Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

STRATEGI PENINGKATAN PENCAHAYAAN ALAMI PADA RUANG MINIM BUKAAN SAMPING MELALUI PERANGKAT PENCAHAYAAN ATAS Christy Vidiyanti
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 6, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.512 KB)

Abstract

Hunian padat penduduk di pinggir kota, cenderung memiliki orientasi bangunan horizontal (bangunan landed). Hunian landed dikawasan padat penduduk, memiliki bukaan berupa jendela dengan dimensi yang terbatas, sehingga menyebabkan minimnya penerimaan pencahayaan matahari melalui jendela (side lighting). Untuk itu diperlukan upaya lainnya untuk meningkatkan pencahayaan alami pada ruang yang tidak memiliki jendela, yaitu melalui pencahayaan atas (top lighting). Hasil penelitian diharapkan dapat berkontribusi secara jangka panjang yaitu berupa strategi dalam upaya mengurangi konsumsi energi baik untuk bangunan baru maupun untuk retrofit bangunan. Penelitian ini memfokuskan pada strategi pencahayaan alami pada teknologi pencahayaan atas. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kinerja berbagai tipe pencahayaan atas (clerestory, skylight,dan roof monitor) dalam mengoptimalkan pencahayaan alami pada ruang dengan pencahayaan samping terbatas. Pada ruang tidur, tingkat pencahayaan terbaik dihasilkan oleh model dengan skylight tipe 2 yaitu bukaan cahaya pada bagian atas ruang sebesar 5% dari luas ruang dan diletakkan pada bagian pinggir dari ruang. Pada ruang dapur, tingkat pencahayaan terbaik dihasilkan oleh model dengan skylight tipe 1 yaitu bukaan cahaya pada bagian atas ruang sebesar 5% dari luas ruang dan diletakkan pada bagian tengah dari ruang.Kata Kunci : pencahayaan alami, pencahayaan atas, optimasi, hunian padat
STUDI EKSPERIMENTAL RANCANGAN UPPER BLIND SEBAGAI STRATEGI MENGOPTIMALKAN CAHAYA MATAHARI PADA GEDUNG Christy Vidiyanti; Abraham Seno Bachrun
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 11, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v11i1.009

Abstract

Intensitas pencahayaan pada tirai kaca gedung menghasilkan bagian yang dekat dengan dinding transparan akan mendapatkan intensitas cahaya yang berlebih sehingga akan menimbulkan silau, hal tersebut menyebabkan pengguna gedung cenderung menutup dinding dengan tirai. Terdapat beberapa strategi dalam mengoptimalkan cahaya alami pada bangunan melalui desain pasif. Peneliti melakukan penilaian kategori berdasarkan penelitian yang dilakukan Moreno sehingga didapatkan bahwa yang mendapatkan poin tertinggi adalah upper blinds. Pada penelitian ini, mengacu pada pendapat Szokolay maka akan dikembangkan rancangan upper blind yang mengoptimalkan masuknya cahaya matahari kedalam bangunan berdasarkan sudut jatuh cahaya matahari pada permukaan panel blind. Metode yang dipakai pada penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menggunakan bantuan perangkat lunak Radiance. Bangunan studi kasus yang akan digunakan adalah Menara Kompas. Berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan, model dengan upper blind dapat mengoptimalkan tingkat pencahayaan alami sehingga ruang mendapatkan sinar matahari yang lebih mendekati dengan standar pencahayaan yang direkomendasikan SNI. Upper blind dapat menurunkan intensitas pencahayaan alami pada gedung dengan fasad curtain wall sebesar 28%. Namun, untuk kualitas pencahayaan, mdoel tanpa upper blind lebih baik dari model dengan upper blind. Nilai keseragaman cahaya pada model tanpa upper blind lebih baik sebesar 8% dan nilai kontras cahaya pada model tanpa upper blind lebih baik sebesar 17%. Bila ditotal maka upper blind masih lebih unggul karena nilai kuantitas cahaya yang lebih baik. The lighting intensity through the curtain wall in high rise building is the part that is close to the curtain wall will get excessive light intensity which will cause glare, this causes building users to tend to cover the transparent wall with curtains. There are several strategies to optimize natural light in buildings through passive design. Researchers conducted a category assessment based on research conducted by Moreno so that it was found that those who got the highest points were the upper blinds. In this study, referring to Szokolay's opinion, an upper blind design will be developed that optimizes the entry of sunlight into the building based on the angle of sunlight falling on the blind panel surface. The method used in this study is an experimental method with the used of Radiance software. The case study building that will be used is the Kompas Tower. Based on the results of experiments conducted, the model with the upper blind can optimize the level of natural lighting so that the room gets daylight that is closer to the lighting standards recommended by SNI. Upper blind can reduce the intensity of natural lighting in buildings with curtain wall facades by 28%. However, for lighting quality, model without upper blind is better than model with upper blind. The light uniformity value in the model without the upper blind is better by 8% and the light contrast value in the model without the upper blind is better at 17%. When totaled, upper blind is still superior because of the better light quantity value.
KAJIAN RETROFIT BANGUNAN SEBAGAI UPAYA MEREDUKSI KONSUMSI ENERGI OPERASIONAL Studi Kasus : Campus Centre (CC) Barat ITB Christy Vidiyanti
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 5, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.597 KB)

Abstract

ABSTRACTProduction of electric energy in Indonesia is largely still using fossil fuels which are non-renewable energy. Thus increasing energy consumption will also contribute to impact on the depletion of fossil energy reserves. The building sector as one of the users of energy consumption, also participated responsible for operational energy consumption. Architects as one who coined an important role in determining the energy consumption in a building, this is because the design of the building will also influence energy consumption of that building. The operational energy consumption in buildings is the use of air conditioning and artificial lighting. It certainly can be avoided by making energy conservation by utilizing as much as possible the use of natural energy for room temperature and natural lighting.The ratio of openings (window to wall ratio (WWR)) also affect the energy use intensity (EUI) in the building. In the case study of West Campus Centre ITB building, it can be seen that the facade that has WWR value close to 100% even though it can reduce energy consumption of artificial lighting, but can increase energy consumption for air conditioning. The effort required to retrofit to reduce both the energy consumption. Retrofitting efforts can be done through the addition of shading on the building, the reduction of WWR value, or replace glazing material with low U-Value glazing.Keyword: energy use intensity (EUI), retrofit, energy reduction, energy conservationABSTRAKProduksi energi listrik di Indonesia sebagian besar masih menggunakan bahan bakar fosil yang merupakan energi tak terbarukan. Sehingga meningkatnya konsumsi energi akan turut pula berdampak pada menipisnya cadangan energi fosil. Sektor bangunan sebagai salah satu pemakai konsumsi energi, turut pula bertanggung jawab terhadap pemakaian energi operasionalnya. Arsitek sebagai salah satu yang memiiki peran penting dalam menentukan pemakaian energi pada suatu bangunan, hal ini dikarenakan desain suatu bangunan akan turut mempengaruhi konsumsi energinya. Konsumsi energi operasional terbesar di bangunan yaitu pada penggunaan penghawaan buatan dan pencahayaan buatan. Hal ini tentu dapat dihindari dengan melakukan konservasi energi melalui memanfaatkan semaksimal mungkin penggunaan energi alam untuk penghawaan dan pencahayaan alami.Rasio bukaan cahaya (window to wall ratio(WWR)) turut berpengaruh terhadap intensitas penggunaan energi (EUI) di bangunan. Pada studi kasus bangunan Campus Centre Barat ITB, dapat diketahui bahwa fasade yang memiliki nilai WWR mendekati 100% meskipun dapat mengurangi konsumsi energi pencahayaan buatan, namun dapat meningkatkan konsumsi energi untuk penghawaan buatan. Untuk itu diperlukan upaya retrofit untuk mereduksi kedua konsumsi energi tersebut. Upaya retrofit dapat dilakukan melalui penambahan shading pada bangunan, pengurangan nilai rasio bukaan, atau mengganti material kaca dengan yang memiliki nilai U Value rendah.Kata Kunci : intensitas penggunaan energi (EUI), retrofit, reduksi energi, konservasi energi
Halaman Depan Vol 11 No 2 Februari 2022 Christy Vidiyanti
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Halaman Depan Vol 11 No 2 Februari 2022
Cover Vol 11 No 2 Christy Vidiyanti
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover
KUALITAS PENCAHAYAAN ALAMI DAN PENGHAWAAN ALAMI PADA BANGUNAN DENGAN FASADE ROSTER (Studi Kasus: Ruang Sholat Masjid Bani Umar Bintaro) Christy Vidiyanti; Siti Farah Diba Boru Tambunan; Yasin Alfian
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.123 KB)

Abstract

ABSTRAKPeran bukaan cahaya pada sebuah bangunan turut andil dalam menciptakan kualitas pencahayaan alami yang baik. Perlu direncakan bukaan cahaya yang sesuai dengan lokasi bangunan tersebut. Lubang cahaya yang terlalu besar, dapat mengakibatkan cahaya matahari masuk dalam jumlah besar, yang sekaligus membawa radiasi masuk ke dalam bangunan. Hal ini mengakibatkan adanya dilema bahwa sinar matahari yang masuk kedalam bangunan akan mempengaruhi kondisi termal ruang. Sehingga dibutuhkan adanya kondisi dimana pencahayaan alami dan penghawaan alami pada ruang menjadi seimbang. Masjid Bani Umar ini selubung bangunannya menggunakan roster. Indonesia sebagai sebuah Negara tropis, menyebabkan memiliki musim panas yang panjang. Bangunan dengan selubung menggunakan roster, perlu dilakukan kajian terhadap cahaya matahari yang diterima oleh bangunan tersebut. Disebabkan bahwa roster membatasi cahaya matahari yang masuk ke dalam ruang. Kondisi tersebut perlu pula diuji kondisi termalnya. Penelitian ini memfokuskan pada kajian kualitas pencahayaan alami dan penghawaan alami pada bangunan dengan selubung roster. Metode yang dignakan adalah metode evaluatif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil kondisi penghawaan alami pada Masjid Bani Umar belum dapat memenuhi standar yang ditetapkan. Kondisi pada Masjid Bani Umar masih lebih tinggi dari standar yang ditetapkan sehingga sensasi termal yang dirasakan oleh pengguna adalah agak hangat dan hangat.Sedangkan kondisi pencahayaan alami pada Masjid Bani Umar juga belum memenuhi standara pencahayaan menurut SNI. Kondisi pencahayaan alami pada Masjid Bani Umar masih lebih rendah dari standar yang ditetapkan. Namun, untuk nilai kualitas pencahayaan alami, kondisi pencahayaan pada Masjid Bani Umar masih memenuhi standar. Hal ini menandakan bahwa pencahayaan alami Masjid Bani Umar belum dapat memenuhi standar namun pencahayaan yang dihasilkan seragam. Kata Kunci :     Pencahayaan alami, penghawaan alami, roster, kualitas termal, kualitas visual, masjid tropis
EVALUASI KENYAMANAN TERMAL PADA PERON DI STASIUN KERETA COMMUTER JABODETABEK STASIUN MANGGARAI Shiva Firly Rahmania; Christy Vidiyanti
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.812 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2018.v8i2.004

Abstract

ABSTRAKStasiun kereta merupakan tempat pelayanan jasa yang digunakan untuk pengguna kereta dengan tingkat populasi yang tinggi meskipun jumlah waktu penggunaannya relatif singkat menjadikan stasiun kereta tempat yang sangat penting untuk dilakukan penelitian tentang kenyamanan termal terlebih lagi tentang tanggapan penggunanya terhadap kenyamanan termal pada stasiun. Metode yang digunakan adalah: 1) pengukuran termal (suhu udara, kelembaban udara, dan kecepatan udara), 2) pembagian kuisoner kepada pengguna peron stasiun kereta. Metode tersebut digunakan untuk mengetahui kondisi kenyamanan termal dan tanggapan pengguna pada 2 (dua) keadaan peron yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi termal peron zona A dan zona B serta presepsi pengguna peron zona A dan zona B di stasiun manggarai. Nilai rata-rata suhu udara pada zona A dan zona B berada pada “nyaman optimal ambang batas”. Nilai rata-rata kecepatan udara pada zona A dan zona B berada pada kecepatan udara “tidak dapat dirasakan” dengan efek penyegaran 0 oC. Nilai rata-rata kelembaban udara zona A dan zona B sesuai dengan standar kelembaban udara yaitu pada kelembaban “nyaman optimal”. Terdapat perbedaan antara hasil dari indeks sensasi kenyamanan termal PMV & PPD dengan tanggapan responden terkait kenyamanan termal.Kata Kunci :   Kenyamanan Termal, Stasiun Kereta, Peron  ABSTRACTTrain station is a place with high populated rate, although the time that have been used relatively fast. Which make train station an important place to do study about thermal comfort and the user opinion about their comfort in station. The method that writer use for this study is: 1) thermal measurement (temperature, humidity and wind speed), 2) distribution of questionnaires to the train users. The method used to find out the conditions of thermal comfort and the user responses for 2 (two) different ambience between platform. The purpose of this study to know about thermal condition in platform zone A and zone B, also the user perception about platform zone A and zone B in manggarai station. The average temperature in zone A and zone B turn out in “nyaman optimal ambang batas”. The average wind speed in zone A and zone B turn out in “tidak dapat dirasakan dengan efek penyegaran 0 oC”. The average of humidity in zone A and zone B suitable with humidity standard in “kelembaban nyaman optimal”. There are differences between sensation index of thermal comfort PMV & PPD and the user responses about thermal comfort. Keyword: thermal comfort, train stasion, the platform
Kinerja Reflektor Cahaya dalam Mengoptimalisasi Pencahayaan Alami di Kelas Sekolah Budi Mulia Muhammad Asnawi; Christy Vidiyanti; Agust Danang Ismoyo
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1439.031 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2019.v8i3.002

Abstract

Sekolah SMA Budi Mulia memiliki bentuk bangunan memanjang dengan orientasi bukaan jendela langsung menghadap Timur dan Barat. Hal ini memiliki potensi bahwa ruang kelas akan mendapatkan sinar matahari langsung karena orientasi bukaan jendela sesuai dengan pergerakan matahari. Namun potensi ini belum digunakan secara maksimal pada SMA Budi Mulia, terlihat dari masih menggunakan pencahayaan buatan di sepanjang hari. Dalam penelitian ini peneliti ingin meningkatkan desain yang lebih efisien untuk optimalisasi pencahayaan alami dengan pemantul cahaya di kelas sekolah Budi Mulia. Bangunan yang menggunakan cahaya buatan dapat menambah pemakaian listrik, dengan adanya optimalisasi pencahayaan alami diharapkan dapat mengurangi pemakaian listrik yang berdampak pula pada lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menguji beberapa desain pemantul cahaya. Hasil menunjukkan adanya pemantul cahaya dapat mengoptimalkan pengguaan sinar matahari sebagai pencahayaan dalam ruang kelas.