Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Konseling Eklektik Dengan Kerangka Kerja Skilled Helper Model Yulianti Dwi Astuti
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 21 No. 2 (2016)
Publisher : Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/psikologika.vol21.iss2.art2

Abstract

dalam pemberian intervensi psikologi dibandingkan penggunaan pendekatan konseling murni. Artikel ini mencoba untuk memberikan gambaran tentang pelaksanaan konseling eklektik yang mengkombinasikan pendekatan Person Centered dan Rational Emotive Behavior dengan kerangka kerja Skilled Helper Model dari Egan. Person Centered dipilih karena klien merasa tidak diterima oleh lingkungan sehingga tidak dapat beraktualisasi diri dengan baik. Adapun Rational Emotive Behavior diperlukan karena sumber masalah klien adalah pada kecenderungannya untuk berfikir tidak rasional dan melemahkan diri. Oleh karena itu, setelah klien merasa diterima sepenuhnya oleh konselor, klien kemudian diajari untuk mengubah fikiran dan keyakinannya dengan merekonstruksi persepsi dan fikirannya agar menjadi lebih logis dengan menggunakan teknik dan tata cara yang sesuai. Untuk memastikan proses konseling berjalan dengan teratur dan memberikan hasil, konselor menjadikan model Skilled Helper dari Egan sebagai kerangka kerja dalam melakukan sesi konseling ini.
KEMATIAN AKIBAT BENCANA DAN PENGARUHNYA PADA KONDISI PSIKOLOGIS SURVIVOR : TINJAUAN TENTANG ARTI PENTING DEATH EDUCATION Astuti, Yulianti Dwi
HUMANITAS (Jurnal Psikologi Indonesia) Vol 2, No 1 (2005): Vol 2 No 1 Januari 2005
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (38.641 KB)

Abstract

AbstrakBerbagai macam bencana menimbulkan stres psikologis, tetapi stres akan meningkatapabila banyak orang terbunuh. Reaksi terhadap bencana untuk masing-masing individuberbeda-beda, tetapi reaksi terhadap kerusakan dapat berupa shock, rasa takut, sedih, danmarah, yang dapat mengarah terhadap pemungkiran peristiwa kerusakan yang telah terjadi.Kematian adalah bagian dari kehidupan, yang tiap-tiap individu baik anak maupun orangdewasa harus terbiasa dan memahaminya. Walaupun demikian, sebagaimana pendidikanseks, pengenalan terhadap topik kematian di sekolah dan perguruan tinggi kadang-kadangmengalami perlawanan karena kemungkinan efek kerusakan yang muncul,  baik dari segibacaan, diskusi dan kegiatan lain yang berhubungan dengan topik iniKata kunci: pendidikan tentang kematian, kerusakan, perguruan tinggi, sekolah
Terapi Menulis Ekspresif untuk Meningkatkan Kesejahteraan Subjektif Remaja dengan Lupus Fakhrisina Amalia Rovieq; Fuad Nashori; Yulianti Dwi Astuti
Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi Vol. 6 No. 1 (2021): Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi Islam Fakultas Dakwah IAI-Tribakti Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33367/psi.v6i1.1351

Abstract

Lupus is an autoimmune disease that affects the physical condition and the individual's psychological. Lupus makes teenagers tend to have low subjective well-being. One of the intervention methods to improve personal well-being is through expressive writing. This research aims to observe the effectiveness of expressive writing to improve teenagers' subjective well-being with lupus. This research used one group pretest post-test design involving four people as the subjects (N=4). The data were collected using the measurement tools of Scale of Positive and Negative Experience (SPANE), Satisfaction with Life Scale (SWLS), interview, observation, and the results of the writing of the subjects during the therapy session. The results of the experimental research were in the form of quantitative analysis with the data analysis technique of the K-related sample test, showing no significant change to the scores of the subjective well-being among the subjects after given the therapy of expressive writing. However, the qualitative results showed that definitive writing therapy could be a catharsis media for teenagers with lupus. Therefore, we can conclude that expressive writing is less effective in improving subjective well-being but can be used as a catharsis media for teenagers with lupus.
Religiusitas dan Penerimaan Diri pada Penderita Diabetes Melitus Hesti Badaria; Yulianti Dwi Astuti
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 17 (2004)
Publisher : Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/psikologika.vol9.iss17.art2

Abstract

The current research is aimed at finding a correlation between religiosity and self acceptance among diabetic patients. Data were collected from 30 patients diagnosed with diabetes mellitus using questionnaire and analysed with Pearson product moment correlation. The result indicates that there is a significant correlation between religiosity and self acceptance (r = .603, p < .05). It can be said that 36% of the variance in self acceptance among diabetic patients are explained by their religiosity. Practical and future research implications are discussed.Key words: religiosity, self acceptance, diabetes mellitus
KEMATIAN AKIBAT BENCANA DAN PENGARUHNYA PADA KONDISI PSIKOLOGIS SURVIVOR : TINJAUAN TENTANG ARTI PENTING DEATH EDUCATION Astuti, Yulianti Dwi
HUMANITAS (Jurnal Psikologi Indonesia) Vol 2, No 1: Januari 2005
Publisher : HUMANITAS (Jurnal Psikologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.971 KB)

Abstract

AbstrakBerbagai macam bencana menimbulkan stres psikologis, tetapi stres akan meningkatapabila banyak orang terbunuh. Reaksi terhadap bencana untuk masing-masing individuberbeda-beda, tetapi reaksi terhadap kerusakan dapat berupa shock, rasa takut, sedih, danmarah, yang dapat mengarah terhadap pemungkiran peristiwa kerusakan yang telah terjadi.Kematian adalah bagian dari kehidupan, yang tiap-tiap individu baik anak maupun orangdewasa harus terbiasa dan memahaminya. Walaupun demikian, sebagaimana pendidikanseks, pengenalan terhadap topik kematian di sekolah dan perguruan tinggi kadang-kadangmengalami perlawanan karena kemungkinan efek kerusakan yang muncul,  baik dari segibacaan, diskusi dan kegiatan lain yang berhubungan dengan topik iniKata kunci: pendidikan tentang kematian, kerusakan, perguruan tinggi, sekolah
Hubungan Kesejahteraan Psikologis dengan Kesepian pada Mahasiswa yang Merantau di Yogyakarta Pramitha, Raissa; Dwi Astuti, Yulianti
Jurnal Sosial dan Teknologi Vol. 1 No. 10 (2021): Jurnal Sosial dan Teknologi (SOSTECH)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/jurnalsostech.v1i10.211

Abstract

Latar belakang: Mahasiswa adalah peserta didik yang menjalani pendidikan di sebuah universitas atau perguruan tinggi. Tujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesejahteraan psikologis dan kesepian. Metode penelitian: Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis korelasi, yaitu untuk mengetahui hubungan kesejahteraan psikologis dengan kesepian pada mahasiswa yang merantau di Yogyakarta. Analisis data dilakukan menggunakan program SPSS version 22 for Windows. Hasil penelitian: Terdapat  hubungan negatif antara kesejahteraan psikologis dengan kesepian pada mahasiswa yang merantau di Yogyakarta. (r = -0.655 dan p < 0.05) sehingga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima. Kesimpulan: Hipotesis yang diajukan oleh peneliti tentang adanya hubungan yang negatif antara kesejahteraan psikologis dan kesepian pada mahasiswa yang merantau diterima. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang memiliki kesejahteraan psikologis yang baik akan terhindar dari perasaan kesepian dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki kesejahteraan psikologis yang rendah.
Hubungan antara Efikasi Diri dan Kecenderungan Kambuh pada Pecandu Narkoba yang Menjalani Rehabilitasi di Yogyakarta Intan Agitha Putri; Yulianti Dwi Astuti
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 23 No. 2 (2018)
Publisher : Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/psikologika.vol23.iss2.art6

Abstract

This study aims to examine whether there is a negative relationship between self-efficacy and the tendency of efficacy in drug addicts undergoing rehabilitation. The subjects in this study were 59 drug addicts who were undergoing the recovery process (hospitalization and outpatient care) in a drug rehabilitation centers in Yogyakarta. This study uses a scale of self-efficacy compiled by Noviza (2008) and modified by researchers based on aspects of self-efficacy Corsini (1994). While the Relapse Tendency scale uses a scale from Rozi (2016) that modified researchers referring to the relapse stages of Gorski and Miller (1986). Data analysis using product moment correlation technique shows the value of r = -0.352 (p = 0.006), which means there is a significant negative relationship between self-efficacy and the relapse tendency in drug addicts undergoing rehabilitation.
KEMATIAN AKIBAT BENCANA DAN PENGARUHNYA PADA KONDISI PSIKOLOGIS SURVIVOR : TINJAUAN TENTANG ARTI PENTING DEATH EDUCATION Yulianti Dwi Astuti
HUMANITAS: Indonesian Psychological Journal Vol 2, No 1: Januari 2005
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/humanitas.v2i1.314

Abstract

AbstrakBerbagai macam bencana menimbulkan stres psikologis, tetapi stres akan meningkatapabila banyak orang terbunuh. Reaksi terhadap bencana untuk masing-masing individuberbeda-beda, tetapi reaksi terhadap kerusakan dapat berupa shock, rasa takut, sedih, danmarah, yang dapat mengarah terhadap pemungkiran peristiwa kerusakan yang telah terjadi.Kematian adalah bagian dari kehidupan, yang tiap-tiap individu baik anak maupun orangdewasa harus terbiasa dan memahaminya. Walaupun demikian, sebagaimana pendidikanseks, pengenalan terhadap topik kematian di sekolah dan perguruan tinggi kadang-kadangmengalami perlawanan karena kemungkinan efek kerusakan yang muncul,  baik dari segibacaan, diskusi dan kegiatan lain yang berhubungan dengan topik iniKata kunci: pendidikan tentang kematian, kerusakan, perguruan tinggi, sekolah
Proses Pengambilan Keputusan untuk Memakai Cadar pada Muslimah Author: Fitriani; Yulianti Dwi Astuti
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 17 No. 2 (2012)
Publisher : Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/psikologika.vol17.iss2.art7

Abstract

This study aims to find out and understanding the decision making process on moslem women wearing the face veil (niqaab) and the factors influences moslem women wearing the face veil. The theory used in this study based on the decision making process theory which proposed by Gitosudarmo and Sudita (1997). Total respondents in this study are two moslem women in the aged of 20 to 25 years old, unmarried, wearing the face veil for at least one year, and the first time using the face veil is when still registered as an active student at a particular university in Yogyakarta. The data collection methods used in this study were interviews using an interview guide during the interview process. This study found that the two respondents had been going through the decision making process that similar to the theory propounded by Gitosudarmo and Sudita (1997) which includes setting the goals, identifying problems, developing various solutions alternative, evaluation on various solutions alternative that have been developed and choose an alternative that has been evaluated, implementing the decisions, evaluation upon the implemented decision, monitoring and perform corrective action. Despite all two respondents had known the consequences (risk) that will be encountered, both respondents continue to implement the decision because of the higher achievement or expectations, i.e. preserve their modesty, minimizing the possibility of individuals to cause other people immoral behavior, wanted to became a better person, expect Allah's blessings and to be put in paradise with variety of pleasures in it and so on. Sometimes, the decision was also implemented to avoid something worse that might happen later in the future which is severe consequences (risk) in the hereafter (aakhirah).Keywords: decision making process, face veil (niqaab)
Hubungan Antara Religiusitas Dengan Gaya Penjelasan Pada Mahasiswa Muslim Yulianti Dwi Astuti
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 8 (1999)
Publisher : Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berupaya untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat religiusitas seseorang dengan gaya penjelasan yang dimilikinya. Hipotesis penelitian ini ada hubungannya yang positif antara religiusitas dengan gaya penjelasan.Subjek penelitian ini berjumlah 151 orang (75 pria dan 76 wanita). Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan angket religiusitas dan angket gaya penjelasan.Dari analisis data korelasi product moment diperoleh hasil penelitian berikut : ada hubungan positif yang sangat signifikan antara tingkat religiusitas dengan gaya penjelasan dengan r = 0,811 (p<0,01). Bobot sumbangan efektif tingkat religiusitas terhadap gaya penjelasan adalah 65,777%.  Kata kunci    :   religiusitas, gaya penjelasan, mahasiswa.