Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Hubungan Imunoekspresi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) dengan Stadium Dukes pada Karsinoma Kolorektal Fenny Ariyanni; Sri Suryanti; Abdul Hadi Hassan; Bethy S Hernowo
Majalah Patologi Indonesia Vol 24 No 1 (2015): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1164.861 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Epidermal growth factor receptor (EGFR) berperan dalam patogenesis dan progresivitas karsinoma kolorektal. Stadium Dukes menunjukkan luas penyebaran tumor dan digunakan sebagai pedoman terapi. Pada stadium Dukes A tumor masih terbatas pada tunika submukosa, stadium Dukes B tumor sudah menembus tunika muskularis dan stadium Dukes C sudah bermetastasis ke kelenjar getah bening. Penggunaan kemoterapi adjuvan pada stadium Dukes B masih kontroversi sehingga hanya diberikan pada stadium Dukes B yang high risk. Diperlukan penanda molekuler yang dapat menunjukkan tumor yang agresif. Pada penelitian ini akan diteliti hubungan imunoekspresi EGFR dengan stadium Dukes pada karsinoma kolorektal. EGFR diharapkan dapat digunakan menjadi penanda karsinoma kolorektal yang agresif. Metode Pewarnaan imunohistokimia EGFR dilakukan terhadap 45 blok parafin karsinoma kolorektal yang dilakukan kolektomi (masing-masing stadium Dukes A, B, C 15 kasus). Hasilnya dihubungkan dengan stadium Dukes. Hasil Pada stadium Dukes A sebanyak 2 kasus (13%) menunjukkan imunoekspresi positif dan stadium Dukes B sebanyak 8 kasus (53%) menunjukkan imunoekspresi positif dan pada stadium Dukes C sebanyak 11 kasus (73%) menunjukkan imunoekspresi positif. Imunoekspresi EGFR secara statistik (p=0.004, uji Chi-Square) lebih sering ditemukan pada stadium Dukes C. EGFR berperan penting dalam diferensiasi dan proliferasi sel. Pada sel normal pengaktifan sinyal EGFR menyebabkan proliferasi sel, migrasi, metastasis, penghindaran apoptosis dan angiogenesis. Kesimpulan Imunoekspresi EGFR lebih sering ditemukan pada stadium Dukes C dibanding Dukes A dan B. Kata kunci: EGFR, imunoekspresi, karsinoma kolorektal, stadium Dukes. ABSTRACT Background Epidermal growth factor receptor immunoexpression may clarify the effects of the pathogenesis and determine the prognosis of colorectal carcinoma (CRC). Dukes’ stage explained the extension of the tumor. Dukes’ stage A was defined as malignant tumour in which growth extends into the submucosa, but not into the muscle coat; Dukes’ stage B was defined as the tumour growth extends into the muscle coat; and Dukes’ stage C was defined as the presence of lymph node metastases. Adjuvant chemotherapy in Dukes’ stage B is controversial, which only given to high-risk Dukes’ stage B. Hence, we need to identify high-risk Dukes’ stage B. This research will study association EGFR clone H11 and CRC Dukes’ stage. Methods Immunohistochemistry was performed in paraffin-embedded specimens of 45 cases colorectal carcinoma (each Dukes’ stage A, B, C was 15 cases) for the assesment of clone H11 EGFR expression. The results were correlated with colorectal carcinoma Dukes’ stage. Results At Dukes’ stage A there were 2 cases (13%) showed positive immunoexpression and Dukes’ stage B there were 8 cases (53%) showed positive immunoexpression and Dukes’ stage C there were 11 cases (73%) showed positive immunoexpression. clone H11. EGFR clone H11 immunoexpression (p=0.004, Chi-Square test) was significantly more frequent in Dukes’ stage C. EGFR play an important role in cell differentiation and proliferation. The activation of EGFR signaling would lead to cell proliferation, migration, metastasis, evasion of apoptosis or angiogenesis. Conclusion EGFR immunoexpression was more frequent in colorectal carcinoma Dukes’ stage C explain clearly that EGFR play important role in pathogenesis colorectal carcinoma. Key words: colorectal carcinoma, Dukes’ stage, EGFR, immunoexpression.
Hubungan Ekspresi HER-2/neu dengan Derajat Histopatologi dan Invasi Perineural Anandia Putriyuni; R. Z Nizar; Bethy S Hernowo
Majalah Patologi Indonesia Vol 25 No 1 (2016): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (833.02 KB)

Abstract

Latar belakang Kanker prostat menempati urutan kedua terbanyak dan urutan keenam penyebab kematian karena kanker pada laki-laki di dunia. Prognosis buruk masih ditemukan pada kanker prostat meskipun telah diberikan terapi hormonal. Overekspresi HER-2/neu telah ditemukan pada beberapa keganasan dan dihubungkan dengan prognosis yang buruk. Peranan HER-2/neu dalam tumorigenesis dan progresivitas kanker prostat masih kontroversi. Tujuan penelitian ini untuk melihat ekspresi HER-2/neu pada adenokarsinoma prostat serta menghubungkannya dengan faktor prognostik yaitu derajat histopatologi dan invasi perineural. Metode Sampel adenokarsinoma prostat didapatkan sebanyak 44 kasus dari Laboratorium Patologi Anatomik di wilayah Sumatera Barat. Sampel diperoleh dari transurethral resection of prostate (TURP) dan open prostatectomy. Selanjutnya dilakukan review terhadap derajat histopatologi dengan menggunakan skor Gleason ISUP 2005 yang direvisi dan invasi perineural. Pewarnaan imunohistokimia HER-2/neu dengan menggunakan antibodi primer c-erbB. Ekspresi HER-2/neu dinilai pada membran sel dan sitoplasma. Hasil Ekspresi HER-2/neu ditemukan pada 41 kasus yaitu membran sel sebanyak 5 kasus (11,36%) dan sitoplasma 36 kasus (81,82%). Dua puluh dua dari 44 kasus (50%) termasuk dalam derajat histopatologi diferensiasi buruk/tidak berdiferensiasi (skor Gleason 8-10) dan 10 dari 44 kasus (22,73%) dengan invasi perineural positif. Ekspresi HER-2/neu tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan derajat histopatologi (p=0,425) dan invasi perineural (p=0,177). Kesimpulan Ekspresi HER-2/neu sebagian besar ditemukan pada sitoplasma dibandingkan dengan membran sel. Pada penelitian ini ekspresi HER-2/neu tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan derajat histopatologi dan invasi perineural. Kata kunci: adenokarsinoma prostat, derajat histopatologi, ekspresi HER-2/neu, invasi perineural.
Korelasi antara Imunoekspresi Retinoid Acid Receptor (RAR) Alfa dan Ki-67 dengan Stadium Klinis dan Diferensiasi Retino-blastoma Friska Mardianty; Sri Suryanti; Bethy S Hernowo
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.465 KB)

Abstract

Latar belakang Retinoblastoma merupakan keganasan mata tersering pada anak usia dibawah 5 tahun dan 50-60% kasus retinoblastoma di negara berkembang berakhir dengan kematian. Terapi saat ini sangat tergantung dengan stadium klinis dan walaupun telah diberikan terapi yang sesuai, masih ditemukan kasus rekurensi atau metastasis. Vitamin A diketahui banyak berperan untuk mata, dan telah terbukti pula vitamin A berperan pada karsinogenesis di beberapa keganasan lainnya. RAR alfa adalah reseptor dari retinoid acid yang salah satu fungsinya adalah sebagai anti proliferasi, sedangkan Ki-67 adalah petanda untuk menilai indeks proliferasi dari suatu sel. Tujuan penelitian ini dapat menilai adakah hubungan RAR dan Ki-67, berdasarkan diferensiasi dan stadium klinis pada retinoblastoma. Metode Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dengan desain analisis korelasi terhadap 40 kasus retinoblastoma yang memenuhi kriteria penelitian, periode januari 2010-november 2014 di Departemen Patologi Anatomik RS Hasan Sadikin, Bandung. Seluruhnya dilakukan pulasan imunohistokimia RAR alfa dan Ki-67 dikorelasikan dengan stadium klinis dan diferensiasi sel. Hasil penelitian dianalisis statistik dengan uji Coefficient Contingensy dan kriteria Guillford. Hasil Hasil penelitian ini seluruhnya memberikan imunoekspresi positif pada RAR alfa dan Ki-67. Didapatkan imunoekspresi Ki-67 berkorelasi positif terhadap diferensiasi (p=0,042 dan R=0,370), namun tidak terdapat korelasi bermakna dengan stadium klinis, sedangkan pada pemeriksaan RAR alfa tidak terdapat korelasi bermakna baik dengan stadium klinis maupun tipe diferensiasi sel. Kesimpulan Tipe yang tidak berdiferensiasi menunjukkan indeks proliferasi yang lebih tinggi dibandingkan tipe yang berdiferensiasi. Kata kunci : diferensiasi, Ki-67, RAR alfa, retinoblastoma, stadium.
Hubungan Imunoekspresi CD44 dengan Metastasis Karsinoma Papilari Tiroid Yasni Iryani Widiasih; Herry Yulianti; Hasrayati Agustina; Bethy S Hernowo
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 3, No 1 (2019): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v3i1.2202

Abstract

Karsinoma tiroid (KT) merupakan keganasan endokrin yang paling sering terjadi dan karsinoma papilari tiroid (KPT) adalah tipe histopatologis terbanyak mencapai 80%. KPT mempunyai perangai yang baik dengan pertumbuhan yang lambat. Namun ditemukan KPT dengan perangai yang agresif, ditandai dengan metastasis ke KGB lebih dari 50% kasus. Cluster of Differentiation 44 (CD44) merupakan penanda imunohistokimia yang berperan dalam memprediksi sifat agresif tumor ganas payudara. Namun peran CD44 pada KPT belum diketahui dengan pasti. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara imunoekspresi CD44 dengan metastasis pada KPT.Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional terhadap kasus KPT yang didiagnosis secara histopatologis di Departemen Patologi Anatomi RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung tahun 2012-2017. Jumlah sampel sebanyak 60 sampel yang terdiri dari 30 kasus KPT non metastasis dan 30 kasus KPT metastasis, keseluruhan sampel dilakukan pulasan imunohistokimia CD44 .Imunoekspresi CD44 pada kelompok metastasis terekspresi lemah pada 6 kasus (20,0%) dan terekspresi kuat pada 24 kasus (80,0%), sedangkan pada kelompok non metastasis terekspresi lemah pada 13 kasus (43,3%) dan terekspresi kuat pada 17 kasus (56,7%) dengan nilai p value 0,052. Hasil dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara imunoekspresi CD44 terhadap metastasis. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa CD44 tidak berperan di dalam metastasis dan tidak dapat dijadikan penanda untuk memprediksi metastasis pada kasus KPT serta diperlukan penelitian lanjutan dengan pemilihan penanda yang lebih selektif.Kata Kunci : agresif, CD44, KPT, metastasis
Hubungan antara Imunoekspresi Bcl-2 dan Caspase-3 dengan Respon Kemoterapi CHOP pada Limfoma Malignum Non-Hodgkin Tipe Sel B CD20 Positif Roro Wahyudianingsih; Bethy S Hernowo; Abdul H Hassan; Birgitta M Dewayani
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 2 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.931 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Limfoma malignum merupakan suatu keganasan dari sel-sel jaringan limfoid. Limfoma non-Hodgkin (LNH) tipe sel B mencakup 90% dari seluruh limfoma di seluruh dunia, dengan angka kejadian mencapai 4% kasus baru per tahun. Regimen kemoterapi CHOP (Cyclophospamide, Hydroxydaunorubicin, Oncovin, Prednison) merupakan standar terapi penderita LNH, dengan angka respon komplit hanya sebesar 40% sampai 50%. Pada sekitar 30% kasus LNH tidak berespon dengan kemoterapi CHOP dan terjadi progresi penyakit bahkan sampai terjadi kematian. Respon kemoterapi yang efektif ditandai dengan peningkatan jumlah sel yang mengalami apoptosis. Protein bcl-2 berfungsi sebagai anti-apoptosis, sedangkan caspase-3 berperan sebagai eksekutor caspase (pro-apoptosis). Penelitian ini bermaksud menilai hubungan antara imunoekspresi bcl-2 dan imunoekspresi caspase-3 dengan respon kemoterapi CHOP. Metode Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dengan desain analitik potong lintang terhadap 63 kasus LNH tipe sel B CD20 positif yang memenuhi kriteria penelitian, dari Januari 2009-Juni 2011 di Departemen Patologi Anatomik RSHS, Bandung. Kemudian dilakukan pulasan imunohistokima bcl-2 dan caspase-3, dan dihubungkan dengan respon kemoterapi dari data rekam medis. Hasil penelitian dianalisis statistik dengan uji Chi-square. Hasil Hasil penelitian ini adalah terdapat hubungan yang bermakna antara imunoekspresi bcl-2 yang lemah dengan baiknya respon kemoterapi CHOP (p=0,012), antara imunoekspresi caspase-3 yang kuat dengan baiknya respon kemoterapi CHOP (p=0,033), dan terdapat hubungan antara gabungan imunoekspresi bcl-2 yang lemah dan caspase-3 yang kuat dengan baiknya respon kemoterapi CHOP (p=0,009). Kesimpulan Ekspresi bcl-2 lemah dan imunoekspresi caspase-3 kuat menunjukkan respon kemoterapi CHOP yang lebih baik pada penderita LNH tipe sel B CD20 positif. Kata kunci : apoptosis, bcl-2, caspase-3, CD20, kemoterapi CHOP, LNH tipe sel B ABSTRACT Background Malignant lymphoma is malignancy originates from lymphoid tissue. B-cell type non-Hodgkin lymphoma (NHL) accounts for 90% from all lymphoma in the world. The incidence of B-cell type NHL approximately 4% of new cases every year. The chemotherapeutic agents CHOP (Cyclophospamide, Hydroxydaunorubicin, Oncovin, Prednison) is the standard treatment for NHL patient, with only 40%-50% complete response. In approximately 30% cases of NHL showed non-response with standard chemotherapy and underwent progressive disease until death. The effective chemotherapy response was shown by increasing number of cells that undergo apoptosis. Bcl-2 is a protein functions as anti-apoptotis, on the other hand caspase-3 has a role as excecutor caspase (pro-apoptotic). The aim of this study was to assess the association between bcl-2 and caspase-3 immunoexpression with CHOP chemotherapy response. Methods This is a retrospective study in 63 cases of B-cell type NHL which met the research criterias, using cross-sectional analytic design, at the Departement of Anatomical Pathology, Dr. Hasan Sadikin General Hospital in Bandung from January 2009 to June 2011. Immunohistochemistry for bcl-2 and caspase-3 were done, and then the clinical chemotherapy response were collected from the medical records. The result was analyzed using Chi-square. Results This study shows significant association between weak bcl-2 immunoexpression with good CHOP chemotherapy response (p=0.012), significant association between strong caspase-3 immunoexpression with good CHOP chemotherapy response (p=0.033), and significant association between combination of weak bcl-2 and strong caspase-3 immunoexpression with good CHOP chemotherapy response (p=0.009). Conclusion The weak bcl-2 immunoexpression and strong caspase-3 immunoexpression show good chemotherapy response in B-cell type LNH. Key words : apoptosis, bcl-2, B-cell type NHL, caspase-3, CD20, CHOP chemotherapy,
Profil Mutasi H-RAS Ekson 2, 3, 4 pada Karsinoma Urotelial Buli dan Papillary Urothelial Neoplasm of Low Malignant Potential di RSHS Bandung Periode 2010-2015 Ris Kristiana; Bethy S Hernowo
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 1 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.561 KB)

Abstract

Latar belakang Karsinoma urotelial adalah tumor ganas dari epitel transisional buli yang terbagi menjadi karsinoma urotelial infiltratif dan karsinoma urotelial papiler non invasif. Pada buli, karsinoma urotelial merupakan jenis keganasan terbanyak (90%) dan merupakan keganasan yang menjadi penyebab kematian ketiga dari tumor urogenital. H-RAS adalah bagian dari keluarga RAS yang berperan dalam proliferasi sel, diferensiasi dan maturasi. Mutasi H-RAS pertama kali ditemukan pada karsinoma urotelial dan dapat terjadi pada setiap derajat dan stadium. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil mutasi H-RAS ekson 2, 3 dan 4 pada karsinoma urotelial buli. Metode Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif pada 40 sampel blok parafin yang memenuhi kriteria inklusi dan telah didiagnosis sebagai karsinoma urotelial pada tahun 2010-2015 di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung. Pada semua sampel dilakukan pemeriksaan PCR dengan menggunakan Gene Amp PCR System 9700 kemudian dilakukan pemeriksaan sekuensing DNA pada ekson 2, 3 dan 4 dengan menggunakan metoda Sanger. Variabel lain yang diteliti adalah tipe histopatologik karsinoma urotelial buli yang dibagi menjadi karsinoma urotelial infiltratif dan karsinoma urotelial papiler non invasif. Hasil Dari 40 sampel blok parafin yang diperiksa hanya 13 yang dapat dilakukan sekuensing. Sebanyak 4 (30,7%) dari 13 sampel yang dapat di sekuensing mengalami mutasi pada ekson 3 dan sisanya adalah wild type. Mutasinya berupa substitusi T>A dan A>C sehingga terjadi perubahan protein metionin menjadi lysin dan serin menjadi arginin. Mutasi H-RAS lebih banyak terjadi pada PUNLMP. Kesimpulan Tidak terdapat mutasi H-RAS pada ekson 2 dan 4 pada 13 sampel yang dilakukan sekuensing. Mutasi H-RAS terjadi pada ekson 3, satu mutasi terjadi pada IUC pT3 dan sisanya terjadi pada PUNLMP.
Pemeriksaan Real Time-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) pada Granuloma Well Organized dan Poorly Organized Limfadenitis Tuberkulosis Dianti Lestari; Birgitta M Dewayani; Abdul Hadi Hassan; Bethy S Hernowo
Majalah Patologi Indonesia Vol 23 No 2 (2014): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.143 KB)

Abstract

Introduction Tuberculous lymphadenitis (TBL) was the most common form of extrapulmonary tuberculosis. The diagnose of TBL was based on the tubercle formation that consist of granuloma and caseous necrosis. There were 2 type of granuloma, well organized (WOG) and poorly organized granuloma (POG). Well organized granuloma were characterized by varying amount of eosinophilic necrosis surrounded by granuloma composed of mature epithelioid macrophages, mainly Langhans type giant cells and a mantle of lymphocytes and fibrous tissues. Poorly organized granuloma were characterized by central area of sparse coarse necrosis with nuclear debris and often polymorphonuclear granulocytes, the granuloma had an ill-defined mantle with mixed cells composed of macrophages, lymphocytes and plasma cells, only few giant cells were seen and there was little or no fibrosis. Inflamatory granuloma also can be found in non TBL, especially POG. The purpose of this study was to find out the etiology of WOG and POG based on the RT-PCR result. Methods This study used 30 formalin-fixed paraffin-embedded tissue blocks from patients who were histopathologically diagnosed as TBL with hematoxillin eosin (HE) staining, consist of 15 samples WOG and 15 samples POG. This study performed RT-PCR to all cases in order to find out the etiology of GWO and GPO and to know if there will be any differences in RT-PCR result between WOG and POG. Results Of the 15 WOG cases, 10 (67%) cases were RT-PCR positive and 5 (33%) cases were RT-PCR negative, whereas 15 cases POG consist of 8 (53%) cases were RT-PCR positive and 7 (47%) cases were RT-PCR negative. Both of cases WOG and POG was analyzed, according to the statistical analysis had found that there were no differences RT-PCR result between WOG and POG significantly (p>0.05). Conclusion There were no differences in RT-PCR result between histopathologic feature of WOG and POG. Key words : Poorly organized granuloma, RT-PCR, tuberculosis lymphadenitis, well organized granuloma.
Korelasi antara Imunoekspresi LMP-1 Virus Epstein-Barr dengan Respon Kemoterapi CHOP pada Limfoma Maligna Non-Hodgkin Tipe Diffuse Large B Cell. Inas Susanti; Hasrayati Agustina; Bethy S Hernowo
Majalah Patologi Indonesia Vol 23 No 2 (2014): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.697 KB)

Abstract

Background Diffuse large B cell lymphoma is the most common type of B-cell non-Hodgkin malignant lymphoma. Epstein-Barr virus (EBV) has been shown to contribute to the development of this tumor especially in the elderly patient (above 50 years). The chemotherapeutic agents CHOP (Cyclophospamide, Hydroxydaunorubicin, Oncovin, Prednison) are standard treatment for non-Hodgkin lymphoma patients, but approximately 30% cases shows non-respone with standard chemotherapy and undergoes progressive disease until death. There are no accurate predictor factors in predicting CHOP chemotherapy respone in patients with DLBCL. The aim of this study is to determine the role of LMP-1 in predicting CHOP chemotherapy respone in patients with DLBCL. Methods This study was done retrospectively in 34 cases of DLBCL. The samples were obtained from the Anatomic Pathology Department of Dr. Hasan Sadikin Hospital from January 2009 to Desember 2011. All cases were reviewed for histopathological diagnoses based on the WHO Classification of 2001 and the specimens were stained with specific antibodies against CD 20 (for diagnoses DLBCL) and LMP-1. The data were analized using rank Spearman’s correlation test. Results This study showed that 31 cases (91.18%) were LMP-1 positive, only 3 cases (8.82%) were negative. Three cases of negative LMP-1 had a good respone to chemotherapy, whereas among 31 positive cases LMP-1 showed good respone to chemotherapy in 21 cases and the remaining 10 cases had a poor respone to chemotherapy. There was no correlation between EBV-LMP-1 immunoexpression with CHOP chemotherapy respone in DLBCL (p=0.436). Conclusion There was no correlation between EBV-LMP-1 immunoexpression with CHOP chemotherapy respone in DLBCL. Key words: CHOP, DLBCL, EBV, LMP-1, non-Hodgkin lymphoma.
Hubungan antara HER-2/neu dan Ki-67 dengan Respons Kemo-terapi Neoadjuvan pada Karsinoma Payudara Lanjut Lokal I Made Jatiluhur; Anglita Yantisetiasti; Abdul Hadi Hassan; Bethy S Hernowo
Majalah Patologi Indonesia Vol 23 No 3 (2014): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1021.387 KB)

Abstract

Background Locally advanced breast cancer (LABC) were stage III breast carcinoma based on TNM system, with an incidence >50% of all breast cancers in developing countries , including Indonesia. The first treatment of LABC is neoadjuvant chemotherapy, most often in anthracycline base. The purpose of this study is to analyze the relationship between HER-2/neu and Ki-67 with anthracycline-based neoadjuvant chemotherapy responsse in LABC. Methods The study involved 52 LABC, each of 26 patients responsding and not responsding. Paraffin block from biopsy stained with HER-2/neu and Ki-67 immunohistochemistry. HER-2/neu expression interpreted as positive and negative, while Ki-67 were categorized as
Hubungan Imunoekspresi Human Telomerase Reserve Transcriptase (hTERT) dan Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) dengan Gradasi Histopatologi Meningioma Betty Marlina; Anglita Yantisetiasti; Abdul Hadi Hassan; Bethy S Hernowo
JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" Vol. 2 No. 1 (2014): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jmj.v2i1.2695

Abstract

ABSTRACT Background: Meningioma is a tumor composed of cells of neoplastic meningothelial (arachnoidal) cells that a rise from the arachnoid membrane and the layer of the arachnoid villi associated with intradural venous sinuses and surrounding tissue. Meningiomas tumors is one of the central nervous system (CNS) the most commonly found (the second sequence) and generally grow slowly. Approximately 60-95% activity of telomerase (hTERT ) found on meningiomas and can induces VEGF . The aim of this study is to determine the role of hTERT and VEGF in meningiomas grading . Methods : This study is conducted using analytic observasional cross sectional method and had been analyzed with  unpaired categorical analysis of the 60 cases of meningioma (46 cases grade I, 7 cases grade II, and7 cases grade III). The sample were obtained the archive of Anatomical Pathology Department, Faculty of Medicine, Padjadjaran University/Dr. Hasan Sadikin Hospital Result : The result of this study showed: 44 cases (96%) grade I meningiomas showed positive hTERT imunoexpression weak to strong, 2 cases(4%) non-reactive and VEGF imunoexpression showed strong positive 12 cases (26%), 24 cases(52%) were moderate positive and 10 cases (22%) weak positive. 7 cases (100%) grade II showed a strong positive hTERT imunoexpression and 5 cases (71%) showed a strong positive VEGF imunoexpression, 2 cases (29%) were moderate positive. 6 cases (86%) grade III showed strong positive hTERT imunoexpression, 1 case (14%) were moderate positive and 7 cases(100%) showed a strong positive VEGF imunoexpression. Statistical analysis revealed imunoexpression VEGF showed stronger positivity with p- value = 0.02 (< 0.05) compared to the hTERT imunoexpression with p-value =  0.73 (> 0.05). Conclusion : More affecting angiogenesis gradations meningiomas, seen by the presence of VEGF higher imunoexpression on higher gradations. hTERT Imunoexpression cannot determine of the meningiomas histopathological grading.