Hanies Ambarsari
Institute of Environmental Technology (BTL), Indonesian Agency for Assessment and Application of Technology (BPPT), Building 412 PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan 15314, Indonesia

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN

Efektivitas Pengolahan Air yang Mengandung Amonia Konsentrasi Tinggi Menggunakan Konsorsium Probiotik Komersial dan Bakteri Sedimen Kolam Lele Ambarsari, Hanies; Syah, Iman; Nugroho, Rudi; Manurung, Brian Saputra; Suciati, Fuzi
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 21 No. 1 (2020)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.099 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v21i1.3478

Abstract

ABSTRACTNitrification is one of the most widely used methods to reduce ammonia concentration in wastewater.The purpose of this study was to determine the effectiveness of high-concentrated ammonia nitrification by the consortium between commercial probiotics and bacteria from the sediment of the catfish pond. The study was conducted on batch system bioreactors with a working volume of 1 liter containing 100 mg/L ammonia solution and 50 grams sediment of catfish pond. This study used a treatment variation of the concentration of commercial probiotics and the bacterial isolate from the catfish pond sediment using glucose as the carbon source. The variations of commercial probiotics added to the bioreactor were 5 ml/L, 10 ml/L and 15 ml/L. The variations of glucose concentration were 0 g/L and 3,9 g/L. Analysis of ammonia concentration was carried out by spectrophotometry using the phenate method. The highest removal efficiency of ammonia was 92.35% in the bioreactor with a mixture of 15 ml/L commercial probiotics and 3.9 g/L glucose with the fastest ammonia rate was on the third day of the experimental period. The addition of glucose in the bioreactors could increase ammonia removal by 57.39%. The result of statistical analysis indicated that variations in the concentration of commercial probiotic indicated no statistically significant difference in ammonia removal (P> 0.05), while variations in glucose concentration showed a statistically significant difference in ammonia removal (P <0.05). Three isolates were successfully isolated on specific media for nitrifying bacteria. The result of bacterial identification showed that three isolated bacteria were Bacillus sp., Aeromonas salmonicida, and Burkholderia cepacia.Keywords: ammonia, nitrification, sediment of catfish pond, commercial probioticABSTRAKNitrifikasi merupakan salah satu metode yang paling banyak digunakan untuk mengurangi konsentrasi amonia pada limbah cair. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penambahan sedimen kolam lele dan probiotik komersial dalam nitrifikasi amonia konsentrasi tinggi. Penelitian menggunakan bioreaktor sistem batch dengan volume kerja 1 liter yang berisi larutan amonia 100 mg/L dan 50 gram sedimen kolam lele. Perlakuan pada penelitian ini terdiri dari pemberian variasi konsentrasi probiotik komersial dan sedimen kolam lele dengan sumber karbon glukosa. Variasi probiotik komersial yang ditambahkan pada bioreaktor adalah 5 ml/L, 10 ml/L dan 15 ml/L sedangkan variasi konsentrasi glukosa adalah 0 g/L dan 3,9 g/L. Analisis konsentrasi amonia dilakukan secara spektrofotometri menggunakan Metode Fenat. Hasil penurunan rata-rata amonia tertinggi adalah sebesar 92,35% pada bioreaktor dengan campuran probiotik komersial 15 ml/L dan glukosa 3,9 g/L dengan laju penurunan ammonia tercepat pada hari ke-3 periode eksperimen. Penambahan glukosa pada bioreaktor mampu meningkatkan penurunan amonia sebesar 57,39%. Analisis statistik menunjukkan bahwa variasi konsentrasi probiotik komersial tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada penurunan amonia (p>0,05) sedangkan variasi konsentrasi glukosa menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap penurunan amonia (p<0,05). Tiga isolat berhasil diisolasi menggunakan media spesifik bakteri nitrifikasi. Hasil identifikasi dari tiga bakteri menunjukkan bahwa isolat tersebut adalah Bacillus sp., Aeromonas salmonicida dan Burkholderia cepacia.Kata kunci: amonia, nitrifikasi, sedimen kolam lele, probiotik komersial
Pengaruh Penambahan Inokulum Azotobacter sp. terhadap Pertumbuhan Tanaman Sorghum bicolor untuk Aplikasi Fitoremediasi Ambarsari, Hanies; Udayani, Julia Elisa; Mulyono, Mulyono; Akhadi, Dominikus H
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2016)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.26 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v17i1.1458

Abstract

Sebuah penelitian skala laboratorium dilakukan untuk menentukan pengaruh inokulum Azotobacter sp.terhadap pertumbuhan tanaman Sorghum bicolor yang akan diterapkan dalam usaha fitoremediasi lahanmarginal yang kurang sumber air. Unit percobaan perlakuan inokulum Azotobacter sp., urea, atau kontrolnegatif dibuat dengan cara menginokulasi sebanyak 1 mL masing-masing ke dalam pot berisi 2 kg tanahyang dibenami benih S. bicolor. Setiap pot kemudian dilabeli dengan tanda “Az” untuk perlakuanAzotobacter sp, “U” untuk perlakuan urea, dan “K” untuk kontrol negatif yang tidak ditambahkan inokulumAzotobacter sp. ataupun urea. Untuk masing-masing perlakuan dibuat 5 pengulangan, sehingga totalsemuanya ada 15 unit pot penelitian yang diinkubasi selama 14 hari di dalam Greenhouse BTL-BPPTyang kering dan terkena cahaya matahari. Tinggi tanaman S. bicolor diukur setiap hari selama 14 haripenelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan Azotobacter sp. maupun ureaberpengaruh dalam meningkatkan pertumbuhan S. bicolor. Gradien kenaikan Az lebih tinggidibandingkan U, hal ini menunjukkan bahwa pengaruh penambahan inokulum Azotobacter sp. lebih tinggidibandingkan urea dalam meningkatkan pertumbuhan S. bicolor. Untuk menguji signifikansi pengaruhAzotobacter sp. terhadap pertumbuhan S. bicolor maka analisis variansi (ANOVA) dilakukan dan hasilnyamenunjukkan bahwa penambahan inokulum Azotobacter sp. berpengaruh signifikan terhadap tinggitanaman S. bicolor.
Remediasi Merkuri (Hg) pada Air Limbah Tambang Emas Rakyat Dengan Metode Lahan Basah Buatan Terpadu Ambarsari, Hanies; Qisthi, Aulia
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 18 No. 2 (2017)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.848 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v18i2.29

Abstract

Suatu metode lahan basah buatan terpadu diterapkan pada penelitian remediasi lingkungan dengan menggunakan tanaman Phragmites australis dan mikroba pada kompos untuk mengurangi konsentrasi merkuri (Hg) pada air limbah. Air limbah yang digunakan pada penelitian terdiri dari limbah asli tambang emas rakyat Pongkor dengan konsentrasi 27 ppb dan limbah buatan dengan konsentrasi 30 ppb, 60 ppb dan 90 ppb. Hasil penelitian menunjukkan tingkat efisiensi penurunan konsentrasi Hg yang dihasilkan adalah sebesar 99,8% pada air limbah buatan dengan konsentrasi 60 ppb dan 90 ppb, serta sebesar 99,6% pada air limbah asli dan air limbah buatan konsentrasi 30 ppb. Tingkat akumulasi Hg tertinggi ditemukan di bagian akar tanaman dengan konsentrasi Hg total pada bagian akar, batang dan daun tanaman Phragmites australis adalah sebesar 3,502 mg/kg, 5,102 mg/kg dan 12,066 mg/kg pada air limbah buatan konsentrasi 30 ppb, 60 ppb dan 90 ppb. Lebih tingginya tingkat akumulasi Hg di bagian akar, dibandingkan dengan bagian lain dari tanaman, dapat menjadi suatu tanda bukti bahwa mikroba dari kompos yang menempel pada bagian akar tanaman itu juga ikut berperan dalam proses penyerapan Hg oleh tanamanKata kunci: lahan basah buatan, merkuri (Hg), tambang emas rakyat, tailing
POTENSI MIKROBA PENITRIFIKASI KAWASAN PERTAMBAKAN UDANG TANJUNG PASIR, TANGERANG Komarawidjaja, Wage; Ambarsari, Hanies
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 2 No. 3 (2001): JURNAL TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.745 KB) | DOI: 10.29122/jtl.v2i3.222

Abstract

High concentration of ammonia in shrimps pond sediment due to the accumulation of feed excessive will become negative impact to the shrimp culture. Therefore, increasing the indigenous microbial abilities in minimizing toxicity effect of ammonia through biotransformation of ammonia into nitrite and nitrate is very important for shrimp growth and health.Isolation and identification of nitrifying microbes has been done. The number of microbes isolated form shrimps pond are six namely 2p, 2k, 3p, 1p, 3k, and 2. The number of isolated microbes in aquaculturing pond (T-bd) is five and in post harvest pond (T-pp) is three.In T-bd samples, autotroph nitrifying microbes are 2(k), 2(p) and 3(p), but 1(p) and 3(k) as heterotroph nitrifying microbes. And in T-pp samples, autotroph nitrifying microbe is 3(p), except 2 and 3(k) as heterotroph nitrifying microbes. The rank of effectivness In nitrifying activity is 2k, 3p and 2p respectively.
Isolasi dan Produktivitas Bakteri Ureolitik dari Sedimen Muara Sungai Citarum Ambarsari, Hanies; Asriyani, Luftiara; Ridlo, Aflakhur
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 21 No. 2 (2020)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v21i2.3970

Abstract

ABSTRACTThis research carried out isolation of ureolytic bacteria taken from soil samples from the mangrove area of Muara Gembong, Citarum River. The aim was to characterize and to test the urease production activity of the ureolytic bacteria. The study was conducted at the BPPT Environmental Laboratory in Building 820 Geostech, Puspiptek Setu, South Tangerang City, Banten Province, from April until September 2019. The results showed that there were ureolytic bacterial isolates from soil samples taken. The productivity of ureolytic bacterial isolates was indicated by the increasing ammonia concentration and the increase of bacterial cell concentration supported by the pH and temperature factors per volume unit of 10 ml. The increase in ammonia concentration of the six isolates’ test media showed significant differences. The highest increase in ammonia concentration was 15.19 ppm produced by isolate K5A and the second highest was 14.10 ppm by isolate K7. Another productivity testing was performed by determining if there was an increase in the concentration of bacterial cells. Based on the analysis of variance, each isolates significantly affected the increase in bacterial cell concentration. The highest increase in bacterial cell concentration by 250.45×106 CFU/ml occurred in isolates K5A, while isolate K7 indicated the second-highest increase in cell concentration by 233.31×106 CFU/ml.Keywords: ureolytic bacteria, productivity, mangrove sediment, Citarum River EstuaryABSTRAK Penelitian ini melakukan isolasi bakteri ureolitik yang diambil dari sampel tanah dari daerah mangrove dari di Muara Gembong, Sungai Citarum. Tujuannya adalah untuk melakukan karakterisasi dan menguji aktivitas produksi urease terhadap isolat bakteri ureolitik yang ditemukan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Lingkungan BPPT di Gedung 820 Geostech, Puspiptek Setu, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten mulai bulan April sampai dengan September 2019. Enam isolat bakteri dapat diperoleh dari sampel tanah yang diambil. Produktivitas isolat bakteri ureolitik pada penelitian ini dapat ditandai dengan kenaikan konsentrasi amonia kenaikan konsentrasi sel bakteri yang didukung dengan faktor pH dan suhu per satuan volume 10 ml. Kenaikan konsentrasi amonia dari keenam media uji isolat menunjukkan perbedaan yang nyata. Produksi konsentrasi amonia tertinggi sebesar 15,19 ppm dihasilkan oleh isolat K5A dan tertinggi kedua sebesar 14,10 ppm oleh isolat K7. Untuk uji produktivitas juga dilakukan dengan melihat adanya kenaikan konsentrasi sel bakteri. Berdasarkan analisis variansi, masing-masing isolat berpengaruh nyata terhadap kenaikan konsentrasi sel bakteri. Kenaikan konsentrasi sel bakteri tertinggi sebesar 250,45×106  CFU/ml terjadi pada isolat bakteri K5A sedangkan isolat K7 menunjukkan kenaikan konsentrasi sel tertinggi kedua sebesar 233,31×106  CFU/ml.Kata kunci: bakteri ureolitik, produktivitas, sedimen mangrove, Muara Sungai Citarum
Deodorisasi Sludge Limbah Industri Makanan untuk Pakan Maggot BSF (Black Soldier Fly) dengan Teknik Biosorpsi Sulistia, Susi; Charlena; Ambarsari, Hanies
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 2 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i2.4837

Abstract

ABSTRACT Organic waste from food and beverage can be degraded by microbes. The sludge from food industries still contains nutrition such as carbohydrates, proteins, and fats. One attempt to process and utilize the sludge is to reuse it as the growth medium for Black Soldier Fly (BSF) maggot, which is known to have high nutritional value for fish or livestock feed. This research used ice cream industrial sludge as maggot feed. The problem of using the ice cream industrial sludge for maggot feed is the odour that pollutes the environment. Biosorption is a technique for deodorizing waste sludge using organic materials. This research was conducted to obtain the most effective ratio of biosorbents from fermented manure (PKN), compost (K), and calcium carbonate animal shells (Ca) to remove odours by reducing N-ammonia and sulfide in ice cream industrial sludge using biosorption techniques. The effect of biosorbent used for BSF (Black Soldier Fly) maggot feed on maggot growth was also observed. The most effective biosorbent composition in reducing odor, N-ammonia, and sulfide of the sludge was K:Ca:Sludge (1:1:3) with adsorption time of 48 hours and the percentage reduction of 85.0%. However, the number and size of maggot with PKN:K:Sludge (1:1:3) growth media were higher than K:Ca:Sludge (1:1:3). The ratio of PKN:K:Sludge (1:1:3) was proven to increase maggots' growth to provide benefits for farmers in increasing maggot production both in number and size. Keywords: Black Soldier Fly maggot, biosorbent, biosorption, organic waste, waste deodorization   ABSTRAK Limbah organik dari industri makanan dan minuman dapat didegradasi oleh mikroba. Sludge dari limbah industri makanan masih mengandung bahan-bahan nutrisi seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Salah satu usaha untuk mengolah dan memanfaatkan sludge tersebut adalah dengan menggunakannya kembali sebagai media pertumbuhan maggot Black Soldier Fly (BSF) yang diketahui sangat tinggi kandungan nutrisinya untuk bahan pakan ikan atau ternak. Penelitian ini menggunakan limbah organik dari industri es krim sebagai pakan maggot. Masalah yang ditimbulkan dari pemanfaatan limbah sludge industri es krim untuk pakan maggot adalah bau yang mengganggu dan mencemari lingkungan. Biosorpsi merupakan salah satu cara untuk menghilangkan bau (deodorisasi) pada limbah sludge. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan rasio biosorben pupuk kandang fermentasi (PKN), kompos (K) dan kalsium karbonat dari cangkang hewan (Ca) yang paling efektif dalam menghilangkan bau dengan menurunkan N-amonia dan sulfida pada limbah sludge industri es krim melalui teknik biosorpsi. Pengaruh biosorben yang digunakan untuk pakan maggot BSF juga diamati terhadap pertumbuhan maggot. Rasio K:Ca:Sludge (1:1:3) dengan waktu adsorpsi 48 jam merupakan rasio yang lebih efektif untuk menurunkan bau, N-amonia, dan sulfida pada sludge dengan presentase penurunan 85,0%. Akan tetapi, jumlah dan ukuran maggot hasil panen dengan media pertumbuhan PKN:K:Sludge (1:1:3) lebih besar dibandingkan dengan K:Ca:Sludge (1:1:3). Rasio PKN:K:Sludge (1:1:3) terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan maggot sehingga memberi manfaat bagi peternak dalam meningkatkan produksi maggot baik secara jumlah dan ukurannya. Kata kunci: maggot Black Soldier Fly, biosorben, biosorpsi, limbah organik, deodorisasi limbah
Studi Pemanfaatan Limbah Biomassa sebagai Raw Material Adsorben SiC dalam Penurunan Konsentrasi Amonia sebagai Parameter Bau dalam Air Limbah Agustiani, Tia; Saefumillah, Asep; Ambarsari, Hanies
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 22 No. 2 (2021)
Publisher : Center for Environmental Technology - Agency for Assessment and Application of Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jtl.v22i2.4838

Abstract

ABSTRACT Biomass as raw material is one solution that can be developed in the management of agricultural, plantation, and industrial waste. The utilization of biomass-derived from waste can help reduce pollution and environmental pollution. This research was conducted to make Silicon Carbide (SiC) adsorbent from wood biomass using Sengon sawdust as a source of carbon and non-wood biomass, namely coconut husk, as a source of silica. SiC adsorbent is applied for ammonium adsorption, which has implications on reducing ammonia gas from wastewater, reducing odor. The research methods included isolation of silica and carbon, the production of SiC adsorbent by magnesiothermic reduction, and the characterization of SiC adsorbents with XRD and SEM-EDX. Adsorption capacities of SiC to ammonium were determined according to SiO2:C adsorbent ratios (1:3 and 5:3), adsorbent mass variations, and ammonium concentrations in simulated wastewater using the spectrophotometric method. The results showed that SiC could be used as an adsorbent because there are pores on the surface structure. The optimum SiO2:C adsorbent ratio in adsorbing ammonium was 1:3 (SiC 136) with 45% adsorbed ammonium and an adsorption capacity of 0.47 mg/g. The optimum adsorbent mass in adsorbing ammonium was 0.1 g with 41.77% adsorbed ammonium. The optimum concentration of ammonium in simulated wastewater for ammonium adsorption was 20 mg/L with 46.25% adsorbed ammonium. The adsorption isotherm pattern during the ammonium adsorption process follows the Freundlich isotherm, which means that the adsorption process occurs physically. Keywords: adsorbent, adsorption, ammonia, biomass, coconut husk, SiC   ABSTRAK Biomassa sebagai raw material merupakan salah satu solusi yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan limbah hasil pertanian, perkebunan, dan industri. Pemanfaatan biomassa yang berasal dari limbah dapat membantu mengurangi tingkat polusi dan pencemaran lingkungan. Penelitian ini dilakukan untuk membuat adsorben Silikon Carbida (SiC) dari biomassa kayu yaitu memanfaatkan serbuk gergaji kayu Sengon sebagai sumber karbon dan biomassa non kayu yaitu sabut kelapa sebagai sumber silika. Adsorben SiC diaplikasikan dalam penjerapan amonium yang berimplikasi pada potensi penurunan gas amonia dari air limbah sehingga adsorben SiC berpotensi mengurangi bau dalam air limbah. Metode penelitian meliputi isolasi silika, isolasi karbon, pembuatan adsorben SiC secara reduksi magnesiotermik dan karakterisasi adsorben SiC dengan XRD dan SEM-EDX. Penentuan daya adsorpsi SiC sebagai adsorben terhadap variasi rasio adsorben SiO2:C (1:3 dan 5:3), variasi massa adsorben, variasi konsentrasi limbah simulasi menggunakan metode spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SiC dapat digunakan sebagai adsorben karena terdapat pori-pori pada struktur permukaan. Variasi rasio adsorben SiO2:C optimum dalam mengadsorpsi amonium ialah SiC 136 dengan amonium teradsorpsi sebanyak 45% dan kapasitas adsorpsi sebesar 0,47 mg/g. Massa adsorben optimum dalam mengadsorpsi amonium ialah 0,1 g dengan amonium teradsorpsi 41,77%. Konsentrasi optimum limbah simulasi dalam adsorpsi amonium 20 mg/L dengan amonium teradsorpsi 46,25%. Pola isoterm adsorpsi selama proses adsorpsi amonium mengikuti isoterm Freundlich, yang berarti proses adsorpsi cenderung terjadi secara fisika. Kata kunci: adsorben, adsorpsi, amonia, biomassa, sabut kelapa, SiC