Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PROFIL DAN KARAKTER SOSIAL EKONOMI PETANI TANAMAN PANGAN DI BOJONEGORO Andri, Kuntoro Boga
9-772301-994005
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Petani Bojonegoro saat ini didorong untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dengan cara optimalisasi pertanian, revitalisasi agribisnis, diversifikasi pertanian dan fasilitasi dari pemerintah daerah. Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui profil petani di Kabupaten Bojonegoro yang berisi tentang kondisi petani, kepemilikan lahan, pendapatan dan potensi yang dimiliki, serta menganalisis faktor-faktor penentu yang mempengaruhi perilaku petani dan kondisi sosial ekonomi mereka. Penelitian dilaksanakan dengan memahami dan mengelola data sekunder maupun data primer untuk kemudian dianalisis deskriptif dan finansial untuk mengetahui profil petani dalam usaha bidang petanian, sehingga mampu memberikan solusi dalam upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Hasil analisa usahatani menggambarkan sebagian besar komoditas tanaman pangan yang diusahakan oleh petani di Kabupaten Bojonegoro sudah memberikan tingkat keuntungan yang sangat memuaskan.  Meski demikian masih diperlukan optimalisasi penerapan teknologi dan input pertanian agar  potensi  unggulan dapat dimaksimalkan dengan intervensi  berbagai  program meliputi  keseluruhan  proses  mulai  dari  on  farm/ produksi/ hulu  sampai  off  farm/industri/ hilir dan permodalan usahatani.  Kata kunci: Petani Kecil, Tanaman Pangan, Intensifikasi, BojonegoroABSTRACTFarmers in Bojonegoro are currently supported to improve their welfare by means of optimization of agriculture, revitalize agribusiness, agricultural diversification and facilitation of the local government. This study aims to determine the profile of farmers in Bojonegoro which contains the conditions of farmers, land ownership , revenue and potential, and to analyze the determinants that influence the behavior of farmers and their socio-economic conditions. The experiment was conducted with the understanding and managing secondary data and primary data for the analysis to determine the financial and descriptive profile of farmers in the business of agricultural fields, eventually to be able to provide solutions to increase the income and welfare of farmers. It required the optimization of  the technology application and agricultural inputs in order to maximize the high potential commodity intervention programs which covering the entire process from on farm / production / upstream to off farm / industrial / downstream farming and capital. The results of the farming analysis was concluded that  most of  food crops which cultivated by the farmers in the Bojnegoro district had already provided a very satisfactory level of profit.Keywords : Smallholders, Food, Crops , Intensification , Bojonegoro
PROFIL DAN KARAKTER SOSIAL EKONOMI PETANI TANAMAN PANGAN DIBOJONEGORO Andri, Kuntoro Boga
Agriekonomika Vol 3, No 2: Oktober 2014
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPetani Bojonegoro saat ini didorong untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dengan cara optimalisasi pertanian, revitalisasi agribisnis, diversifikasi pertanian dan fasilitasi dari pemerintah daerah. Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui profil petani di Kabupaten Bojonegoro yang berisi tentang kondisi petani, kepemilikan lahan, pendapatan dan potensi yang dimiliki, serta menganalisis faktor-faktor penentu yang mempengaruhi perilaku petani dan kondisi sosial ekonomi mereka. Penelitian dilaksanakan dengan memahami dan mengelola data sekunder maupun data primer untuk kemudian dianalisis deskriptif dan finansial untuk mengetahui profil petani dalam usaha bidang petanian, sehingga mampu memberikan solusi dalam upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Hasil analisa usahatani menggambarkan sebagian besar komoditas tanaman pangan yang diusahakan oleh petani di Kabupaten Bojonegoro sudah memberikan tingkat keuntungan yang sangat memuaskan. Meski demikian masih diperlukan optimalisasi penerapan teknologi dan input pertanian agar  potensi  unggulan dapat dimaksimalkan dengan intervensi  berbagai  program meliputi  keseluruhan  proses  mulai  dari  on  farm/ produksi/ hulu  sampai  off  farm/industri/ hilir dan permodalan usahatani.  Kata kunci: Petani Kecil, Tanaman Pangan, Intensifikasi, BojonegoroABSTRACTFarmers in Bojonegoro are currently supported to improve their welfare by means of optimization of agriculture, revitalize agribusiness, agricultural diversification and facilitation of the local government. This study aims to determine the profile of farmers in Bojonegoro which contains the conditions of farmers, land ownership , revenue and potential, and to analyze the determinants that influence the behavior of farmers and their socio-economic conditions. The experiment was conducted with the understanding and managing secondary data and primary data for the analysis to determine the financial and descriptive profile of farmers in the business of agricultural fields, eventuallyto be able to provide solutions to increase the income and welfare of farmers. It required the optimization of  the technology application and agricultural inputs in order to maximize the high potential commodity intervention programs which covering the entire process from on farm / production / upstream to off farm / industrial / downstream farming and capital. The results of the farming analysis was concluded that  most of  food crops which cultivated by the farmers in the Bojnegoro district had already provided a very satisfactory level of profit.Keywords: Smallholders, Food, Crops , Intensification , Bojonegoro
Studi Kelayakan Pengembangan Usaha Tani Tebu di Kabupaten Sampang Andri, Kuntoro Boga; Riajaya, Prima Diarini; Kadarwati, Fitriningdyah Tri; Santoso, Budi; Nugraheni, Suminar Diyah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 7, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam mendukung pencapaian swasembada gula, Pulau Madura menjadi salah satu sasaran lokasi pengembangan tebu. Di Kabupaten Sampang pengembangan usaha tani tebu dimulai sejak tahun 2009. Program inididukung oleh masuknya perusahaan perkebunan serta bantuan penganggaran dari APBN. Penelitian bertujuan mengetahui kelayakan secara sosial dan ekonomi serta potensi pengembangan usaha tani tebu ke depan dan untuk mengetahui peluang dari usaha tani tebu ini bagi masyarakat di Pulau Madura secara umum.  Penelitian dilaksanakan mulai September sampai Desember 2013 di lokasi-lokasi kecamatan pengembangan tebu Kabupaten Sampang. Informasi dikumpulkan dengan memanfaatkan data sekunder dan data primer melalui wawancara dengan individu maupun grup/kelompok masyarakat, dinas/institusi terkait. Data dianalisa menggunakan analisis deskriptif untuk memperoleh gambaran kondisi yang dihadapi dan pemecahan dari masalah yang dihadapi di wilayah yang diamati. Analisis aspek usaha tani meliputi data input-output komoditas existing dengan analisis finansial. Untuk melihat kelayakan usaha tani digunakan R/C Ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kelayakan usaha tani tebu adalah kepemilikan lahan, insentif rangsangan dana bantuan sosial (Bansos) APBN dan subsidi pengembangan Tebu Madura (Dinas Perkebunan Provinsi), serta kerja sama kemitraaan dengan pabrik gula (PTPN X) yang menawarkan bantuan modal, subsidi saprotan, alat/mesin pertanian, serta jaminan pasar. Kemitraan yang telah ada antara PTPN X dengan petani tebu di Sampang dapat dikategorikan dalam tipe kemitraan subkontrak dan layak diteruskan.  Skema yang sudah diterapkan dalam kontrak ini adalah pola kemitraan antara pemerintah daerah, swasta (PTPN X), dan petani tebu. Usaha tani tebu dengan R/C ratio sebesar 1,05 dan 1,68 dan pendapatan bersih Rp1.358.920,00/ha dan Rp14.024.360,00/ha pada usaha tani tebu awal dan tebu kepras I, membuktikan usaha tani tebu di lokasi penelitian sangat layak untuk diusahakan dan menguntungkan. Selain peluang bagi masyarakat memanfaatkan potensi lahan tidur dan sub-optimal untuk pengembangan usaha tani tebu yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di Kabupaten Sampang. In order to achieve self-sufficient in sugar consumption, the Madura Island became one of the targets of sugar cane development area. In Sampang Regency, the development of sugar cane agribusiness have been started since 2009. This program was supported by the companies as well as financial supported from national budget (APBN). The study aims to determine the feasibility of social and economic as well as the potentialfor future development of sugar cane farming and to understand the opportunities of the farming for community in Madura Island on the whole. The study was conducted from September to December 2013 at 14 districts of sugar cane developing area in Sampang. Information was collected by using secondary data and primary data through interviews with individual and group/community groups, agencies/institutions concerned.  Data were analyzed using descriptive analysis to obtain a description of the conditions encountered and the solving of problems encountered in the observed region. The analysis covers aspects of farm commodity input-output data with the existing financial analysis. To look at the feasibility of farming used the R/C ratio. The results of the study showed that some factors which influenced the farmer to plant the cane were: land ownership; the stimuli of incentives from social grants (Bansos) from APBN and subsidy from projectdevelopment (from Provincial Agricultural office); the cooperation of partners through sugar company (PTPN X) which offered grants, input subsidy, equipments/agriculture machinery as well as market assurance. The partnership among PTPN X and the sugar cane farmers in Sampang was feasible and categorized a subcontract partnership type. Meanwhile, the scheme that had been implemented in this type of contract was thepartnership pattern between local government, private (PTPN X) and the sugar cane farmers. The sugar cane farming with R/C ratio of 1.05 and 1.68, or net income recieved of Rp1,358,920/ha and Rp14,024,360/ha atthe first harvested and second period harvested, proving that the farming in the study area is feasible to carry on and profitable. In addition, it is the opportunities to develop the potential of the unused and suboptialland for sugar cane agribusiness development that provides economic benefits to the community in Sampang Regency.
POTENSI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS BUNGA ANGGREK DI KOTA BATU JAWA TIMUR Andri, Kuntoro Boga; Tumbuan, Willem J.F. Alfa
Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum (Ekonomi,Sosial,Budaya, dan Hukum) Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Agribisnis bunga anggrek tumbuh pesat beberapa tahun terakhir di sentra produksi tanaman hias Jawa Timur, yang salah satunya adalah di Kota Batu. Kawasan ini berada pada daerah pegunungan dengan ketinggian di atas 800 m dpl. Penelitian bertujuan mendapatkan informasi dan analisis mendalam mengenai aspek sosial ekonomi dan potensi agribisnis anggrek di Kota Batu, yang merupakan wilayah sentra pengembangan. Penelitian dilakukan Agustus 2011 sampai Januari 2012 dengan menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD), survey lapang, kuesioner dan pengumpulan data sekunder dari para petani, pelaku usaha, serta steakholder lainnya di lokasi studi. Hasil penelitian menggambarkan potensi ekonomi yang besar dari agribisnis bunga anggrek ini. Potensi besar tersebut, perlu diikuti perbaikan dalam sistem budidaya, manajemen kelembagaan, pemasaran dan pengelolaan bisnis secara umum. Sejauh ini pemasaran bunga anggrek dari hasil produksi masih mengandalkan pasar lokal. Secara teknis, lokasi sentra Kota Batu cocok untuk pengembangan budidaya anggrek karena agroekologi yang sesuai. Dari aspek ekonomi dan sosial, pengembangan agribisnis bunga ini sangat bermanfaat bagi masyarakat dan perekonomian daerah, karena banyak membuka kesempatan kerja dan berusaha. Penelitian ini menunjukkan secara finansial usaha tani anggrek memberikan keuntungkan, di mana dalam satu musim tanam memberikan profitabilitas (ROI) 70% dari dana yang diinvestasikan. Nilai tambah sepanjang rantai pemasaran juga memperlihatkan keuntungan yang layak dan adil bagi para pelaku usaha (petani dan pedagang), sehingga usaha komoditas ini mempunyai prospek yang baik untuk terus diusahakan.Kata Kunci: bunga anggrek, agribisnis tanaman hias, analisis rantai nilai, Kota Batu
ANALISIS USAHATANI DAN PEMASARAN PETANI HORTIKULTURA DI BOJONEGORO Andri, Kuntoro Boga; Tumbuan, Willem J.F. Alfa
Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum (Ekonomi,Sosial,Budaya, dan Hukum) Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Petani hortikultura di Bojonegoro saat ini didorong untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dengan cara optimalisasi pertanian, revitalisasi agribisnis, diversifikasi pertanian dan fasilitasi dari pemerintah daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil usahatani dan pemasaran petani hortikultura di Kabupaten Bojonegoro. Penelitian dilaksanakan dengan memahami dan mengelola data sekunder maupun data primer untuk kemudian dianalisis deskriptif dan finansial untuk mengetahui profil petani hortikultura, sehingga mampu memberikan solusi dalam upaya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka. Perlu optimalisasi penerapan teknologi dan input pertanian agar potensi unggulan  hortikultura dapat dimaksimalkan dengan intervensi berbagai program meliputi keseluruhan proses mulai dari on farm/ produksi/ hulu sampai off farm/industri/ pemasaran dan permodalan usahatani. Hasil analisa usahatani menggambarkan sebagian besar komoditas hortikultura yang diusahakan oleh petani di Kabupaten Bojonegoro seperti cabe, bawang merah, belimbing, jambu biji dan lain-lain sudah memberikan tingkat keuntungan yang sangat memuaskan.Kata kunci: petani kecil, komoditas hortikultura, intensifikasi, Bojonegoro
TINJAUAN PRODUKSI DAN KONSUMSI DAGING SAPI PADA ERA OTONOMI KHUSUS DI PROVINSI PAPUA Wamaer, Demas; Andri, Kuntoro Boga
Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum (Ekonomi,Sosial,Budaya, dan Hukum) Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat produksi dan konsumsi daging sapi-kerbau, (2) menetapkan langkah-langkah strategis bagi implementasi kebijakan swasembada daging sapi - kerbau dan (3) mempelajari upaya penanggulangan gizi buruk melalui pengembangan ternak sapi di Provinsi Papua. Menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui survey yang dilakukan melalui pengumpulan data sekunder, wawancara dengan pengambil kebijakan (kepala UPTD terkait) dan tokoh masyarakat adat, serta pengumpulan data primer dengan kuisioner terstruktur melibatkan responden yang representatif pada tiap lokasi terpilih (kecamatan atau desa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat produksi dan konsumsi daging sapi pada masyarakat umum secara tidak langsung mengalami peningkatan, hal itu terlihat dari ketersediaan panganasal ternak daging sapi. Walaupun jumlah populasi, pemotongan dan ketersediaan daging mengalami peningkatan, namun konsumen tidak menunjukkan lonjakan konsumsi daging sapi pada hari-hari biasa, kecuali pada hari raya keagamaan dan hari besar lainnya.Kata kunci: Produksi dan Konsumsi Daging Sapi, Otonomi khusus Papua
Efektivitas Metode Penyuluhan dalam Percepatan Transfer Teknologi Padi Di Jawa Timur Purnomo, Eddy; Pangarsa, Nugraha; Andri, Kuntoro Boga; Saeri, M.
JINOTEP (Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran): Kajian dan Riset Dalam Teknologi Pembelajaran Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.464 KB) | DOI: 10.17977/um031v1i22015p191

Abstract

Abstrak: Pemahaman mendalam terkait proses interaksi dan komunikasi yang terjadi dalam suatu struktur sosial petani, memudahkan pelaksanaan penyuluhan yang efektif dan efisien baik dari segi waktu maupun tenaga. Tujuan dari pengkajian ini adalah mengidentifikasi dan merumuskan pola jaringan sosial yang ada di masyarakat petani untuk komoditas padi spesifik kabupaten/etnis, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dalam percepatan transfer teknologi padi di dalam jaringan sosial petani, mengidentifikasi media dan metode penyuluhan yang relatif paling disenangi oleh pengguna dalam jaringan sosial dan merumuskan strategi penyuluhan PTT Padi. Pengkajian dilaksanakan di 3 kabupaten di Jawa Timur yang mewakili sosial budaya/etnis. Metode yang digunakan dalam pengkajian ini adalah dengan pendekatan sosiometri. Populasi dan sampel yang menjadi objek kajian merupakan pihak/pelaku yang terdedah oleh informasi PTT Padi Sawah. Hasil analisis menunjukkan bahwa hand phone (HP) dan alat transportasi (motor/sepeda) merupakan sarana komunikasi yang diperlukan untuk mempererat dan mempercepat komunikasi dalam jaringan komunitas. Upaya yang sering dilakukan, agar inovasi teknologi cepat sampai pada anggota jaringan, adalah melakukan pertemuan tatap muka dan kunjungan, media penyuluhan yang paling disukai anggota jaringan komunitas untuk transfer inovasi teknologi adalah media televise, serta brosur/buku saku dan metode penyuluhan yang dinilai paling efektif adalah sekolah lapang, temu lapang dan demplot. Pola Jaringan Komunikasi di Kabupaten Tuban, pola interaksi yang terbentuk cenderung terdispersi pada jalur interaksi yang relatif panjang. Untuk Pola jaringan komunikasi hasil pengkajian di Kabupaten Trenggalek menunjukkan bahwa pola komunikasi antar individu petani bersifat lebih teratur, sedangkan pola jaringan komunikasi di Kabupaten Jember, bahwa struktur komunikasinya menunjukkan multi saluran. Hal ini ditandai dimana dari tiga level tersebut interaksi timbal balik dapat terjadi tanpa menganut siapa yang menjadi tokoh sentralnya.Abstract: In-depth understanding related to the interaction and communication process that occurs in a social structure of farmers facilitates the implementation of effective and efficient counseling both in terms of time and energy. The purpose of this study is to identify and formulate the existing social network patterns in farmer communities for district / ethnic-specific rice commodities, to know the factors that influence the acceleration of rice technology transfer in farmers' social networks, identify the media and the most favored extension methods by users in social networks and formulating rice PTT extension strategies. The assessment was carried out in 3 districts in East Java that represented social culture/ethnicity. The method used in this study is a sociometric approach. The population and sample that are the object of study are the parties/actors who are exposed to the information on PTT Paddy Fields. The results of the analysis show that handphones (mobile phones) and transportation equipment (motorbikes/bicycles) are the means of communication needed to strengthen and accelerate communication in the community network. Efforts that are often made, so that technological innovation will quickly reach network members, are conducting face-to-face meetings and visits, the most popular counseling media for community network members to transfer technological innovations is television media, as well as brochures/pocketbooks and extension methods that are considered the most effective,  is a field school, field meeting, and demonstration plot. Communication Network Patterns in Tuban Regency, the interaction patterns formed tend to be dispersed on relatively long interaction pathways. The pattern of the communication network as a result of the assessment in Trenggalek Regency shows that the communication pattern between individual farmers is more regular, while the communication network pattern in Jember Regency shows that the communication structure shows multiple channels. This is marked wherefrom these three levels reciprocal interaction can occur without adhering to who is the central figure.
Konsep Pendidikan Muatan Lokal Kecakapan Hidup Berbasis Pertanian Melalui Kebun Sayur Sekolah Andri, Kuntoro Boga
JINOTEP (Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran): Kajian dan Riset Dalam Teknologi Pembelajaran Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.237 KB) | DOI: 10.17977/um031v1i12014p031

Abstract

Abstrak: Implementasi Muatan Lokal (Mulok) kecakapan hidup (lifeskill) dalam pembelajaran di sekolah sangat penting untuk menciptakan sumber daya manusia yang bermutu guna menjawab tantangan dimasa yang akan datang. Fakta menunjukkan tingkat konsumsi sayur penduduk Indonesia masih di bawah standar kecukupan dari yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO yaitu minimal sebesar 200g/kapita/hari. Sebagai perbandingan, tingkat konsumsi sayur di Thailand ialah 300 kg/kapita/tahun. Negara tetangga yang tingkat konsumsi lebih tinggi dari Indonesia ialah Singapura, yang mengkonsumsi 120 kg/kapita/tahun, kemudian Cina, mengkonsumsi 270 kg/kapita/tahun, dan Kamboja yang mengkonsumsi 109 kg/kapita/tahun. Selain itu konsumsi sayuran perlu ditingkatkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras. Pengkajian penerapan kurikulum kecakapan hidup ini dilakukan dalam rangka mempromosikan peningkatan konsumsi sayur bagi siswa melalui model kebun sayur sekolah. Kebun sayuran sekolah dalam kegiatan ini juga dirancang untuk meningkatkan ketersediaan sayuran bagi konsumsi keluarga. Kebun diatur sedemikian rupa sehingga sayuran dapat dipanen hampir setiap hari dan dirancang menggunakan luas lahan yang kecil karena kebanyakan keluarga di Indonesia tidak memiliki halaman yang luas. Siswa terlibat dalam pemeliharaan tanaman sayuran sebagai latihan bercocok tanam sayur. Setiap panen sayuran direkap dan kandungan gizinya dihitung. Kedepan, perlu penerapan Standar Operasional Presedur (SOP) pelaksanaan kegiatan ini agar dapat berhasil dan mencapai tujuan dari pelaksanaan kurikulum ini.Abstract: Implementation of Local Content (Mulok) in life skills (lifeskill) in learning in schools is very important to create quality human resources to answer challenges in the future. The fact is that the level of vegetable consumption of the Indonesian population is still below the standard of the adequacy of those recommended by the World Health Organization (WHO ie a minimum of 200g /capita/day. For comparison, the level of vegetable consumption in Thailand is 300 kg/capita/ year. higher consumption from Indonesia is Singapore, which consumes 120 kg/capita/ year, then China, consumes 270 kg /capita/year, and Cambodia consumes 109 kg/capita/ year, and vegetable consumption needs to be increased to reduce dependence on rice The assessment of the application of the Life Skills curriculum is carried out in order to promote increased vegetable consumption for students through the school vegetable garden model. The school vegetable garden in this activity is also designed to increase the availability of vegetables for family consumption. The gardens are arranged so that vegetables can be harvested almost every day and designed using the land area small because most families in Indonesia do not have a large yard. Students are involved in the maintenance of vegetable plants as a vegetable farming exercise. Every vegetable harvest is recapitulated and the nutritional content is calculated. In the future, it is necessary to implement the Standard Operating Procedure (SOP) for the implementation of this activity in order to succeed and achieve the objectives of the implementation of this curriculum.