Endang SR Hardjolukito
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Majalah Patologi Indonesia

Ekspresi Topoisomerase II α pada Diffuse Large B Cell Lympho-ma dan Hubungannya dengan Respon Terapi Indri Windarti; Endang SR Hardjolukito; Maria Francisca Ham; Tubagus Djumhana Atmakusuma; Wulyo Rajabto
Majalah Patologi Indonesia Vol 22 No 3 (2013): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.276 KB)

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Kemoterapi pilihan untuk Diffuse Large B Cell Lymphoma (DLBCL) adalah regimen yang mengandung doksorubisin. Doksorubisin merupakan obat kemoterapi golongan antrasiklin yang bekerja sebagai anti Topoisomerase II (Top2). Penelitian sebelumnya terhadap galur sel tumor menunjukkan bahwa ekspresi Topoisomerase II α (Top2A) yang tinggi berhubungan dengan sensitifitas terhadap antrasiklin yang tinggi pula. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ekspresi protein Top2A pada DLBCL dan hubungannya dengan respon terapi. Metode Studi potong lintang dilakukan terhadap 38 kasus DLBCL dengan pulasan CD20 positif, yang telah mendapat kemoterapi minimal 4 siklus. Imunohistokimia dilakukan pulasan terhadap protein Top2A dengan menggunakan H-score. Hasil Ekspresi Top2A ditemukan pada 37 dari 38 kasus (97%) dengan kisaran H-score 101,5-215,0 dan median 124,1. H-score nilai Top2A dikatakan tinggi jika H-score lebih dari 124,1. Analisis statistik menunjukkan bahwa ekspresi Top2A pada DLBCL tidak berhubungan bermakna dengan respon terapi (p=0,670). Kesimpulan Ekspresi Top2A dan respon terapi tidak memiliki hubungan bermakna. Ekpresi Top2A pada DLBCL tidak dapat dijadikan prediktor respon terapi. Kata kunci: DLBCL, Doksorubisin, ekspresi Top2A, respon terapi. ABSTRACT Background Standard of chemotherapy for Diffuse Large B Cell Lymphoma (DLBCL) is a regimen containing doxorubicin. Doxorubicin is a component of anthracycline based chemotherapy that work as anti Topoisomerase II (Top2). Previous study on tumor cell lines showed that high expression of Topoisomerase II α (Top2A) was related to higher sensitivity to anthracycline as well. The aim of this study is to know the expression of Top2A and its relation to treatment response. Methods A cross-sectional study on 38 which DLBCL cases CD20 positive that have been treated with at least 4 cycles of chemotherapy. The immunohistochemical staining was performed on Top2A protein assesed using H-score. Results Expression of Top2A protein were found in 37 of 38 (97%) cases (H-score range: 101.5-215.0 and median 124.1). Value Top2A was defined as high if H-score more was higher than 124.1. Statistical analysis showed that Top2A expression in DLBCL was not significantly related to treatment response (p=0.670). Conclusion There was no significant relation between Top2A expression and treatment response. Top2A expression in DLBCL cannot be used as a predictor of treatment response. Key words: DLBCL, Doxorubicin, Top2A expression, treatment response.
Perbedaan Ekspresi BCL-2 pada Limfoma Sel B Jenis Sel Besar Difus sebagai Salah Satu Petanda Subtipe Germinal Center B-Cell Like dan Non-Germinal Center B-Cell Like Dayanto Indro Utomo; Maria Francisca Ham; Kusmardi Kusmardi; Endang SR Hardjolukito
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 1 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.628 KB)

Abstract

Latar belakangLimfoma non-Hodgkin sel B jenis sel besar difus (DLBCL; Diffuse Large B-Cell Lymphoma) adalah jenis limfoma non-Hodgkin yang paling banyak ditemukan dan merupakan suatu entitas yang sangat heterogen secara klinik maupun morfologik. Para ahli mengelompokkan DLBCL ke dalam dua subtipe yaitu subtipe Germinal Center B Cell-Like (GCB) dan non-Germinal Center B-Cell Like (non-GCB), di mana GCB memiliki prognosis yang lebih baik. Penjelasan tentang perbedaan dari kedua subtipe belum sepenuhnya diketahui. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan ekspresi Bcl-2 pada kedua subtipe DLBCL yang mungkin dapat menjelaskan perbedaan prognosisnya.MetodeStudi potong lintang dilakukan pada 41 kasus DLBCL, terdiri atas 18 kasus subtipe GCB dan 23 kasus subtipe non-GCB. Dilakukan review diagnosis histopatologik dari sediaan H&E serta review imunofenotip dari sediaan imunohistokimia. Dilakukan pemeriksaan ekspresi Bcl-2 secara imunohistokimia dan penilaian positivitas dengan nilai cut off 31%. Selanjutnya dilakukan analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney.HasilSeluruh kasus DLBCL, sejumlah 18 kasus subtipe GCB, 15 kasus ekspresi Bcl-2 dikategorikan tinggi. Sejumlah 23 kasus subtipe non-GCB ditemukan 22 kasus ekspresi Bcl-2 termasuk kategori tinggi. Ekspresi Bcl-2 pada DLBCL subtipe non-GCB (nilai rerata 78,70%) lebih tinggi secara bermakna dibandingkan ekspresi Bcl-2 subtipe GCB (nilai rerata 66,61%) (p<0,05).KesimpulanEkspresi Bcl-2 pada DLBCL subtipe non-GCB lebih tinggi dibandingkan ekspresi Bcl-2 subtipe GCB. Hal ini mungkin dapat menjadi salah satu penjelasan perbedaan prognosis diantara keduanya.
Hubungan Subtipe Imunofenotipik Berdasarkan Ekspresi CD56 dan CD16 dengan Ekspresi CD30 dan Ki-67 pada Limfoma Sel NK/T Ekstranodal Tipe Nasal Stephanie Maris; Kusmardi Kusmardi; Endang SR Hardjolukito; Maria Francisca Ham; Agnes Stephanie Harahap
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 2 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.533 KB)

Abstract

Latar belakangLimfoma sel NK/T ekstranodal tipe nasal (NKTCL; extranodal NK/T-cell lymphoma, nasal type) dapat dikategorikan menjadi beberapa subtipe berdasarkan ekspresi CD56 dan CD16 sesuai dengan pola perkembangan fenotip sel natural killer (NK) normal. Ekspresi CD56 banyak ditemukan pada tahap diferensiasi sel NK yang lebih awal, sedangkan ekspresi CD16 terdapat pada sel NK dengan diferensiasi yang lebih mature. Selain fenotip normal, adanya infeksi virus Epstein-Barr (EBV) sebagai etiologi NKTCL berkaitan dengan fenotip teraktivasi yang ditandai dengan ekspresi CD30, kemudian mengaktifkan jalur sinyal nuclear factor kappa beta (Nf-KB) sehingga dapat menyebabkan pertumbuhan dan proliferasi sel tumor. Pada penelitian ini diteliti hubungan antara subtipe NKTCL berdasarkan ekspresi CD56 dan CD16 dengan ekspresi CD30 serta indeks proliferasi Ki-67.MetodaPenelitian ini menggunakan metoda potong lintang. Sampel terdiri atas 32 kasus NKTCL di Departemen Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) periode Januari 2010 sampai April 2016. Dilakukan pulasan imunohistokimia CD16, CD30 dan Ki-67, sedangkan pewarnaan CD56 diambil dari arsip. Selanjutnya dihitung persentasis positivitas pada setiap pulasan tersebut.HasilPositivitas CD56 ditemukan pada semua kasus (100%). Positivitas CD16 sebanyak 16 (50%) kasus, positivitas CD30 sebanyak 17 (53,13%) kasus, dan indeks proliferasi Ki-67 tinggi sebanyak 16 (50%) kasus. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara subtipe NKTCL (CD56+CD16- dan CD56+CD16+) dengan ekspresi CD30 (p=0,723). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara subtipe NKTCL (CD56+CD16- dan CD56+CD16+) dengan indeks proliferasi Ki-67 (p=0,480). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara ekspresi CD30 dengan indeks proliferasi Ki-67 (p=0,723).KesimpulanSubtipe imunofenotipik NKTCL (CD56+CD16- dan CD56+CD16+) tidak berhubungan dengan fenotip teraktivasi (CD30) maupun proliferasi (Ki-67).
Perbedaan Imunoekspresi Caspase-3 antara Diffuse Large B-Cell Lymphoma Subtipe Germinal Center B-Cell-Like dan Non-Germinal Center B-Cell-Like Rosita Alfi Syahrin; Maria Francisca Ham; Agnes Stephanie Harahap; Benyamin Makes; Endang SR Hardjolukito
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 1 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.012 KB)

Abstract

Latar belakangTipe terbanyak dari limfoma non-Hodgkin (LNH) sel B adalah diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL) yang merupakan entitas heterogen. Hans membagi DLBCL menjadi subtipe germinal center B-cell-like (GCB) dan non-germinal center B-cell-like (non-GCB) dengan tehnik pemeriksaan imunohistokimia menggunakan CD10, BCL6 dan MUM1. GCB mempunyai prognosis baik dan non-GCB berprognosis buruk. Caspase-3 adalah protein yang berperan utama dalam mekanisme apoptosis dan dapat mengalami mutasi somatik pada LNH. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan imunoekspresi Caspase-3 pada DLBCL subtipe GCB dan non-GCB yang mungkin berkaitan dengan perbedaan prognosis kedua subtipe tersebut.MetodePemeriksaaan imunoekspresi Caspase-3 pada kasus pasien DLBCL yang terdiri atas subtipe GCB dan non-GCB dilakukan dengan tehnik imunohistokimia. Subjek penelitian berasal dari blok parafin di Departemen Patologi Anatomik FKUI/RSCM dan enam rumah sakit lainnya di Jakarta. Metode penelitian observasional deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Prosedur pulasan imunohistokimia dengan cara Trekavidin biotin dan penilaian dilakukan oleh dua orang peneliti tanpa diketahui jenis subtipe GCB atau non-GCB.HasilDitemukan 41 kasus DLBCL yaitu 18 kasus subtipe GCB dan 23 kasus subtipe non-GCB. Subtipe GCB memberikan hasil positif dengan pulasan Caspase-3 berjumlah 13 kasus (72%) dan negatif berjumlah 5 kasus (28%). Hasil yang didapatkan dari subtipe non-GCB yaitu positif berjumlah 5 kasus (22%) dan negatif berjumlah 18 kasus (78%). Terdapat perbedaan bermakna imunoekspresi Caspase-3 antara DLBCL subtipe GCB dengan subtipe non-GCB (p=0,002). Imunoekspresi Caspase-3 menunjukkan positivitas yang lebih tinggi pada DLBCL subtipe GCB dibandingkan dengan subtipe non-GCB.KesimpulanPenelitian ini menunjukkan bahwa imunoekspresi Caspase-3 pada kedua subtipe DLBCL berbeda secara bermakna, di mana lebih tinggi pada subtipe GCB dibandingkan pada subtipe non-GCB. Hal ini mungkin dapat menjelaskan latar belakang perbedaan prognosis di antara kedua subtipe tersebut.