p-Index From 2017 - 2022
2.042
P-Index
This Author published in this journals
All Journal TEKNIKA
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PENGARUH PELAPISAN SERBUK STELITE 6 DENGAN PROSES LOGAM NYALA API OKSI ASETELIN TERHADAP KETAHANAN AUS Rita Djunaidi
TEKNIKA: Jurnal Teknik Vol 3 No 2 (2016)
Publisher : Universitas IBA Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.762 KB) | DOI: 10.35449/teknika.v3i2.45

Abstract

Kedua logam dasar yaitu baja Tool Steel ASSAB XW-10 dan baja Mild Steel dilapisi serbuk Stellite-6 terjadi peningkatan kekerasan dari 217 HV menjadi 378 HV untuk lapisan baja Tool Steel ASSAB XW-10 dan sebesesar 157 HV menjadi 421 HV untuk lapisan baja Mild Steel. Demikian pula untuk kekerasan makro juga mengalami peningkatan kekerasan sebesar 659 HV dan 241 HV pada lapisan baja Tool Steel ASSAB XW-10 dan baja Mild Steel. Berdsarkan data hasil penelitian terlihat untuk pengujian keausan bahwa baja Tool Steel ASSAB XW-10 memiliki nilai laju aus yang rendah dibanding dengan baja Mild Steel pada tiga kondisi yang berbeda yaitu kecepatan, beban dan jarak luncur, ini menunjukkan bahwa lapisan baja Tool Steel ASSAB XW-10 memiliki daya tahan terhadap keausan dimana kontak permukaan antara lapisannya dengan permukaan logam dasar terlihat baik. Bila diperbandingkan sifat kedua lapisan, lapisan baja Tool Steel ASSAB XW-10 memiliki sifat kekerasan makro dan laju aus yang baik dibanding lapisan pada baja Mild Steel. Kata Kunci : Serbuk Stellite-6, baja Tool Steel ASSAB XW-10
PENGARUH LAPISAN UMPAN KAWAT SENG PADA BAJA KARBON DAN BAJA PERKAKAS DENGAN PROSES BUSUR LISTRIK Rita Djunaidi
TEKNIKA: Jurnal Teknik Vol 3 No 1 (2016)
Publisher : Universitas IBA Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (922.23 KB) | DOI: 10.35449/teknika.v3i1.40

Abstract

Dalam penelitian ini di lakukan Proses Semprot Logam Busur Listrik dengan umpan Kawat Seng menggunakan variable logam dasar berbeda yaitu Logam Perkakas dengan Logam Karbon. Kekerasan Baja Perkakas 410 HV Sedangkan Baja Karbon mencapai 405 HV. Dari hasil penelitian Baja Perkakas lebih tinggi di banding Baja Karbon laju Aus Deposit Logam Semprot dipengaruhi kekerasan. Kata Kunci: umpan kawat seng, baja perkakas, baja karbon
ANALISA PENGARUH JARAK KATODA DAN ANODA DALAM PROSES ELEKTROPLATING ALUMINIUM TERHADAP LAJU KOROSI Rita Djunaidi; Siti Zahara; Herlangga Yakub
TEKNIKA: Jurnal Teknik Vol 4 No 2 (2017)
Publisher : Universitas IBA Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.093 KB) | DOI: 10.35449/teknika.v4i2.70

Abstract

ABSTRAK Proses Electroplating yaitu proses pelapisan logam dengan logam lain dalam suatu larutan elektrolit dengan pembiasan arus listrik.Tujuan proses Electroplating untuk melindungi logam dari Korosi, menambah daya tahan Gesekan, menambah Kekerasan dan membuat benda tampak lebih menarik. Dengan ini peneliti melakukan pengujian jarak Katoda dan Anoda dalam proses Elekroplanting Aluminium terhadap laju Korosi. Dengan jarak spesimen 10 cm, 15 cm, 20 cm dengan masing – masing 3 sampel benda uji. Pengujian laju Korosi ini dilakukan selama 264 jam dengan menggunakan cairan Korosif H2SO4 sebanyak 800 ml. Pada specimen jarak 10 cm benda uji Aluminium sebelum pelapisan 13,7089 gr. Pada Specimen jarak 15 cm sebelum pelapisan 13,7192 gr. Sedangkan pada Specimen jarak 20 cm sebelum pelapisan 13,8271 gr. Setelah dilakukan pengujian laju Korosi untuk Specimen jarak 15 cm mengalami kerusakan laju Korosi proses kehilangan berat yang paling sedikit yaitu 0,4429 gr, dibandingkan dengan Specimen jarak 10 cm dan Specimen jarak 20 cm. Yaitu Specimen 10 cm sebesar 0,5071 gr, dan pada Specimen 20 cm sebesar 04,548 gr. Untuk hasil perhitungan laju Korosi pada fase pertama dan kedua termasuk kedalam klasifikasi sangat baik dikarenakan material Aluminium, Chrome dan Nikel memiliki ketahanan Korosi yang baik. Kata kunci : Jarak Katoda dan Anoda, Laju Korosi
PENGARUH LAPISAN UMPAN KAWAT ALUMUNIUM PADA BAJA KARBON DENGAN PROSES BUSUR LISTRIK TERHADAP KETAHANAN AUS Rita Djunaidi; Siti Zahara Nuryanti
TEKNIKA: Jurnal Teknik Vol 1 No 1 (2014)
Publisher : Universitas IBA Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.578 KB) | DOI: 10.35449/teknika.v1i1.10

Abstract

ABSTRAK Lapisan Alumunium banyak digunakan dalam Dunia Industri karena sifatnya ringan, konduktivitas panas dan Listrik yang tinggi. Alumunium banyak digunakan untuk aplikasi sebagai bahan elektronik, industri, peralatan kantor, pesawat kapal terbang, Aluminium juga dapat dipakai sebagai pelindung Baja Karbon atau sebagai anoda karbon untuk melindungi permukaan logam dari ke ausan. Salah satu jenis komponen yang sering mengalami ke ausan adalah tabung Boiler, karena Tabung Boiler selain beroperasi untuk memanaskan air juga air umpan yang masuk ke Boiler masih memungkinkan banyak ion sehingga sangat mudah mengalami ke ausan. Contoh anoda korban yang bisa di pakai selain Alumunium yaitu Seng, Crom, Nikel dan sebagai nya. Lapisan Kawat Alumunium (Al) pada permukaan Baja Karbon ini dipakai sebagai bahan pelapis. Proses yang menggunakan bahan pelapis Alumunium ini adalah Proses Penyemprotan Busur Listrik yang menggunakan bahan umpan pelapisnya Aluminium berbentuk kawat dengan ukuran diameternya 2,5mm–3mm. Tebal lapisan Alumunium pada jarak semprot (85, 135, 185mm) hasilnya (270, 210, 170µm), dilihat dari hasil ini, semakin jauh semprot tebal lapisan Alumunium menjadi menurun, Kekerasan menjadi berkurang, dan ke Ausan lapisan Alumunium menjadi meningkat. Kata kunci : Lapisan Almunium, Busur listrik, ketahanan aus
ANALISA KETAHANAN KEKERASAN ANTARA TABUNG GAS ELPIJI BESAR DAN TABUNG GAS ELPIJI KECIL Rita Djunaidi
TEKNIKA: Jurnal Teknik Vol 4 No 1 (2017)
Publisher : Universitas IBA Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.028 KB) | DOI: 10.35449/teknika.v4i1.61

Abstract

Baja karbon rendah dan aluminium banyak digunakan didalam industri dan keperluan sehari – hari.Hal ini karena sifat dari logam – logam tersebut mempunyai sifat fisik dan mekanik relatif baik. Baja karbon yang mempunyai sifat keuletan dan kekuatan yang baik karena kandungan karbon yang dimiliki relatif rendah salah satunya adalah baja tipe JIS G 4051 S 22 C yang digunakan untuk pembuatan tabung baja LPG. Jenis baja ini dapat ditingkatkan kekuatan dan kekerasannya dengan proses perlakuan panas pengerasan (hardening) pada suhu 900°C ditahan dalam waktu 15 menit, diikuti dengan proses pendinginan di dalam air, selanjutnya diikuti dengan proses penemparan pada suhu 200°C ditahan selama 15 menit. Paduan aluminium, dilakukan proses Solution Heat Treatment pada 545°C selama 45 menit lalu pencelupan dan terakhir penuaian buatan pada 160°C selama 120 menit. Kekerasan tabung Aluminium sebelum perlakuan panas bagian atas, tengah dan bawah adalah : 70, 71 dan 72 HV dan sesudah perlakuan panas bagian atas, tengah dan bawah adalah : 264, 73 dan 72 mempunyai nilai kekerasan yang hampir sama. Kekerasan tabung baja karbon rendah sebelum perlakuan panas pada bagian atas, tengah dan bawah adalah : 167, 152 dan 150 HV. Sesudah perlakuan panas kekerasan menjadi naik pada tabung bagian atas, tengah dan bawah masing – masing adalah : 436, 345, dan 344 HV. Kata kunci : perlakuan panas, Solution Heat Treatment, Pemuaian Buatan
ANALISA HASIL PENGELASAN GTAW STAINLESS STEEL 304 Reny Afriany; Rita Djunaidi; Asmadi Asmadi; Catur Prasetya
TEKNIKA: Jurnal Teknik Vol 6 No 2 (2019)
Publisher : Universitas IBA Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35449/teknika.v6i2.112

Abstract

Baja tahan karat termasuk baja paduan tinggi, sehingga pengelasan pada baja ini sangat dipengaruhi oleh panas atau atmosfer pengelasan. Penggunaan baja tahan karat pada konstruksi pengelasan dapat dilakukan dengan beberapa metode pengelasan, salah satunya adalah pengelasan GTAW (gas metal arc welding). Penelitian bertujuan untuk melihat kekuatan tarik dan kekerasan pada daerah sambungan las, daerah HAZ (heat affected zone) dan daerah base metal SS 304 setelah proses pengelasan. Pada penelitian ini, kualitas hasil pengelasan dilihat dengan pengujian mekanik yaitu dengan pengujian tarik dan kekerasan. Hasil pengujian kekuatan tarik setelah pengelasan menunjukkan nilai sebesar 75,5 kgf/mm2, terjadi peningkatan 27% dari kekuatan tarik sebelum dilas. Pengujian kekerasan menunjukkan kekerasan pada daerah las dan base metal relatif sama, namun pada daerah HAZ terjadi peningkatan kekerasan rata-rata sebesar 6%. Berdasarkan hasil tersebut, kualitas rata-rata pengelasan dapat dikategorikan baik karena proses pengelasannya juga sesuai dengan WPS (welding procedure specifications). Kata kunci: pengelasan GTAW, stainless steel 304, uji tarik, uji kekerasan
ANALISA PENGARUH RADIUS HIDUNG PAHAT TERHADAP NILAI KEKASARAN PADA PEMBUBUTAN BAJA KARBON RENDAH ST-37 Tarmizi Husni; Rita Djunaidi; yeny pusvyta; Aqino Aqino
TEKNIKA: Jurnal Teknik Vol 6 No 1 (2019)
Publisher : Universitas IBA Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35449/teknika.v6i1.102

Abstract

Proses pembubutan adalah suatu proses pengurangan material atau penyayatan logam untuk membentuk suatu produk dengan cara pemutaran benda kerja. Dalam proses ini akan terdapat pengaruh dari hasil pemakanan terhadap kekasaran permukaan benda kerja. Kekasaran permukaan sebuah benda kerja dapat dinyatakan dengan berbagai cara, yang paling sederhana adalah dengan menganggap jarak antara puncak tertinggi dan lembah terdalam sebagai ukuran dari kekasaran permukaan. Kekasaran permukaan yang dihasilkan oleh bentuk berkakas sayat dan ingsutan sebagai akibat dalamnya alur-alur proses pengerjaan, dimana proses ini akan ditinjau terhadap benda kerja tersebut dengan pemakanan yang tetap dan dengan sudut yang berbeda demi mendapatkan hasil yang baik.Penelitian ini dilakukan dengan proses memvariasikan hidung pahat terhadap nilai kekasaran pada pembubutan baja karbon rendah ST-37.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapat geometri yang terbaik pada proses permesinan dengan mesin bubut, sehingga dapat meningkatkan efisiensi kerja.Analisa yang dilakukan dengan menguji nilai kekasaran permukaan benda kerja menggunakan alat uji kekasaran berupa SJ-201P Surface Roughness tester. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa radius hidung 0,5 mm, dengan kecepatan putar benda kerja (n) 409,46 Rpm, kecepatan pemakanan (feed) 0,4 mm/r, dan kedalaman potong (a) 3 mm, didapat nilai kekas kekasaran permukaan benda kerja paling kasar yaitu: Ra 0,521 µm, sedangkan pada radius hidung 1,5 mm, tingkat kehalusan permukaan cenderung lebih halus dengan Ra 0,329 µm, sedangkan kecepatan potong dan kedalaman makan konstan. Kata Kunci : Pembubutan, Kekasaran, Radius, Hidung Pahat
PENGARUH WAKTU PENEKANAN PADA PROSES INJECTION MOLDING TERHADAP KUALITAS ANTING DAGU HELM PROYEK Asep Muchyidin; Reny Afriany; Rita Djunaidi; Ratih Diah Andayani
TEKNIKA: Jurnal Teknik Vol 7 No 1 (2020)
Publisher : Universitas IBA Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35449/teknika.v7i1.131

Abstract

ABSTRAK Sifat plastik yang mampu bentuk (formability), ringan dan daya redam yang baik membuat produk plastik banyak digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup manusia. Salah satu produk yang menggunakan material plastik ini adalah anting dagu pada helm proyek yang banyak digunakan oleh para pekerja lapangan. Anting dagu ini dibentuk dengan proses injection molding, dengan material termoplastik yang digunakan jenis polyethylene (polietilen). Dalam prosesnya, penyusutan (shrinkage) polietilen dipengaruhi oleh besarnya temperatur, tekanan, dan waktu penekanan. Penelitian ini untuk menganalisa kualitas akhir permukaan dari produk anting dagu ditinjau dari penyusutan (shrinkage) dengan memvariasikan waktu penekanan. Injection time divariasikan dalam waktu 1.25, 1.75, dan 1.5 detik. Perhitungan menunjukkan shrinkage terendah pada waktu penekanan 1.75 detik yaitu sebesar 0.85%. Pengujian tarik menunjukkan polimer polietilen ini memiliki sifat mekanik yang dinyatakan dalam parameter yang sama dengan logam. Dalam penggunaannya, tidak terjadi deformasi yang besar pada anting dagu ini, karena beban tekan yang diberikan oleh pengguna umumnya kecil. Kata Kunci : injection molding, injection time, shrinkage, polietilen
KAJI EKSPERIMEN PENGARUH LAPISAN KEKASARAN PERMUKAAN PIPA TERHADAP HEAD LOSS PADA PIPA PVC BERDIAMETER Ø 22 mm PANJANG 80 cm Rama Candra; Siti Zahara Nuryanti; ratih diah andayani; Rita Djunaidi
TEKNIKA: Jurnal Teknik Vol 7 No 2 (2020)
Publisher : Universitas IBA Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35449/teknika.v7i2.149

Abstract

Aliran fluida pada permukaan didalam pipa yang mempunyai lapisan kekasaran yang berbeda dapat mengalami aliran laminer dan turbulen, yang dapat dilihat dari bilangan Reynold. Kecepatan aliran fluida dapat diketahui dengan mengatur bukaan katub. Setiap pipa diuji dengan air murni pada temperatur 30. Pengujian ini dilakukan dengan alat percobaan yang dipakai adalah pipa PVC silinder yang berdiameter dengan fluida air menggunakan tujuh jenis kekasaran dalam pipa yang berbeda yaitu, pipa tanpa lapisan tambahan, pipa dilapisi pasir halus, pipa dilapisi pasir kasar, pipa dibintik lubang, pipa dilapisi daun talas, pipa dilapisi pecahan batu bata, dan pipa dilapisi serat kayu, penelitian ini dilakukan untuk menkaji kekasaran permukaan dalam pipa terhadap perubahan Head Loss. Hasil Pada percobaan bahwa kekasaran permukaan pipa mempengaruhi nilai Bilangan Reynold dan Head Loss, semakin kasar permukaan pipa, Bilangan Reynold dan head loss cenderung meningkat., Dari ketujuh kekasaran tersebut maka pipa yang dilapisi pecahan batu bata yang memiliki nilai head loss yang paling tinggi yakni 0,995m dibanding dengan ke enam kekasaran lainya dikarenakan nilai kekasaran pecahan batu bata paling besar yakni Ꜫ/D= 0,1, dan nilai Head loss yang paling rendah didapat pada pipa yang dilapisi dengan daunt alas yakni ∆h= 0,196m pada Bilangan Reynold 35622,7. Kata kunci: Aliran turbulen, kekasaran permukaan, bilangan Reynold, Head loss
ANALISA PENGARUH PROSES TEMPERING TERHADAP KEKERASAN PADA BAJA AISI 4337 DENGAN VARIASI HOLDING TIME Tarmizi Husni; Rita Djunaidi; Reny Afriany; Ferdiansyah Ferdiansyah
TEKNIKA: Jurnal Teknik Vol 5 No 2 (2018)
Publisher : Universitas IBA Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.669 KB) | DOI: 10.35449/teknika.v5i2.91

Abstract

ABSTRAK Dalam perkembangan industri yang sangat pesat sekarang ini, kebutuhan dan pemakaian material yang memiliki keuletan dan ketangguhan semakin banyak dipergunakan orang dalam rangka untuk menjadikan material dengan sifat yang keras dan getas. Perlakuan panas (heat treatment) didefinisikan sebagai kegiatan pengolahan material dengan pemanasan dan pendinginan yang terkontrol untuk mendapatkan sifat-sifat tertentu. Guna mendapatkan keinginan tersebut suatu proses yang lazim dipergunakan adalah proses tempering. Proses tempering memiliki tujuan untuk menghilangkan kegetasan dan menciptakan material menjadi ulet dan tangguh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lamanya waktu tunda pada saat proses tempering dengan lamanya waktu yang ditentukan yaitu dengan variasi waktu selama 1 jam, 2 jam dan 3 jam, proses ini dilakukan dengan temperatur 660 0C, kemudian dilanjutkan dengan pengujian terhadap kekerasan terhadap baja tersebut dengan menggunakan metode Vickers. Dalam proses penelitian ini dipergunakan bahan berupa baja paduan rendah yang mengandung kadar C = 0,30 – 0,38 %, Si = 0,10 – 0,350 %, dan Mn = 0,45 – 0,70 %. Kemudian bahan diberi perlakuan berupa pemanasan dengan suhu temper 6600C. Dalam proses pengujian ini spesimen diberlakukan pengujian adalah pada bagian tengah, pinggir dan bagian yang paling dekat dengan kulit. Dari hasil pengujian yang mempergunakan alat uji kekerasan berupa Vickers ternyata didapatkan bahwa kekerasan baja yang sangat signifikan terdapat pada spesimen dengan waktu tunda selama 3 (tiga) jam sebesar 22 %, sedangkan pada saat waktu tunda selama 1 (satu) dan 2 (dua) jam nilai kekerasan pada spesimen memberikan perubahan secara berkala dengan prosesntase yang sama besar.