Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS SEMIOTIKA PENGGUNAAN ESTETIKA FOTO POTRET DALAM KARYA SENI STENSIL DIGIE SIGIT Fahla Fadhillah Lotan; Edial Rusli; Adya Arsita
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.459 KB) | DOI: 10.24821/specta.v1i1.1896

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana foto potret digunakan sebagai media pencipta visual dalam proses pembuatan karya seni stensil dari seniman Digie Sigit. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif menggunakan pendekatan estetika kemudian dianalisis secara semiotika yang mengkaji tanda-tanda visual yang merujuk pada teori denotasi dan konotasi. Analisis data dalam penelitian ini berupa penjelasan deskriptif yang bersifat eksploratif untuk menggambarkan dan menjelaskan suatu fenomena. Uji validitas data yang digunakan adalah triangulasi data (data triangulations) dengan wawancara terhadap objek yang diteliti dan bisa dipercaya. Berdasarkan analisis data dijelaskan bahwa seni stensil dari Digie Sigit memiliki muatan makna penting yang diutarakannya dengan menggunakan visual sebagai ingatan pada masyarakat. Digie Sigit menggunakan media seni stensil yang berawal dari olah fotografi sebagai metode propaganda yang paling mudah untuk menyasar publik secara luas. Perubahan foto potret secara bentuk yang akhirnya menjadi karya seni grafis memberikan pengaruh dalam tataran metode aplikasi fotografi. Hal tersebut menjadi tambahan pengetahuan tentang aplikasi fotografi yang juga mampu memasuki ranah seni lain selain seni media rekam. Tataran makna yang terkandung dalam karya-karya seni stensil dari Digie Sigit, kekuatan pengaruh tanda-tanda visual menjurus pada denotasi akan karyanya yang diterjemahkan secara konotasi terkait dengan isyarat yang ditampilkannya secara visual sebagai sebuah kritik sosial.Kata Kunci : semiotika, estetika, foto potret, seni stensil
Simulakra Baudrillard dalam Multidimensi Posmodernisme: Kajian Fotografi Makanan dalam Media Sosial Instagram Adya Arsita
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 13, No 2 (2017): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v13i2.1932

Abstract

Makanan kini dipandang dengan sudut pandang yang berbeda, karena ia tak lagi sekedar kebutuhan pokok, tetapi telah dimaknai jauh dari fungsi utamanya.  Telah sekian lama makanan menjadi simbol kemakmuran orang yang berpunya sejak dari abad ke-16 dan ke-17 yang ditunjukkan dalam lukisan-lukisan di masa itu, yang kini kemudian meraih masa gemilangnya melalui berbagai tayangan di televisi, majalah, dan buku-buku masakan.  Makanan tidak lagi sekedar apa yang dimakan, tetapi menjadi sesuatu yang dipamerkan dan berkembang menjadi gaya hidup.  Seiring dengan berkembangnya teknologi komunikasi, orang cenderung mengumbar kegemarannya akan makanan melalui berbagai media sosial, salah satu yang terkenal yaitu Instagram.  Visualisasi makanan telah diekspos sedemikian rupa dari menu rumahan yang sederhana hingga makanan kelas atas yang biasanya tersaji di restoran mewah.Tulisan ini membahas banyaknya foto-foto makanan yang diunggah ke dalam berbagai akun Instagram dan kemudian akan dicoba untuk menemukan bagaimana unggahan tersebut mempengaruhi keseharian kita.  Metode yang digunakan adalah mengaitkan teori simulakra dari Baudrillard dengan pendekatan multidimensi posmodernisme.  Akun Instagram dipilih secara acak berdasarkan tampilan enam frame pertamanya yang menampilkan foto-foto makanan, yang kemudian foto-foto tersebut dianalisis menggunakan kajian simulakra dari Baudrillard. Hasil temuan dari analisis menunjukkan bahwa orang tidak lagi mengonsumsi sesuatu (makanan) sesuai fungsinya, tanpa disadari mereka telah mengonsumsi sebuah tanda yang akhirnya akan meletakkan mereka ke dalam hirarki, kelompok, dan kelas dengan kemampuan mengonsumsi yang sama.  Instagram merupakan salah satu media sosial yang menggunakan foto sebagai instrumen untuk berkembangnya budaya visual yang makin memperkuat berlangsungnya simulakra dalam keseharian, yang memisahkan objek dari apa yang seharusnya direpresentasikannya hingga ke ambang batas nihilisme dan orang tidak bisa lagi mengenali apa yang sesungguhnya mereka apresiasi. Food has been seen in different views nowadays, it is not merely one of the staples, but it has gone far beyond its primary function.  Food has long been a symbol of prosperity of the haves since the 16th  until the 17th century through paintings, which later these days regains its triumph in the abundant TV shows, magazines and cook books.  Food is no longer what we eat, but it is something to show off and lately it has become a lifestyle.  Along with the advanced communication technology, people tend to flaunt their food fetish through various social media, one that has become so popular is Instagram.  The visuality of food has been vividly exposed from simple home cooking   menu to high-end foods such those served in fine dining restaurants.   This article tries to analyze the massive photographs of food uploaded in several random accounts of Instagram, and then to find out to what extent they influence our everyday life.  The method employed is Baudrillard’s simulacra with a hint of approach of multidimensional postmodernism.  Random accounts of Instagram were chosen based on their first six frames or feeds all exposing food,  then those photographs were elaborated and analyzed using Baudrillard’s simulacra.          The findings show that people no longer consume something (food) as it is, but they have consumed ‘signs’ or the prestige symbols embedded in that object.  The act of consuming signs will finally put them in certain hierarchy, groups, and classes with the same interest and ability to consume the same sign in the same way.  Instagram as one  of the social media using the photograph as the instrument in blossoming the visual culture strengthens the simulacra that happens in daily basis, that it seems separating the object from what it should represent until it fades to nihilism and people can hardly recognize what they really appreciate.