Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Pembuatan Tepung Pewarna Alami dari Limbah Pengolahan Daging Rujungan (Kajian Konsentrasi Dekstrin, Suhu Pengeringan dan Analisis Biaya Produksi) Ricky Hermansyah; Wignyanto Wignyanto; Arie Febrianto Mulyadi
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.545 KB)

Abstract

Sebagai negara maritim, Indonesia mempunyai potensi hasil perikanan laut yang sangat berlimpah, namun potensi ini masih belum bisa dimanfaatkan secara optimal. Salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah rajungan. Selain pada dagingnya, peluang pemanfaatan pada limbah pengolahan daging rajungan juga cukup besar, salah satu pemanfaatan limbah pengolahan daging rajungan ini yaitu dijadikan sebagai bahan utama pembuatan serbuk perisa alami makanan. Pembuatan serbuk perisa alami dari cangkang rajungan perlu mempertimbangkan beberapa faktor, diantaranya yaitu konsentrasi bahan pengisi (filler) yang digunakan yaitu dekstrin dan suhu pengeringan, oleh karena itu perlu dilakukan sebuah penelitian tentang konsentrasi dekstrin dan suhu pengeringan pada pembuatan serbuk perisa alami dari cangkang rajungan. Hasil terbaik yaitu pada suhu pengeringan 60oC dan konsentrasi dekstrin 10%. Perlakuan terbaik memiliki nilai parameter organoleptik yaitu pada rasa 2,6 (netral), aroma 3 (netral), warna 3,6 (suka), tekstur 3,8 (suka), dan untuk parameter fisik yaitu kadar air 4,67 %; daya larut 77 %; dan daya serap 9,65 %. Total biaya untuk sekali produksi dalam skala laboratorium yaitu sebesar Rp 78.469,92 (480 g).Kata Kunci : Limbah Pengolahan Daging Rajungan, Perisa Alami, Dekstrin, Suhu
Penentuan Isolat Bakteri Asetogenik yang Mampu Menghasilkan Total Asam Tertinggi pada Pengolahan Limbah Cair Tahu secara Anaerob Hana Afifah; Nur Hidayat; Wignyanto Wignyanto
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.781 KB) | DOI: 10.21776/ub.industria.2018.007.01.6

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh dari persentase inokulum dan waktu inkubasi terhadap kemampuan isolat bakteri asetogenik untuk memproduksi total asam tertinggi serta mengetahui karakteristik dari isolat bakteri tersebut. Rancangan Acak Kelompok (RAK) disusun secara faktorial dengan dua faktor yaitu persentase inokulum (I) (10%, 15%, 20%) serta faktor waktu inkubasi (W) (24 jam, 48 jam, 72 jam). Kombinasi perlakuan terbaik pada isolat bakteri asetogenik dalam menghasilkan asam adalah I1W1, yakni persentase inokulum 10% dan waktu inkubasi 24 jam. Pada perlakuan ini kadar asam asetat yang dihasilkan adalah 3,853%, pH 5,544, total bakteri 7,7 x 107 CFU/ml, dengan kadar glukosa 2,5237%. Karakteristik dari isolat bakteri asetogenik terpilih secara morfologi koloni yaitu memiliki kenampakan warna putih, bentuk tidak beraturan, permukaan (elevasi) datar, dan tepi yang bergelombang. Berdasarkan morfologi sel, isolat bakteri merupakan bakteri Gram negatif bentuk batang. Berdasarkan identifikasi secara biokimia, isolat bakteri ini adalah Acinetobacter sp dengan probabilitas 51,25%.Kata kunci: asam asetat, bakteri asetogenik, isolasi, persentase inokulum, waktu inkubasi AbstractThe purpose of this research was to understand the effect of inoculum percentage and incubation time of acetogenic bacteria to produce total acid and to understand the characteristics of acetogenic bacteria that could produce the highest total acid. The experimental design used was Randomized Block Design that arranged in factorial with two factors: percentage of inoculum (I) (10%, 15%, 20%) and the factor Incubation time (W) (24 hours, 48 hours, 72 hours). The best treatment combination on isolated acetogenic bacteria to produce total acid was I1W1 (10% inoculum percentage and 24 hours incubation time ). This treatment produced 3.853% acetic acid levels, 5.544 pH, 7.7 x 107 CFU / ml total bacteria and 2.5237% glucose levels. The characteristics of isolated acetogenic bacteria based on colony morphology was white, irregular shape, surface (elevation) flat, and wavy edges. Based on cell morphology, the isolated bacteria were Gram-negative rod shape. Based on the biochemical identification, the isolated bacteria is an Acinetobacter sp with 51.25% probability.Keywords: acetic acid, acetogenic bacteria, isolation, percentage of inoculum, incubation time 
PENGEMBANGAN BELIMBING WULUH (AVERRHOA BILIMBI) SEBAGAI MANISAN KERING DENGAN KAJIAN KONSENTRASI PERENDAMAN AIR KAPUR (CA(OH)2) DAN LAMA WAKTU PENGERINGAN Windyastari Carina; Wignyanto Wignyanto; Widelia Ika Putri
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.631 KB)

Abstract

Tujuan penelitian untuk mendapatkan kombinasi perlakuan yang tepat dari penambahan konsentrasi Ca(OH)2 dan lama waktu pengeringan untuk menghasilkan manisan kering yang berkualitas (organoleptik dan kimia), serta dapat mengkaji lebih lanjut mengenai perencanaan produksi manisan kering belimbing wuluhsebagai pengembangan pada industri skala kecil. Kombinasi perlakuan yang digunakan adalah konsentrasi Ca(OH)2 (6%(b/v); 1,2%(b/v); dan 1,8%(b/v)) dan lama pengeringan (10 jam; 11 jam; dan 12 jam). Pengujian meliputi uji organoleptik (warna, tektur, rasa dan aroma) menggunakan metode Hedonic scale scoring, kemudian uji kimia (kadar air, total gula dan total asam) dilakukan dari hasil perlakuan terbaik. Perencanaan produksi dilakukan dari perlakuan terbaik. Perlakuan terbaik adalah perlakuan dengan konsentrasi Ca(OH)2 1,8% dan lama waktu pengeringan 11 jam. Perencanaan kebutuhan bahan perhari untuk pembuatan manisan kering pada industri skala kecil adalah 10 kg buah belimbing wuluh hijau, 9 kg gula pasir, 0,024 kg garam dan 0,18 kg Ca(OH)2 dengan ketersediaan bahan cukup melimpah di Kota Malang. Total biaya kebutuhan bahan per hari adalah Rp 91.896.Kata Kunci:Belimbing wuluh, Ca(OH)2,Waktu Pengeringan, Manisan Kering
PEMBUATAN PUREE BAWANG MERAH DALAM KAJIAN KOMBINASI FAKTOR KONSENTRASI SODIUM METABISULFIT PADA PROSES PERENDAMAN DAN PENAMBAHAN MALTODEKSTRIN Sakunda Anggarini; Edy Tya Gullit Duta Pamungkas; Wignyanto Wignyanto
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.882 KB)

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mendapatkan kombinasi antara konsentrasi sodium metabisulfit yang digunakan dalam larutan perendaman dan penambahan maltodekstrin untuk menghasilkan puree bawang merah terbaik secara organoleptik. Selanjutnya analisa sifat fisik dan residu sulfit dilakukan pada hasil kombinasi terbaik tersebut. Dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok, faktor konsentrasi sodium metabisulfit yang digunakan untuk perendaman bawang merah yaitu 400, 500, dan 600 ppm. Adapun faktor penambahan maltodekstrin yang digunakan sebanyak 0,4, 0,5 dan 0,6% (b/b). Analisa menunjukkan bahwa hasil terbaik diperoleh dari kombinasi perlakuan perendaman sodium metabisulfit dengan konsentrasi 400 ppm dan penambahan maltodekstrin sebanyak 0,4% b/b. Hasil terbaik tersebut mempunyai beberapa karakteristik fisik yaitu rendemen 94,8%, kadar air produk jadi 86,22%, total padatan 13,58% dan viskositas 133,086 cp. Hasil analisa residu sulfit menunjukkan konsentrasi sebesar 73,53 ppm.Kata kunci: Bawang Merah, Maltodekstrin, Puree, Sodium MetabisulfitAbstractThe aim of this research was to find out the combination of sodium metabisulphite concentration was applied in the soaking solution and additional of maltodextrin in order to yield the shallot puree with the best organoleptic characteristic. For further, the analysis of physical characteristic and sulfite residue will be performed toward the result. Using Group Randomized Design, the factor of concentrations amount of sodium metabisulphite in the solution was used to soak the shallots were 400, 500 and 600 ppm. While the maltodextrin additions were 0.4%, 0.5% and 0.6% (w/w). The analysis demonstrated that the best product was resulted by combination of treatments of soaking with 400 ppm sodium metabisulphite solution and adding of 0.4% (w/w) maltodextrin. Physical characteristic of that result was indicated by several parameters, those were 94.8% of yield, 86.22%of moisture,13.58%of total solid, and 133.086 cp of viscocity. It also showed the sulfate residue in amount of 73.53 ppm.Keywords: Maltodextrin, Puree, Shallot, Sodium Metabisulphite
EFISIENSI PENGGANDAAN SKALA KAPASITAS BENCH PADA PRODUKSI GELATIN TULANG IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus sp.) Ivanti Lilianti Sari; Wignyanto Wignyanto; Nimas Mayang Sabrina Sunyoto
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.086 KB)

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil penelitian gelatin yang diproduksi pada skala laboratorium dan skala bench serta mengetahui nilai efisiensi proses dan rendemen dalam pembuatan gelatin tulang ikan kakap merah pada skala laboratorium dan skala bench. Penelitian dilakukan dengan membuat gelatin tulang ikan kakap merah skala laboratorium dan bench, kemudian dilakukan analisa proksimat (kadar air, abu, protein, lemak) dan kekuatan gel, serta menghitung nilai efisiensi proses dan rendemen dari kedua skala tersebut. Analisa gelatin tulang ikan kakap merah skala laboratorium diperoleh nilai kadar air 4,64%, kadar protein 90,67%, kadar lemak 2,55%, kadar abu 2,14%, kekuatan gel 200,33 bloom dan rendemen 15,03%. Analisa gelatin tulang ikan kakap merah skala bench diperoleh nilai kadar air 4,28%, kadar protein 89,63%, kadar lemak 3,01%, kadar abu 3,08%, kekuatan gel 199,33 bloom dan rendemen 14,95%. Nilai efisiensi proses pada produksi gelatin tulang ikan kakap merah berturut-turut adalah proses pencucian 100%, degreasing 94,74%, pengecilan ukuran 100%, demineralisasi 94,74%, pencucian 100%, ekstraksi 89,47%, penyaringan 100%, pengeringan 92,71% dan pengecilan ukuran 100%. Nilai efisiensi rendemen yang diperoleh sebesar 86,62%.Kata kunci: efisiensi, gelatin, nilai analisa dan kekuatan gel, skala benchAbstract The purpose of this research is to know the difference results of research that produced in laboratory-scale and bench-scale and to know the value of efficiency process and yield in manufacture gelatine of red snapper’s bone on a laboratory-scale and bench-scale. Research done by making gelatine of red snapper’s bone in laboratory-scale and bench-scale, then analyzed proximate (moisture, ash, protein, fat) and strength of a gel and counting the value of efficiency process and yield. Analysis gelatine of red snapper’s bone on laboratory-scale obtained moisture content value of 4.64%, protein 90.67%, fat 2.55%, ash 2,14%, the strength of gel 200,33 bloom and yield 15,03%. Analysis gelatine red snapper’s bone on bench-scale obtained moisture content value of 4.28%, protein 89,63%, fat 3.01%, ash 3.08%, gel strength 199,33 bloom and yield 14.95%. The value of efficiency process for the production of gelatine red snapper’s bone in a row is the process of washing 100%, degreasing 94,74%, size diminution 100%, demineralisasi 94,74%, extraction 89,47%, filtering 100%, drying 92,71% and size diminution 100%. The yield efficiency values acquired for 86,62%.Keywords: efficiency, gelatine, value of analysis and strength of gel, bench-scale
ISOLAT BAKTERI DAN KEMAMPUANNYA MENDEGRADASI DIMETOAT Yasa Palaguna Umar; Wignyanto Wignyanto; Nimas Mayang Sabrina Sunyoto
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.367 KB)

Abstract

Abstrak Pestisida yang banyak direkomendasikan untuk bidang pertanian adalah golongan organofosfat, karena golongan ini lebih mudah terurai di alam. Pestisida jenis organofosfat di negara berkembang seperti Indonesia biasanya ditemukan dalam bentuk insektisida. Penggunaan pestisida yang secara terus menerus dapat menyebabkan akumulasi residu pada tanah yang dapat membahayakan biota tanah dan dapat mencemari tanah sehingga ekosistem terganggu. Oleh karena itu perlu adanya penelitian untuk mengurangi efek buruk dari insektisida pada lingkungan. Pada penelitian ini bakteri yang diperoleh dari hasil isolasi lalu diujikan kemampuannya dalam mendegradasi salah satu jenis insektisida. Media yang digunakan adalah media Mineral Salt. Pengujian kandungan dimetoat di lakukan dengan Liquid Chromatography-Mass Spectrometry (LCMS) untuk melihat kemampuan isolat bakteri dalam mendegradasi dimetoat. Untuk mengetahui efektivitas isolasi bakteri dalam pendegradasian dimetoat, analisa data penelitian dilakukan dengan menggunakan metode uji-T berpasang (paired T-test) untuk populasi saling tergantung (dependen). Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat bakteri mampu mendegradasi dimetoat dari 1000 ppb pada hari pertama hingga 502,56 ppb pada hari ketiga. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan isolat bakteri dalam menurunkan dimetotat disebabkan adanya sumber karbon pada dimetoat yang berperan sebagai sumber makanan utama bagi isolat bakteri.Kata Kunci: Biodegradasi, Bakteri, Dimetoat, Insektisida, LC-MS,Abstract The organophosphate group is a recommended pesticide in agricultural field since it is easier to decompose in nature. This pesticide type in developing countries, such as Indonesia, is usually found in the form of insecticide. A continuous usage of pesticides may lead to residue accumulation in soil which in turn endangers land biota and pollutes land thus disturbs the ecosystem. Therefore, a research to decrease the unfavourable effect of insecticide to the environment. In the study, the bacteria from isolation result were then tested for their ability to degrade dimethoate, as a type of insecticide. The media used in the study was Mineral Salt and the Liquid Chromatography-Mass Spectrometry (LC-MS) was used to observe the capability of the bacteria isolate in degrading dimethoate. The study was conducted with paired T-test method for dependent population to identify the effectiveness of bacteria isolate in degrading dimethoate. The result shows that bacteria isolate was able to degrade dimethoate from 1000 ppb on the first day to 502.56 ppb on the third day. It is believe that the bacterial isolate ability in degrading dimethoate was caused by carbon source in dimethoate which acted as a main nutrition for the bacterial isolate.Keywords: Biodegradation, Bacteria, Dimethoate, Insectiside, LC-MS
ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS DAN FINANSIAL PRODUKSI SOSIS JAMUR TIRAM PADA SKALA INDUSTRI KECIL (STUDI KASUS DI BUDIDAYA JAMUR TIRAM ‘WAHYU’ KOTA MOJOKERTO) Meta Fitri Harlistaria; Wignyanto Wignyanto; Dhita Morita Ikasari
Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.158 KB)

Abstract

Sausage is a type of food which is popular in the market and often consumed by people, especially children and teenagers. Therefore, oyster mushroom can be turned into sausage and becomes a solution for the vegetarians to substitute the meat. The method used to analyze the technical aspects is an approach to the raw material availability. However, the method used to analyze the financial aspects is the calculation of HPP, BEP, and R/C Ratio. The production of oyster mushroom sausage will be done in UKM Wahyu Mojokerto with the capacity of 10 kg oyster mushroom per day which will produce 110 oyster mushroom sausages and the need of 11 vacuum packaging and 2 labors. The work hours start from 08.00 am to 1.40 pm for 5 days. The production process is carried out every one cycle per day by using the main machine that is sausage filler. The result of the oyster mushroom sausage production in UKM Wahyu is calculated from the financial aspects (HPP) Rp 1.666,75 with the selling price Rp 2.000,00. Therefore, the BEP is 13.308 units and Rp 26.617.544,51 while the R/C Ratio is 1,2. It means that the production of oyster mushroom sausage has met the standards of business efficiency that can be said to be profitable and viable. Key word: financial aspects, technical aspects oyster mushroom sausage.
Analisis Harga Jual dan Strategi Penjualan Produk Es Krim di UKM Gelali Kecamatan Sukun Kota Malang Muhammad Arif Kamal; Miftakhurrizal Kurniawan; Suprayogi Suprayogi; Imam Santoso; Wignyanto Wignyanto
CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2019): Februari
Publisher : Ilin Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.708 KB) | DOI: 10.31960/caradde.v1i2.107

Abstract

UKM Gelali berpartisipasi dalam kegiatan pengabdian masyarakat dengan tujuan memperbaiki kualitas produk, proses produksi, desain kemasan dan merk serta persyaratan administrasi penting lainnya termasuk perizinan usaha agar produknya dapat diterima oleh konsumen. Metode pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah 1. identifikasi kondisi unit usaha, 2. Pelatihan, penyuluhan, dan pembimbingan teknis. Hasil dari kegiatan ini adalah efisiensi produksi (kuantitas dan kualitas) dengan perbaikan manajemen pengolahan yang ada, adanya pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan agroindustri pengolahan susu menjadi es krim sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di lingkungan UKM Es Krim Gelali