Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JINOTEP (Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran): Kajian dan Riset Dalam Teknologi Pembelajaran

Efektivitas Metode Penyuluhan dalam Percepatan Transfer Teknologi Padi Di Jawa Timur Purnomo, Eddy; Pangarsa, Nugraha; Andri, Kuntoro Boga; Saeri, M.
JINOTEP (Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran): Kajian dan Riset Dalam Teknologi Pembelajaran Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.464 KB) | DOI: 10.17977/um031v1i22015p191

Abstract

Abstrak: Pemahaman mendalam terkait proses interaksi dan komunikasi yang terjadi dalam suatu struktur sosial petani, memudahkan pelaksanaan penyuluhan yang efektif dan efisien baik dari segi waktu maupun tenaga. Tujuan dari pengkajian ini adalah mengidentifikasi dan merumuskan pola jaringan sosial yang ada di masyarakat petani untuk komoditas padi spesifik kabupaten/etnis, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dalam percepatan transfer teknologi padi di dalam jaringan sosial petani, mengidentifikasi media dan metode penyuluhan yang relatif paling disenangi oleh pengguna dalam jaringan sosial dan merumuskan strategi penyuluhan PTT Padi. Pengkajian dilaksanakan di 3 kabupaten di Jawa Timur yang mewakili sosial budaya/etnis. Metode yang digunakan dalam pengkajian ini adalah dengan pendekatan sosiometri. Populasi dan sampel yang menjadi objek kajian merupakan pihak/pelaku yang terdedah oleh informasi PTT Padi Sawah. Hasil analisis menunjukkan bahwa hand phone (HP) dan alat transportasi (motor/sepeda) merupakan sarana komunikasi yang diperlukan untuk mempererat dan mempercepat komunikasi dalam jaringan komunitas. Upaya yang sering dilakukan, agar inovasi teknologi cepat sampai pada anggota jaringan, adalah melakukan pertemuan tatap muka dan kunjungan, media penyuluhan yang paling disukai anggota jaringan komunitas untuk transfer inovasi teknologi adalah media televise, serta brosur/buku saku dan metode penyuluhan yang dinilai paling efektif adalah sekolah lapang, temu lapang dan demplot. Pola Jaringan Komunikasi di Kabupaten Tuban, pola interaksi yang terbentuk cenderung terdispersi pada jalur interaksi yang relatif panjang. Untuk Pola jaringan komunikasi hasil pengkajian di Kabupaten Trenggalek menunjukkan bahwa pola komunikasi antar individu petani bersifat lebih teratur, sedangkan pola jaringan komunikasi di Kabupaten Jember, bahwa struktur komunikasinya menunjukkan multi saluran. Hal ini ditandai dimana dari tiga level tersebut interaksi timbal balik dapat terjadi tanpa menganut siapa yang menjadi tokoh sentralnya.Abstract: In-depth understanding related to the interaction and communication process that occurs in a social structure of farmers facilitates the implementation of effective and efficient counseling both in terms of time and energy. The purpose of this study is to identify and formulate the existing social network patterns in farmer communities for district / ethnic-specific rice commodities, to know the factors that influence the acceleration of rice technology transfer in farmers' social networks, identify the media and the most favored extension methods by users in social networks and formulating rice PTT extension strategies. The assessment was carried out in 3 districts in East Java that represented social culture/ethnicity. The method used in this study is a sociometric approach. The population and sample that are the object of study are the parties/actors who are exposed to the information on PTT Paddy Fields. The results of the analysis show that handphones (mobile phones) and transportation equipment (motorbikes/bicycles) are the means of communication needed to strengthen and accelerate communication in the community network. Efforts that are often made, so that technological innovation will quickly reach network members, are conducting face-to-face meetings and visits, the most popular counseling media for community network members to transfer technological innovations is television media, as well as brochures/pocketbooks and extension methods that are considered the most effective,  is a field school, field meeting, and demonstration plot. Communication Network Patterns in Tuban Regency, the interaction patterns formed tend to be dispersed on relatively long interaction pathways. The pattern of the communication network as a result of the assessment in Trenggalek Regency shows that the communication pattern between individual farmers is more regular, while the communication network pattern in Jember Regency shows that the communication structure shows multiple channels. This is marked wherefrom these three levels reciprocal interaction can occur without adhering to who is the central figure.
Konsep Pendidikan Muatan Lokal Kecakapan Hidup Berbasis Pertanian Melalui Kebun Sayur Sekolah Andri, Kuntoro Boga
JINOTEP (Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran): Kajian dan Riset Dalam Teknologi Pembelajaran Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.237 KB) | DOI: 10.17977/um031v1i12014p031

Abstract

Abstrak: Implementasi Muatan Lokal (Mulok) kecakapan hidup (lifeskill) dalam pembelajaran di sekolah sangat penting untuk menciptakan sumber daya manusia yang bermutu guna menjawab tantangan dimasa yang akan datang. Fakta menunjukkan tingkat konsumsi sayur penduduk Indonesia masih di bawah standar kecukupan dari yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO yaitu minimal sebesar 200g/kapita/hari. Sebagai perbandingan, tingkat konsumsi sayur di Thailand ialah 300 kg/kapita/tahun. Negara tetangga yang tingkat konsumsi lebih tinggi dari Indonesia ialah Singapura, yang mengkonsumsi 120 kg/kapita/tahun, kemudian Cina, mengkonsumsi 270 kg/kapita/tahun, dan Kamboja yang mengkonsumsi 109 kg/kapita/tahun. Selain itu konsumsi sayuran perlu ditingkatkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras. Pengkajian penerapan kurikulum kecakapan hidup ini dilakukan dalam rangka mempromosikan peningkatan konsumsi sayur bagi siswa melalui model kebun sayur sekolah. Kebun sayuran sekolah dalam kegiatan ini juga dirancang untuk meningkatkan ketersediaan sayuran bagi konsumsi keluarga. Kebun diatur sedemikian rupa sehingga sayuran dapat dipanen hampir setiap hari dan dirancang menggunakan luas lahan yang kecil karena kebanyakan keluarga di Indonesia tidak memiliki halaman yang luas. Siswa terlibat dalam pemeliharaan tanaman sayuran sebagai latihan bercocok tanam sayur. Setiap panen sayuran direkap dan kandungan gizinya dihitung. Kedepan, perlu penerapan Standar Operasional Presedur (SOP) pelaksanaan kegiatan ini agar dapat berhasil dan mencapai tujuan dari pelaksanaan kurikulum ini.Abstract: Implementation of Local Content (Mulok) in life skills (lifeskill) in learning in schools is very important to create quality human resources to answer challenges in the future. The fact is that the level of vegetable consumption of the Indonesian population is still below the standard of the adequacy of those recommended by the World Health Organization (WHO ie a minimum of 200g /capita/day. For comparison, the level of vegetable consumption in Thailand is 300 kg/capita/ year. higher consumption from Indonesia is Singapore, which consumes 120 kg/capita/ year, then China, consumes 270 kg /capita/year, and Cambodia consumes 109 kg/capita/ year, and vegetable consumption needs to be increased to reduce dependence on rice The assessment of the application of the Life Skills curriculum is carried out in order to promote increased vegetable consumption for students through the school vegetable garden model. The school vegetable garden in this activity is also designed to increase the availability of vegetables for family consumption. The gardens are arranged so that vegetables can be harvested almost every day and designed using the land area small because most families in Indonesia do not have a large yard. Students are involved in the maintenance of vegetable plants as a vegetable farming exercise. Every vegetable harvest is recapitulated and the nutritional content is calculated. In the future, it is necessary to implement the Standard Operating Procedure (SOP) for the implementation of this activity in order to succeed and achieve the objectives of the implementation of this curriculum.