Zuzy Anna
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KEBERLANJUTAN PENGEMBANGAN GEOPARK NASIONAL CILETUH-PALABUHANRATU DALAM PERSPEKTIF INFRASTRUKTUR Yanuar, Yerry; Anna, Zuzy; Rosana, Mega Fatimah; Rizal, Achmad; Sudrajat, Adjat; Zakaria, Zulfiadi
Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum Vol 10, No 1 (2018)
Publisher : Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT), Kementerian PUPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1008.576 KB)

Abstract

Geopark CiIetuh adalah salah satu potensi wisata Jawa Barat yang akan dikembangkan menjadi berkelas internasional (global Geopark). Sayangnya sampai sekarang salah satu variable penting yang menunjang tujuan menjadi Global Geopark yaitu infrastruktur baik jalan maupun penunjang lainnya masih dirasakan jauh dari selayaknya.  penelitian ini dilakukan untuk menganalisis persepsi sosial masyarakat yang ada terhadap pengembangan Ciletuh sebagai Kawasan Geopark dan keberlanjutan pengembangan Ciletuh sebagai Kawasan Geopark berdasarkan infrastruktur penunjang yang tersedia. Metoda yang digunakan adalah analisis persepsi dan Rapid Appraisal (RAP) untuk Model Kelayakan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu (RAP-Geopark). Hasil studi persepsi terhadap kondisi infrastruktur pada turis lokal dan turis asing menunjukkan ketidak puasan sebesar 61% sampai 100%, dimana mereka menyatakan bahwa infrastruktur jalan masih buruk, sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk mencapai lokasi,  fasilitas transportasi lokal yang sangat minim (kebanyakan harus menggunakan kendaraan pribadi), kurang penerangan jalan, dan kurangnya iinfrastruktur penunjang lainnya seperti toilet umum, penginapan, internet, dan air bersih di lokasi Geopark. Hasil analisis juga menunjukkan nilai keberlanjutan yang rendah dari infrastruktur Geopark yaitu di bawah 50%. Penelitian merekomendasikan pengembangan infrastruktur baik jalan maupun fasilitas lainnya untuk keberlanjutan pengembangan Geopark Ciletuh secara Global. Kata kunci: Geopark, Ciletuh, Keberlanjutan, Infrastruktur.
FORMULASI INDEKS KERENTANAN UNTUK PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BERSIH PULAU-PULAU KECIL (Studi Kasus : Provinsi Nusa Tenggara Timur) Hermawan, FX; Sapei, Asep; Dharmawan, Arya Hadi; Anna, Zuzy
Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum Vol 7, No 2 (2015)
Publisher : Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT), Kementerian PUPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1533.017 KB)

Abstract

Krisis sumber daya air terjadi di pulau-pulau kecil. Kondisi ini merupakan refleksi dari kerentanan, yang sangat dipengaruhioleh berbagai dimensi baik sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Penyusunan indeks kerentanan dengan parameter yangkomprehensif sangat diperlukan untuk keberlanjutan pengembangan pulau-pulau kecil krisis air. Dalam menentukanapakah suatu daerah mempunyai potensi kerentanan terhadap krisis air di pulau kecil, diperlukan suatu acuan berupaindeks sebagai kumpulan parameter yang menjadi alat ukur potensi kerentanan tersebut.Pengukuran kerentanan denganmembuat formulasi indeks kerentanan pulau kecil krisis air menjadi penting untuk dilakukan agar mengetahui sejauhmana kondisi krisis air suatu daerah sehingga dapat dipilih tindakan yang paling sesuai untuk pemenuhan kebutuhan airpada masyarakat di pulau-pulau kecil yang mengalami krisis air. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatifyang bersifat positivistik-deduktif. Berangkat dari konsep dimensi kerentanan, yaitu : ketersingkapan, kapasitas adaptifdan sensitivitas yang kemudian dioperasionalkan menjadi indikator/parameter dalam kemasan indeks untuk mengukursebuah kondisi kerentanan. Metode penelitian yang digunakan juga berupa metode kuantitatif untuk menemukenalivariabel–variabel yang berpengaruh dalam menentukan indeks kerentanan.Dalam ragam penelitian kuantitatif, penelitianini tergolong penelitian penjelasan (explanatory confirmatory research). Temuan lapangan menunjukkan bahwa dariketiga pulau yang diteliti masuk dalam kategori rentan.Pulau Solor merupakan pulau yang paling rentan terhadap krisisair, kemudian Pulau Ende, dan yang terakhir Pulau Semau.
Local Wisdom to Overcome Covid-19 Pandemic of Urug and Cipatat Kolot Societies in Bogor, West Java, Indonesia Bahagia, Bahagia; Hudayana, Bambang; Wibowo, Rimun; Anna, Zuzy
Forum Geografi Vol 34, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/forgeo.v34i2.12366

Abstract

Local wisdom can be interpreted as principles of life, behaviour, rules, and punishments, as well as a view of life that regulate life, so that it can regulate and managing natural resources in the natural, social, and economic environments. Even local knowledge have adapted to environment obstacle. This research aims to investigate traditionally local knowledge for confronting Covid-19 pandemic. The method used is qualitative with an ethnography approach and literature review. Data are collected through in-depth interviews with leaders of Urug and Cipatat Kolot societies. In order to investigate Baduy and Ciptagelar communities used a literature review. Data are supported by documentation and observation sources. The sample is selected using a purposive sampling technique. The result is analysed through triangulation, which is by mixing some gathered data methods. The result is that Urug society allocates rice each year from their paddy yields to the vulnerable groups such as orphans, elderlies, widows, and persons need most. Secondly, collective action is used to jump the capacity of people like women through nujuh bulanan. Thirdly, societies exert taboo to combat disaster and Covid-19, including by prohibiting community from trading paddies and rice. Another finding is that indigenous knowledge uses some life strategies and utilizes natural capital optimally for overcoming life perturbances. The last finding is that local knowledge has preserved agriculture jobs as a venue to survive.