Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KAJIAN PROYEK DESAIN RUMAH SUSUN SEWA PADA PEREMAJAAN KAWASAN JATINANGOR BERDASARKAN PROFIL CALON PENGHUNINYA Wizmar, Dickie A.; Albert, Albert
TATANAN Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractJatinangor area has changed from rural, to crowded urban city, with high density, almost 120 person/Ha and dominated with middle low economic level people. The consequences from that condition were the growth of slums.This condition motivates government to build some flats for middle low income. The design accomodates the owners activity, and their social economic condition, in order to make better housing quality.The main target to live in flats is worker, and university student. The target market affected the building design which is suited to the owners professions.Another thing which influence the design are dimension of each unit, and activity circulation. A good quality of basic housing conditions to be considered too in the building design are distance among flats, dimension, access and circulation, in order to obtain ultimate comfort for the people who lived there. Keywords: multistorey housing, revitalize Jatinangor area, users profile.AbstrakPerubahan kawasan Jatinangor yang semula berupa pedesaan menjadi perkotaan yang padat dan ramai, dengan tingkat kepadatan hampir 120 jiwa/ha dan didominasi oleh kalangan menengah ke bawah. Akibatnya, terjadi area kumuh yang cukup besar di kawasan Jatinangor.Kondisi ini mendorong pemerintah untuk memproyeksikan pembangunan rumah susun sewa yang diperuntukkan bagi mereka yang berada di kalangan menengah ke bawah. Karakteristik pembangunannya disesuaikan dengan penghuninya, pola aktivitasnya, dan kondisi sosial-ekonominya sehingga diharapkan kualitas hunian yang baik pun akan tercapai.Penghuni yang menjadi prioritas sebagai pengguna rumah susun sewa ini sebagian besar dari kalangan buruh pabrik, dan mahasiswa, hal ini berpengaruh desain rumah susun yang akan direncanakan, sesuai dengan mata pencaharian, dan profesi dari penghuninya.Hal lain yang juga harus diperhitungkan adalah kondisi umum yang menjadi standar pembangunan rumah susun yang layak guna, seperti jarak antar bangunan, dimensi ruangan, akses dan sirkulasi, sehingga kenyamanan penghuni tetap menjadi prioritas dalam pembangunan rumah susun sewa ini.Kata kunci: rumah susun, peremajaan kawasan Jatinangor, profil penghuni.
PENERAPAN VALUE ENGINEERING PADA PEKERJAAN STRUKTUR PELAT LANTAI (STUDI KASUS GEDUNG ARSIP DINAS PEKERJAAN UMUM PROVINSI KALIMANTAN TENGAH KM. 3,5 PALANGKA RAYA Albert, Albert; Waluyo, Rudi; Gawei, Apria Brita Pandohop
Jurnal PROTEKSI (Proyeksi Teknik Sipil) Vol 3, No 1: Edisi Januari 2017
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8.172 KB)

Abstract

Value Engineering adalah suatu cara pendekatan yang kreatif dan terencana dengan tujuan untuk mengoptimalkan dan mengefisienkan biaya-biaya yang tidak perlu. Value Engineering digunakan untuk mencari suatu alternatif-alternatif atau ide-ide yang bertujuan untuk menghasilkan biaya yang optimal atau lebih efisien dari harga yang telah direncanakan sebelumnya dengan batasan fungsional dan mutu pekerjaan. Penerapan Value engineering dilakukan pada pekerjaan struktur Pelat Lantai yaitu pada Bangunan Gedung Arsip Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalimantan Tengah KM. 3,5 Palangka Raya. Permasalahan yang ditinjau adalah bagaimana penerapan dan pengaruh Value Engineering terhadap biaya Bangunan Gedung Bertingkat. Penelitian dimulai dengan melakukan survai mengumpulkan data untuk kemudian dianalisis menggunakan Value Engineering. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari gambar bangunan gedung, RAB Perencanaan Bangunan Gedung Tahap I, dokumen kontrak, brosur material, buku-buku literatur, dan referensi yang berkaitan dengan Value Engineering. Dalam melakukan proses Analisis Value Engineering terdiri dari 5 tahapan, yaitu tahap Informasi, Kreatif, Analisis, Pengembangan dan Presentasi.Hasil menunjukan bahwa Biaya pekerjaan Struktur Pelat lantai Exsisting adalah sebesar Rp985.627.991,13 dan setelah di lakukan Velue Engineering biaya pekerjaan Struktur Pelat Lantai menjadi sebesar Rp643.722.052 yaitu pada Alternatif 6 (Pelat Lantai komposit Floor Deck tipe W dengan penambahan Balok dan Tulangan Wiremash) dan memberikan efisiensi biaya Pekerjaan Struktur Pelat Lantai sebesar Rp 321.241.763 atau 32,59% dan 9,00%  terhadap biaya keseluruhan Bangunan Gedung Bertingkat.Kata kunci: Analisis Fungsi, Value Engineering , Penghematan biaya, efisiensi biaya
KAJIAN YURIDIS TENTANG EKSISTENSI HAK MILIK ATAS TANAH YANG BELUM MEMILIKI SERTIFIKAT KEPEMILIKAN TANAH Albert, Albert
LEX CRIMEN Vol 5, No 5 (2016): Lex Crimen
Publisher : LEX CRIMEN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana Eksistensi Yuridis Hak Milik atas Tanah yang belum memiliki bukti Sertifikat dan bagaimana prosedur hukum untuk mendapatkan bukti Sertifikat hak milik atas tanah.  Dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif disimpulkan: 1. Untuk dapat dikatakan sebagai hak milik atas tanah, maka harus memenuhi syarat atau unsur utama yang terkandung didalam pengertian hak milik itu sendiri yaitu unsur turun-temurun, terkuat, dan terpenuh serta unsur lainnya misalnya fungsi sosial.  Tetapi jika tanah belum memiliki bukti sertifikat walaupun telah dikuasai secara turun-temurun, belum bisa dikatakan sebagai hak milik, tepatnya tanah tersebut merupakan tanah negara yang dikuasai oleh subjek hukum, namun diatasnya melekat hak untuk memiliki dengan catatan tanah tersebut harus didaftarkan pada Badan Pertanahan Nasional.  Jadi tanah dengan status hak milik harus merupakan tanah yang sudah terdaftar pada Badan Pertanahan Nasional sebagai badan non-departemen yang berwenang di bidang pertanahan. 2. Untuk mendapatkan bukti kepemilikan hak atas tanah berupa sertifikat hak milik, maka tanah tersebut haruslah terlebih dahulu didaftarkan pada Badan Pertanahan Nasional.  Sedangkan pendaftaran tersebut dapat digolongkan menjadi dua, yaitu pendaftaran untuk hak-hak yang lama dan pendaftaran untuk hak-hak  atas tanah yang baru.  Dalam prakteknya prosedur pendaftaran tanah untuk pertama kali meliputi dua cara, yaitu : Pendaftaran secara Sistematik; Pendaftaran secara Sporadik. Dianjurkan pendaftaran tanah secara Sporadik. Kata kunci: Eksistensi, hak milik, tanah, sertifikat.