Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

POLA KEMITRAAN PENGEMBANGAN RUMAH SEWA PEKERJA INDUSTRI DIKAWASAN INDUSTRI Studi Kasus : Kawasan Industri MM2100, Cibitung Mona Anggiani
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 5, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.866 KB)

Abstract

ABSTRACTThe growing up of economic in Indonesia, automatically increase the activity in industrial area. Industrial Town as the location of the factory build cannot be denied that made the total of factories are increasing too. The labors who work in this industrial town were also increasing. The labors’ need a house to stay in and housing is one of they needed. Labors need housing, not just a house to stay but live. In United States and Canada, there is a program for their labors, which stated by George Fallis and Tom Schwartz and many literatures about the housing program for labor. But in Indonesia, there is not much literature about the housing program for the labors. Department of Housing has the regulation for housing for the employees that the salaryis below some amount. The focus of this research is to describe where the labors live, how the labors housing, and why the partnership of rental housing in industrial town could not be build. MM2100 is the object to be research because this industrial town has the same typical of industrial town in others area. The method of this research is using qualitative methods, by analyzing the benefits and the detriments of supplying labors housing, which supposed to be held by the government, employers, and employees. The conclusion of this research is, that there is still not good communication between the public sector and private sector to supplying the labors housing. As long as there is no communication between those parties, the partnership of labors housing will be not applicable, as what George Fallis said, the non-profit housing will be not working if there is no good perception among parties.Keyword : rental housing, labor, industrial estate, employee housing.ABSTRAKPertumbuhan ekonomi di Indonesia, membuat kegiatan industri pun meningkat. Kawasan Industri sebagai lokasi tempat berdirinya pabrik (sebagai tempat berproduksi), secara terus menerus bertambah jumlah investornya. Jumlah pekerja yang ada di lokasi pun meningkat. Pekerja-pekerja tersebut memerlukan tempat untuk tinggal. Perumahan merupakan satu kebutuhan penting bagi semua orang, termasuk para pekerja industri di sini. Jumlah pekerja industri di Kawasan Industri yang cukup banyak, menuntut keberadan perumahan. Di Amerika Serikat, terdapat program bantuan perumahan bagi pekerja melalui kemitraan yang dikemukakan oleh George Fallis dan Tom Schwartz. Namun di negara Indonesia, belum terdapat program khusus yang serupa. Masih berupa kebijakan, Keputusan Menteri Perumahan Rakyat mengenai subsidi bagi masyarakat yang berpenghasilan sesuai UMR saja. Program kemitraan dalam pengadaan asrama bagi pekerja industri belum dapat berjalan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui mengapa perumahan bagi pekerja industri di Kawasan Industri MM2100, Cibitung, Bekasi belum dapat terlaksana atau terbangun hingga saat ini. Lokasi pemilihan KI MM2100 karena KI tersebut dapat mewakili tipikal KI lainnya yang ada di daerah Bekasi. Metode analisis yang digunakan adalah dengan melihat keuntungan dan kerugian yang masing-masing pihak yang terkait dengan sistem pengadaan perumahan bagi pekerja industri di KI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlu adanya persamaan pemahaman di setiap pihak terkait keuntungan, kerugian dan manfaat yang bisa diperoleh apabila perumahan sewa bagi pekerja industri terbangun. Selama semua pihak terkait belum menyamakan persepsi, maka program kemitraan pengadaan perumahan bagi pekerja di kawasan industri tidak terlaksana.Kata kunci : rumah sewa, pekerja pabrik, kawasan industri, perumahan karyawan.
KAJIAN SOUNDSCAPE DI RUANG PUBLIK TERBUKA TENGAH KOTA PADA MASA PANDEMI COVID-19 (STUDI KASUS: TAMAN CATTLEYA, TOMANG, JAKARTA BARAT) Bambang Heryanto; Mona Anggiani; Ashri Prawesthi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v5i2.574

Abstract

Abstract: Urban public spaces are public spaces that are visited by many urban residents with all the activities they can do. In the urban public space, various kinds of voices or sounds fill this space. Voices can be heard from any room or place in the city. The natural environment, humans, and mechanical equipment produce sound landscapes or soundscapes in the city space air. In urban public spaces, activities carried out by humans can produce artificial sound, while natural activities produce natural sound. The purpose of this study is to describe and explore the sound landscape in urban public space. This research was conduct on holidays, by observing various types of sounds and voices, the distribution of sources, time, and strength of sounds and voices to achieve the research objectives. Found that after the observation, in the open public space of Cattleya Tomang Park, West Jakarta, the results of mechanical sound sources came from the roar of motorized vehicles and the sound of construction work was more dominant than natural sounds that came from humans, trees, and animals. Research on soundscapes in urban public spaces is expected to be a basis for consideration in designing urban public spaces so that public spaces can be enjoyed more by city residents who use them.                                  Abstrak: Ruang publik kota merupakan ruang publik yang banyak dikunjungi oleh warga kota dengan segala kegiatan yang bisa dilakukan. Di dalam ruang publik kota, berbagai ragam suara atau bunyi mengisi ruang ini. Bentang suara dapat didengar dari berbagai ragam ruang atau tempat di kota. Alam lingkungan, manusia, maupun peralatan mekanik memproduksi bentang suara atau soundscape di udara ruang kota. Di ruang publik kota, kegiatan yang dilakukan oleh oleh manusia dapat menghasilkan bunyi, sementara kegiatan alami menghasilkan suara. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan dan mengeksplorasi bentang suara yang berada di ruang publik kota. Penelitian ini dilakukan pada hari libur, dengan mengobservasi berbagai macam jenis bunyi dan suara, sebaran sumber, waktu, dan kekuatan bunyi dan suara untuk mencapai tujuan penelitian. Didapati setelah pengamatan, pada ruang publik terbuka Taman Cattleya Tomang, Jakarta Barat, hasil sumber bunyi mekanik berasal dari deru mesin kendaraan bermotor dan bunyi pekerjaan konstruksi pembangunan gedung lebih dominan dibandingkan dengan suara alami yang datang dari manusia, pepohonan, maupun hewan. Penelitian soundscape di ruang publik kota ini diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan dalam perancangan ruang publik kota agar ruang publik lebih dapat dinikmati oleh warga kota yang memanfaatkannya.  
PERSEPSI KENYAMANAN PENGUNJUNG RUANG TERBUKA PUBLIK PERUMAHAN Mona Anggiani; Ilal Rohmat
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.144 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v9i2.003

Abstract

ABSTRAKRuang terbuka publik merupakan salah satu ruang yang seharusnya berada pada sebuah perumahan. Saat ini banyak ruang terbuka publik yang fungsinya sudah dibangkitkan kembali oleh pihak penyelenggara, baik pihak pemerintah maupun pihak swasta. Secara fisik, keberadaan ruang terbuka publik kini dalam keadaan yang layak dan baik. Namun, pada ruang publik ini terlihat fasilitas ruang publik yang sangat sederhana dan jumlahnya pun terbatas. Penelitian ini disusun untuk melihat persepsi pengunjung pada kelengkapan fasilitas di ruang terbuka dengan tingkat kenyamanan pengunjungnya. Dengan menggunakan metode kuantitatif deskriptif, penelitian ini dilakukan dengan observasi kajian di ruang terbuka publik dan menyebarkan kuisioner kepada pengunjung. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa menurut pengunjung, mereka merasa nyaman ketika berada di ruang terbuka publik ini. Penelitian ini dapat bermanfaat untuk peningkatan perencanaan ruang terbuka publik di perumahan selanjutnya. ABSTRACTPublic open space is one of the spaces that should be in a housing complex. At present many public open spaces whose functions have been resurrected by the organizers, both the government and private parties. Physically, the existence of public open space is now in a decent and good condition. However, in this public space public facilities are very simple and the number is limited. This research is structured to see the perception of visitors on the completeness of facilities in open space with the level of comfort of visitors. By using descriptive quantitative methods, this research was conducted by observing studies in public open spaces and distributing questionnaires to visitors. The results of this study are that according to visitors, they feel comfortable when in this public open space. This research can be useful for improving public open space planning in the next housing complex.
Studi Perbandingan Kenyamanan Pengguna RPTRA (Studi Kasus: RPTRA Akasia dan RPTRA Pandawa) Dea Putri Ghassani; Mona Anggiani; Rona Fika Jamila
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.398 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2018.v8i2.001

Abstract

ABSTRAKSalah satu kebutuhan manusia dalam menjalani hidup ini adalah melakukan kegiatan pada ruang terbuka. Ruang terbuka saat ini, sudah cukup mulau bermunculan, dan banyak yang dinamakan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). RPTRA mulai ada pada tahun 2015, sebagai salah satu usaha untuk mewujudkan program Kota Layak Anak (KLA). RPTRA yang berada di tengah area perumahan ini, ada yang dibangun atas dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta ada yang dibangun atas dana Corporate Social Responsibility (CSR). Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan ada atau tidaknya perbedaan pada kedua RPTRA yang dibangun dengan sumber dana yang berbeda tersebut. Dengan metode penelitian yang dilakukan, yaitu metode penelitian kuantitatif, penelitian ditujukan untuk melihat perbedaannya. Kata kunci: ruang public, ruang terbuka, ruang terbuka public, rptra.