Agung Wicaksono
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Komunikasi Antar Budaya Motif Batik Cina Agung Wicaksono
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 1, No 13: Mei-Agustus 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v1i13.130

Abstract

Cross-cultural Communication in Batik Cina Motif.  Batik Cina is a motif that is created by the Chinese people or their descents living at the northern coastal area of Java. This motif plays a quite important role in batik development in Java. It contains cross-cultural communication patterns that are beneficial to reduce social tension. A dialogue by means of the exchange of cultural icons brings about a new style of batik motif called batik Cina. The motif is a combination of the China, Java, and Europe motif elements. It is a case of a mutual strengthening.Keywords: communication cross cultural, Batik Cina Motif
GAMBAR KACA, BERCERITA DALAM SATU SKENA Akhmad Nizam; Agung Wicaksono
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 3, No 2 (2014): NOVEMBER 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.036 KB) | DOI: 10.24821/corak.v3i2.2355

Abstract

Painted glass has many various theme, forexamples Islamic calligraphy, mosque,biography of Nabi, buroq, legend, and wayangs. In fact, painted glass has important positioningin Indonesia visual art history. The technique of painted glass making is very unique because itis done on the back of mirror surface. The result of this technique is opposite, left parts willbecome right parts, first color will become frontiest color in glass surface. The quality of paintwill be covered in glass, so it is very good in durability. Painted glass can be protected bycoating on the back of glass surface.In the year of 70’s, many of Javanese traditional house are decorated by painted glass,but it decrease gradually. Recently, the painted glass is less because glass is fragile material,damaged with age, or sold to the art shop. Many people considered the old painted glass isoutdated, however today, painted glass becomes artwork media for modern artist. It is meansthat painted glass not a pheriperal artwork. At first glance that traditional painted glassappears made by ordinary people. It seem as a naïve form, wrong composition, andcontrasting color collide. View of mountain, wet rice field, house, and human being arecomposed as one scene pile, it is wrong in perspective law. And the right question, is that true?Painted glass similary wayang beber, relief of temple wall, drawing by childern, Balitraditional painting, is composed in one scene pile. Why the traditional artist do it? In westernperspective law it is really wrong. But this is the manner of traditional painting inIndonesia.Right or wrong in ordinary drawing low is not their purpose. Their approches is ideoplastis,meaning is more important than the visualization. Keyword: tradition, scene, painted glass  Gambar kaca memiliki beragam tema, seperti tema religi (kaligrafi, masjid, kisah Nabi,singa ajaib, (buroq), legenda (Joko Tarup, Syeh Dumbo, Untung Suropati, pengantin LoroBlonyo) dan bermacam-macam tema wayang. Sebenarnya gambar kaca memiliki kedudukanyang penting dalam sejarah perkembangan seni rupa Indonesia. Pembuatan gambar kacadilakukan secara terbalik, yaitu dari belakang, inilah uniknya. Bidang gambar sebelah kananakan menjadi sebelah kiri, begitu juga sebaliknya. Warna pertama yang ditorehkan akanmenjadi warna paling depan, karena berada dibelakang kaca kualitas warna cat terlindungi,sehingga tetap cemerlang dalam waktu yang lama. Gambar kaca juga memiliki kelemahan,setelah 50-60 tahun cat akan mengelupas, hal ini dapat diatasi dengan memberi lapisanpelindung dari belakang.Era 70-an gambar kaca ini masih banyak menghiasi rumah tradisional Jawa, tetapisekarang jarang sekali dijumpai. Hal ini dapat dimengerti karena bahan kaca mudah pecah dankondisinya sudah banyak yang rusak dimakan usia, atau dijual ke art shop karena alasanekonomi, dan gambar kaca tempo dulu dianggap sudah ketinggalan zaman. Anggapan ini tidaksepenuhnya benar, era sekarang ini karya seni dengan berbagai media dapat digunakansebagai sarana berekspresi. Media kaca dapat dimanfaatkan oleh perupa modern menjadikarya seni visual, artinya sudah saatnya seni gambar kaca tidak dianggap sebagai karyapinggiran. Sekilas tampak bahwa gambar kaca tradisional dibuat oleh mereka yang tidakmengetahui seni. Bentuknya naif, olahan warnanya kontras sering bertabrakan, dan terutamakomposisinya salah. Pemandangan gunung, sawah, bangunan dan manusia disusun secarabertumpuk dalam satu skena, hal ini jika dilihat dari ilmu perspektif akan disalahkan olehmereka yang belajar disiplin ilmu seni, benarkah demikian?Gambar kaca, seperti halnya wayang beber, relief dinding candi, gambar anak, lukisantradisional Bali dibuat dengan susunan bertumpuk seperti itu. Mengapa mereka melakukan halitu? Hal ini jika dinilai dari ilmu perspektif Barat, memang salah. Tetapi demikianlah tradisimenggambar di Indonesia. Benar dan salah dalam suatu gambar, bukan yang utama, bukan itutujuannya. Yang penting adalah isi dari gambar itu dapat dibaca sepanjang waktu, menjadisebuah gambar yang hidup, gambar yang memuat banyak cerita dalam satu skena. Kata kunci: tradisi, skena, gambar kaca
EKSPLORASI TEKNIK STAMPING SEBAGAI ORNAMENTASI PADA PRODUK TAS KULIT Agung Wicaksono
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 10, No 2 (2021): NOVEMBER 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v10i2.4590

Abstract

Stamping technique is known in one of the methods of decorating on fabric. In one method of ornamentation of leather products is also known stamping technique. But there is a difference between the two, namely in the process and the end result. Stamping on fabric uses color substances while stamping on the skin does not use color. The purpose of this study is to combine the two techniques on the skin media. Stamping on the skin using color. These ornaments are used to decorate leather products, especially leather bags. This research method is qualitative research combined with the design of the work. This stage of research begins with data collection, data analysis, and presentation of analytical results. The results of the analysis are used as product design materials, starting from the pre-design, design, embodiment, presentation stages. The results of this study are products, article in nationally accredited scientific journals, and copyright. Teknik stamping dikenal pada salah satu metode menghias pada kain. Pada salah satu metode ornamentasi produk kulit juga dikenal teknik stamping. Namun ada perbedaan diantara keduanya yaitu pada proses dan hasil akhirnya. Stamping pada kain menggunakan zat warna sedangkan stamping pada kulit tidak menggunakan warna. Tujuan penelitian ini adalah mengkombinasikan kedua teknik tersebut pada media kulit.  Stamping pada kulit dengan menggunakan warna. Ornamen ini digunakan untuk menghias produk kulit khususnya tas kulit. Metode penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dikombinasikan dengan perancangan karya. Penelitian ini tahapannya dimulai dengan: (1) pengumpulan data, (2) analisis data, dan (3) penyajian hasil analisis. Tahapan selanjutnya adalah perancangan produk yang menggunakan hasil analisis data sebagai materi pokoknya. Tahapan ini diawali dengan (1) pra perancangan, (2) perancangan, (3) perwujudan, dan (4) penyajian. Hasil penelitian ini berupa produk, tulisan pada jurnal ilmiah nasional terakreditasi, dan Hak Cipta.
STRATEGI PERANCANGAN DENGAN PENERAPAN RAGAM HIAS SULUR GELUNG PADA PRODUK KRIYA UNTUK PASAR GLOBAL Agung Wicaksono; Budi Hartono
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 6, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1095.458 KB) | DOI: 10.24821/corak.v6i2.2402

Abstract

Ragam hias sulur gelung banyak tersebar di bangunan candi dan masjid. Konsep dasarnya adalah penciptaan alam semesta menurut perspektif agama Hindu. Namun pada masjid peran dan konsep ragam hias ini berubah, disesuaikan dengan kaidah-kaidah dalam agama Islam. Warisan budaya ini perlu dilestarikan dan dikembangkan. Metode dan strategi penegmbangan diperlukan untuk keperluan tersebut. Strategi perancangan adalah urutan langkah-langkah yang disiapkan dan metode perancangan adalah cara yang digunakan pada perancangan. Ini diperlukan kaidah-kaidah estetika dalam senirupa untuk optimalisasi pencapaiannya. Kata kunci : sulur gelung, strategi perancangan,kriya, pasar global
POTENSI PENGEMBANGAN INOVASI DESAIN PRODUK KRIYA KUKM INDONESIA DI ERA INDUSTRI KREATIF Agung Wicaksono
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 5, No 2 (2016): NOVEMBER 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.789 KB) | DOI: 10.24821/corak.v5i2.2380

Abstract

Inovasi desain produk kriya dapat dilakukan mulai dari pembuatan konsepperancangannya yang mengacu pada perubahan konsumennya. Produk kriya yang memilikibasis budaya dalam komunitas masyarakat tradisi sangat dibebani oleh nilai-nilai filosofis.Perubahan desain produknya sangat evolutif atau cenderung sangat lambat dan meiliki polapolatertentu. Produk kriya yang dihasilkan sebagai komoditas untuk memenuhi kebutuhankonsumen cenderung berjalan relatif lebih dinamis. Kunci utama perubahan terletak pada SDMpelakunya yang memiliki kemauan dan keterampilan untuk menginovasi desain produk supayamemiliki nilai tambah yang lebih baik lagi. Bangsa Indonesia memiliki modal untuk membuatperubahan pada desain produk kriyanya. Keterbukaan terhadap informasi dan warisan budayaadiluhung merupakan dua faktor penting terjadinya inovasi pada desain produk kriya. Kata kunci : inovasi desain, produk kriya, industri kreatif
PENGGUNAAN LIMBAH KULIT SAMAK KROM PADA KEMASAN PRODUK OLAHAN KAYU GAHARU Agung Wicaksono; Retno Purwandari
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 9, No 1 (2020): MEI 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v9i1.4175

Abstract

This research needs to be carried out to help improve the people’s economy. Stems from seeing the availability of chromium leather waste in Magetan that is not utilized properly. O n the other hand, there is a quality product that is processed products of agarwood in West Kalimantan, especially in the CV Global Agarwood Station but not selling because the packaging is not designed to be attractive. Agarwood can be processed into chips, oils that can be used for aromatherapy and parfume, and agarwood sculpture. Therefore, this research is expected to be able to realize the packaging of agarwood processed wood products by considering the composition of the design elements of the chrome tanned leather waste material in Magetan. This research method uses the flow or stages, namely predesign, design, embodiment, and presentation. Chrome leather packaging products produced apply the composition of design elements from two cultures in West Kalimantan, namely Dayak and Malay with hand sewing techniques, machine sewing, laser, and punching. Cultural elements of both, such as flora, specificity of the ornaments, and the specificity of colors appearing on the product packaging. This product packaging is expected to increase the selling value of agarwood processed wood products.Penelitian ini perlu dilaksanakan untuk membantu peningkatan perekonomian rakyat. Bermula dari melihat ketersediaan limbah kulit samak krom di Magetan yang tidak dimanfaatkan dengan baik. Di lain hal, ada suatu produk berkualitas yakni produk olahan kayu gaharu yang ada di Kalimantan Barat khususnya di CV Global Agarwood Station tetapi kurang menjual karena kemasannya tidak dirancang menarik. Kayu gaharu dapat diolah menjadi serpihan kayu (chip), minyak yang bisa dimanfaatkan untuk aromaterapi dan parfum, serta agarwood sculpture. Untuk itu, melalui penelitian ini diharapkan mampu mewujudkan kemasan produk olahan kayu gaharu dengan mempertimbangkan komposisi elemen desain dari bahan limbah kulit samak krom yang ada di Magetan. Metode penelitian ini menggunakan alur atau tahapan, yakni: praperancangan, perancangan, perwujudan, dan penyajian. Produk kemasan berbahan kulit samak krom yang dihasilkan mengaplikasikan komposisi elemen desain dari dua budaya yang ada di Kalimantan Barat, yaitu Dayak dan Melayu dengan teknik jahit tangan, jahit mesin, laser, dan punching. Unsur-unsur budaya dari keduanya, seperti flora, kekhasan ornamen, dan kekhasan warna dimunculkan pada kemasan produknya. Dengan kemasan produk ini diharapkan menambah nilai jual produk olahan kayu gaharu.
VIABILITAS RAGAM HIAS SULUR-GELUNG Agung Wicaksono; Akhmad Nizam
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 5, No 2 (2016): NOVEMBER 2016
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.739 KB) | DOI: 10.24821/corak.v5i2.2385

Abstract

Motive of ukel, lung or plant tendrils (forming like question mark) spiraling inside andoutside is named sulur gelung ornament. These ornaments are often found in Hinduism andBudhist temples even in the mosque with particular style. Sulur gelung ornament has to befondness for people when we look at the craft as visual art. Many artefacs of heritage oftenvisualized form of lung or ukel. In javanese fashion ukel as trendil of hair fastened by ukel konde.Ukel konde is used for make up on the face also for forming of puppet’s hair and isen-isen, evenfor forming of punokawan’s hair (Semar, Gareng, Petruk, and Bagong). Form like ukel is alsofound in the architecture of mosque especially on the mihrab or altar, we can also be found inthe architecture of javanese traditional house. The temples of Hinduism and Budhist in Javahave ornament of sulur gelung, for example Candi Gondosuli, Candi Gedongsongo, CandiKalasan, candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Lumbung, and many of temples in East Java.Is this ornament comes from India through the Hinduism or Hinduism-Budhist diffusionto Java? Or possibly this is an original local archetype of java or is this the result of aculturationof Hinduism-Budhist, Java, and Islam ? This reaserch will review the sulur gelung ornamentprovenience which is commonly using as fix pattern and the spirit or viability of javanese style.The sulur gelung ornament has evoluted since Hinduism-Budhist until Islamic diffusion asreception religion in the culture. Key wors : aculturation, ornament, sulur-gelung
Application of Resin Coating Technique to Leather Craft Works with the Idea of Creating Lotus Plants Safa San Akhra; Otok Herum Marwoto; Agung Wicaksono
Corak Vol 11, No 2 (2022): NOVEMBER 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/corak.v11i2.9342

Abstract

Application of Resin Coating Techniques to Leather Craft Works with the Ideaof Creation of Waterlily Plants is an individual idea inspired by the waterlily,  a type of aquatic ornamental plant with beautiful and positive philosophical  meaning and value. Inspired by the empirical gardening experience, the  inspiration was based on interest in the uniqueness of the waterlily in a pond. The  final project aimed to create panel work made of plant-based leather with as a creative concept. In the work creation, the approach method used was Monroe Beardsley's aesthetic with three elements: unity, complexity and intensity. The creationmethod used was SP. Gustami's creation method with 3 (three) stages and 6 (steps). The creation techniques used were knitting, cutting, pasting, sewing, and forming. The work creation achievement was leather artwork panel work by  visualizing a waterlily as the reference object. In the work creation, resin additives  as an adhesive and a skin coating were added as the work's aesthetic value. The final project focused on the aesthetic function of a decorative object.