yaitu 130 jam, dan kitosan dengan variasi konsentrasi NaOH yang semakin tinggi (70%) semakin baik untuk dijadikan pengawetan ikan ikan nila yaitu memiliki kadar protein 19.74%.
PENGARUH JUMLAH RAGI DAN WAKTU FERMENTASI PADA PEMBUATAN BIOETANOL DENGAN BAHAN BAKU AMPAS TEBU Dewi Putri Yuniarti; surya Hatina; Winta Efrinalia
Jurnal Redoks Vol 3, No 2 (2018): REDOKS JULI-DESEMBER
Publisher : Universitass PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.427 KB) | DOI: 10.31851/redoks.v3i2.2391

Abstract

Kebutuhan energi yang mengalami peningkatan,sedangkan cadangan fosilterus mengalami penurunan seiring dengan penggunaannya. Tingginya penggunaan energi ini mendorong untuk dikembangkannya energi alternatif seperti pemanfaatan biomassa salah satunya yaitu bioetanol. Bahan baku dalam pembuatan bioetanol yaitu biomassa yang mengandung selulosa, hemiselulosa dan lignin salah satunya adalah ampas tebu. Ampas tebu merupakan limbah padatan dari pengolahan industri gula yang volumenya bisa mencapai 30-40 % dari tebu giling yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan aroma tidak sedap pada lingkungan jika tidak dimanfaatkan. Ampas tebu memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi untuk diolah menjadi energy alternative bioetanol. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah ampas tebu menjadi bioetanol melalui proses fermentasi menggunakan ragi Saccharomyces cerevisiae dengan variasi  penambahan ragi sebanyak 1 gram % b/v, 3 gram % b/v, dan 5 gram % b/v dari masa awal ampas tebu dengan lama waktu fermentasi 5 hari, 6 hari, 7 hari, 8 hari, dan 9 hari. Hasil penelitian menunjukkan kadar bioetanol tertinggi sebesar 4,9100% dihasilkan dari penambahan ragi 5 gram % b/v dengan lama waktu fermentasi 7 hari. Kata kunci : Bioetanol, Fermentasi ,Ragi