Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS PESAN DAKWAH SYIIR TANPO WATON PENDEKATAN SEMIOTIK FERDINAND DE SAUSSURE Mohammad Fajar Amertha
INTELEKSIA - Jurnal Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 1 No 1 (2019)
Publisher : STID Al-Hadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1209.605 KB) | DOI: 10.55372/inteleksiajpid.v1i1.15

Abstract

Syiir yang diciptakan oleh K.H. Muhammad Nizam As-Shafa (Gus Nizam) iniamat dikenal oleh warga Jawa Timur khususnya Surabaya, selalu diputar di masjidmasjid atau musala setiap kali memasuki waktu azan salat. Syiir yang rutindiperdengarkan sejak tahun 2004 bahkan hingga saat tulisan ini dibuat menggunakanbahasa Arab dan Jawa yang pastinya memiliki makna simbolik dari bahasa yangdigunakan. Pada artikel ini mendalami makna yang tersirat pada Syi’ir Tanpa Waton,melalui pendekatan kualitatif, menganalisis pesan dakwah bentuk syiir menggunakanTeori Semiotik Ferdinand de Saussure. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa Syi’irTanpo Waton mengandung pesan dakwah: (1) Pesan Ketauhidan dan memberikanpenghormatan terhadap Rasul; (2) Menghindari sifat-sifat manusia tidak sesuai ditinjaudari ajaran Islam; (3) Untuk senantiasa memuji Allah dan mencari ilmu agama dengancara yang benar bukan hanya membaca dan menghafalnya saja; (4) Ajakan untuksenantiasa mengkaji ilmu pengetahuan, menguatkan iman dan membangun hati yangluhur. Studi ini juga menunjukkan bahwa terdapat kesesuaian antara parole dan langue;signifie dan signifiant pada penggunaan bahasa Jawa dan Arab sehingga menghasilkantanda yang khas dan perpaduan rasa dalam ungkapan yang mampu menggugahkesadaran pendengarnya untuk menerapkan pesan yang terkandung di dalamnya.
Puisi Gus Mus “Talbiyah Dalam Kesendirian’’ Sebagai Alternatif Dakwah Pada Masa Pandemi Covid-19 Lina Masruuroh; Hafifah Aprianti; Mohammad Fajar Amertha
Jurnal Kopis: Kajian Penelitian dan Pemikiran Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 4 No. 2 (2022): Jurnal Kopis: Kajian Penelitian dan Pemikiran Komunikasi Penyiaran Islam, Febru
Publisher : Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/kpi.v4i2.2391

Abstract

Poetry is an expression of the soul that abstracts, summarizes the atmosphere of ideas in transcendental life and human experience, which is why da'wah messages can still be conveyed through poetry. One such poem was created by Gus Mus, with the titled Talbiyah dalam Kesendirian. The poem succeeded in touching feelings and attracting the attention of many audiences on Instagram social media, because it is considered very relevant to the pandemic situation and the conditions experienced by many people in the world during the pandemic mass. This study aims to explore the semantics of Talbiyah dalam Kesendirian poetry. The theory used is semantics. The study methodology used is qualitative with a library study approach. The analysis was carried out by identifying the elements of meaning including lexical - grammatical, referential - non-referential, denotative - connotative, words - terms, conceptual - associative, idiomatic - proverbs, and figurative meanings. The results of the study show (1) the meaning of the poem contains a message of da'wah in the form of reflections on glorifying the Oneness of Allah SWT, God's response to humans who have only been encouraging to this group of people, reflection on a request to God to lead back on the path that right at His command. (2) This solitude poetry can be used as an alternative to da'wah during the pandemic.