Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

EVALUASI PENGHAWAAN ALAMI PADA MASJID BABAH ALUN WARAKAS, DIBAWAH JALAN TOL WIYOTO WIYONO Kevin Andrian; Abraham Seno Bachrun
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2022.v11i2.010

Abstract

Masjid merupakan sarana Muslim beribadah yang dapat menampung jamaah dalam jumlah banyak. Oleh karena itu, masjid harus memberikan kenyamanan sebanyak mungkin kepada jemaahnya. Akhirnya kenyamanan ini dapat membuat jamaah merasa lebih dekat dengan Allah SWT. Salah satu faktor yang mempengaruhi kenyamanan itu sendiri adalah kenyamanan termal. kenyamanan thermal merupakan bagian penting dari bangunan dalam menunjang produktivitas manusia. Oleh karena itu, desain bangunan masjid harus mengakomodasi tuntutan fisik tersebut. Ruang-ruang yang bermasalah di dalam masjid (mushola) dapat berdampak buruk pada kenyamanan jamaah. Dalam penelitian ini digunakan metode kuantitatif dari beberapa alat ukur kenyamanan. Penelitian berlokasi di Masjid Babah Alun, Warakas. Sebuah Masjid yang terletak di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Jakarta Utara. Standar kenyamanan termal yang baik disesuaikan berdasarkan SNI 03-6572-2001. Penelitian dilakukan selama lima hari pada pagi, siang dan sore hari, sampel diambil dari 14 titik pengukuran (TU), 5 titik pengukuran di luar masjid dan 9 titik pengukuran di dalam masjid. Hasilnya adalah posisi Masjid yang berada di kolong tol membawa keuntungan dan kerugian bagi kenyamanan termal. Keuntungan karena tidak terkena sinar matahari langsung. Kerugiannya, ada aliran udara masuk Masjid yang terpecah dikarenakan ada 2 pier tol. Pecahan ini menyebabkan aliran udara yang masuk tidak sempurna.
Pengaruh Perletakan & Dimensi Bukaan pada Dinding serta Aspek Pembayangannya Terhadap Kondisi Pencahayaan Suatu Ruang Abraham Seno Bachrun
VISUAL Vol 15, No 2 (2020)
Publisher : FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN - UNIVERSITAS TARUMANAGARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jurnal.v15i2.11089

Abstract

Pencahayaan alami suatu ruang sangat bergantung pada aspek-aspek bukaan, pembayangan, jenis filtrasi (kaca), dan warna dari ruangan itu sendiri. Untuk paper kali ini akan dibahas mengenai aspek-aspek bukaan terhadap kondisi pencahayaan suatu ruang. Percobaan-percobaan dilakukan dengan menggunakan program simulasi komputer RELUX 2006. Ruangan yang diambil untuk disimulasikan kali ini adalah sebuah ruangan baca berukuran 3 x 5 x 4 meter. Kemudian dilakukan 11 simulasi perubahan aspek-aspek perancangan bukaan pada dinding. Hasilnya didapat sejumlah tingkat ke-terang-an (illuminance) dari simulasi ruangan-ruangan tersebut. Kata kunci : Pencahayaan alami, Aspek-aspek bukaan, Simulasi Relux 2006, tingkat ke-terang-an (illuminance)
STUDI EKSPERIMENTAL RANCANGAN UPPER BLIND SEBAGAI STRATEGI MENGOPTIMALKAN CAHAYA MATAHARI PADA GEDUNG Christy Vidiyanti; Abraham Seno Bachrun
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 11, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2021.v11i1.009

Abstract

Intensitas pencahayaan pada tirai kaca gedung menghasilkan bagian yang dekat dengan dinding transparan akan mendapatkan intensitas cahaya yang berlebih sehingga akan menimbulkan silau, hal tersebut menyebabkan pengguna gedung cenderung menutup dinding dengan tirai. Terdapat beberapa strategi dalam mengoptimalkan cahaya alami pada bangunan melalui desain pasif. Peneliti melakukan penilaian kategori berdasarkan penelitian yang dilakukan Moreno sehingga didapatkan bahwa yang mendapatkan poin tertinggi adalah upper blinds. Pada penelitian ini, mengacu pada pendapat Szokolay maka akan dikembangkan rancangan upper blind yang mengoptimalkan masuknya cahaya matahari kedalam bangunan berdasarkan sudut jatuh cahaya matahari pada permukaan panel blind. Metode yang dipakai pada penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menggunakan bantuan perangkat lunak Radiance. Bangunan studi kasus yang akan digunakan adalah Menara Kompas. Berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan, model dengan upper blind dapat mengoptimalkan tingkat pencahayaan alami sehingga ruang mendapatkan sinar matahari yang lebih mendekati dengan standar pencahayaan yang direkomendasikan SNI. Upper blind dapat menurunkan intensitas pencahayaan alami pada gedung dengan fasad curtain wall sebesar 28%. Namun, untuk kualitas pencahayaan, mdoel tanpa upper blind lebih baik dari model dengan upper blind. Nilai keseragaman cahaya pada model tanpa upper blind lebih baik sebesar 8% dan nilai kontras cahaya pada model tanpa upper blind lebih baik sebesar 17%. Bila ditotal maka upper blind masih lebih unggul karena nilai kuantitas cahaya yang lebih baik. The lighting intensity through the curtain wall in high rise building is the part that is close to the curtain wall will get excessive light intensity which will cause glare, this causes building users to tend to cover the transparent wall with curtains. There are several strategies to optimize natural light in buildings through passive design. Researchers conducted a category assessment based on research conducted by Moreno so that it was found that those who got the highest points were the upper blinds. In this study, referring to Szokolay's opinion, an upper blind design will be developed that optimizes the entry of sunlight into the building based on the angle of sunlight falling on the blind panel surface. The method used in this study is an experimental method with the used of Radiance software. The case study building that will be used is the Kompas Tower. Based on the results of experiments conducted, the model with the upper blind can optimize the level of natural lighting so that the room gets daylight that is closer to the lighting standards recommended by SNI. Upper blind can reduce the intensity of natural lighting in buildings with curtain wall facades by 28%. However, for lighting quality, model without upper blind is better than model with upper blind. The light uniformity value in the model without the upper blind is better by 8% and the light contrast value in the model without the upper blind is better at 17%. When totaled, upper blind is still superior because of the better light quantity value.
KAJIAN TERHADAP RUANG TATA PANGGUNG TEATER TRADISIONAL Anastasia Cinthya; Abraham Seno Bachrun
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.451 KB)

Abstract

ABSTRAKSebuah pertunjukkan kesenian terutama pertunjukkan teater sudah lama berkembang di jaman Yunani kuno. Bangsa Yunani kuno telah memikirkan sebuah ruang yang dapat mendukung pertunjukkan teater tersebut. Hingga saat ini bentuk - bentuk tata panggung pertunjukkan teater juga digunakan di Indonesia khususnya di daerah Jawa. Dimana perkembangan dunia hiburan tumbuh kembang di daerah Jawa yang tingkat populasinya lebih tinggi sebanding dengan pulau lain di Indonesia. Kajian pustaka ini lebih menfokuskan pada perbandingan tata letak panggung antara teater klasik (Yunani Kuno) dengan tata letak panggung yang berkembang di Indonesia.Kata Kunci : Teater Klasik, Teater Indonesia, Denah Panggung PertunjukanABSTRACTPerforming Arts, especially the theater has developed in ancient Greece. The Greeks have been thinking a space that can support the theater. Until now a form of theater stage design is also used in Indonesia, especially in Java. Which is, the development of the entertainment industry's growth in the area of Java that higher population level comparable to other islands in Indonesia. This literature review is focused on the comparison of the layout of the stage between the classical theaters (Ancient Greek) with the layout of the stage that developed in Indonesia.Keyword: Classic Theater, Indonesian Theater, Performing Art Stage Plan