Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Ekspresi Ki-67 pada Karsinoma Sebasea Palpebra dengan Penye-baran Pagetoid dan Diferensiasinya Rina Effendi; Nurjati Chairani Siregar; Puspita Eka Wuyung
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.6 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma sebasea palpebra termasuk dalam karsinoma adneksa mata terbanyak dan memiliki prognosis buruk. Penyebaran pagetoid pada karsinoma sebasea palpebra merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prognosis buruk. Dalam penelitian ini akan dianalisis hubungan ekspresi Ki-67 dengan dan tanpa penyebaran pagetoid pada karsinoma sebasea palpebra.MetodePenelitian ini menggunakan desain potong-lintang, retrospektif, konsekutif pada 20 kasus karsinoma sebasea palpebra dengan penyebaran pagetoid dan 20 kasus tanpa penyebaran pagetoid di Departemen Patologi Anatomik FKUI/RSCM periode Januari 2009 sampai September 2016. Dilakukan pulasan imunohistokimia untuk Ki-67, kemudian dihitung persentase positivitasnya dari minimal 500 sel tumor menggunakan Image J, dan dilakukan analisis statistik menggunakan uji t test independent. Selain itu juga dihubungkan antara diferensiasi histologik dengan ekspresi Ki-67 menggunakan uji statistik Anova.HasilEkspresi Ki-67 pada semua kasus mempunyai rentang antara 2,8% sampai 88%, ekspresi Ki-67 tinggi sebanyak 30 kasus (75%). Ekspresi Ki-67 pada penyebaran pagetoid lebih tinggi dibanding tanpa penyebaran pagetoid (43,83±19,8: 34,10±21,26), walaupun tidak berbeda bermakna secara statistik (p=0,136). Ekspresi Ki-67 dibandingkan pada karsinoma sebasea berdiferensiasi baik, sedang dan buruk (34,07±28,79: 41,83%±19,96: 30,50±12,31), tidak berbeda bermakna (p=0,396).KesimpulanDitemukan ekspresi tinggi Ki-67 pada karsinoma sebasea palpebra. Tidak terdapat perbedaan bermakna ekspresi Ki-67 pada karsinoma sebasea palpebra dengan penyebaran pagetoid dibandingkan tanpa penyebaran pagetoid, maupun pada berbagai derajat diferensiasi histologik.
Peranan miRNA-200 dalam tahapan metastasis kanker Salinah Salinah; Puspita Eka Wuyung
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.v6i1.7238

Abstract

MikroRNA merupakan bagian dari keluarga besar non-coding RNA yang secara negatif meregulasi ekspresi gen pengkode protein paska transkripsi melalui pasangan basa antara 5’ seed region miRNA dengan 3’ untranslated region dari mRNA. Berbagai studi telah menunjukkan adanya peran penting miRNA pada perkembangan kanker. Keluarga miR-200 termasuk mikroRNA yang berperan dalam inisiasi hingga tahap metastasis kanker. miR-200 terdiri dari 5 anggota yaitu miR-200a, -200b, -200c, -141, dan -429. Keluarga miR-200 berperan pada tiap tahapan metastasis yaitu mulai dari pertumbuhan tumor, angiogenesis, invasi ke jaringan sekitar, transisi dari epitelial ke mesenkimal, migrasi sel tumor, intravasasi sel tumor, kemampuan survival sel tumor di dalam  sirkulasi, dan ekstravasasi sel tumor serta kolonisasinya.
Ekspresi Bcl-2 pada Karsinoma Urotelial Kandung Kemih dan Hubungannya dengan Berbagai Faktor Prognosis Hendy Setyo Yudhanto; Budiana Tanurahardja; Puspita Eka Wuyung
Majalah Patologi Indonesia Vol 28 No 3 (2019): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.187 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar belakangKarsinoma urotelial kandung kemih merupakan kasus terbanyak di organ kandung kemih mencapai 90% kasus.Stadium dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu non invasif jika belum menembus lapisan muskularis dan invasifjika sudah menembus lapisan muskularis. Kesintasan 5 tahun tergantung dari derajat keganasan dan stadium.Derajat keganasan rendah dan belum invasi muskuler dapat mencapai 90%, tetapi angka rekurensi berkisar40-60%. Derajat keganasan tinggi dan sudah invasi hanya berkisar 10-17%. Mitosis dan invasi limfovaskulerberhubungan dengan angka rekurensi tinggi. Namun masih terdapat kontroversial terhadap ekspresi Bcl-2 padakarsinoma urotelial kandung kemih. Penelitian ini bertujuan untuk menilai perbedaan ekspresi Bcl-2 dengan 4faktor yang berhubungan dengan prognosis yaitu derajat keganasan, stadium, mitosis, dan invasi limfovaskuler.MetodeDilakukan penelitian deskriptif analitik secara potong lintang pada karsinoma urotelial kandung kemih tahun2010-2014 di Departemen Patologi Anatomik FKUI/RSCM. Didapatkan 21 kasus derajat keganasan rendah dan21 kasus derajat keganasan tinggi. Dilakukan pulasan Bcl-2 pada seluruh kasus dan dihitung persentasenyadan dilakukan skoring 0-3.HasilUsia terbanyak pada dekade 5 sebanyak 27 kasus. Didapatkan 4 kasus ditemukan invasi limfovaskuler.Penelitian ini mendapatkanhubungan antara mitosis dengan derajat keganasan (p:0,00) dengan koefisienkorelasi 0,512 Penelitian ini mendapatkan hampir seluruh kasus mengekspresikan Bcl-2 (39 dari 42 kasus), 1kasus tidak mengekspresikan dan 2 kasus mengekpresikan sedikit. Tidak didapatkan perbedaan antaraekspresi Bcl-2 dengan derajat keganasan (p:0,232), stadium (p:0,455), mitosis (p:0,835), dan invasilimfovaskuler (p:0,087).
Hubungan antara Ekspresi P16 dengan Respon Histologik Kemoterapi Neoadjuvan pada Osteosarkoma Konvensional Dian Sari Oethia Vathonati; Nurjati Chairani Siregar; Puspita Eka Wuyung
Majalah Patologi Indonesia Vol 30 No 2 (2021): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.375 KB) | DOI: 10.55816/mpi.v30i2.469

Abstract

BackgroundOsteosarcoma is the most common primary malignant bone tumor in children and young adult. Its pathogenesis has been linked toalterations in several genes. The high percentage is found involving Retinoblatoma (RB) pathway. p16 plays as a tumor suppressorin RB pathway to controll proliferation of the tumor cell. The degree of neoadjuvan chemotherapy histological necrosis response isrelated to prognosis of patients with osteosarcoma. Chemotherapy and p16 both synergic in inhibit the cell tumor proliferation andsupport apoptotic. Loss of p16 function is related to progressiveness of the tumor. The aim of this study was to investigate therelationship of p16 expression in pretreatment osteosarcoma to pathologic necrotic histological response after neoadjuvanchomotherapy.MethodsThis is a cross sectional study p16 stainning was done and count the positive expression tumor cell in percentage. Positive wasdefined as strong and medium nuclear stainning in 30% or greater. The samples is catagorized into positive and negative expressionthen it is correlated into tumor necrotic area based on grade of Huvos.ResultsSamples consist of 33 cases. Positive stainning was found in 10 cases (30.3%), 6 of 10 cases had good chemotherapy response.Negative stainning was found in 23 cases and 21 of 23 cases had poor chemotherapy response. A significant association was notedbetween p16 expression and histological necrotic response to neoadjuvan chemotherapy (p=0.004).ConclusionThe result showed that p16 expression associate significantly with histological necrotic response to neoadjuvan chemotherapy inconventional osteosarcoma (p=0.004).
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etil Asetat Ulva fasciatadelile dan Turbinaria decurrensbory terhadap Laju Pertumbuhan Tumor Kelenjar Susu Padamencit C3h Thamrin Wikanta; Vita Fitria Handayani; Lestari Rahayu; Asri Pratitis; Puspita Eka Wuyung
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v6i1.92

Abstract

ABSTRACTBreast cancer is the second mostly found disease after cervix cancer to Indonesian woman. Research on the effect of Ulva fasciata Delile and Turbinaria decurrensBory ethyl acetate extract feeding on the Adenocarcinoma mammaecell proliferation on C3H mice has beenconducted. Thirty experimental mice were devided into 6 treatment groups, i.e.: K-I, negative control; K-II, solvent control; K-III, given U. fasciata ethyl acetate extract dose of 41.32 mg/20 g BW (body weight); K-IV, given U. fasciataethyl acetate extract dose of 82.64 mg/20 g BW; K-V, given T. decurrensethyl acetate extract dose of 24.29 mg/20 g BW; and K-VI, given T. decurrens ethyl acetate extract dose of 48.59 mg/20 g BW. All treatments were given during 21 days. The mice body weight and tumor volume were measured and collected subsequently at every two days. Tumor doubling time was calculated at the end of research. Results showed that there wasa highly tumor growth inhibition on the K-IV shown by the high doubling time value. Tumor growth inhibition decreased according to the sequence as follows: K-IV (U. fasciata dose of 82.64 mg/20g BW), K-V (T. decurrensdose of 24.29 mg/20 g BW), K-VI (T. decurrensdose of 48.59 mg/20 g BW) which equal to K-II (solvent control), K-III (U. fasciatadose of 41.32 mg/20 g BW), K-I(negative control).
Perbedaan Ekspresi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) pada Malignant Peripheral Nerve Sheath Tumor Derajat Tinggi dan Rendah serta Hubungannya dengan Faktor Prognostik Dewi Jantika; Nurjati Chairani Siregar; Puspita Eka Wuyung
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 2 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.118 KB)

Abstract

Latar belakangMalignant peripheral nerve sheath tumor (MPNST), merupakan sarkoma jaringan lunak yang prognosis nya buruk karena tidak responsif terhadap kemoterapi. Epidermal growth factor receptor (EGFR) terlibat dalam transduksi sinyal mitogenik dan jalur proliferasi sel. Ekspresi EGFR yang tinggi pada tumor sudah dipakai untuk menentukan apakah tumor dapat diberikan terapi anti-EGFR. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan ekspresi EGFR pada MPNST derajat tinggi dan derajat rendah serta ekspresi EGFR sebagai faktor prognostik.MetodePenenelitian ini merupakan penelitian potong lintang, restrospektif, deskriptif. Sampel terdiri atas 20 kasus MPNST derajat rendah dan 20 kasus MPNST derajat tinggi yang telah didiagnosis selama periode 2007-2015. Dilakukan pulasan imunohistokimia dengan antibodi monoklonal EGFR. Selanjutnya dilakukan scoring berdasarkan persentase sel dengan membrane dan atau sitoplasma yang berwarna coklat pada 500 sel/5 LPB : 0 (tidak terpulas), 1 (terpulas <10%), 2 (terpulas 10-30%), 3 (terpulas >30%). Perbedaan ekspresi EGFR pada MPNST derajat tinggi dan derajat rendah dianalisis menggunakan uji chi-square. Selain itu di analisis hubungan antara ekspresi EGFR dengan umur, lokasi dan ukuran tumor.HasilDitemukan ekspresi EGFR yang lebih tinggi pada MPNST derajat tinggi dibandingkan dengan MPNST derajat rendah yang secara statisitk bermakna (p=0,000). Tidak ditemukan hubungan antara ekspresi EGFR dengan umur, lokasi maupun ukuran tumor.KesimpulanEkspresi EGFR yang tinggi dapat digunakan untuk dasar memberikan terapi anti-EGFR pada MPNST derajat tinggi.
Analisis Ekspresi Epidermal Growth Factor Receptor Rabdomio-sarkoma Tipe Embrional dan Alveolar pada Anak Fita Ferdiana; Puspita Eka Wuyung; Nurjati Chairani Siregar
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 3 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.642 KB)

Abstract

Latar belakangRabdomiosarkoma (RMS) merupakan sarkoma yang banyak ditemukan pada anak dan dewasa muda. Secara histopatologik ada 4 tipe, yaitu embrional, alveolar, spindel, dan pleomorfik. Tipe histologi dan lokasi (favourable dan unfavourable) termasuk faktor yang menentukan prognosis RMS. Terapi kombinasi pada RMS dengan reseksi komplet, kemoterapi, dan radiasi belum meningkatkan kesintasan pasien RMS terutama pada stadium lanjut. Anti terhadap epidermal growth factor receptor (EGFR) telah dipakai dalam terapi untuk tumor epitelial ganas, sedangkan penggunaannya pada sarkoma masih dalam penelitian. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis ekspresi EGFR rabdomiosarkoma tipe embrional (RMSE) dan alveolar (RMSA) pada anak, serta menganalisis ekspresi EGFR pada lokasi favourable dan unfavourable.MetodePenelitian ini menggunakan metode potong lintang dengan pemilihan sampel secara konsekutif. Sampel terdiri atas 17 kasus RMSE dan 13 kasus RMSA di Departemen Patologi Anatomik FKUI/RSCM tahun 2008-2015. Diagnosis RMSE dan RMSA ditegakkan secara histopatologi dan imunohistokimia MyoD1 dan atau desmin positif. Pulasan imunohistokimia EGFR dilakukan pada RMSE dan RMSA dengan penilaian semikuantitatif, serta membandingkan kedua tipe histologik dan lokasi tumor.HasilEkspresi EGFR pada RMSE lebih tinggi dibandingkan dengan RMSA (53% vs 23%)(p=0,029). Bila dihubungkan dengan lokasi, maka ekspresi EGFR pada RMSE lebih tinggi pada lokasi unfavourabe dibanding lokasi favourable (p=0,412). Ekspresi EGFR pada RMSA lebih tinggi pada lokasi favourable dibanding lokasi unfavourable (p=0,592).KesimpulanEkspresi EGFR (favourable dan unfavourable) dapat digunakan untuk menentukan prognosis RMSE dan RMSA.
Deteksi Mikrometastasis pada Bulky Kelenjar Getah Bening Karsinoma Serviks Stadium IA-IIB Menggunakan Sitokeratin AE1/AE3 Reni Angeline; Hartono Tjahjadi; Puspita Eka Wuyung
Majalah Patologi Indonesia Vol 29 No 3 (2020): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.503 KB) | DOI: 10.55816/mpi.v29i3.441

Abstract

BackgroundCervical uterine carcinoma is a primary malignant disease of the uterine cervix. The presence or absence of metastasis in lymphnodes does not alter the stage but affects recurrence, survival, and therapy. Immunohistochemistry stains of the AE1/AE3cytokeratin can assist in the diagnosis and determine the small focus of carcinoma metastasis. In this study, we analyzedimmunohistochemistry cytokeratin AE1/AE3 could determine micrometastasis in bulky lymph nodes negative.MethodsThis study used cross-sectional design. The sample consisted of 52 cases of stage IA-IIB cervical carcinoma performed by radicalhysterectomy and lymphadenectomy accompanied by negative bulky lymph nodes at the Department of Anatomical PathologyFaculty of Medicine University of Indonesia/Cipto Mangunkusumo Hospital (FKUI/RSCM) from January 2011 to June 2017. Allcases stained by immunohistochemistry cytokeratin AE1/AE3.ResultsBulky Lymph Nodes Cervical Carcinoma stage IA-IIB, histopathologic diagnose of non keratinized squamous cell carcinoma,moderate differentiation degree, no lymphovascular invasion and deepest invasion >5.0 mm. Immunohistochemistry staining ofAE1/AE3 cytokeratin showed no micrometastasis in all cases.ConclusionThe immunohistochemistry staining of AE1/AE3 cytokeratin used in Bulky Lymph Nodes Cervical Carcinoma stage IA-IIB could notdetected micrometastasis in all cases.