Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Menghindari Pseudo Informasi Dalam Sistem Informasi Kebencanaan Ilham Gemiharto
KOMUNIKATIF : Jurnal Ilmiah Komunikasi Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/jk.v3i2.1452

Abstract

Konsep pseudo informasi berasal dari pemikiran Terence Moran (1978), seorang profesor dalam bidang ekologi media mengenai pseudo komunikasi. Moran menyatakan bahwa pseudo komunikasi bersumber dari adanya pseudo informasi yang dibuat dengan tujuan tertentu, misalnya dalam bentuk propaganda. Kini dengan maraknya media sosial, pseudo informasi juga ditemukan dalam berbagai bentuk dan seringkali muncul dalam berbagai kesempatan, misalnya pada masa darurat kebencanaan. Sistem Informasi Kebencanaan merupakan sebuah sistem paduan antara prosedur, sumber daya manusia, data dan teknologi informasi yang diorganisasikan untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan dan menganalisis informasi kebencanaan yang ditujukan untuk mendukung proses penanggulangan bencana, baik pada tahap pra bencana, saat terjadinya bencana (tanggap darurat) maupun pasca terjadinya bencana. Tujuan pokok dari sistem informasi kebencanaan adalah melakukan diseminasi atau melalui mekanisme penyebarluasan pengetahuan dan informasi kebencanaan dalam rangkaian proses penanggulangan bencana yang dilakukan secara berjenjang sesuai dengan urgensi dan tingkat kebutuhan khalayak potensialnya. Seringkali pada situasi kebencanaan marak pseudo informasi yang cenderung menyesatkan bahkan membahayakan proses penanganan korban bencana. Pseudo informasi atau informasi semu kebencanaan seringkali muncul melalui beragam media sosial yang saat ini sudah begitu populer di Indonesia. Mengingat potensi bahaya yang dapat ditimbulkannya sudah selayaknya keberadaan pseudo informasi pada situasi kebencanaan harus segera diantisipasi sebelum menimbulkan bahaya lebih lanjut.
Komunikasi Digital Dalam Bisnis Online Produk UMKM “SO WHAT” di Era Normal Baru Daruning Rahayu; Eni Maryani; Ilham Gemiharto
Communication Vol 12, No 1 (2021): COMMUNICATION
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi - Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/comm.v12i1.1341

Abstract

Peran Usaha Kecil dimasa pandemi untuk terus menggerakan ekonomi masyarakat di level menengah ke bawah melalui adaptasi teknologi menarik untuk dicermati. Tulisan ini akan mengangkat pengalaman ‘So What’ sebagai sebuah UMKM yang menghadapi kendala di masa pandemi dengan terus berinovasi dalam produk serta beradaptasi secara teknologi. Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah bagaimana implikasi pemnggunaan komunikasi digital terhadap UMKM? Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Kasus penelitian yang dipilih adalah salah satu UMKM ‘So What’ yang memiliki produk minuman beradaptasi dengan komunikasi digital dan menjalankan bisnis dengan sistem online dan berhasil bertahan di masa pandemi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam, observasi dan studi literatur. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa So What menggunakan aplikasi digital untuk menjalankan bisnisnya secara online dan berhasil meningkatkan keuntungannya setiap tahun dan bertahan di amsa pandemi. Implikasi sistem bisnis online adalah diberlakukannya transaksi keuangan elektronik akan tetapi “So What” tetap menggunakan sistem hybrid yaitu menerima tranksasi elektronik dan juga secara tunai. Kebijakan tersebut diambil karena mempertimbangkan masih terdapat kendala-kendala dalam penggunaan transaksi elektronik. Beberapa kendala teknis transaksi elektronik dari sisi konsumen yaitu a) tidak semua konsumen memiliki aplikasi yang digunakan dalam pemasaran produk ‘So What’, b) tidak semua konsumen juga selalu memiliki saldo pada aplikasi tersebut, dan c) tidak semua konsumen juga memahami transaksi online dengan baik. Sementara disisi produsen dalam hal ini internal “So What” kendalanya adalah kapasitas jaringan internet yang memiliki belum memiliki kestabilan yang tinggi sehingga kadangkala memiliki masalah saat melakukan verifikasi pemesanan.
Pengembangan Model Komunikasi Pemasaran Koperasi Jasa Keuangan Syariah Di Jawa Barat Ilham Gemiharto
Komversal : Jurnal Komunikasi Universal Vol 1 No 1 (2019): Komversal - Februari 2019
Publisher : Program Studi Hubungan Masyarakat Politeknik LP3I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas hasil penelitian mengenai pengembangan model komunikasi pemasaran bagi koperasi sebagai upaya penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat dengan mengambil studi kasus pengembangan model komunikasi pemasaran salah satu koperasi jasa keuangan syariah di Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. Sektor pemasaran bagi lembaga koperasi yang memiliki usaha dalam bidang keuangan merupakan sektor yang vital untuk dapat terus berkembang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi dan teknik analisis data deskriptif. Penelitian ini mengevaluasi model komunikasi pemasaran yang selama ini dijalankan oleh koperasi sebagai suatu lembaga ekonomi masyarakat. Dengan mengambil studi kasus dari koperasi jasa keuangan syariah di Kabupaten Bogor, melalui penelitian ini dikembangkan suatu model komunikasi pemasaran yang lebih memadai bagi koperasi yang bergerak dalam bidang keuangan dan pembiayaan berbasis syariah yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Dari hasil penelitian ditemukan beberapa faktor yang menyebabkan tertinggalnya badan usaha koperasi dibandingkan badan usaha lainnya jika dilihat dari aspek komunikasi pemasarannya. Diantaranya adalah biaya operasional yang relatif tinggi sedangkan bagi hasil rendah, jenis layanan masih terbatas, produk kurang dikenal pasar, rendahnya kompetensi pengurus koperasi, belum menerapkan teknik pemasaran yang efektif, dan wilayah pemasarannya masih bersifat lokal.
Tantangan dan Peluang Pelaksanaan CSR di Era Disrupsi Bagi Humas Korporasi Ilham Gemiharto; Eka Yusup
Journalism, Public Relation and Media Communication Studies Journal (JPRMEDCOM) Vol 2 No 1 (2020): JPRMEDCOM
Publisher : Journalism, Public Relation and Media Communication Studies Journal (JPRMEDCOM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35706/jprmedcom.v2i1.3746

Abstract

Humas korporasi dalam era disrupsi selain harus memiliki keterampilan dasar komunikasi, namun juga dituntut untuk memiliki pola pikir terbuka, dan memiliki kompetensi komunikasi yang kritis, kreatif, kolaboratif dan komunikatif dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh perusahaan. Kompetensi tersebut perlu dikuasai oleh petugas humas korporasi mengingat saat ini tidak ada sektor yang mampu bertahan dari era disrupsi saat ini tanpa mau berubah dan meninggalkan cara-cara lama yang sudah ketinggalan zaman. Era disrupsi ini memunculkan tantangan dan peluang yang harus segera disikapi dengan cepat dan tepat, sebelum tergilas oleh korporasi lain dalam bidang yang sama.  Petugas humas harus terus mencari ide-ide kreatif untuk dapat terus meraih citra yang baik dari publik, khususnya mereka yang selama ini berkontribusi secara signifikan dalam kemajuan korporasi. Tulisan ini membahas mengenai bagaimana tantangan dan peluang pelaksanaan CSR di era disrupsi saat ini khususnya bagi humas korporasi. Penelitian mengenai tantangan dan peluang pelaksanaan CSR di era disrupsi ini merupakan hasil kajian dari berbagai literatur mengenai pelaksanaan CSR di era disrupsi yang telah terbit dalam beberapa tahun terakhir ini. Tantangan terbesar bagi humas korporasi saat ini adalah bagaimana agar citra dan eksistensi perusahaan dapat bertahan di tengah era disrupsi saat ini.  Korporasi yang menyadari tantangan tersebut menjadi sangat peduli dengan perkembangan teknologi komunikasi dan menyadari adanya perubahan drastis dalam perilaku konsumen mereka. Korporasi tersebut melakukan pembenahan dengan berinvestasi pada penggunaan teknologi komunikasi terkini dan melatih divisi humas mereka untuk menguasai teknologi tersebut. Pelaksanaan kegiatan CSR oleh humas korporasi kini memanfaatkan media online dan media sosial dalam mempromosikan korporasi melalui kampanye pelestarian lingkungan dan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.Kata Kunci: Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, Era Disrupsi, Humas, Korporasi
PENGARUH STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN, BUDAYA ORGANISASI, KARAKTERISTIK INDIVIDU INOVATIF DAN KOMITMEN ORGANISASIONAL TERHADAP KINERJA USAHA KECIL DAN MENENGAH Asep Suryana; Duddy Zein; Suwandi Sumartias; Ilham Gemiharto
Manajemen Komunikasi Vol 3, No 2 (2019): Accredited by Republic Indonesia Ministry of Research, Technology, and Higher Ed
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.665 KB) | DOI: 10.24198/jmk.v3i2.20754

Abstract

Dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) sejak tahun 2016, perkembangan bisnis di Indonesia, baik yang berkaitan dengan barang (goods) maupun pelayanan (services), memperlihatkan trend yang meningkat dan kompetitif. Keadaan tersebut tidak hanya diperlihatkan oleh perusahaan-perusahaan yang besar saja juga oleh perusahaan menengah dan kecil yang sebut usaha kecil dan menengah (UKM). Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengukur pengaruh strtegi komunikasi pemasaran, budaya organisasi, karakteristik individu inovatif dan komitmen organisasional terhadap kinerja UKM dalam menghadapi masyarakat Ekonomi Asean (MEA0 di Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yang bersifat eksplanatoris (explanatory survey). Penelitian ini, diarahkan pada pengungkapan hubungan kausal antar variabel yang diteliti. Objek yang diteliti adalah pemilik dan atau pengelola Industri Skala Kecil dan Menengah yang ada di Jawa Barat, yang merupakan populasi dan sampel diambil secara random. Hasil penelitian menunjukkan bahwa. (1) komitmen organisasional pelaku bisnis usaha kecil dan menengah (UKM) secara simultan dipengaruhi oleh strategi komunikasi pemasaran, budaya organisasi dan karakteristik individu pelaku bisnis UKM. Namun secara individual atau parsial dipengaruhi oleh strategi komunikasi pemasaran dan budaya organisasi. Dengan demikian maka tinggi rendahnya komitmen organisasional pelaku bisnis UKM dapat ditentukan oleh tinggi rendahnya strategi komunikasi pemasaran dan budaya organisasi. (2) kinerja Usaha Kecil dan Menengah (UKM) secara simultan dipengaruhi oleh strategi komunikasi pemasaran, budaya organisasi dan karakteristik individu pelaku bisnis UKM. Namun secara individual atau parsial dipengaruhi oleh strategi komunikasi pemasaran dan karakteristik individu pelaku bisnis UKM.Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa tinggi rendahnya kinerja UKM tergantung pula pada tinggi rendahnya strategi komunikasi pemasaran dan karakteristik individu pelaku bisnis UKM, (3) Kinerja Usaha Kecil dan Menengah dipengaruhi oleh komitmen organisasional baik secara simultan maupun individu (parsial), Dengan demikian kinerja UKM dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan komitmen organiasional pelaku bisnis UKM, (4) Kinerja Usaha Kecil dan Menengah (UKM) secara simultan dipengaruhi oleh strategi komunikasi pemasaran, budaya organisasi, karakteristik individu pelaku bisnis UKM dan komitmen organisasional pelaku bisnis UKM. Namun deMikian, secara individu atau parsial dipengaruhi oleh strategi komunikasi pemasarandan koitmen organisasional. Dengan demikian, tinggi rendahnya kinerja UKM ditentukan oleh tinggi rendahnya strategi komunikasi pemasaran dan komitmen organisasional pelaku bisnis UKM.
KAJIAN KRITIS TAYANGAN TELEVISI FAVORIT KELAS MENENGAH PERKOTAAN Ilham Gemiharto; Aceng Abdullah; Lilis Puspitasari
ProTVF Vol 1, No 1 (2017): ProTVF
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.405 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v1i1.13329

Abstract

Salah satu ciri masyarakat kelas menengah adalah memiliki disposable income, yaitu dana sisa di luar untuk kebutuhan sandang, pangan, papan dasar yang cukup besar, yaitu sekitar 30 persen dari total pendapatan. Dengan disposable income yang memadai mereka memiliki keleluasaan untuk memenuhi kebutuhan di luar kebutuhan dasar (basic needs) termasuk dalam memilih tayangan televisi favorit. Sebagai penonton televisi, kelas menengah memiliki posisi penting dalam proses komunikasi bermedia (mediated communication). Penelitian mengenai tayangan televisi dilakukan untuk melengkapi kajian tentang televisi, karena bagaimanapun juga pesan yang disampaikan  televisi, baru akan bermakna ketika sampai ke mata penonton, dalam hal ini kelas menengah perkotaan. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana kelas menengah perkotaan memaknai tayangan favorit mereka di televisi nasional. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumen serta teknik analisis data deskriptif, dengan informan penelitian adalah kelas menengah perkotaan dengan rentang usia 26 – 50 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwapemaknaan yang dilakukan masing-masing responden satu sama lain berbeda.Kelas menengah tidak sepenuhnya tidak berdaya dalam interaksinya dengan televisi dan menerima begitu saja apa yang ditawarkan oleh televisi. Kelas menengah perkotaan bukanlah audiens yang pasif dalam menonton televisi, melainkan para pribadi yang bebas dan otonom dengan potensi kesadaran kritis terhadap media televisi melalui sikap ingin tahu dan komentar-komentar yang terlontar dari padanya. Tayangan favorit kelas menengah perkotaan kini mulai bergeser dari tayangan sinetron drama dengan ratusan episode kepada tayangan talkshow yang lebih informatif namun tetap menghibur.Kata-kata Kunci: Kajian Kritis, Tayangan Televisi Favorit, Kelas Menengah Perkotaan, Kota Bandung
TATA KELOLA PEMERINTAHAN DAERAH DAN PELAYANAN PUBLIK BERBASIS STANDAR PELAYANAN MINIMAL DI INDONESIA (Studi Kasus Tata Kola Pemerintahan dalam Pelayanan Publik Berbasis Standar Pelayanan Minimal di Kota Cimahi Provinsi Jawa Barat) Ade Kadarisman; Ilham Gemiharto
Jurnal Agregasi : Aksi Reformasi Government dalam Demokrasi Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.07 KB) | DOI: 10.34010/agregasi.v5i1.216

Abstract

Pelayanan yang bermutu dan berkualitas adalah pelayanan yang berbasis masyarakat, melibatkan masyarakat dan dapat diperbaiki secara terus menerus.Pemerintah dituntut untuk bekerja secara efisien dan efektif dalam hal pelayanan kepada masyarakat. Standar Pelayanan Minimal merupakan ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal.Pemerintah Kota Cimahi Provinsi Jawa Barat telah berkomitmen untuk melaksanakan tata kelola pemerintahan daerah dalam pelayanan publik sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) sejak tahun 2008, yang diimplementasikan melalui berbagai Peraturan Daerah dan Peraturan Walikota yang mendukung upaya pencapaian 100% SPM di Kota Cimahi. Namun dalam pelaksanaannya masih ditemukan beberapa kelemahan sehingga secara rata-rata capaian SPM Kota Cimahi masih di bawah 100%.Kelemahan yang ditemukan diantaranya adalah kompentensi aparat pelaksana dan keterbatasan sumber daya yang dapat digunakan. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana tata kola pemerintahan dalam pelayanan publik berbasis Standar Pelayanan Minimal di Kota Cimahi Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan teknik analisis data deskriptif, dengan informan penelitian adalah penerima manfaat pelayanan publik berbasis SPM, aparat pelaksana di Pemerintah Kota Cimahi, lembaga swadaya masyarakat dan para pejabat terkait.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah Kota Cimahi telah melakukan upaya yang konsisten dalam upaya mengatasi berbagai kelemahan yang terjadi dalam pelaksanaan pelayanan publik berbasis SPM dalam 5 (lima) tahun terakhir. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan Indeks SPM dalam Pelayanan Publik di Kota Cimahi yang terus meningkat presentasenya dari tahun ke tahun.