Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Inter Komunika: Jurnal Komunikasi

Komunikasi Antar Pribadi Antara Reseller dengan Produsen Cantiqa Kemiri Rubyanata Harahap; Wulan Tri Gartanti; Dadi Ahmadi
Inter Komunika Vol 3, No 2 (2018): Inter Komunika: Jurnal Komunikasi
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Inter Studi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.446 KB) | DOI: 10.33376/ik.v3i2.213

Abstract

Abstract. Interpersonal communication among business people is very interesting because every individual in each generation will be different in how to communicate. In business cooperation between producers and product resellers, the means of conveying the intent in the expressed communication message will differ depending on the purpose of the message delivery and the purpose of the contents of the message itself. So that the influence between the communication intentions conveyed will encourage the communicator to be able to provide added value.Communication is the sending of a message from someone and is received by another person with immediate effects and feedback, so that not only aims to build effective communication in interpersonal communication but also wants to create an effect. In relation to interpersonal communication, res-sellers and producers carry out communication with the aim of creating effective communication in order to carry out good cooperation. This study examines interpersonal communication between Cantiqa Kemiri producers and resellers. This research uses descriptive method with data collection techniques through interviews, literature studies, and observations. Key informants in this study were Cantiqa Kemiri producers and resellers. The results of this study indicate that interpersonal communication between Cantiqa Kemiri producers and resellers involves several aspects such as openness, empathy, support, positive feelings, and equality in maintaining relationships between each other so that product sales remain optimal.Keywords: Communication, Interpersonal Communication, Cooperation, Business, Manufacturer, ResellerAbstrak. Komunikasi antarpribadi diantara para pelaku bisnis menjadi sangat menarik diperhatikan karena setiap individu dalam setiap generasi akan berbeda cara berkomunikasinya. Dalam kerjasama bisnis diantara produsen dan reseller produk, cara penyampaian maksud dalam pesan komunikasi yang diutarakan akan berbeda tergantung dari tujuan penyampaian pesan serta maksud dari isi pesan itu sendiri. Sehingga pengaruh diantara maksud komunikasi yang disampaikan akan mendorong pelaku komunikasi tersebut untuk bias memberikan nilai tambah. Komunikasi merupakan pengiriman pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain dengan efek dan umpan balik yang langsung, sehingga bukan hanya bertujuan membangun komunikasi yang efektif dalam komunikasi antarpribadi tetapi juga ingin menciptakan efek. Dalam kaitannya dengan komunikasi antarpribadi, reseller dan produsen menjalankan komunikasi dengan tujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif agar dapat melaksanakan kerjasama yang baik. Penelitian ini meneliti mengenai komunikasi antarpribadi antara produsen dan reseller Cantiqa Kemiri. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, studi kepustakaan, dan observasi. Key informan dalam penelitian ini adalah produsen dan reseller Cantiqa Kemiri. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa komunikasi antarpribadi antara produsen dan reseller Cantiqa Kemiri melibatkan beberapa aspek seperti keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif, dan kesetaraan dalam menjaga hubungan antara satu sama lain sehingga penjualan produk tetap optimal.Kata Kunci: Komunikasi, KomunikasiAntarpribadi, Kerjasama, Bisnis, Produsen, Reseller
Peran Public Relations dalam Film Hancock Muhammad Reyzha Noorsyam Arkian; M Subur Drajat; Dadi Ahmadi
Inter Komunika Vol 3, No 2 (2018): Inter Komunika: Jurnal Komunikasi
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Inter Studi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.501 KB) | DOI: 10.33376/ik.v3i2.214

Abstract

Abstract. Film is a mass media that has a function as entertainment, besides that the film also contains an informative, educative, and persuasive function. Film is also known as a medium of communication, film is an effective means to shape the perspective of society at large. A movie titled “Hancock” is a movie about a public relations practitioner who tries to restore the image of a superhero. This movie also tells a story about the troublesome life of a superhero who has bad image in the eyes of public and media.  The purpose of this research is to understand the Reality Level, Representation Level and Ideology Level of public relations role in the movie “Hancock”.  The research method is using the qualitative methods with semiotics approach, which is a science about signs. The theory used is John Fiske’s theory of Television Codes which focuses on the Reality Level, Representation level and Ideology Level.  In this research the data collection techniques used are observation, documentation, literature study, and interviews.  The results of this study conclude that at the reality level it is seen in the form of behavior and appearance which includes expert advisors who provide input, problem solvers in crisis, media relations, providers as well as media relations, communication technicians, public tranquilizers, and case development informants. showed that the role of public relations and Ray Embrey's Appearance tended to be stable when meeting with the public and Hancock as management, namely by using formal equipment in the form of shirts, suits, ties, material trousers and loafers. At the level of representation in the form of a camera code and dialogue code which includes, Framing with Background, Group Shot, Walking Shot, Two Shot, Three Shot, Eye Level, and, Point of View Shot and dialog used by Ray Embrey in this film too very shows the role of public realtions that show that it is an expert communicator and expert advisor by persuasive communication. At the ideological level, there was an ideology that appeared in the Hancock film with discrimination between white and black race and based on the eighth point of the Public Relations International code of ethics. The suggestion for further research is to look for references to books related to semiotics and the role of public relations. This is needed to be able to better understand the forms of the role of public relations in a film.Keywords: Mass Media, Reality, Semiotic, Television Codes, John FiskeAbstrak. Film merupakan media massa yang memiliki fungsi sebagai hiburan, disamping itu juga film mengandung fungsi informatif, edukatif, dan persuasif.  Film juga dikenal sebagai media komunikasi, film merupakan salah satu sarana yang efektif untuk membentuk perspektif masyarakat secara luas.  Film “Hancock” merupakan sebuah film yang mengangkat kisah tentang perbaikan citra dari seorang pahlawan oleh seorang praktisi public relations. Film ini juga mengangkat persoalan kehidupan seorang pahlawan yang memiliki citra buruk di mata publik dan media.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana level realitas, level representasi, dan level ideology peran public relations dalam film “Hancock”. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah  metode kualitatif dengan pendekatan semiotika, yaitu suatu ilmu yang mengkaji tentang tanda-tanda. Teori yang digunakan adalah kode-kode televisi John Fiske dimana memfokuskan pada level Realitas, level Representasi, dan level Ideologi.  Pada penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan berupa observasi, dokumentasi, studi pustaka, dan wawancara.  Hasil dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa pada level realitas terlihat dalam bentuk perilaku dan penampilan yang meliputi penasihat ahli yang memberikan masukan, pemecah permasalahan ketika dalam krisis, media relations, penyedia juga penyalur hubungan dengan media, teknisi komunikasi, penenang publik, dan informan perkembangan kasus yang menunjukan bahwa adanya peran public relations dan Penampilan Ray Embrey, cenderung stabil ketika bertemu dengan publik dan Hancock sebagai manajemen, yaitu dengan menggunakan stelena formal berupa kemeja, jas, dasi, celana panjang bahan, dan sepatu pantofel.  Pada level representasi dalam bentuk kode kamera dan kode dialog yang meliputi, Framing with Background, Group Shot, Walking Shot, Two Shot, Three Shot, Eye Level, dan, Point of View Shot dan  dialog yang di gunakan oleh Ray Embrey dalam film ini juga sangat menunjukan peran public realtions yang menunjukan bahwa ia merupakan seorang expert communicator dan penasihat ahli dengan melakukan komunikasi persuasif. Pada level ideologi terlihat adanya Ideologi yang muncul dalam film Hancock terdapat diskriminasi Ras antara kulit putih dengan Ras kulit hitam dan berdasarkan kode etik Public Relations Internasional point ke delapan.  Adapun saran untuk penelitian selanjutnya adalah lebih mencari referensi buku terkait dengan semiotika dan peran public relations.  Hal ini diperlukan untuk dapat lebih memahami bentuk-bentuk peran public relations dalam sebuah film.Kata kunci: Media Massa, Realitas, Semiotika, Kode-kode Televisi, John Fiske