Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

KARAKTERISTIK SENSORI DAN FISIK KULIT PANGSIT GORENG DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG YANG BERBEDA PADA PENYIMPANAN DINGIN DAN BEKU Nuri Arum Anugrahati; Natania Natania; Andrew Andrew
JURNAL AGROTEKNOLOGI Vol 11 No 02 (2017)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.643 KB) | DOI: 10.19184/j-agt.v11i02.6524

Abstract

Wonton wrapper is a type of pasta that has a similar composition with noodle, such as wheat flour, water, egg, salt, and kansui. Indonesian people has also consumed wonton wrapper but it has been limited due to the difficulty of wheat flour supply as it’s main ingredient. To reduce the dependency of imported wheat flour, this experiment was held to determine tapioca, sago, and glutinous rice as a substitute to wheat flour. The aims of this research were to determine the type of flour to substitute wheat flour in fried wonton wrapper making, to determine the protein percentage of wheat flour in fried wonton wrapper making, and to determine the sensory and physical characteristics of wonton wrapper on cold and frozen storage. This research was conducted by RAL (completely randomized design) using two treatment factors are three kinds of flour (tapioca, sago, and glutinous rice) and three substitution level of concentration (15, 30, and 45%). The organoleptic result showed that fried wonton wrapper made from medium protein wheat flour with 30% tapioca flour substitution was the best treatment to produce a good quality since it had a higher crunchiness, acceptance, and substitution level. Sensory and physical characteristics of wonton wrapper has been maintained during 4 weeks of freezing storage. Keywords: fried wonton wrapper, wheat flour, tapioca
Food Science and Technology (Kajian Buku) Anugrahati, Nuri Arum
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 15, No 1 (2010): February 2010
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.74 KB) | DOI: 10.24002/biota.v15i1.2661

Abstract

Ilmu pangan merupakan disiplin ilmu terkait dengan teknik, biologi, dan fisik yang digunakan untuk mempelajari karakteristik pangan, penyebab kerusakan pangan, prinsip pengolahan pangan, dan usaha peningkatan pangan untuk konsumsi masyarakat. Teknologi pangan merupakan aplikasi ilmu pangan untuk menyeleksi, mengawetkan, mengolah, mengemas, dan mendistribusikan pangan yang bergizi tinggi sesuai dengan rambu-rambu keamanan pangan. Apabila dilihat dari definisinya, teknologi pangan terkait dengan ilmu pangan sebagai basisnya sehingga sering kedua definisi tersebut saling dipertukarkan. Alasannya seseorang yang menguasai ilmu pangan dan teknologi pangan harus memahami karakteristik komponen bahan pangan sekaligus mampu menghasilkan pangan yang bergizi dan aman untuk dikonsumsi.
Pengaruh Penambahan Pati Bengkoang T erhadap Karakteristik Fisik dan Mekanik Edible Film Cornelia, Melanie; Anugrahati, Nuri Arum; Christina, Christina
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 34 No. 2 Oktober 2012
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1169.161 KB)

Abstract

Kegunaan edible film sebagai kemasan primer makanan semakin meningkat. Pati bengkoang dan tapioka dapat digunakan sebagai sumber pati dalam pembuatan edible film. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi tapioka dan gliserol dan menentukan jenis asam lemak yang menghasilkan karakteristik fisik dan mekanik terbaik dari edible film dengan penambahan pati bengkoang. Pembuatan edible film dilakukan dengan menambahkan variasi konsentrasi tapioka dan gliserol dan dengan menambahkan 1% pati bengkoang. Pati bengkoang dapat menghasilkan edible film dengan elongasi yang cukup baik karena kandungan amilosa yang cukup tinggi yaitu 23%. Pengaruh variasi konsentrasi tapioka dan gliserol terhadap ketebalan, lightness, kuat tarik, persen pemanjangan, dan laju transmisi uap air diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi tapioka dan gliserol berpengaruh signifikan terhadap ketebalan, kuat tarik, persen pemanjangan, dan laju transmisi uap air. Peningkatan konsentrasi tapioka hingga 2% dan konsentrasi gliserol dari 0,5% hingga 1% dapat meningkatkan ketebalan dan persen pemanjangan. Peningkatan konsentrasi tapioka dan gliserol juga meningkatkan kuat tarik dan laju transmisi uap air. Edible film terbaik dihasilkan dari konsentrasi tapioka 2% dan gliserol 0.5%, dalam penelitian ini jenis asam lemak yang digunakan adalah asam lemak stearat dan asam lemak oleat. Hasilnya menunjukkan bahwa jenis asam lemak juga berpengaruh signifikan terhadap lightness, kuat tarik, persen pemanjangan, dan laju transmisi uap air. Asam lemak stearat memberi pengaruh lebih baik pada karakteristik edible film dibandingkan dengan asam lemak oleat. Asam lemak stearat meningkatkan kuat tarik seiring dengan penurunan elongasi. Penambahan asam lemak stearat dapat menurunkan laju transmisi uap air edible film dari pati bengkoang walaupun dengan penurunan persen pemanjangan. 
Pengaruh Penambahan Pati Bengkoang T erhadap Karakteristik Fisik dan Mekanik Edible Film Melanie Cornelia; Nuri Arum Anugrahati; Christina Christina
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 34 No. 2 Oktober 2012
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24817/jkk.v34i2.1862

Abstract

Kegunaan edible film sebagai kemasan primer makanan semakin meningkat. Pati bengkoang dan tapioka dapat digunakan sebagai sumber pati dalam pembuatan edible film. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi tapioka dan gliserol dan menentukan jenis asam lemak yang menghasilkan karakteristik fisik dan mekanik terbaik dari edible film dengan penambahan pati bengkoang. Pembuatan edible film dilakukan dengan menambahkan variasi konsentrasi tapioka dan gliserol dan dengan menambahkan 1% pati bengkoang. Pati bengkoang dapat menghasilkan edible film dengan elongasi yang cukup baik karena kandungan amilosa yang cukup tinggi yaitu 23%. Pengaruh variasi konsentrasi tapioka dan gliserol terhadap ketebalan, lightness, kuat tarik, persen pemanjangan, dan laju transmisi uap air diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi tapioka dan gliserol berpengaruh signifikan terhadap ketebalan, kuat tarik, persen pemanjangan, dan laju transmisi uap air. Peningkatan konsentrasi tapioka hingga 2% dan konsentrasi gliserol dari 0,5% hingga 1% dapat meningkatkan ketebalan dan persen pemanjangan. Peningkatan konsentrasi tapioka dan gliserol juga meningkatkan kuat tarik dan laju transmisi uap air. Edible film terbaik dihasilkan dari konsentrasi tapioka 2% dan gliserol 0.5%, dalam penelitian ini jenis asam lemak yang digunakan adalah asam lemak stearat dan asam lemak oleat. Hasilnya menunjukkan bahwa jenis asam lemak juga berpengaruh signifikan terhadap lightness, kuat tarik, persen pemanjangan, dan laju transmisi uap air. Asam lemak stearat memberi pengaruh lebih baik pada karakteristik edible film dibandingkan dengan asam lemak oleat. Asam lemak stearat meningkatkan kuat tarik seiring dengan penurunan elongasi. Penambahan asam lemak stearat dapat menurunkan laju transmisi uap air edible film dari pati bengkoang walaupun dengan penurunan persen pemanjangan. 
APLIKASI TEPUNG TAPIOKA DAN GAPLEK TERMODIFIKASI FISIK DALAM PEMBUATAN MI LETHEK Nuri Arum Anugrahati; Elsie Carista
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol 4, No 1 (2020): MAY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lethek noodles are Yogyakarta's special food made from a mixture of cassava flour and tapioca flour. The application of tapioca flour and cassava chips as a result of the physical modification of the multi-cycle cooling-heating has not been carried out in the making of lethek noodles. The aim of this study was to apply physical modified tapioca and cassava flour and guar gum in the making of lethek noodles and determine their effects on the physical characteristics of lethek noodles. Physical modification of tapioca and cassava flour is done by heating-cooling 2 and 3 cycles. The heating process is carried out using an autoclave at 121ºC for 30 minutes, then followed by cooling at 4ºC for 24 hours. The study was designed with a Completely Randomized Design with variations in the ratio of tapioca flour and cassava chips modified (25:75, 50:50, and 75:25) and the concentration factor of guar gum (0%; 0.5%; 1%; 1.5 %). The results showed that the amylose content of physically modified cassava flour was higher (72.04%) than physically modified cassava flour (49.15%). The more modification of tapioca flour added, the lower cooking loss and the higher hardness of lethek noodles. The higher concentration of guar gum, the lower cooking loss and hardness of lethek noodles. Therefore, it can be stated that physical modified tapioca and gaplek flour can be applied in the making of lethek noodles and the best lethek noodles was made from the ratio of physical modified tapioca and cassava flour 75:25 and guar gum concentration of 1%.
KARAKTERISTIK KWETIAU YANG DITAMBAH TEPUNG TAPIOKA DAN RUMPUT LAUT Gracilaria gigas HARVEY Hardoko, Hardoko; Saputra, Tefvina Irma; Anugrahati, Nuri Arum
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 18, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jpk.18.2.1-11

Abstract

Gracilaria gigas, an edible seaweed was used as gelling agent. The objective ofthis study were to observe the effect of Gracilaria gigas addition as flat rice noodles’gelling agent. The experimental method was conducted to determine the bestconcentration of tapioca and concentration of Glacilaria powder (0%, 5%, 10%,15%,20%, 25%, and 30% based on total rice and tapioca flour weight) of flat rice noodlecharacteristic. The result showed that the best flat rice noodles made from 28.6% IR 64rice flour, 20% tapioca starch addition (based on rice flour weight), and 20% seaweedflour addition (based on total rice and tapioca flour weight). The addition of 20%seaweed flour (based on total rice and tapioca flour weight) on flat rice noodle gave thebest organoleptic acceptance and greater chewiness than others.
Pengaruh Penambahan Pati Bengkoang T erhadap Karakteristik Fisik dan Mekanik Edible Film Melanie Cornelia; Nuri Arum Anugrahati; Christina Christina
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 34 No. 2 Oktober 2012
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1169.161 KB) | DOI: 10.24817/jkk.v34i2.1862

Abstract

Kegunaan edible film sebagai kemasan primer makanan semakin meningkat. Pati bengkoang dan tapioka dapat digunakan sebagai sumber pati dalam pembuatan edible film. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi tapioka dan gliserol dan menentukan jenis asam lemak yang menghasilkan karakteristik fisik dan mekanik terbaik dari edible film dengan penambahan pati bengkoang. Pembuatan edible film dilakukan dengan menambahkan variasi konsentrasi tapioka dan gliserol dan dengan menambahkan 1% pati bengkoang. Pati bengkoang dapat menghasilkan edible film dengan elongasi yang cukup baik karena kandungan amilosa yang cukup tinggi yaitu 23%. Pengaruh variasi konsentrasi tapioka dan gliserol terhadap ketebalan, lightness, kuat tarik, persen pemanjangan, dan laju transmisi uap air diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi tapioka dan gliserol berpengaruh signifikan terhadap ketebalan, kuat tarik, persen pemanjangan, dan laju transmisi uap air. Peningkatan konsentrasi tapioka hingga 2% dan konsentrasi gliserol dari 0,5% hingga 1% dapat meningkatkan ketebalan dan persen pemanjangan. Peningkatan konsentrasi tapioka dan gliserol juga meningkatkan kuat tarik dan laju transmisi uap air. Edible film terbaik dihasilkan dari konsentrasi tapioka 2% dan gliserol 0.5%, dalam penelitian ini jenis asam lemak yang digunakan adalah asam lemak stearat dan asam lemak oleat. Hasilnya menunjukkan bahwa jenis asam lemak juga berpengaruh signifikan terhadap lightness, kuat tarik, persen pemanjangan, dan laju transmisi uap air. Asam lemak stearat memberi pengaruh lebih baik pada karakteristik edible film dibandingkan dengan asam lemak oleat. Asam lemak stearat meningkatkan kuat tarik seiring dengan penurunan elongasi. Penambahan asam lemak stearat dapat menurunkan laju transmisi uap air edible film dari pati bengkoang walaupun dengan penurunan persen pemanjangan. 
Understanding Food (Kajian Buku) Anugrahati, Nuri Arum
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 14, No 1 (2009): February 2009
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v14i1.2636

Abstract

Kata understanding menarik untuk dipahami, terutama bagi pembaca yang tertarik dan memilih untuk menekuni jalur ilmu di bidang ilmu aplikatif, seperti teknologi pangan. Buku berjudul Understanding Food: Principles and Preparation yang menyajikan informasi mengenai ilmu pangan, gizi, dan food service, baik yang berupa prinsip-prinsip dasar maupun tren terbaru di bidang teknologi pangan menjadi pilihan yang menarik untuk dibaca.
Potensi DNA Sebagai Penguat Flavor Nuri Arum Anugrahati; C. Hanny Wijaya; Safir Abadi
agriTECH Vol 23, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.13506

Abstract

The application of DNA in food product is still limited. Meanwhile, nucleotides such as IMP and GMP have been widely used as flavour enhancer. The objectives of this research was to study the potency of DNA as a flavour enhancer. Firstly, the phsyco-chemical properties of single-stranded DNA were determined. The next step was the determination of treshold value using trained panels. Formulation of flavour enhancer premix and seasoning were also conducted in this research based on previous result. DNA was soluble in water and base solution. The viscosity of DNA solution was stable to oxygen exposure, but unstable to heat and light exposure. The water, ash, protein, fat, and carbohydrate content of single stranded DNA were 6.37%, 25.20%. 48.58%, 0.1%, and 19.75%, respectively as wet basis. DNA and MSG have shown synergistic effect. The ratio of MSG and DNA premix, which had the best organoleptic properties was 95:5, according to hedonic test result, the optimum formula for seasoning was 1 g of salt, 1 g of flavour enhancer premix, 1 g sugar, 0.8 g of garlic powder, and 0.4 g of pepper
Karakteristik Fisik Kue Kembang Goyang dengan Substitusi Jewawut (Setaria italica L. P. Beauv.) dan Variasi Konsentrasi Santan Nuri A Anugrahati; Jane Naomi
AGRITEKNO: Jurnal Teknologi Pertanian Vol 10 No 1 (2021): AGRITEKNO: Jurnal Teknologi Pertanian
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jagritekno.2021.10.1.45

Abstract

“Kue kembang goyang” is a popular Indonesian traditional food made from rice flour. Millet flour with an amylose content equal to rice flour can be substituted for rice flour in the “kue kembang goyang” formulation. The research aimed to determine the amylose content of 3 varieties of foxtail millet flour (Setaria italica (L.) P. Beauv.) and to determine the best formula of “kue kembang goyang” in several ratios of foxtail millet flour:rice flour-based on crunchiness and oil absorption. The research was divided into two phases. Phase I, involved determining the amylose content of the three varieties of foxtail millet flour (erecta, compacta, glabra) and stage II involved determining the physical characteristics of “kue kembang goyang” in the ratio of foxtail millet flour:rice flour (0: 100, 20:80, 40:60, 60:40, 80:20) and concentration of coconut milk (20%, 30%, 40%). The result of phase I showed that the highest amylose content was found in foxtail millet flour of erecta variety (37.91 ± 0.51%). The phase II result showed that the ratio of foxtail millet flour:rice flour affected the texture and absorption of oil of “kue kembang goyang”. The higher the ratio of foxtail millet flour, the lower the count peaks, toughness, oil absorption, but the higher fracturability of “kue kembang goyang”. Increasing the concentration of coconut milk can increase count peaks, toughness, fracturability, and an oil absorption of “kue kembang goyang”. The best formula of “kue kembang goyang” was obtained in the ratio of foxtail millet flour:rice flour 60:40 and 30 % of coconut milk-based on the highest crunchiness and oil absorption resembled the control. Keywords: Coconut milk; foxtail millet; “kue kembang goyang”; physical characteristics ABSTRAK Kue kembang goyang merupakan kue tradisional Indonesia yang popular dan terbuat dari tepung beras. Tepung beras dalam formula kue kembang goyang dapat diganti tepung jewawut yang memiliki kadar amilosa menyamai tepung beras. Tujuan penelitian adalah menentukan kadar amilosa tiga varietas tepung jewawut (Setaria italica (L.) P. Beauv.) dan menentukan formula terbaik kue kembang goyang pada beberapa rasio tepung jewawut:tepung beras berdasarkan kerenyahan dan absorpsi minyak. Penelitian dibagi menjadi tahap I yaitu menentukan kadar amilosa ke-3 varietas jewawut (erecta, compacta, glabra) dan tahap II yaitu menentukan karakteristik fisik kue kembang goyang pada rasio tepung jewawut:tepung beras (0:100, 20:80, 40:60, 60:40, 80:20) dan konsentrasi santan (20, 30, 40%). Hasil penelitian tahap I menunjukkan kadar amilosa tertinggi pada tepung jewawut varietas erecta (37,91 ± 0,51%). Hasil penelitian tahap II menunjukkan rasio tepung jewawut:tepung beras berpengaruh terhadap tekstur dan absorpsi minyak kue kembang goyang. Semakin tinggi rasio tepung jewawut dapat menurunkan count peaks, toughness, absorpsi minyak, namun meningkatkan daya patah kue kembang goyang. Peningkatan konsentrasi santan dapat meningkatkan count peaks, toughness, daya patah, dan absorpsi minyak kue kembang goyang. Formula terbaik kue kembang goyang diperoleh pada rasio tepung jewawut:tepung beras 60:40 dan konsentrasi santan 30% berdasarkan kerenyahan tertinggi dan absorpsi minyak yang menyerupai kontrol. Kata kunci: Karakteristik fisik; kue kembang goyang; jewawut; santan