Bethy Suryawati Hernowo
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisa Imunoekspresi Extracellular Matrix Metalloproteinase Inducer (EMMPRIN) pada Karsinoma Sel Ginjal Subtipe Sel Jernih yang Telah Metastasis dan Tidak Bermetastasis Hasna Dewi; Abdul Hadi Hassan; Bethy Suryawati Hernowo
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.897 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma sel ginjal subtipe sel jernih (KSGSJ) merupakan keganasan epitelial terbanyak dari seluruh kejadian karsinoma sel ginjal, yang insidensinya menunjukkan peningkatan, dengan angka mortalitas yang masih tinggi. Prognosis KSGSJ akan menurun pada kasus-kasus yang telah bermetastasis. Tujuan penelitian ini untuk melihat peranan penanda molekuler extracelluler matrix metalloproteinase inducer (EMMPRIN) dalam hubungannya dengan kejadian metastasis pada KSGSJ. MetodePenelitian ini dilakukan secara cross sectional analitic terhadap 36 kasus KSGSJ di Departemen Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, yang terdiri atas 18 kasus kelompok non metastasis dan 18 kasus kelompok metastasis. Pemeriksaan semikuantitatif berupa skor imunoreaktif imunohisitokimia EMMPRIN dilakukan terhadap semua kasus.HasilPenelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara skor imunoreaktif EMMPRIN pada kelompok KSGSJ metastasis dan non metastasis (p=0,001; OR=34 (3,611-320,10).KesimpulanBerdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa semakin kuat imunoekspresi EMMPRIN, semakin besar kemungkinan terjadinya metastasis pada KSGSJ.
Imunoekspresi Lgr5 dan E-cadherin sebagai Faktor Prediksi Metastasis ke Kelenjar Getah Bening Regional pada Adenokarsinoma Kolorektal Sri Dharmayanti; Abdul Hadi Hassan; Herry Yulianti; Bethy Suryawati Hernowo
Majalah Patologi Indonesia Vol 28 No 1 (2019): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.11 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma kolorektal (KKR) merupakan keganasan dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi di dunia.Lebih dari 90% KKR adalah adenokarsinoma. Tingginya angka kekambuhan dan metastasis pada KKRdisebabkan oleh Cancer Stem Cell (CSC). Metastasis ke kelenjar getah bening merupakan penanda prognosisyang buruk pada KKR. Lgr5 adalah penanda CSC di usus halus dan kolon. E-cadherin berperan pentingmenjaga integritas hubungan antar sel. Imunoekspresi Lgr5 berhubungan dengan prognosis yang buruk.Kehilangan fungsi E-cadherin berhubungan dengan pertumbuhan yang invasif. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui apakah Lgr5 dan E-cadherin dapat digunakan sebagai faktor prediksi metastasis ke kelenjar getahbening regional pada KKR.MetodePenelitian ini menggunakan analisis observasi dengan disain potong lintang. Sampel diambil dari blok parafinyang berasal dari jaringan operasi kolon dan rektum dengan jumlah kelenjar getah bening ≥12 buah.Keseluruhan sampel berjumlah 52 dan terbagi menjadi dua kelompok yaitu non metastasis dan metastasisdengan 26 sampel setiap kelompok. Sampel didapatkan dari Depatemen Patologi Anatomik Rumah Sakit DrHasan Sadikin Bandung periode 1 Januari 2010-31 Desember 2015 dan dilakukan pewarnaan imunohistokimiaLgr5 dan E-cadherin. Analisis statistik menggunakan chi-square dengan nilai kemaknaan p<0,05.HasilLgr5 berhubungan dengan metastasis ke kelenjar getah bening regional p=0,001. E-cadherin tidakberhubungan dengan metastasis ke kelenjar getah bening regional p=0,09.KesimpulanLgr5 dapat digunakan sebagai faktor prediksi terjadinya metastasis ke kelenjar getah bening regional padaKKR.
Kata kunci: chromogranin, karsinoma sel skuamosa tidak berkeratin, NSE, pola pertumbuhan neuroendokrin, synaptophysin Veenda Herlyna Pertiwi; Bethy Suryawati Hernowo; Birgitta M Dewayani
Majalah Patologi Indonesia Vol 28 No 1 (2019): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.927 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma sel skuamosa serviks adalah suatu keganasan epitelial serviks yang terdiri dari sel-sel tumor berdiferensiasiskuamous dengan derajat yang berbeda. Menurut data rekam medis di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung,insidensi karsinoma serviks menempati posisi pertama dengan jumlah kasus sebanyak 2.180 dalam rentang waktu Januari2010 sampai Maret 2016. Meskipun terdapat kemajuan terapi untuk karsinoma sel skuamosa yang tidak berkeratin tetapi masihditemukan kasus-kasus yang mengalami rekurensi cukup tinggi. Hal tersebut diduga disebabkan oleh adanya kesalahan dalammenentukan jenis histopatologi. Karsinoma sel skuamosa tidak berkeratin dengan pola pertumbuhan tumor neuroendokrinseperti trabekular, padat dan nested sering sulit dibedakan dengan tumor neuroendokrin di serviks uteri. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui proporsi imunoekspresi chromogranin, neuron specific enolase (NSE), synaptophysin dan Ki-67, padakarsinoma sel skuamosa yang tidak berkeratin dengan pola pertumbuhan tumor neuroendokrin di serviks uteri, untukmendeteksi tumor neuroendokrin yang sebenarnya (true neuroendocrine tumor).MetodePenelitian ini menggunakan metoda deskriptif kategorik. Sampel yang digunakan adalah karsinoma sel skuamosa yang tidakberkeratin di serviks uteri sejak 1 Agustus 2014-31 Desember 2015 di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung.Dilakukan evaluasi ulang dan dipilih karsinoma sel skuamosa tidak berkeratin dengan pola tumor neuroendokrin sepertitrabekula, padat dan nested sehingga didapatkan sampel sebanyak 27 pasien dilakukan pewarnaan imunohistokimiachromogranin, NSE, synaptophysin dan Ki-67.HasilTerdapat 27 kasus karsinoma sel skuamosa yang tidak berkeratin di serviks uteri dengan pola pertumbuhan tumorneuroendokrin didapatkan proporsi yang menunjukkan imunoekspresi positif chromogranin, NSE dan synaptophysin sebesar10 (37%). Hal ini menunjukkan bahwa sampel merupakan tumor neuroendokrin dengan derajat tinggi (Ki-67>20%).KesimpulanImunoekspresi chromogranin, NSE dan synaptophysin sebesar 37% adalah tumor neuroendokrin derajat tinggi (Ki-67 >20%)pada karsinoma sel skuamosa tidak berkeratin dengan pola tumor neuroendokrin.