Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

INFLUENCE OF BRAND AWARENESS AND PERCEIVED QUALITY TOWARD INTEREST IN REPURCHASING DAIRY PRODUCT ANLENE Astuti, Widi; Kurniati, Dewi; Maswadi, Maswadi
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 2 (2019): April 2019
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTEarly cases of bone loss or osteoporosis in Indonesian are higher than the world average, because two out of five Indonesians are at risk for this disease, while the world average is only one in three people at risk of developing osteoporosis. So that public awareness needs to be raised about the dangers of osteoporosis. Preventing osteoporosils can be done by drinking Anlene's milk. The purpose of the study was to analyze the effect of brand awareness and perceived quality on the interest in repurchasing Anlene milk products, in 150 respondents selected purposively. Data analysis using Structural Equation Modeling (SEM) with Lisrel software. The results showed that brand awareness has a positive effect on repurchase interest, with the most influential indicators being the peak of the mind. Then the perception of quality has a positive effect on repurchase interest, with the most influential indicators being product characteristics. This can be used by producers to pay more attention to brand awareness through peak thinking and perceived quality through product characteristics so that consumers always re-purchase Anlene milk products.Keywords: brand awareness, perceived quality, interest in repurchasing, Anlene dairy products, Structural Equation Modeling (SEM).
PERAN SAMPAH B3 RUMAH TANGGA (HOUSEHOLD HAZARDOUS WASTE) DALAM PENINGKATAN GLOBAL WARMING Astuti, Widi
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2010): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 1 2010
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC serta bahan pencemar yang lain, sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Hal ini yang mengakibatkan es di kutub mencair dan meningkatkan permukaan air laut. Dari penelitian para ilmuwan, pemanasan global disebabkan semakin meningkatnya gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia di bumi.Salah satu aktivitas manusia yang berpengaruh positif terhadap peningkatan pemanasan global adalah produksi sampah B3 rumah tangga (Household Hazardous Waste). Sampah ini mempunyai sifat sangat mudah terbakar, korosif, reaktif, tingkat toksisitas dan presistensi yang tinggi. Yang termasuk dalam kategori sampah B3 rumah tangga antara lain adalah segala macam pembersih, fuel, gas-gas, pestisida, desifektan, lampu penerangan, batterai dan cat.Apabila sampah tersebut tidak dikelola dengan baik maka dampaknya sangat berbahaya baik terhadap manusia maupn lingkungan.Salah satu pengelolaan sampah B3 rumah tangga adalah dengan berusaha bersikap ramah dan arif terhadap lingkungan. Kata kunci: pemanasan global,sampah B3 rumah tangga,
AKTIVASI ABU LAYANG BATUBARA DAN APLIKASINYA SEBAGAI ADSORBEN TIMBAL DALAM PENGOLAHAN LIMBAH ELEKTROPLATING Astuti, Widi; Maharani, Widhi
Sainteknol : Jurnal Sains dan Teknologi Vol 8, No 2 (2010): December 2010
Publisher : Unnes Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sainteknol.v8i2.329

Abstract

Masalah utama pada pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakanbatubara sebagai sumber energi adalah adanya limbah padat berupa abu layangbatubara. Abu ini belum termanfaatkan dengan baik dan hanya ditumpuk dalamlandfill sehingga menyebabkan masalah lingkungan. Abu layang tersusun atasbeberapa oksida berpori (terutaman silika) dan unburned carbon yang mempunyaipotensi baik sebagai adsorben. Namun,tingginya tingkat kristalinitas silika dankandungan unburned carbon dapat menyebabkan turunnya kapasitas adsorpsi.Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh kristalinitas silika dan unburnedcarbon terhadap kapasitas adsorpsi timbal. Penurunan kristalinitas dilakukan denganlarutan NaOH sedangkan penurunan kadar unburned carbon menggunakan larutanH2SO4. Hasilnya, perlakuan dengan H2SO4 40% vol. selama 2 jam dengan suhu 40oCmampu menurunkan kandungan karbon sebesar 63%, dan meningkatkan kapasitasadsorpsi sebesar 65,28%. Sementara perlakuan dengan NaOH dapat menurunkantingkat kristalinitas dan meningkatkan kapasitas adsorpsi hingga hampir 100%.Kata kunci : abu layang batubara, adsorben, timbal
PENINGKATAN KADAR GERANIOL DALAM MINYAK SEREH WANGI DAN APLIKASINYA SEBAGAI BIO ADDITIVE GASOLINE Astuti, Widi; Putra, Nur Nalindra
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 3, No 1 (2014): June 2014
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v3i1.3098

Abstract

Sereh wangi merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang banyak mengandung geraniol. Geraniol merupakan senyawa penyedia oksigen sehingga minyak sereh wangi dimungkinkan dapat digunakan sebagai bio additive gasoline. Penelitian ini bertujuan  meningkatkan kadar geraniol dalam minyak sereh wangi dan menggunakannya sebagai bio additive gasoline.Penelitian dilakukan dalam  tiga tahap, yaitu  pemungutan minyak sereh wangi dari daun sereh wangi, peningkatan kadar geraniol dalam minyak sereh wangi dan aplikasi minyak sereh wangi yang mengandung geraniol tinggi sebagai bio aditive gasoline.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemungutan minyak sereh wangi yang dilakukan dengan metode distilasi uap menghasilkan rendemen sebesar 0,76% dengan kadar geraniol 5,36%.Kadar geraniol dapat ditingkatkan menjadi 21,78% melalui proses distilasi vakum pada suhu 120oC. Pengujian minyak sereh wangi dengan kadar geraniol tinggi sebagai bio additive gasoline meliputi uji performa dan efisiensi konsumsi bahan bakar dengan variasi perbandingan volume gasoline dengan bio additive. Hasilnya, penambahan minyak sereh wangi dengan perbandingan volume gasoline ; minyak sereh wangi = 1000:2 mampu meningkatkan power mesin dari 7,8HP menjadi 8,6HP. Sementara, pada pengujian efisiensi bahan bakar, penambahan minyak sereh wangi dengan perbandingan volume gasoline : minyak sereh wangi = 1000:2 dapat meningkatkan efisiensi mesin sebesar 10,8%. Citronella contains geraniol which is an oxygen provider substances, so it may be used as bio additive. The purpose of this research  is to increase geraniol content in citronella oil and use it as a gasoline bio additive. This research is conducted  in three steps including take the citronella oil from citronella leaf, increase geraniol content in citronella oil and use citronella oil as a gasoline bio additive. The result show that citronella oil produced from citronella leaf using vapor distillation method contains geraniol by 5.36%. The content can be increase using vacuum distillation  up to 21.78 % at temperature of 120oC. The citronella oil test as a gasoline bio additive including  performance test and fuel efficiency test with gasoline-bio additive ratio as variable. The addition of citronella oil to gasoline with the volume ratio of gasoline : citronella oil = 1000:2  increases machine power from 7.8 HP to 8.6 HP and fuel efficiency up to 10.8 %.
PERBAIKAN SISTEM PEMANASAN DENGAN MEMODIFIKASI TUNGKU PEMANAS YANG DILENGKAPI DENGAN CEROBONG ASAP Kusumayanti, Heny; Astuti, Widi; Broto, R.TD Wisnu
METANA Edisi Khusus Februari 2011
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1975.103 KB) | DOI: 10.14710/metana.v0i0.1650

Abstract

Abtract   The empowerment of micro industries, in emping‘s chip micro industry to the member of group which is enterprise Batang speciallized is give suitable solution to consument for giving natural culinary with high nutrition value independently and cheap. The development of micro industries is a circular activity that consist of briefing about the usage of furnace completely by stack gas as pilot plan, assitancy when the producer makes sweet emping’s chip system more delicious and better performance than product’s previous   Key word: micro industries emping’s chip.
Kesetimbangan Adsorpsi Zat Warna Methyl Violet Oleh Karbon Aktif Berbasis Limbah Daun Nanas (Ananas comosus L) Lanjar, Lanjar; Riayanti, Fatma Indah; Astuti, Widi
METANA Vol 14, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.311 KB) | DOI: 10.14710/metana.v14i2.20095

Abstract

Industri tekstil semakin berkembang seiring dengan pertumbuhan penduduk di Indonesia. Selain memberikan manfaat, industri tekstil  memberikan dampak negatif bagi lingkungan akibat penggunaan zat warna sintetis, salah satunya yaitu methyl violet. Apabila limbah tersebut dibuang ke perairan akan menyebabkan rusaknya ekologi lingkungan dan ancaman bagi kesehatan manusia, karena sebagian besar zat warna bersifat sukar terurai (non-bidegradable) dan karsinogenik (Brono, 2010). Salah satu metode yang terbukti efektif untuk menghilangkan zat warna adalah adsorpsi menggunakan karbon aktif. Pada penelitian ini karbon aktif dibuat dari limbah daun nanas dengan aktivator ZnCl2 dan pemanasan gelombang mikro. Selanjutnya, karbon aktif tersebut dikarakteriasi morfologi permukaan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM), luas permukaan menggunakan Surface Area Analyzer, dan analisis gugus fungsi menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR) spectrometer, dan digunakan untuk menjerap methyl violet di larutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karbon aktif dari limbah daun nanas yang teraktivasi ZnCl2 menghasilkan pori yang lebih besar dibandingkan dengan karbon tanpa aktivasi serta memiliki gugus fungsi yang dapat menjerap methyl violet. Kondisi optimum untuk adsorpsi adalah pH 5, waktu kontak 90 menit, dan konsentrasi awal 500 mg/L. Model kesetimbangan yang sesuai yaitu menggunakan model isotherm freundlich.
ADSORPSI Pb2+ DALAM LIMBAH CAIR ARTIFISIAL MENGGUNAKAN SISTEM ADSORPSI KOLOM DENGAN BAHAN ISIAN ABU LAYANG BATUBARA SERBUK DAN GRANULAR Astuti, Widi; Kurniawan, Bayu
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 4, No 1 (2015): June 2015
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v4i1.3771

Abstract

Batubara  merupakan  salah  satu  sumber energi  alternatif  yang murah. Oleh karena itu,  penggunaan  batubara  di  Indonesia meningkat pesat  setiap  tahunnya. Penggunaan batubara  ini  menghasilkan  limbah  yang  dapat mencemari lingkungan baik limbah gas  seperti   CO2, NOX,  CO,  SO2,  hidrokarbon  maupun  limbah  padat  yang berupa abu  layang dan  abu  dasar. Abu  layang  mengandung SiO2, Al2O3,  dan sisa karbon yang tidak terbakar sehingga potensial digunakan sebagai adsorben. Pada penelitian ini, kemampuan adsorpsi abu layang ditingkatkan melalui aktivasi termal dan diuji untuk menjerap ion Pb2+ dalam limbah cair artifisial. Adsorpsi dilakukan pada sistem kolom yang berlangsung kontinyu menggunakan bahan isian abu layang teraktivasi, dalam bentuk serbuk dan granular, pada laju alir influen yang bervariasi. Hasilnya, laju alir mempengaruhi nilai kapasitas (qo), konstanta thomas (KtH) dan waktu breakthrough.Kata Kunci : Pb2+ , adsorpsi, abu layang, breakthrough Coal is one of the inexpensive alternative energy. Therefore, the usage of coal in indonesia has been increased every year. It produces waste that can pollute the environment including gases waste such as CO2, NOX, CO, SO2, hydrocarbons and solid waste including fly ash and bottom ash. Coal fly ash is composed of  SiO2, Al2O3 and unburned carbon that enables it to act as a potential adsorbent. In this research, the adsorption capasity has increased by thermal activation and used to adsorp Pb2+ ion in wastewater.  The adsorption was carried out in packed column contains powder and granular activated fly ash. In the system, flow rate was varied.  The results show that flow rate influences adsorption capacity, Thomas constant and breakthrough time.Keywords: Pb2+, adsorption, coal fly ash, breakthrough
SINTESIS ADSORBEN BERBASIS LIGNOSELULOSA DARI KAYU RANDU (Ceiba pentandraL.) UNTUK MENJERAP Pb(II) DALAM LIMBAH CAIR ARTIFISIAL Astuti, Widi; Susilowati, Nova
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol 3, No 2 (2014): December 2014
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v3i2.3697

Abstract

Pada penelitian ini, limbah kayu randu digunakan sebagai adsorben untuk menjerap ion Pb (II) dalam larutan. Kayu randu yang telah direaksikan dengan NaOH dikarakterisasi dan diuji kemampuan adsorpsinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada serbuk kayu hasil reaksi dengan NaOH terlihat adanya pori dengan bentuk dan ukuran yang lebih seragam dengan luas permukaan spesifik 7,420 m2/g dan diameter pori 0.3 nm. Adsorpsi mencapai kesetimbangan pada 120 menit dengan kemampuan penjerapan sebesar 2,47 mg/g. Adsorpsi mengikuti model isotherm Freundlich dengan nilai tetapan KF sebesar 1,986 dan n sebesar 0,649.In this research, cotton wood waste was used to adsorb Pb(II) ion in the solution. Sodium hydroxide treated cotton wood was characterized its spesific surface area, pore size, morphology and functional group. Furthermore, it was tested its adsorption ability to adsorb ion Pb(II). The result show that the treated cotton wood has uniform pores. Its specific surface area and pore diameter are 7.420 m2/g and 0.3 nm, respectively. The equilibrium was achieved in 120 minutes. Adsorption ability of the adsorben is 2.47 mg/g. In the adsorption, Freundlich isotherm model fit with the experimental data with the value of KF and n are 1.986 and 0.649, respectively.
BLEACHING OF CRUDE PALM OIL BY ADSORPTION METHOD WITH USING NATURAL ZEOLITE FROM LAMPUNG Astuti, Widi; Amin, Muhammad; Aprimal, Aprimal
Jurnal Zeolit Indonesia Vol 5, No 2 (2006)
Publisher : Jurnal Zeolit Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.902 KB)

Abstract

The research about bleaching of crude palm oil by adsorption method with using natural zeolite from Lampung has been done. The experiment result shows that natural zeolite from Lampung can be used as adsorbent for bleaching process of crude palm oil. Zeolite had been activated by chemical method with hydrochloric acid (HCl) solution before it was used as adsorbent. From the experiment result, we know that the best condition for bleaching process are weight percentage of zeolite that was used to get the highest of transmittance is 20% and the best concentration of HCl solution is 4%. The highest of transmittance for this condition is 48.5.
DESALINATION OF THE BRACKISH WATER USING SURFACTANT MODIFIED ZEOLITE (SMZ) Astuti, Widi; Jamali, Adil; Amin, Muhammad
Jurnal Zeolit Indonesia Vol 6, No 1 (2007)
Publisher : Jurnal Zeolit Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.832 KB)

Abstract

The intrusion of seawater in the beach area of Bandar Lampung and the Eastern beach of Lampung causes many problems for people because it turns the water into a brackish water. The brackish water is the water whose salinity is between 0.5 ppt until 17 ppt. The brackish water cannot be used for drinking, cooking or washing because the maximum degree of salinity for such purposes is 0.5 ppt. Desalination of brackish water is a process of reducing the salinity of a brackish water. In this research, natural zeolite from Lampung was modified with surfactant to become surfactant-modified zeolite (SMZ). It was used as ion exchanger in the desalination of a brackish water. The result showed the salinity of the brackish water could be reduced to 52% from the initial value. The best results were obtained at the contact time of 4 hours and the initial salinity 0.863 ppt.