Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TIGA PELUKIS POTRET WAJAH KEPALA NEGARA PASCA PRESIDEN SUKARNO DI ISTANA KEPRESIDENAN REPUBLIK INDONESIA Mikke Susanto; Lono Lastoro Simatupang; Timbul Haryono
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 19 No. 1 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1499.815 KB) | DOI: 10.52829/pw.13

Abstract

Kepala negara adalah representasi bangsa. Wajah presiden adalah wajah yang dianggap mewakili segenap masyarakatnya. Oleh karena itulah, setiap presiden memiliki keistimewaan untuk diabadikan, baik pada sebidang kanvas maupun selembar foto secara resmi. Lukisan potret akhirnya menjadi pilihan yang menarik. Lukisan potret tidak hanya berfungsi sebagai penghias dinding istana, tetapi juga memiliki fungsi lainnya, baik yang bersifat sosial maupun personal. Setelah era Presiden Sukarno, terdapat tiga pelukis potret yang sering diminta untuk melukis kepala negara: yakni IB Said, Soetarjo dan Warso Susilo. Ketiganya mengalami masa kerja dari dekade 1960-an hingga dekade pertama 2000. Selama masa tersebut ketiganya telah membuat puluhan lukisan kepala negara. Mereka tidak saja melukis wajah presiden RI, namun juga kepala negara lain. Artikel ini ingin mengupas mereka melalui pendekatan sejarah. Di samping itu tulisan ini juga ingin mengetahui sejauh mana nilai-nilai karya yang dihasilkannya. Kesimpulannya cukup mengejutkan, mereka melukis dan mendudukan lukisan potret bukan sebagai karya pribadi. Inilah potret presiden pesanan, dimana pelukis hanya menjalani tugas sebagai instrumen mimetik atas realitas, bukan interpretator.____________________________________________________________Head of state is a nation’s representation. Therefore, every president has the privilege of being immortalized, both on a canvas and photography. Portrait painting becomes an interesting option, not only serves as a decoration, but also have social and personal functions. President Sukarno had three court painters. After that era, this tradition no longer exists. The Palace ordered portraits on three portrait painters: IB Said, Soetarjo, and Warso Susilo. Research about the history of the court painters have been written in a number of books and articles, but not with these three painters, though they painted from the 1960s to the first decade of 2000. This article wants to discuss their existence and creative process through historical approach. In addition, this paper also wants to know the extent to which the value of the work it produces. The conclusion, they paint and portrait paintings portraiture not as a personal work. The painter only serves as a mimetic instrument of reality, not an interpreter. His artwork, although a formal or state portrait, also has significance for discourse of political and power.
Sejarah dan Makna Fotografi Karya Pelukis Istana, Dullah Mikke Susanto; Irwandi Irwandi
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 16, No 1 (2020): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v16i1.3847

Abstract

History and Meaning of Photography of a Palace Painter, Dullah. The existence of Dullah the painter is equal with other famous painters, such as Affandi, Basoeki Abdullah, S. Soedjojono and Hendra Gunawan. In 1950 to 1960, he was appointed by President Sukarno as a palace painter. Apart from painting, he also liked to take pictures. His object was around his work as a palace painter and President Sukarno's figure. Reviewed from the historical approach and the meaning explored in it, the photos have an interesting connection. Those photos hold important narratives, especially in the field of history for the Indonesian people. Dullah's photography was able to record the life of President Sukarno while at the palace and outside the presidential palace. The photos clearly illustrate the human side of Sukarno, as a father, a leader, and an art lover. By knowing the connection,, photographs of Dullah's work need to be socialized to the public and can be used as a means of national education for Indonesia, especially for prospective leaders.  ABSTRAKEksistensi pelukis Dullah sejajar dengan pelukis ternama lain, seperti Affandi, Basoeki Abdullah, S. Soedjojono, dan Hendra Gunawan. Pada tahun 1950 hingga 1960, ia ditunjuk Presiden Sukarno sebagai pelukis istana. Selain melukis, ia juga hobi memotret dengan objek sekitar pekerjaannya sebagai pelukis istana dan figur Presiden Sukarno. Setelah dikaji dari pendekatan sejarah dan digali makna di dalamnya, foto-foto tersebut memiliki simpul menarik. Foto-foto tersebut menyimpan narasi penting, khususnya dalam bidang sejarah bagi bangsa Indonesia. Fotografi Dullah mampu merekam kehidupan Presiden Sukarno pada saat di istana dan di luar istana presiden. Sisi kemanusiaan Sukarno digambarkan dalam foto-foto tersebut, baik sebagai ayah, pemimpin, maupun penyuka seni. Dengan mengetahui simpul tersebut, foto-foto karya Dullah ini perlu disosialisasikan kepada publik dan dapat digunakan sebagai sarana pendidikan kebangsaan bagi Indonesia, terutama bagi para calon pemimpin.