Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Production of Yoghurt Shiitake (Yoshitake) as a Dairy-Based Nutraceutical Food Indratininingsih .; Widodo .; Siti Isrima Oktavia Salasia; Endang Wahyuni
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 15 No. 1 (2004): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3528.708 KB)

Abstract

The objective of this project was to produce shiitake-containing yoghurts as nutraceutical food. Preliminary analysis was conducted to measure nutrient contents of shiitake followed by evaluation of shiitake’s addition on the growth of yoghurt bacteria and probiotics. Yoghurt fermentation was conducted at 420C until pH reached 4.5. Culture starter used were Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophillus and Lactobacillus casei with proportion of 1:1:1. During fermentation, acidification rate, pH, titratable acidity, total of yoghurt bacteria, total of probiotics, and concentration of lentinan in the products were measured. The result showed that shiitake powder contains crude protein (22.35%), starch (16,66%), fat (11,56%), ash (7.73%), dry matter (87.57%), dietary fibre (33.35%) and unsoluble dietary fibre (5.45%). The result also showed that supplementation of 4% shiitake powder support the growth of probiotics L. casei and resulting in growth optimum at 1.26 x 109 cells/ml and 2.86 x 109 cells/ml after incubation of 6 and 10 hours respectively. Time needed to reach pH 4.5 of yoghurt supplemented with 4% shiitake powder was achieved after 7 hours of incubation as compared to 8 hours for the unsupplemented one. Total number of probiotics after fermentation of yoghurt with 4% shiitake was higher (7.16 x 109 cells/ml) as compared to the control at 5.3 x 109 cells/ml. Lentinan analysis in yoghurt showed that supplementation 4% of shiitake powder resulted in the highest lentinan accumulation at 22.8% compared with 2.3% for control and 2.9% for 2% shiitake supplementation. It can be concluded that yoghurt shiitake could be applied as nutrient food due to its high nutritious and lentinan content in the product. Key words : Yoghurt, shiitake, nutraceutical food
KUALITAS EGGURT KERING DENGAN BAHAN DASAR SUSU DAN BERBAGAI MACAM BIJI-BIJIAN Indratiningsih (Indratiningsih); Nurliyani (Nurliyani); Rihastuti (Rihastuti); Endang Wahyuni; Widodo (Widodo)
Buletin Peternakan Vol 35, No 2 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (2) Juni 2011
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v35i2.597

Abstract

This study aimed to determine the chemical, sensory, and microbiological quality of eggurt that was mixed with various grains of sesame, green bean, and black soybean. The addition of grains starch was intended to improve thechemical and sensory quality, as well as to maintain the viability of lactic acid bacteria (LAB) during drying. Eggurt was prepared by fermented milk and albumen inoculated with 5% Lactobacillus bulgaricus and Streptococcusthermophillus (1:1) and incubated at 42°C to form a curd or the pH reached 4.5. Milk and albumen were pasteurized separately. Milk was pasteurized at temperature of 85°C for 30 minutes, while the albumen was pasteurized attemperature of 63°C for 5 minutes. Dried eggurt was produced by mixing of eggurt and blended grain with a ratio of 2:1, and then dried at 50oC for 16 hours. After dried, the eggurt products were then sampled for chemical, sensory andmicrobiological analysis. The results showed that eggurt mixed with sesame seeds had a highest score on texture (47.50), aceptability (43.06) and total lactic acid bacteria (5.67 log CFU/g) than eggurt mixed with black soybeans andgreen beans, while eggurt mixed with black soybean had a highest score (P<0.01) on acidity (43.85), fat (9.13%) and protein content (33.06%). There was no different effect between grain sources on degree of sweetness, lactoseconcentration, pH and acidity levels. It can be concluded that eggurt-sesame has the best sensory and microbiological quality, while the best chemical quality was obtained from eggurt-black soybeans.(Keywords: Quality, Dried eggurt, Milk, Sesame, Green beans, Black soybeans)
PENGARUH KEPEMILIKAN MANAJERIAL, UKURAN PERUSAHAAN, PROFITABILITAS, KEBIJAKAN DIVIDEN, KEPUTUSAN INVESTASI, STRUKTUR MODAL DAN INTELLECTUAL CAPITAL TERHADAP NILAI PERUSAHAAN PADA PERUSAHAAN KELUARGA YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2016 – 201 Endang Wahyuni; Endang Purwaningsih
Media Akuntansi Vol 33 No 01 (2021): Januari - Juni 2021
Publisher : STIE St. Pignatelli Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47202/mak.v33i01.115

Abstract

This study aims to provide empirical evidence regarding the effect of managerial ownership, firm size, profitability, dividend policy, investment decisions, capital structure and intellectual capital on firm value. The population of this study is family companies listed on the Indonesia Stock Exchange during 2016-2019. The sample of this research is 128 samples. Sampling using purposive sampling method, namely determining the sample from the existing population based on the criteria desired by the researcher. This study uses multiple linear regression to analyze the data. The results of this study indicate managerial ownership has no effect on firm value, firm size has no effect on firm value, profitability has a significant positive effect on firm value, dividend policy has no effect on firm value, investment decisions have a significant positive effect on firm value, capital structure has a significant negative effect on firm value, and intellectual capital has no effect on firm value.
Kedudukan Hadis tentang Hewan Amfibi Endang Wahyuni
Holistic al-Hadis Vol 5 No 1 (2019): June 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/holistic.v5i1.3233

Abstract

Suatu benda atau perbuatan tidak lepas dari empat perkara, yaitu halal, haram, makruh, dan mubah. Seluruh hal-hal yang baik secara mutlak oleh Allah dibolehkan untuk memakannya. Sedangkan untuk sesuatu yang haram kita harus menjauhkannya. Banyak makanan atau minuman yang masuk dalam kategori halal maupun haram. Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah adalah: 1). Bagaimana kualitas hadis tentang hewan amfibi?, 2). Bagaimana pandangan ulama hadis tentang hewan amfibi?, 3). Bagaimana pandangan ulama fiqih tentang hewan amfibi? Adapun tujuan penelitiannya adalah: 1). Mengetahui kualitas hadis tentang hewan amfibi. 2). Untuk mengetahui hukum mengkonsumsi hewan amfibi dalam pandangan ulama hadis, 3). Untuk mengetahui hukum mengkonsumsi hewan amfibi dalam pandangan ulama fiqih. Metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode penelitian kepustakaan (library research) yaitu mengumpulkan data dan informasi dengan mengumpulkan buku-buku, selanjutnya data di analisa dengan menggunakan metode takhrij hadis, yaitu meneliti hadis dengan penelusuran hadis dari berbagai kitab sebagai sumber aslinya untuk mengetahui keaslian sanad. Hasil dari penelitian ini, sebagai berikut: Hadis tentang larangan membunuh katak termasuk dalam kategori hadis shahih dan dapat dijadikan sebagai hujjah. Menurut pandangan ulama hadis bahwasannya katak haram untuk dikonsumsi dan dijadikan obat karena membunuhnya saja tidak boleh apalagi menjadikannya sebagai obat. Dan menurut pandangan ulama fiqih mengkonsumsi hewan amfibi termasuk hewan yang khabais (menjijikan).
INOVASI PAKET WISATA DI DWH BILEBANTE DAN DWH SESAOT Supardi; Endang Wahyuni; Dayu Utami
Jurnal Pendidikan dan Perhotelan (JPP) Vol 1 No 2 (2021): JURNAL PENDIDIKAN DAN PERHOTELAN
Publisher : Family Welfare Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.895 KB) | DOI: 10.21009/jppv1i2.02

Abstract

Desa Wisata Hijau Bilebante Lombok Tengah dan Desa Wisata Hijau Sesaot adalah dua desa wisata yang memiliki sejarah yang sama dalam membangun dan mengembangkan desa wisata. DWH Bilebante pertama kali diideasi pembangunannya oleh koperasi Putri Renjani, sedangkan DWH Sesaot di ideasi dan dikembangkan pertama kali oleh Koperasi Sugeh Engger Sesaot, dimana dalam Koperasi tersebut terdapat unit usaha yaitu DWH yang bertugas untuk mengembangkan usaha pariwisata dalam rangka meningkatkan profit koperasi. DWH tersebut pada tahun 2014 difasilitasi oleh GIZ. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana inovasi paket wisata DWH tersebut yang berarti penelitian ini menggambarkan bagaiman proses yang dilalui dalam melakukan inovasi paket wisata dan perencanaan produk yang dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Acuan inovasi bersumber dari UU No 19 yaitu inovasi merupakan suatu kegiatan penelitian, pengembangan, dan atau perekayasaan yang dilakukan untuk pengembangan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau pun cara baru, dalam produk ataupun proses produksinya maka penelitian ini memandang proses dalam Research & Devlopment yang dikembangkan oleh Sugiono (2008:40) dapat digunakan untuk menggambarkan bagaimana inovasi paket wisata yang dilakukan oleh kedua DWH, yang dimulai dari menemukan potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain, revisi desain, ujicoba produk, revisi produk, ujicoba produk, potensi dan masalah, produksi masal (pemasaran). Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa DWH tersebut sudah melakukan berbagai inovasi paket wisata namun belum menerapkan untuk berinovasi produk paket wisata, mereka melakukan loncatan proses tampa melalui desain produk yang dibuat dalam BMC, sehingga produk yang dihasilkan belum desirability, feasibility, viability.
Urgensi Pengendalian Untuk Penataan Ruang Berkualitas di Provinsi Lampung Endang Wahyuni; Ratna Widyawati; Trisya Septiana
Seminar Nasional Insinyur Profesional (SNIP) Vol. 3 No. 1 (2023): Prosiding SNIP Vol.3 No.1
Publisher : Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/snip.v3i1.348

Abstract

Penyelenggaraan penataan ruang di Provinsi Lampung berpedoman pada Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Lampung Nomor 12 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Perda Nomor 1 Tahun 2010 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Lampung Tahun 2009-2029. Perda tersebut mengatur Rencana Struktur dan Rencana Pola Ruang, Arahan Pemanfaatan Ruang, Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang serta Arahan Perizinan, Insentif dan Disinsentif. Berdasarkan analisis deskriptif dengan data sekunder berupa kondisi tutupan lahan eksisting lokasi yang diolah menggunakan citra satelit, batas administrasi dan rencana pola ruang, selanjutnya dilakukan analisis kesesuaian antara pemanfaatan ruang dengan rekomendasi pemberian izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan oleh Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung. Analisis spasial menggunakan Geographic Information System dengan teknik overlay peta. Hasil analisis menunjukkan dari 397 izin rekomendasi pemanfaatan ruang selama tahun 2020-2021, terdapat 20 kegiatan (5,23%) terindikasi melanggar ketentuan pola ruang dalam RTRW Provinsi Lampung, atau lokasi kegiatan berada di luar zona peruntukannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa Perda Provinsi Lampung Nomor 12 Tahun 2019 belum sepenuhnya menjadi acuan dalam pemanfaatan ruang. Kondisi ini terjadi karena belum adanya instrumen mekanisme pengendalian penataan ruang, sehingga dibutuhkan suatu instrumen mekanisme pengendalian penataan ruang yang terukur, berkualitas dan memiliki legalitas untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.